Kebangkitan Sepak Bola Filipina yang Membuat Timnas Indonesia Malu

Jumat, 25 Juni 2021, 02:41 WIB
68

 

Harus diakui kalau sepak bola Filipina sudah jauh berkembang dan mengalami kebangkitan yang sangat signifikan dan pesat ketimbang dengan Timnas Indonesia. Seharusnya dengan fakta itu, Timnas Indonesia malu karena sudah disalip oleh Filipina yang dulu sebenarnya dibantai kanan kiri.

Gates Of Olympus

Dalam percaturan sepak bola Asia Tenggara, sebenarnya Timnas Indonesia masuk dalam jajaran elite. Meski belum pernah juara Piala AFF, tapi sejarah mencatat kalau kekuatan Timnas Indonesia di masa lampau cukup mengerikan.

Dalam buku sejarah, tercatat kalau Timnas Indonesia pernah menahan imbang Uni Soviet dengan skor 0-0 pada ajang Olimpiade. Padahal pada saat itu, Timnas Indonesia menghadapi lawan yang sangat kuat.

Uni Soviet kala itu merupakan negara Eropa raksasa yang diperkuat oleh kiper legendaris, Lev Yashin. Saking legendarisnya Lev Yashin, namanya sampai diabadikan ke dalam penghargaan di FIFA untuk kiper terbaik dunia.

Tapi rupanya Timnas Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Ramang berhasil berada setingkat dengan Uni Soviet. Setelah itu, Timnas Indonesia pun berhasil menorehkan sejumlah prestasi lain sehingga sering disebut sebagai raksasa dari Asia Tenggara.

Praktis hanya Thailand dan Malaysia saja yang masih memiliki kemampuan setara dengan Timnas Indonesia. Malaysia yang memang serumpun dengan kita seringkali punya kemiripan gaya main dengan Timnas Indonesia.

Rise of Olympus

Intinya adalah mengandalkan kecepatan sehingga Malaysia dan Timnas Indonesia begitu seimbang setiap kali bertanding. Tapi lain lagi dengan Thailand yang benar-benar merupakan raja dari Asia Tenggara.

Keunggulan Thailand ada pada mental pemenang yang sangat kuat dan sulit dihancurkan oleh Timnas Indonesia. Tapi seiring berjalannya waktu, mulai muncul kekuatan baru di Asia Tenggara yang pelan-pelan bangkit dan mencoba menggeser Timnas Indonesia.

Seperti yang dilakukan oleh Singapura dan Vietnam yang membangun kekuatan timnya dengan sanngat baik. Sehingga Timnas Indonesia pun jadi sulit untuk mengalahkan Singapura dan Vietnam saat ini.

Singapura pada dasarnya memang memiliki kekuatan cukup baik sama seperti Malaysia, tapi pada pertengahan 2000-an, mereka melakukan naturalisasi. Yang pada akhirnya itu membuat Singapura menjadi sangat kuat hingga harus kalah 2 leg di final Piala AFF 2004.

Singapura memang pada saat itu sangatlah kuat dan sulit untuk diimbangi oleh Timnas Indonesia. Lalu kemudian ada Vietnam yang punya semangat bertanding sangat gigih sehingga membuat mereka sangat sulit dikalahkan oleh Timnas Indonesia.

Lalu jika bicara perkembangan selanjutnya, Myanmar juga pelan-pelan mulai membangun kekuatannya. Dan jangan lupakan juga dengan Filipina yang sebenarnya adalah kekuatan baru di Asia Tenggara dan sukses menyingkirkan Timnas Indonesia ke papan tengah dalam percaturan sepak bola Asia Tenggara.

Filipina mengalami kebangkitan yang sangat pesat dan itu sangat memalukan bagi Timnas Indonesia. Soalnya, dahulu kala, ada masanya Timnas Indonesia bisa membantai Filipina dengan skor sangat telak, 13-1.

Filipina Dibantai 1-13 oleh Timnas Indonesia

On This Day 2002, Indonesia Bantai Filipina 13-1 di GBK | Pandit Football  Indonesia

Dahulu kala atau tepatnya Piala AFF 2002, yang saat itu namanya masih piala Tiger pernah menjadi saksi sejarah bagaimaana Timnas Indonesia membantai Filipina. Kejadian itu terjadi pada 23 Desember di Stadion Gelora Bung Karno.

