Kiprah Boaz Solossa di Piala AFF 2004, Diwarnai Cedera dan Pengobatan Pakai Ramuan Papua

Kamis, 02 Desember 2021, 01:24 WIB
107

Piala AFF 2020 yang sudah ditunda karena merebaknya pandemic COVID-19 akhirnya akan segera digelar. Turnamen antar-negara Asia Tenggara itu bakal dihelat di Singapura sebagai tuan rumah dari tanggal 05 Desember 2021 sampai 01 Januari 2022 mendatang. Berbicara soal Piala AFF kita sangat senang untuk mengenang perjalanan Timnas Indonesia, salah satunya edisi tahun 2004 silam, dimana kita mulai mengenal bocah ajaib dari Papua, yakni Boaz Solossa.

Pemuda khas Timur yang kelak jadi kebanggaan masyarakat Papua dan Indonesia, berusia 18 tahun – masih sangat muda, benar-benar menjadikan Piala AFF 2004 sebagai panggung perkenalan dirinya kepada para penggemar sepak bola Tanah Air. Aksi-aksi luar biasa di atas lapangan saat membela Timnas Indonesia senior benar-benar memikat hati yang menonton, wajar jika setelah Piala AFF 2004 usai, dirinya menyandang salah satu striker masa depan Merah-Putih.

Bakatnya sudah diketahui sejak dirinya bermain untuk klub Perseru Serui di Piala Soeratin U-17 di tahun 2004. Dia juga masuk skuat utama PON Papua yang dilatih oleh pelatih legendaris, Rully Nerre yang akhirnya menyabet medali emas kepemilikan bersama Jawa Timur di PON Palembang 2004. Tahun 2004 seperti menjadi miliki Boaz, tidak berhenti di PON saja, tapi juga ke kancah Asia Tenggara.

Yang membuat orang-orang terpikat akan permainan Boaz adalah sangat berbeda dari kebanyakan penyerang yang kala itu sudah tenar di belantika sepak bola Indonesia. Dirinya bukanlah sosok striker yang menunggu bola dan minta dilayani alias target man, tapi merupakan winger yang punya  ketajaman seperti halnya penyerang nomor 9 kebanyakan. Lahir pada tanggal 16 Maret 1986 di Kota Sorong, bisa dibilang dengan kecepatan, ketajaman dan skill di atas rata-rata, fans sepak bola Indonesia bak melihat Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo kearifan lokal.

Awal-awal hendak membela Timnas Indonesia, PSSI harus berusaha keras meyakinkan Boaz Solossa dan keluarga untuk melepas sang putra. Pamannya, Jaap Solossa kala itu, yang menjabat sebagai Gubernur Papua, ingin keponakannya fokus menjalani pendidikannya secara formal. Sebagai seorang paman dan orang tua, dia khawatir Boaz akan kelelahan jika harus pulang pergi Jakarta-Sorong dan akhirnya pendidikan pun berantakan.

Namun dengan upaya yang konsisten, PSSI akhirnya bisa mendaratkan Boaz ke Jakarta untuk masuk ke dalam Timnas Indonesia U-20 yang bermain di Piala AFC U-20. Momen tersebut bertepatan saat PSSI juga baru saja mendatangkan pelatih berkebangsaan Inggris, bernama Peter White. Benar saja, situasi ini membantu Boaz langsung on-fire untuk Timnas U-20 dan menjadi mesin gol untuk Garuda Muda.

Peter yang juga bertugas melatih Timnas Indonesia senior – layaknya Shin Tae-yong sekarang, tanpa ragu mempercayakan satu tempat untuk Boaz. Debutnya bersama tim nasional terjadi saat Indonesia menghadapi Turkmenistan di tahun 2004 silam, di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2006. Skuat Garuda menang 3-1 dengan Boaz menyumbang dua assist untuk dua gol rekan setimnya calon duetnya di masa mendatang, Ilham Jaya Kesuma.

