Kisah Horor di Gunung Ciremai Tempat DItemukannya Bom ‘Mother of Satan’ 35 Kg Milik Teroris

Jumat, 29 Oktober 2021, 14:48 WIB
43

Gunung Ciremai, gunung yang ada di Majalengka, Jawa Barat ini, belakangan menampilkan wajah berbeda. Perubahan yang kami maksud bukan dari kontur alam ataupun kisah para pendaki. Kali ini, momen sangat langka terjadi, sebab Gunung Ciremai untuk kali pertama terseret dalam pusaran kasus terorisme.

Awal bulan Oktober 2021, kabar mengejutkan menyeruak lantaran ditemukan bom atau bahan peledak TATP yang berjuluk ‘Mother of Satan’. Makin mencengangkan, bom tersebut kabarnya memiliki bobot yang beratnya mencapai angka 35 kilogram. Proses penemuan bom digawangi langsung oleh kolaborasi dua organisasi penegak hukum, Polri dan satuan Densus 88 Antiteror.

Extra Chilli

Segala kehebohan bermula dari seorang napi kasus terorisme bernama Imam Mulyana. Pria yang merupakan anggota teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) memberikan pengakuan kepada polisi tentang rencana keji jaringannya. Imam mengaku kalau JAD sudah menyusun agenda serangan dengan menggunakan bom yang disembunyikan di kawasan Gunung Ciremai.

Usai mendengar keterangan Ahmad, aparat kepolisian langsung menyusun strategi pencarian bom yang dimaksud. Kepolisian menurunkan Densus 88 Antiteroris, penjinak bom Brimob Polda Jabar, Inafis Polres Majalengka, serta petugas Lapas Sentul, guna menemani Ahmad menyusuri Gunung Ciremai. Mereka semua berangkat ke Gunung Ciremai pada 1 Oktober 2021.

Proses pencarian bom yang disembunyikan Ahmad tidaklah mudah. Rute yang ditempuh untuk menuju lokasi utama bukanlah jalur umum. Tak heran bila perjalanan membutuhkan waktu berhari-hari lamanya.

Lokasi penyimpanan bom ternyata di sekitaran Desa Bantar Agung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat yang ketinggiannya kira-kira 1.450 mdpl. Aparat menyebut bahwa lokasinya sungguh sulit dijangkau dan jarang dilewati orang. Saat ditemukan, kondisi bom seberat 35 kilogram diletakkan pada sejumlah wadah terpisah.

Koi Gate

Tim penjinak bom lantas bergerak meneliti bom yang ditemukan. Sebagian bom diledakan langsung di TKP guna memperkirakan seberapa dahsyat efek yang ditimbulkan. Dampaknya ternyata lumayan dahsyat, bisa menciptakan getaran hebat.

Permukaan tanah tempat peledakan bom jadi berlubang sedalam 1 meter. Tanah longsor sempat pula terjadi pasca satuan penjinak bom meledakan Mother of Satan. Bebatuan besar nan keras juga ikutan pecah terkena getaran dahsyat bom.

 

Profil Singkat Gunung Ciremai

Pokok bahasan artikel kami yang kali ini memang bakal mengungkap sisi lain dari Gunung Ciremai. Kami bakal membedah kisah mistis yang pernah terjadi di sana. Tapi sebelum melangkah ke pembahasan utama, ayo kita simak terlebih dahulu profil singkat Gunung Ciremai.

Bagaimanapun, Gunung Ciremai adalah salah satu dari sederet harta dalam kekayaan alam Indonesia. Area puncak Gunung Ciremai menyentuh ketinggian 3.078 mdpl. Angka tersebut membuat Gunung Ciremai mencatatkan diri sebagai gunung yang paling tinggi seantero Provinsi Jawa Barat.

Luas area Gunung Ciremai kurang lebih sekitar 15.500 Ha. Kalau secara administratif, wilayah Gunung Ciremai masuk ke naungan dua kabupaten berbeda. Sebagiannya yakni 6.800,12 Ha merupakan Kabupaten Majalengka, sementara 8.699,87 sisanya adalah Kabupaten Kuningan.

Bentuk topografi Gunung Ciremai cukup beragam, mulai berbukit, berombak, hingga bergunung. Tak lupa, tersimpan area hutan belantara yang mendiami Gunung Ciremai. Tipe hutan belantarannya juga beragam, antaralain hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, dan hutan pegunungan sub-alpin.