Pada saat itu, Timnas Indonesia berhasil membantai Filipina dengan skor 13-1. Bambanng Pamungkas menjadi pahlawan bagi Timnas Indonesia kala itu, karena mampu mencetak 4 gol bagi Timnas.

Sama seperti Bambang Pamungkas, ternyata Zaenal Arif juga sama-sama mencetak 4 gol juga bagi Timnas Indonesia atas FIlipina.

Sedangkan sisa golnya dibagi rata antara Budi Sudarsono, Bejo Sugiantoro, Imran Nahumarury dan bunuh diri dari Licuanan. Sedangkan Filipina saat itu hanya bisa membalas melalui Go pada akhir babak kedua.

Kemenangan 13-1 atas Filipin saat itu memang masuk dalam buku sejarah karena termasuk dalam kemenangan telak yang pernah dialami Timnas Indonesia. Jadi kemenangan Filipina dianggap sebagai salah satu yang terbesar sepanjang sejarah Timnas Indonesia.

Memang jarang-jarang juga melihat Timnas Indonesia bisa segalak itu sampai membantai Filipina dengan sangat kejam. Soalnya selisih 13-1 itu jelas sangat jauh karena jarak yang memisahkan itu mencapai 12 gol atau selusin.

Pada akhirnya di akhir turnamen Piala AFF 2002, Timnas Indonesia tetap gagal jadi juara setelah harus kalah lagi di babak final. Menariknya babak final juga berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno melawan Thailand.

Setelah melewati perjuangan panjang hingga drama adu penalti, Timnas Indonesia akhirnya kalah dari Thailand. Memang gagal juara tapi Timnas Indonesia terlibat dalam kemenangan paling telak sepanjang sejarah atas Filipina.

Satu hal yang belum diketahui oleh Timnas Indonesia,, daam kurun waktu kurang dari 10 tahun, Filipina mengalami perkembangan cukup signifikan. Soalnya di Piala AFF 2010 saja, Timnas Indonesia jadi  mulai merasakan betapa sulitnya mengalahkan Filipina.

Berbenah Total

Ukir Sejarah, Filipina Lolos ke Piala Asia untuk Pertama Kali

Usai Kualifikasi Piala Dunia pada 1994, Filipina hanya menang sekali dalam delapan laga. Seusai kegagalan itu, mereka mulai melirik pelatih asing. Karl Heinz Weigang, asal Jerman, menjadi yang pertama mendapat peran. Ia bertugas pada 1995 hingga 1997.

Le Khanh Hai, Presiden Federasi Sepak bola Vietnam (VFF), mengungkap alasan perubahan arah kebijakan soal pelatih itu. “Kami sadar perlunya berpaling pada negara sepak bola yang maju bila ingin bermain di level yang lebih tinggi,” kata dia seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari situs resmi FIFA.

Sejak Weigang datang, pelatih asing kemudian silih berganti direkrut. Mulai Alfred Riedl (1998-2000, 2003, 2005-2007), Henrique Calisto (2002, 2008-2011), hingga Edson Tavares (1995, 2004).

Fase terpenting kemudian adalah saat pelatih asal Jepang, Toshiya Miura, bertugas pada 2014-2016. Perubahan signifikan terjadi, terutama di level U-23. Banyak pemain yang ditemukan dan dipupuk Miura di level junior itu kemudian menjadi andalan tim senior, yang lolos ke semifinal Piala AFF 2014, termasuk Le Cong Vinh.

Kemajuan lebih pesat terjadi pada fase berikutnya, setelah Park Hangseo, asal Korea Selatan, didatangkan mulai 2017.

Park Hangseo, 50 tahun, sempat disambut dengan skeptis. Saat itu, di liga lokal sedang muncul tren untuk lebih mempercayai pelatih lokal. Karena itu kehadirannya tak benar-benar mendapat sambutan hangat.

Namun, ia mampu membuktikan kualitasnya. Pelatih yang sempat menjadi asisten Guus Hiddink saat Korea Selatan tampil di Piala Dunia 2002, itu mampu membawa Vietnam menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

Park Hangseo membawa tim U-23 lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2018 dan kemudian menjadi runner-up. Ia juga mengantar tim senior menjuarai Piala AFF 2018.

Pelatih asal Korea Selatan itu menyebut kesuksesan itu sebagai hasil dari kekuatan masyarakat Vietnam.

“Yakni solidaritas, kebanggaan, kecederasan, dan daya juang. Semua orang berjuang sebagai sebuah kesatuan. Sebagai pelatih saya berusaha membangun rasa percaya diri dan kepercayaan di dalam tim,” kata dia.

