Ketika Para Alumni Akademi Chelsea Menjajah Liga Inggris

Kamis, 02 Desember 2021, 03:28 WIB
108

Ada Josh McEachran dan Ola Aina. Ada Dominic Solanke dan Gaël Kakuta. Ada musim di bawah kepelatihan Maurizio Sarri ketika dia tidak memberikan debut satu pun kepada pemain akademi. Ada manajer Chelsea yang berargumen dalam presentasi kepada direktur teknis, Michael Emenalo, bahwa klub harus menghapus atau mengurangi akademinya karena biaya terlalu mahal dan tidak menghasilkan manfaat nyata bagi tim utama.

Untuk mereka semua, dan semua ini, gol ketiga Chelsea melawan Juventus pada pertandingan Liga Champions adalah jenis penutupan yang penuh hiasan: Reece James menyisir sisi lapangan dengan ancamannya yang membuat para bek Juventus sengsara, Ruben Loftus-Cheek memutar dan menerima di area penalti, Callum Hudson-Odoi menerapkan finishing yang berbuah gol. Sebuah gol yang dibuat di Chelsea, para pemain yang disebut adalah produkan Cobham: mungkin pembenaran penuh sampai saat ini dari visi Roman Abramovich yang sering diejek dan sering disebut sia-sia untuk tim utama Chelsea, menjadi akademik yang penuh dengan bakat-bakat terpendam.

Selain Reece James, Hudson-Odoi dan Loftus-Cheek, Trevoh Chalobah mencetak gol pertama, memperpanjang start spektakulernya musim ini. Mason Mount dan Andreas Christensen dengan gagah berani juga di pertandingan tersebut duduk manis di bangku cadangan. Bahkan jika Anda mengesampingkan Romelu Lukaku, yang bergabung dengan Chelsea pada usia 18 tahun sebelum bergabung kembali musim panas ini, produk tim muda Chelsea telah memainkan 27% menit bermain dan mencetak hampir sepertiga dari gol sejauh musim ini.

Ini juga bukan fenomena yang terbatas pada Chelsea. Pindai daftar pertandingan Liga Inggris sejauh musim ini, ada banyak klub yang memakai para pemain produkan akademi Chelsea. Eddie Nketiah di Arsenal, Tino Livramento dan Armando Broja di Southampton, Billy Gilmour di Norwich, Marc Guéhi dan Conor Gallagher di Crystal Palace, Bertrand Traoré di Aston Villa, Tariq Lamptey di Brighton, Nathan Aké di Manchester City dan Declan Rice di West Ham, Ryan Bertrand di Leicester, Jack Cork dan Jóhann Berg Gudmundsson di Burnley plus Lewis Bate di Leeds.

Chelsea tidak hanya membangun tim, mereka juga membangun untuk tim lain. Mereka tidak hanya memimpin Liga Inggris sejauh musim ini bergulir: mereka menjajahnya, mengubahnya menjadi arena bermain anak-anak dari Cobham.

Apa yang Terjadi? Kenapa Produk Cobham Merajai Liga Inggris?

Jadi apa yang terjadi? Apakah ini hanya generasi muda Chelsea yang berbakat dengan kapasitas unik untuk menjembatani jurang dari akademi sepak bola ke level senior? Atau apakah mereka akhirnya diberi sedikit bantuan?

“Kami melihat dengan sangat cepat dalam pelatihan bahwa kami memiliki beberapa anak muda yang sangat baik di akademik. Apa yang membuat saya paling bahagia adalah seberapa besar kepedulian mereka untuk jersey dan klub ini, dan seberapa tinggi cita-cita mereka untuk berhasil di sini,” kata manajer, Thomas Tuchel beberapa waktu lalu.

Dan sementara Tuchel mendapat banyak pujian karena menjadi pelatih yang mau memasukkan para bakat yang relatif tidak berpengalaman seperti Chalobah dan James. Dalam banyak hal landasannya memang sudah ada bertahun-tahun sebelum dia tiba, dan bukannya tanpa kesalahan dalam perjalanan mereka sampai ke titik sekarang.

Selama bertahun-tahun pendekatan Chelsea ke akademi mereka mirip dengan spekulan properti London dengan portofolio luas, apartemen mewah yang membuat orang tergiur dan tertarik. Dengan kekayaan dan fasilitas yang mereka miliki, radar Chelsea bisa menyaring hampir semua pemain muda terbaik di Eropa, memberi mereka upah yang layak dan menyaksikan mereka terus mengalami kenaikan harga, tanpa mendekati tim pertama, lalu dijual kembali untuk keuntungan klub.

Secara publik, tentu saja, fokusnya masih pada pengembangan pemain yang nantinya ada beberapa di antara mereka bakal digunakan Chelsea sendiri. Dan tentu saja, semua manajer akan mengatakan hal yang benar. Antonio Conte dengan cepat menghebohkan publik dengan mengorbitkan pemain seperti Aina dan Nathaniel Chalobah ketika dia pertama kali bergabung dengan klub pada tahun 2016 dan kemudian pada dasarnya memenangkan liga dengan total-total memainkan 13 pemain akademik.