Uniknya, sudah dipercaya masuk Timnas U-19 dan juga senior, Boaz saat itu belum sepenuhnya jadi pemain professional. Dirinya belum mengikat kontrak dengan klub manapun saat itu. Namun hal tersebut tidak menghalangi dirinya untuk mendapat panggilan ke Timnas Indonesia senior untuk mentas di Piala AFF 2004, di sinilah pintu terbuka untuk dirinya menyandang sebagai salah satu legenda sepak bola nasional.

“Boaz istimewa, usianya sangat muda tapi permainannya sangat matang dan komplet. Saya berharap para pemain senior membantunya beradaptasi, agar dirinya bisa memberi kontribusi besar untuk tim ini,” ucap Peter White sebelum Piala AFF 2004 digelar.

Tanpa basa-basi, Boaz yang langsung diduetkan dengan striker senior, Ilham Jaya Kesuma benar-benar menjadi kombinasi yang menakutkan bagi negara-negara di Asia Tenggara sepanjang gelaran Piala AFF 2004.

Dia bahkan menjadi pencetak gol pertama untuk Timnas Indonesia di turnamen tersebut. Luar biasanya lagi, debutnya di Piala AFF 2004, diwarnai dengan dua gol langsung yang dicetak oleh para pemain asal Papua di pertandingan menghadapi Laos. Timnas Indonesia menang telak dengan skor 6-0 di laga pembuka tersebut, dengan tambahan dua gol dari Ilham Jaya Kesuma, dua gol dari Kurniawan Dwi Yulianto.

Namun pada pertandingan kedua, kemenangan besar tersebut menguap begitu saja. Indonesia harus menghadapi Singapura yang dibela para pemain generasi emasnya, seperti Noh Alam Shah, Agu Casmir dan Khairul Amri.

 

Ujuk Ketajaman di Penyisihan dan Semifinal

Setelah ditahan imbang oleh Singapura, Timnas Indonesia kembali mengamuk dalam dua laga fase grup selanjutnya. Boaz turut menyumbang satu gol saat kita menghajar Vietnam 3-0, ditambah gol-gol dari Muhammad Mauli Lessy dan Ilham Jaya Kesuma. Laga terakhir grup, Indonesia menang 8-0 atas Kamboja berkat hat-trick dari Ilham Jaya Kesuma.

Tiga kemenangan dan sekali hasil imbang membuat Indonesia lolos ke semifinal dengan bercokol di puncak klasemen dengan total selisih +17 gol. Peter White pun yang sempat diragukan bisa langsung membuat Timnas Indonesia bermain nyetel mulai menjawab keraguan para penggemar sepak bola Indonesia.

Pada semifinal kita berhadapan dengan negara serumpun – katanya, siapa lagi kalau bukan Malaysia. Dengan format dua leg, semifinal ini membuat para penggemar sepak bola Indonesia ketar-ketir. Pasalnya kita kalah 1-2 di leg pertama yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Namun leg kedua di Stadion Bukit Jalil, duet Boaz-Ilham yang kembali dari akumulasi kartu membuat Timnas Indonesia mengamuk.

Kemenangan 4-1 berhasil diamankan oleh skuat asuhan Peter White yang membuat kita melengos ke final dengan kemenangan agregat 5-2. Empat gol dicetak oleh Kurniawan Dwi Yulianto, Charis Yulianto, Ilham dan Boaz Solossa. Lolos ke final di edisi ini merupakan pencapaian karena kita sudah tiga kali beruntun di Piala AFF mampu menembus babak final. Namun kali ini, tim yang dihadapi bukanlah Thailand, melainkan Singapura. Kehebatan Boaz saat itu benar-benar membuat semua mata tertuju pada dirinya, bahkan sederet media internasional di Asia Tenggara, menyebutnya sebagai keajaiban dari Tanah Papua.

 

Petaka Terjadi pada Boaz dan Timnas Indonesia

Pada final leg pertama di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Timnas Indonesia mendapatkan petaka, Boaz Solossa harus ditarik keluar karena mendapatkan tekel keras dari bek kanan Singapura, Bhaihaki Khaizan. SUGBK saat itu langsung hening dan sunyi kala Boaz sampai diangkut tandu keluar lapangan oleh staf medis. Ibu Boaz, Merry Solossa sampai menangis menyaksikan sang anak tak berdaya.

