Kisah Amelia Earhart, Pelopor Pilot Perempuan yang Jasadnya Menghilang di Samudera Pasifik

Jumat, 27 Agustus 2021, 18:01 WIB
273

Tepat tanggal 20 Juli 1923 silam, area Seneca Falls di New York, Amerika Serikat, tiba-tiba penuh dipadati orang-orang yang merupakan anggota National Woman’s Party (NWP). Mereka berkumpul guna merayakan seremoni peringatan 75 tahun kesuksesan Konvensi Seneca Falls serta pengesahan Amandemen negara ke-19.

Isi Amandemen ke-19 berupa pernyataan bangsa Amerika yang mengakui hak pilih dari kaum perempuan.

Momen peringatan tersebut dihiasi pidato sang pemimpin NWP, Alice Paul. Penuh semangat, Alice mewartakan misi NWP selanjutnya yang bakal memperjuangkan kesetaraan gender.

Alice ingin bukan hanya hak pilih saja yang diakui, melainkan juga berbagai aspek kehidupan lainnya. Maklum, kondisi sebelum Alice berpidato, kehidupan para wanita Amerika memang miris. Hak-hak mereka selalu ada di bawah bayang-bayang sikap semena-mena laki-laki.

Alice sadar betul bahwa memperjuangkan kesetaraan gender jadi momen yang tepat. Mumpung hati pemerintah Amerika sedang berbaik hati menyusul disahkannya Amandemen ke-19. Optismen Alice pun membuahkan hasil manis enam bulan pasca dirinya mengampanyekan ajakan berjuang kepada anggota-anggota NWP.

Memasuki Desember 1923, pemerintah Amerika memperkenalkan ke publik perihal amandemen yang mengatur kesetaraan gender. Proses pengenalan masih sebatas rancangan amandemen, belum benar-benar disahkan. Pelaksanaan tahap pengenalan ini dilakukan di acara Kongres negara ke-68. Tajuk yang dipilih pemerintah dalam rancangan amandemen kesetaraan gender ialah “Lucretia Mott Amendment”.

Amelia Earhart, seorang perempuan yang jadi ikon di ranah penerbangan Amerika, menyambut gembira rancangan amandemen “Lucretia Mott Amendment”. Namun seiring berjalannya waktu, Amelia kesal melihat pemerintah, khususnya pejabat negara bagian, tidak kunjung mengesahkan rancangan amandemen. Enggan berdiam diri, Amelia bergerak menggunakan ketenarannya demi mempengaruhi otoritas berwenang.

Amelia terjun sebagai pendukung calon presiden yang diusung Partai Republik, Herbert Hoover. Alasannya lantaran Herbert pernah menjanjikan akan jadi pemimpin Amerika pertama yang mengesahkan “Lucretia Mott Amendment” jika menang pemilu. Dukungan Amelia awalnya tampak tepat. Herbert memenangkan pemilu dan resmi menjabat kursi presiden Negeri Paman Sam yang ke-31.

Namun, Herbert malah tidak menepati janjinya yang dahulu berniat membantu memperjuangkan kesetaraan gender. Amelia yang punya akses berbicara ke Herbert, mencoba merayu sang presiden. Sayang sekali, upaya Amelia sia-sia alias ditolak mentah-mentah oleh Herbert.

Amelia mau sebegitu berusahanya memperjuangkan kesetaraan gender, mungkin dipengaruhi masa lalunya yang kelam. Lahir pada 24 Juli 1897, Amelia dibesarkan di Kansas dalam keluarga amat konservatif. Orang tua Amelia membiasakan budaya membatasi hak-hak perempuan ke anak-anaknya.

“Sayangnya saya tumbuh ketika anak perempuan ya tetap anak perempuan. Kendati kegiatan membaca dianggap pantas, tapi banyak kegiatan luar rumah dianggap tidak pantas. Saya suka bermain basket, bersepeda, tenis. Banyak anak laki-laki punya akses mudah untuk berlatih dalam banyak permainan yang tidak didapatkan anak perempuan,” kata Amelia.

“Ketika tumbuh dewasa, pakaian perempuan yang berupa rok dan sepatu hak tinggi jelas membuat sulit bergerak secara alamiah. Seperti halnya pakaian, tradisi juga menghalangi,” lanjutnya.

Senang Lihat Pesawat Perang

Ketemu Lalu Hilang: Kisah Tulang Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama |  kumparan.com

Awal tahun 1917, Amelia rindu kepada adiknya, Muriel. Tak kuat menahan rindu, Amelia lantas pergi ke kota Toronto, Kanada, tempat Muriel bersekolah. Namun situasi di Kanada jauh berbeda dibanding Amerika.

Kanada sudah kisruh melibatkan diri dalam semarak Perang Dunia I. Sementara Amerika baru berkecimpung memanaskan perperangan beberapa bulan kemudian.

Otomatis, kunjungan Amelia ke kediaman adiknya intens dihiasi pemandangan mengerikan, seperti tentara yang tewas kena tembakan peluru, atau serdadu yang terluka parah berdarah-darah. Belum lagi momen Perang Dunia I bertepatan dengan momen mewabahnya penyakit Flu Spanyol. Kian pilu saja amatan mata Amelia di Kanada.