Ia selalu mengedepankan mentalitas juara di timnya. “Saya mendorong tim untuk memenangi sebanyak mungkin laga. Untuk meraih hasil bagis, kerja keras menjadi modal paling dasar,” kata dia.

Park Hangseo mengakui, para pemain Vietnam memiliki kekurangan dalam hal tinggi badan. Tapi, mereka menebus kekurangan itu dengan kelebihan lain. “Pemain kecil lebih cepat. Pemain Vietnam juga cerdas. Mereka bisa mengerti dengan mudah instruksi yang diberikan dan beradaptasi dengan cepat,” kata dia.

Tak hanya melirik pemain asing, Vietnam juga menyerap ilmu asing lewat akademinya. Hoang Anh Gia Lai – Arsenal JMG Academy didirikan pada 2017, bekerja sema dengan Arsenal dan akademi sepak bola Prancis JMG Academy.

Dari sanalah lahir bakat-bakat menonjol sepak bola Vietnam. Nama-nama Nguyen Cong Phuong, dikenal sebagai Messi Vietnam, Vu Van Thanh, dan Luang Xuan Truong adalah jebolan akademi ini.

Pemain muda yang menonjol di liga lokal juga tak jarang diberi kesempatan menimba ilmu di luar negeri. Doan Van Hau, pencetak dua gol ke gawang Indonesia di final, saat ini tengah dipinjamkan ke klub Belanda, SC Heerenveen.

Ngueyn Cong Phuong, lulusan Hoang Anh Gia Lai – Arsenal JMG Academy yang kini menjadi andalan timnas senior, melihat masa depan cerah bagi negaranya. “Kami bisa menjadi kekuatan besar di regional,” kata penyerang berusia 24 tahun itu pada Juni 2018 lalu. “Kami kuat dan punya tekad baja.”

Kini, keyakinan pemain itu sudah terbukti di SEA Games 2019. Vietnam pun kemungkinan siap memberi kejutan-kejutan lain pada turnamen berikutnya.

Timnas Indonesia Mulai Kesulitan

Bek Filipina: Bermain di Indonesia Memang Selalu Sulit - Piala AFF Bola.com

Kejadian itu terjadi pada 2010 lalu pada ajang Piala AFF. Saat itu, Filipina bukanlah Filipina yang kita kenal pada 2002 lalu. Saat itu, Filipina mengikuti jejak Singapura untuk melakukan jalur naturalisasi.

Sebenanrya Timnas Indonesia juga memakai jasa pemain naturalisasi, tapi jelas tidak sebanyak Filipina dan Singapura pada 2004. Timnas Indonesia praktis hanya naturalisasi Cristian Gonzales saja pada saat itu di Piala AFF 2010.

Berbeda dengan Filipina yang mayoritas bukan diisi oleh orang-orang aasli Filipina, mulai dari kiper hingga striker. Semuanya rata-rta adalah pemain naturalisasi dari Filipina itu sendiri agar bisa berprestasi di ajang Piala AFF 2010.

Filipina saat itu sangat kuat karena diperkuat oleh kiper Neil Ettheridge yang kemudian kita tahu kalau ia sempat bermain untuk salah satu klub di Liga Inggris. Tubuhnya yang tinggi membuat Etheridge merupakan kiper andalan Filipina yang sangat sulit dijebol oleh lawan.

Lalu di posisi pemain, Filipina memiliki pasangan kakak adik antara Phil dan james Younghusband. Uniknya, kedua pemain itu sebenarnya sempat berada dan menimba ilmu di akademi pemain Chelsea.

James Younghusband adalah seorang gelandang yang biasa beroperasi di sisi sayap, ia adalah salah satu pengatur serangan di Filipina. Sedangkan Phil Younghusband merupakan striker andalan Filipina dengan ketajaman dan insting mencetak gol sangat tajam.

Hasilnya Filipina berhasil lolos ke semifinal Piala AFF untuk pertama kalinya di tahun 2010 dan langsung bertemu Timnas Indonesia. Ternyata hanya dalam waktu kurun waktu 8 tahun saja, Timnas Indonesia jadi sangat sulit untuk mengalahkan Filipina.

