Kekerasan Geng Narkoba Bikin Negara Ini Umukan Situasi Darurat

Rabu, 20 Oktober 2021, 19:50 WIB
44

Presiden Ekuador Guillermo Lasso pada Senin 18 Oktober mengumumkan keadaan darurat di negara yang bergulat dengan lonjakan kekerasan terkait narkoba. Dia juga memerintahkan mobilisasi polisi dan militer di jalan-jalan.

“Mulai segera, Angkatan Bersenjata dan polisi kami akan merasakan kekerasan di jalan-jalan karena kami menetapkan keadaan darurat di seluruh wilayah nasional,” kata presiden dalam pidato yang disiarkan oleh saluran pemerintah Ekuador TV.

Power of Thor Megaways

“Di jalan-jalan Ekuador hanya ada satu musuh: Perdagangan narkoba,” kata pemimpin sayap kanan itu.

Lasso menambahkan bahwa “dalam beberapa tahun terakhir Ekuador telah berubah dari negara penyelundup narkoba menjadi negara yang juga mengonsumsi narkoba”.

Pengumuman itu datang pada malam kunjungan resmi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken ke Ekuador dan Kolombia dalam upaya untuk mendukung dan memperluas hubungan dengan negara-negara demokrasi Amerika Latin.

Blinken akan berbicara dengan Lasso tentang kerja sama di bidang keamanan, pertahanan, dan perdagangan.

Chronicles of Olympus X Up

“Kekerasan telah meningkat secara dramatis di Ekuador dalam beberapa bulan terakhir. Antara Januari dan Oktober tahun ini, negara itu mencatat hampir 1.900 kasus pembunuhan, dibandingkan dengan sekitar 1.400 di seluruh 2020,” menurut pemerintah.

Keadaan darurat yang diberlakukan selama 60 hari memungkinkan pemerintah untuk memobilisasi 3.600 tentara dan polisi untuk berpatroli di 65 penjara di seluruh negeri. Lasso mengatakan polisi juga akan berpatroli di jalan-jalan.

Sebelumnya pada Senin, Lasso menunjuk seorang menteri pertahanan baru ketika negara itu terhuyung-huyung dari krisis penjara besar-besaran.

Presiden menunjuk pensiunan jenderal Luis Hernandez untuk jabatan itu, dengan alasan “keamanan publik yang tidak memadai” di negara Amerika Selatan itu.

Hernandez akan menggantikan Fernando Donoso. Pemerintah tidak memberikan alasan perombakan tersebut.

Tapi itu terjadi ketika sistem penjara negara itu bergulat dengan serentetan kerusuhan berdarah. Sepanjang 2021, 238 tahanan tewas dalam kerusuhan tersebut.

“Ekuador sedang mengalami masa ketidakamanan, ketidakamanan yang bersumber dari beberapa faktor, salah satunya perdagangan narkoba,” kata Presiden Lasso.

“Bangsa Andes membutuhkan angkatan bersenjata yang lebih kuat, lebih solid,” imbuhnya.

Sekitar dua minggu lalu, anggota kelompok kejahatan yang terkait dengan kartel di Meksiko dan Kolombia yang dipenjarakan bertempur dengan senjata api untuk menguasai sebuah penjara di kota barat daya Guayaquil. Pertempuran itu menyebabkan 119 narapidana tewas dalam salah satu pembantaian penjara terburuk dalam sejarah Amerika Latin.

Lasso menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen kematian akibat kekerasan yang terjadi di provinsi pesisir Guayas, yang beribukota Guayaquil, dalam beberapa hal terkait dengan perdagangan narkoba.

“Ketika peredaran narkoba tumbuh, begitu pula jumlah pembunuh bayaran dan pembunuhan. Di samping kejahatan lain seperti perampokan,” pungkas Presiden Lasso.

BERITA TERKAIT