Keraton Yogyakarta Dijual Secara Virtual, Ini Tanggapan Sri Sultan  

Kamis, 06 Januari 2022, 19:31 WIB
36

Edisi Bonanza88, Jakarta – Belakangan ini sedang viral tentang dijualnya Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Gedung Agung, hingga Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta, dijual secara virtual di situs Next Earth. Tempat-tempat penting bersejarah itu dijual dengan harga belasan hingga ratusan USDT (United States Dollar Tether), yaitu mata uang kripto yang dipakai di Next Earth.

Menanggapai hal ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) mengaku santai lantaran penjualan tersebut hanyalah secara virtual semata,

“Itu virtual, kok. Jadi, ya, virtual itu, kan tahu main monopoli? Main monopolinak nganggo (pakai) dadu dapat sekian naik, bisa turun. Begitu nglewati tertentu bisa punya duit kertas di monopoli itu bisa beli rumah bisa beli hotel. Ya podolah,” ujar Sultan di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (6/1).

“Nah, gitu (tidak terlalu serius). Istana Negara (Gedung Agung) saja juga sudah dijual (virtual),” katanya.

Sultan mengatakan karena hanya virtual, maka tidak ada transaksi fisik. Secara nyata pun tempat-tempat tersebut tidak dijual.

“Jadi dengan seperti itu ya kan nanti bisa di situ untuk keramaian (acara) dan sebagainya tapi virtual semua, bukan transaksi fisik, nggak. Ya (seperti) main monopolilah,” katanya.

Pakar Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ridi Ferdiana sebelumnya menjelaskan metaverse penjualan tanah virtual seperti ini, pemilik aset di dunia nyata tak perlu khawatir.

Terlebih, pemilik aset di dunia nyata masih bisa memiliki lahan yang sama di metaverse atau virtual. Caranya dengan membelinya atau menggandeng developer untuk membuat petanya serupa dengan skala dan cirinya sendiri.

“Sesuai dengan namanya metaverse, lokasi yang ada di metaverse ini tidak diberi nama atau unnamed territory. Namun demikian pemilik aset virtual tersebut besar kemungkinan akan menamakannya dengan lokasi yang sama dengan di dunia nyata. Pada saat itu terjadi tentu pemilik aset real dapat memilikinya atau membiarkannya karena di dunia virtual yang berbeda,” kata Ridi.

Sebelumnya, Kepala Bagian Humas Biro Humas dan Protokoler Pemda DIY Ditya Nanaryo Aji menjelaskan pihaknya tidak pernah bekerja sama atau mengizinkan penjualan lokasi-lokasi tersebut secara virtual.

“Terkait berita Komplek Kepatihan maupun Alun-alun Utara yang dijual di situs Next Earth, Pemda DIY tidak pernah bekerja sama, merekomendasikan, atau mengizinkan jual beli secara virtual terkait aset-aset apa pun milik DIY,” tegas Ditya, Rabu (5/1).

“Jika ditemukan ada kasus jual beli secara virtual lewat platform apa pun, sepenuhnya merupakan klaim sepihak dan tidak ada relevansi dengan kepemilikan sah aset fisik tersebut,” ujarnya.

 

BERITA TERKAIT