Dari yang tadinya bisa menang 13-1, di tahun 2010, Timnas Indonesia hanya bisa menang 1-0 dalam 2 pertemuan 2 leg semifinal Piala AFF 2010. saking sulitnya Timnas Indonesia untuk mengalahkan Filipina saat itu, sampai butuh dua gol cantik dari Cristian Gonzales.

Satu gol berasal dari umpan daerah jarak jauh yang langsung disundul masuk ke gawang Filipina oleh Cristian Gonzales. Sedangkan satu golnya lagi berasal dari sepakan jarak jauh Cristian Gonzales yang tak bisa dibendung oleh kiper sekaliber Neil Ettheridge.

Tak pernah dibayangkan sebelumnya kalau Timnas Indonesia jadi benar-benar kesulitan untuk melawan Filipina. Padahal 8 tahun lalu, Filipina itu dibantai 1-13 oleh Timnas Indonesia, tapi di 2010, dalam 2 leg, Timnas Indonesia harus menang susah payah.

Hal itu menunjukan perkembangan pesat dari sepak bola Filipina. Menyedihkannya bagi Timnas Indonesia, sejak saat itu terjadi gejolak dalam sepak bola dalam negeri sedangkan Filipina mengalami kebangkitan terus menerus hingga akhirnya datang masa di mana Filipina akhirnya menuntut balas dendam pada Timnas Indonesia.

Timnas Indonesia Dibantai Balik oleh Filipina

FOTO PIALA AFF 2014 : FILIPINA VS INDONESIA : Ini Kartu Merah untuk Timnas  Indonesia

Kejadian bersejarah itu terjadi pada Piala AFF 2014 ketika Filipina sukses membantai balik Timnas Indonesia dengan skor 4-0. sebelum Piala AFF 2014, memang sepak bola Indonesia sedang dalam kondisi yang sangat kacau.

Hal itu bisa terjadi tak lepas dari dualisme yang terjadi di sepak bola Indonesia, ketika ada liga tandingan Indonesia dan PSSI tandingan. Hal itu membuat kekuatan Timnas Indonesia jadi tida bisa maksimal.

Soalnya masalah dualisme saat itu memang sangat banyak memberikan dampak buruk bagi persiapan Timnas Indonesia jelang Piala AFF 2014. benar saja, di Piala AFF 2014, Timnas Indonesia langsung tersingkir lagi dari babak grup setelah kalah bersaing dengan Vietnam dan Filipina.

Salah satu pertandingan paling menyedihkan Timnas Indonesia terjadi di fase grup saat harus bertanding dengan Filipina. Bermain di My Dinh National Stadium, Hanoi, Timnas Indonesia di luar dugaan harus kalah 0-4 dari Filipina secara memalukan.

Empat gol kemenangan Filipina saat itu dicetak oleh Phil Younghusband, Manuel Ott, Steuble dan Gier yang seakan menampar keras Timnas Indonesia saat itu. Soalnya kekalahan 0-4 itu begitu buruk sampai membuat Timnas Indonesia langsung tersingkir dari Piala AFF 2014.

Kekalahan 0-4 tak pernah diprediksi oleh siapapun karena memang seharusnya Timnas Indonesia dalam kondisi seburuk apapun seharusnya bisa melawan. Tapi sepertinya kondisi tim sudah benar-benar buruk sehingga pembantaian yang terjadi.

Kekalahan 0-4 dari Filipina merupakan ironi bagi Timnas Indonesia, mengingat 12 tahun sebelumnya, mereka yang justru membantai dengan skor 13-1. bagaimana bisa dalam waktu hanya 12 tahun saja, nasib Timnas Indonesia dan Filipina bisa berbanding terbalik.

Mungkin jawabannya ada pada sepak bola Filipina jarang sekali terjadi polemik dan gejolak sebesar dualisme sepakbola Indonesia. Oleh karena itu perkembangan sepak bola Filipina bisa dilakukan dengan mulus.

Berbeda dengan Timnas Indonesia yang terlalu banyak polemik di dalamnya sehingga terkadang kepentingan timnas itu sendiri menjadi diabaikan. Sehingga prestasi Timnas Indonesia yang menjadi korbannya.

Terakhir kali Timnas Indonesia bertemu dengan Filipina terjadi pada Piala AFF 2018. meski memang asil pertandingannya berakhir seri, tapi Timnas Indonesia saat itu jadi tidak lolos dari babak grup.

Sedangkan Filipina masih bisa bertahan hingga semifinal Piala AFF. Tentu seharusnya posisi FIlipina saat itu bisa diambil oleh Indonesia.