Ketika ekonomi sepak bola membuatnya sangat menguntungkan untuk mengeluarkan pemain dengan status pinjaman dan kemudian menjualnya, dan dengan pemilik yang tidak pernah ragu untuk membuka pintu ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan klub.

Tapi itu dulu, sekarang baik di Chelsea dan klub lain, para pemain jebolan akademi Cobham menunjukkan bakat mereka di level tertinggi Liga Inggris. Apalagi Tuchel yang terkenal sebagai pelatih yang senang dengan para pemain muda lokal, terutama pencampuran dari nama-nama yang dibeli pada musim panas kemarin.

“Ini membuat anak-anak muda di Cobham sangat spesial. Bukan untuk saya sebagai pelatih Chelsea, tapi juga untuk para pesaing. Tentu saja, untuk pendukung kami, tapi saya piker untuk semua orang yang mencintai permainan sepak bola, mencintai kerja sama tim, yang menciptakan perbedaan. Ada pencampuan yang luar biasa antara talenta-talenta lokal dengan para pemuda luar biasa, yang masih muda juga, tapi sudah mendapat panggung di level tertinggi,” kata Tuchel di situs resmi klub.

“Mereka masih belum mencapai level tertinggi, masih punya karakter dan kepribadian sebagai pemuda lokal, tapi juga punya kebijakan tinggi dalam hal sepak bola. Itulah yang membuat saya sangat senang melatih di sini,” lanjutnya.

Titik Balik Kebangkitan Akademi Chelsea Bersama Lampard

Mungkin titik balik terbesar datang ketika Frank Lampard tiba pada tahun 2019 dengan Chelsea harus menjalani larangan transfer. Pendahulu Lampard, Sarri, nyaris tidak repot-repot menyembunyikan dirinya kurang minat pada para pemain akademi, tidak pernah menghadiri satu sesi latihan atau pertandingan U-23 di masa kepemimpinannya.

Lampard, di sisi lain, memberikan delapan pemain akademi pertandingan debut di musim pertamanya, rekor klub di era Liga Inggris. Mount, Fikayo Tomori, dan Tammy Abraham termasuk di antara mereka yang berada paling depan untuk starting line-up: sering bermain dan terkadang melakukan kesalahan, tetapi yang terpenting belajar dalam sorotan panas dari pertandingan di level senior, apalagi kompetisi seperti Liga Inggris.

Di satu sisi, reputasi manajerial Lampard telah menjadi kerusakan namun jadi fondasi untuk kesuksesan menakjubkan Tuchel. Jika Lampard tidak datang, kita bisa saja tidak mengenal para pemain seperti Mount dan James sekarang, yang kemungkinan besar tidak dapat kesempatan penting selama 18 bulan? Jadi, sebanyak apa pun yang Tuchel capai di lapangan saat ini, harus dibilang ini adalah warisan Lampard sebagai manajer Chelsea.

Tentu saja akademi terus menjadi tambang penghasil uang yang cukup mudah untuk klub seperti Chelsea. Kepergian Abraham, Tomori, Guehi dan lainnya menghasilkan lebih dari £90 juta di musim panas 2021 kemarin. Sementara itu, 22 pemain lainnya dipasangkan status pinjaman, meski banyak dari mereka masih terjebak di klub karena tidak ada minat dari klub lain.

Jika Matt Miazga, Dujon Sterling atau Ethan Ampadu pernah mencapai sesuatu dalam permainan, hampir pasti tidak akan di Chelsea, mereka mendapatkannya saat dipinjamkan ke klub lain. Tomori, misalkan, telah menemukan kehidupan baru di bawah asuhan Stefano Pioli di Milan. Abraham mendapat manfaat dari pengawasan pribadi José Mourinho – pelatih yang kental dengan Chelsea – di AS Roma.

Tapi yang penting jalan menuju tim utama sekarang tidak sesempit lima atau tujuh tahun yang lalu. Remaja berbakat berikutnya yang datang melalui akademi Cobham milik Chelsea – katakanlah, Jude Soonsup-Bell atau Harvey Vale – tidak lagi ikut laga-laga persahabatan di pra-musim yang tidak berarti untuk mereka, melainkan langsung menerima tawaran pinjaman ke Vitesse dan Huddersfield. Semua itu hanyalah semata-mata untuk membuktikan bakat Anda dan bermain di level senior, bahkan panggung Liga Champions jika keluar dari negara Britannia Raya.

Dalam beberapa hal ini adalah model yang Tuchel sendiri tahu secara naluriah, setelah memulai karirnya sebagai pelatih muda di Stuttgart di bawah Ralf Rangnick. Tuchel tahu bahwa tim-tim modern terbaik selalu menggabungkan para pemain lokal terhebat mereka dengan bintang-bintang global yang didatangkan. Tim inti lokal juga dipenuhi dengan beberapa pemain superstar, jika kita berbicara skuat The Blues sekarang. Dia tahu bahwa kepercayaannya ke para pemain muda hanya akan berkembang seiring berjalannya waktu kesabaran Abramovich sangat dibutuhkan di sini. Tapi untuk saat ini, setidaknya, dua bagian dari proyek Chelsea terasa sempurna.