Hati Amelia tak tega bila melihat terus-terusan manusia di sekitarnya menderita. Amelia lantas menjatuhkan tekad bulat untuk menggeluti profesi perawat. Ia mendapatkan akses menjadi perawat setelah masuk ke program Voluntary Aid Detachment.

Resmi jadi perawat pada 1918, Amelia kemudian ditempatkan di Spadina Military Hospital. Amelia menjalankan profesinya dengan ketulusan hati ingin membantu sesama. Tak heran Amelia rela bekerja menambah waktu alias lembur. Ia sering bekerja selama 12 jam sehari dari pukul 7 pagi sampai 7 malam.

Meski isi kota Kana begitu memilukan hati, Amelia tidak lupa caranya bahagia. Amelia tetap mampu mencari hiburan yang membuat hatinya senang. Salah satunya dengan berkunjung ke area lapangan udara milik satuan Royal Flying Corps.

Semasa Perang Dunia I, Royal Flying Corps memutuskan untuk menjadikan Universitas Toronto sebagai markas kebesaran mereka. Kebijakan ini dipengaruhi letak geografis Universitas Toronto yang area sekelilingnya banyak menyediakan fasilitas lapangan udara. Para serdadu Royal Flying Corps tinggal di gedung kampus Universitas Toronto dan berlatih di lapangan udara.

Amelia entah mengapa sangat suka memandangi para serdadu Royal Flying Corps yang sedang berlatih. Ia merasa bahagia begitu melihat pesawat dan pilot-pilot ketika beraksi. Kegiatan menonton serdadu Royal Flying Corps dilakukannya berulang kali guna melepas kepenatan kerja.

Raga Amelia tidak selamanya bisa menetap di Kanada. Dia masih harus meneruskan pendidikan jurusan kedokteran yang diambilnya di Universitas Columbia. Alhasil, Amelia pulang ke kediamannya di Amerika.

Begitu kembali ke negara asal, ada yang berubah dalam hati dan pikiran Amelia. Minatnya tak lagi tertuju kepada bidang kesehatan. Pengalamannya menonton latihan Royal Flying Corps di Toronto membuatnya berkeinginan menggeluti ranah penerbangan.

Amelia berhenti pun kemudian berkuliah. Amelia benar-benar meninggalkan pendidikan kedokterannya. Keputusannya lantas disusul dengan kesempatan pada Desember 1920 menjadi pendamping bagi pilot balap udara, Frank Hawks. Ini merupakan pengalaman pertamanya terbang di ruang kendali pilot.

Amelia juga dikenal sebagai penulis handal. Bukunya terjual paling banyak tentang pengalaman terbangnya dan memiliki peran penting dalam pendirian Ninety Nine, organisasi pilot perempuan.

Biografi Tokoh Dunia: Amelia Earhart, Pionir Dunia Penerbangan Halaman all  - Kompas.com

Amelia tidak pernah pasrah menghadapi terjangan penindasan serta ketidakadilan yang dirasakannya. Boleh saja masyarakat umum membatasi hak-hak perempuan, tapi tekad Amelia terlalu kuat untuk dipatahkan. Ia punya misi besar di ranah penerbangan yang akhirnya jadi sarana Amelia dalam memperjuangkan kaum perempuan.

24 Agustus 1932 merupakan hari besar nan bersejarah bagi Amelia dan perempuan Amerika. Tepat di hari itu, Amelia menjalankan tugas sebagai pilot menyetir pesawat Lockheed Vega B5. Amelia menamai pesawat yang dikendalikannya dengan sebutan “Little Red Bus”.

Pesawat “Little Red Bus” lepas landas pukul 19.30 dari Los Angeles Municipal Airport. Amelia baru menghentikan laju “Little Red Bus” pada keesokan harinya pukul 11.30. “Little Red Bus” dibawa Amelia mendarat mulus di Newark Municipal Airport yang terletak di kawasan New Jersey.

Total waktu penerbangan Amelia bersama “Little Red Bus” adalah 19 jam, menariknya tanpa jeda sama sekali. Kala itu sistem kemudi pilot belum ada teknologi “auto-pilot”, sehingga tangan dan mata Amelia harus selalu fokus.

Sementara kalau urusan jarak, total penerbangan Amelia menempuh sekitar 4.508 km. Amelia melintasi pantai barat Amerika menuju daerah pantai timur. Bila butuh perbandingan, jarak penerbangan Amelia kurang lebih sama dengan jarak tempuh antara kota Jakarta dan Papua Nugini. Jauh sekali bukan?

Urusan pencapaian lamanya waktu dan jauhnya jarak tidaklah penting bagi Amelia kala itu. Amelia lebih suka ke prestasinya yang memecahkan rekor sekaligus mengharumkan kaum perempuan. Amelia resmi menjadi wanita pertama yang menerbangkan pesawat di atas langit Amerika.

Sebelum meraih status tersebut, karier penerbangan Amelia sudah cukup akrab dengan rekor-rekor. Bulan Mei 1932, Amelia berhasil menerbangkan pesawat melintasi langit Samudra Atlantik. Ia mengendarai pesawat yang sama seperti penerbangan 19 jamnya, yaitu “Little Red Bus”.