Ambulance sampai masuk dekat lapangan untuk langsung mengantarnya ke rumah sakit. Dia didampingi oleh kakak ipar, Agnes Lolong, istri dari saudara laki-lakinya, Ortizan Solossa.

Ortizan Solossa yang juga merupakan anggota Timnas Indonesia dan turut tampil di pertandingan itu, mengaku langsung hilang fokus dan marah. “Bajingan, Bhaihaki itu sengaja melukai adikku. Sayangnya, pertandingan masih berlangsung, kalau saat itu sudah tidak, saya langsung tonjok mukanya itu,” kata Ortizan dikutip dari Bolacom.

Benar saja, kehilangan Boaz membuat Timnas Indonesai langsung kehilangan arah dan mengakui kekalahan 1-3 dari Singapura di leg pertama final Piala AFF 2004. Satu gol hanya tercipta lewat Mahyadi Panggabean jelang pertandingan berakhir.

“Dia sengaja mencederai Boaz, harusnya dia (Bhaihaki) langsung dapat kartu merah,” kata Peter White seusai pertandingan kepada awak wartawan.

“Jika Boaz harus absen, situasi memang sulit. Saya belum tahu kondisinya, kita lihat saja nanti,” jelas sang pelatih asal Inggris itu dengan muka pasrah kala itu.

Rumah Sakit pun memberikan kabar bahwa Boaz mengalami cedera engkel yang paling cepat pulih dua bulan dari hari tersebut. Para penggemar sepak bola Indonesia langsung patah hati mendengar kabar tersebut. Leg kedua yang digelar di Stadion National, Singapura akan berlangsung delapan hari dari leg pertama di Jakarta.

 

Doa Penyembuhan dan Pengobatan Pakai Ramuan Papua

Perlu diketahui, bahwa keluarga dari Boaz Solossa merupakan Kristen yang taat. Mereka tentu tidak langsung menerima vonis dari tim dokter Timnas Indonesia dan berusaha menyembuhkan cedera tersebut dengan berbagai cara.

Salah satunya adalah pengobatan pakai ramuan papua alias obat-obatan tradisional. Setelah keluar dari Rumah Sakit, dia langsung dibawa ke Hotel Marcopolo, Menteng. Tentu saja, keluarga besar hadir guna melaksanakan pengobatan tradisional tersebut.

Merry Solossa selaku ibu sang pemain langsung memesan ramuan papua untuk dioleskan ke kaki Boaz Solossa. “Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan Yesus. Saya percaya dengan doa yang kuat, cedera Boaz bisa sembuh,” kata Merry kepada awak wartawan.

Empat hari jelang laga final leg kedua Piala AFF 2004, kembali dilaksanakan ritual doa dan penyembuhan sang pemain. Dolfy Solossa, paman dari Boaz yang juga pendeta memimpin ritual tersebut. Dia memegang engkel kaki Boaz yang sudah diolesi minyak ramuan papua, dibungkus dengan dedaunan, sembari mengucapkan, “Dalam nama Yesus, sembuhlah kau nak.”

Pada media, Boaz Solossa mengakui bahwa semenjak ritual doa dan penyembuhan pakai ramuan papua, kondisinya terus membaik. Namun Boaz tetap tidak bisa turun bertanding di leg kedua final Piala AFF 2004. Peter White punya alasan tidak mau ambil resiko untuk memainkannya di leg kedua, meski kondisi engkelnya menunjukkan proses pemulihan yang signifikan.

“Masa depannya masih panjang, saya tidak mau karena ambisi juara, karirnya harus dikorbankan untuk pertandingan ini. Dia belum siap bermain, kita tidak tahu apa yang dilakukan para pemain Singapura dalam pertandingan jika dia tetap kita paksa bermain,” ucap White kepada awak media.

Timnas Indonesia pun harus menelan kekalahan 1-2 di leg kedua. Kekalahan beruntun dalam tiga kesempatan masuk ke final Piala AFF 2004. Namun, terlepas dari kegagalan jadi juara, kita semua bisa menikmati sepak bola Indonesia diwarnai aksi-aksi hebat nan ciamik dari seorang Boaz Solossa.