Aksi Amelia lantas membuahkan rekor sebagai wanita pertama yang sanggup menerbangkan pesawat di atas langit Samudra Atlantik. Amelia bahkan jadi orang kedua di muka bumi yang melakukannya, setelah pilot Charles Lindbergh pada 1927. Amelia dan rekor penerbangan sepertinya dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Lantas, bagaimana awal mula Amelia bisa tertarik dan serius menggeluti ranah penerbangan? Bagaimana pula jalur yang ia pakai sehingga jalannya mengejar karier pilot dapat terwujud? Menjawab dua pertanyaan ini, kita harus menengok jauh ke belakang lagi. Setidaknya menuju tahun 1917 yang mana jadi momen pembuka Amelia masuk ke industri penerbangan.

Menghilang di Samudera Pasifik

Bones Found in 1940 Probably Amelia Earhart's, Study Says | Voice of  America - English

Memasuki awal tahun 1921, ayah Amelia memberikan dukungan penuh terkait cita-cita anaknya. Sang ayah mengenalkan Amelia dengan Bert Kinner, seorang insinyur mesin pesawat terbang. Bert Kinner kebetulan juga seorang pemilik dari sekolah dan fasilitas penerbangan Kinner Airplane & Motor Corporation.

Tangan kanan Bert Kinner, Neta Snook, yang bekerja sebagai manajer lapangan udara serta instruktur penerbangan, turut dikenalkan kepada Amelia.

Pertama kali datang, Amelia langsung mengutarakan maksudnya meminta diajari dan dibimbing untuk menjadi pilot. Neta mengiyakan permintaan Amelia. Pengajaran lantas diberikan Neta ke Amelia keesokan harinya.

Awalnya Neta tidak percaya ada wanita anggun seperti Amelia mau menjadi pilot. Maklum, gaya berpakaian Amelia memang sangat feminim. Ia suka mengenakan rok dan syal di lehernya.

Singkat cerita, Neta setia mengajari Amelia sampai benar-benar mahir. Kurang lebih waktu belajar yang dibutuhkan Amelia sekitar dua tahun lamanya. Kebetulan, Neta jarak umurnya cuma setahun lebih tua dibanding Amelia. Di luar urusan pembelajaran penerbangan, Neta dan Amelia merupakan teman akrab.

Usai lulus dari pengajaran Neta, Amelia memang menjadi pilot yang membanggakan. Banyak rekor yang berhasil dipecahkannya di dunia penerbangan. Profesi pilot benar-benar masuk seutuhnya ke jiwa raga Amelia.

Sampai akhirnya memasuki tanggal 20 Mei 1937, Amelia menjalani penerbangan terakhirnya. Ia dijadwalkan menjalani penerbangan ke arah negara-negara Timur. Checkpoint pertama, Amelia harus mendarat di Papua Nugini. Hal itu berhasil dilaksanakannya dengan baik pada 29 Juni 1937.

Mereka telah menyelesaikan perjalanan sekitar 22 ribu mil (35 ribu kilometer). Hanya tinggal 7.000 mil (11 ribu km) tersisa dari perjalanan yang akan menentukan mereka telah berhasil mengelilingi dunia dan sisa dari perjalanan tersebut akan melewati Samudera Pasifik.

Pada 2 Juli (tengah malam), Amelia bersama navigatornya Fred Noonanmenuju pulau Howland, pulau yang terletak di Samudera Pasifik, namun ternyata mereka telah mengalami sesuatu yang buruk yang merupakan awal dari tragedi ini.

Pemancar 50 watt transmitter yang digunakan oleh Earhart dipasang pada antena tipe-V sehingga menimbulkan kekacauan gelombang radio.

Transmisi suara terakhir dari pesawat yang dapat didengarkan sebagai berikut.

“Kami seharusnya tepat di atas Anda, tetapi kami tidak dapat melihat Anda dan bahan bakar hampir habis. Berulang kali gagal menghubungi melalui radio. Kami terbang di ketinggian 1.000 kaki. Kami berada pada garis 157 337. Kami akan mengulangi pesan ini. Kami akan mengulangi pesan ini pada 6210 kilohertz. Tunggu”.

Akhirnya pesawat Amelia ternyata tidak pernah sampai ke checkpoint kedua. Komunikasi terputus dan mereka menghilang. Upaya pencarian dilakukan satu jam setelah komunikasi terakhir Amelia.

Pesawat Amelia pun dinyatakan hilang dan tidak diketahui keberadaannya. Dua tahun dicari, jasad Amelia tak kunjung bisa ditemukan. Alhasil, otoritas berwenang menyatakan Amelia telah meninggal dunia.

Akhirnya, pada 2 Juli 1937, Amelia Earhart dan navigatornya Frederick Noonan dinyatakan hilang saat pesawat mereka dalam penerbangan mengelilingi dunia. Mereka hilang di antara New Guinea dan pulau Howland, sebuah pulau di tengah Samudera Pasifik.

BERITA TERKAIT