Berbekal ciri-ciri tersebut, wajar kalau Gunung Ciremai sering dijadikan destinasi favorit para penjelajah alam. Status gunung tertinggi di Jawa Barat jadi daya tarik yang begitu memikat hati kalangan pendaki. Mendaki Gunung Ciremai selain untuk menyaluran hobi wisata alam, kerap pula menghadirkan kepuasan petualangan.

Hal lainnya yang tak boleh terlupa saat membahas profil Gunung Ciremai yaitu spesies flora dan faunanya. Khusus flora, Gunung Ciremai menyimpan sedikitnya 199 jenis spesies tumbuhan. Bunga anggrek jadi spesies flora yang paling terkenal di Gunung Ciremai. Ada 40 jenis bunga anggrek yang habitatnya menempati area Gunung Ciremai.

Urusan fauna Gunung Ciremai tak kalah menarik. Keindahan alam Gunung Ciremai diketahui menjadi tempat tinggal bagi beberapa spesies hewan, seperti lutung, kijang, kera ekor panjang, ular sanca, meong congkok, elang hitam, ekek kiling, sepah madu, walik, anis, dan berbagai jenis burung. Catatan pentingnya, ada dua jenis spesies burung langka yang hidup di Gunung Ciremai, burung poksal kuda dan burung cica matahari. Bahkan ada beberapa hewan langka lagi yang kabarnya masih terlihat jejaknya, seperti elang Jawa, surili, serta macan kumbang.

Gunung Ciremai tergolong gunung api yang telah sangat lama ‘anteng’. Tragedi erupsi gunung api yang selalu mengerikan, terakhir kali dialami Gunung Ciremai pada periode tahun 1937 sampai 1938, atau sebelum Indoneia meredeka. Tak heran kalau akhirnya Gunung Ciremai tak pernah sepi kedatangan pendaki.

Petualangan pendakian mencapai puncak Gunung Semeru umumnya memakan waktu sekitar dua hari satu malam. Cepat atau lambatnya waktu tempuh sekali lagi tergantung kesiapan masing-masing pendaki serta jalur yang dipilih. Ada empat jalur utama yang bisa diakses para pendaki untuk menuju bagian puncak Gunung Semeru, yaity jalur Linggarjati, Palutungan, Linggasana, dan Apuy.

 

‘Diputar-putar’ Saat Pendakian

Kisah mistis Gunung Ciremai pernah dialami langsung oleh sekelompok pendaki berstatus santri pada penghujung tahun 2016. Enam orang santri yang kesemuanya berasal dari Jakarta memanfaatkan waktu libur pesantren untuk menyalurkan hobi mendaki gunung. Setelah berembuk, mereka memutuskan memilih Gunung Ciremai sebagai destinasi pendakian.

Singkat cerita, tanggal 13 Desember 2016, keenam orang santri tadi memulai perjalanan mereka menuju Gunung Ciremai. Sebelum berangkat, mereka ternyata tidak izin ke orang tua masing-masing ataupun pihak pesantren terlebih dahulu. Mereka merasa tak ada yang salah dengan kegiatan naik gunung, sehingga mereka tetap berangkat walau belum memberikan informasi apa-apa kepada orang-orang terdekat mereka.

Selama menempuh perjalanan dari Jakarta, mereka menemui beberapa kendala. Kendaraan yang mereka tumpangi sempat menabrak ayam. Jarak pandang mereka di jalan raya juga agak terganggu akibat hujan deras yang turun membasahi bumi.

Mereka akhirnya tiba di basecamp Ranger Linggarjati yang ada di Kuningan, Jawa Barat. Artinya, mereka menjatuhkan pilihan menggunakan jalur Linggarjati dalam pendakian Gunung Ciremai. Bagi yang belum tahu, jalur Linggarjati sejatinya tergolong jalur penuh trek menantang.

Semua pendaki yang melewati jalur Linggarjati dilarang keras melakukan perjalanan malam hari. Maklum, treknya yang begitu panjang diselimuti banyak tanjakan curam. Bila berjalan santai, durasi pendakian kira-kira membutuhkan waktu sekitar 11 sampai 13 jam lamanya.

Belum lagi faktor kondisi alam di sepanjang jalur Linggarjati minim sumber mata air. Para pendaki harus membawa banyak perbekalan air minum. Manajemen tenaga dan pengaturan nafas yang matang amat diperlukan guna menghemat air minum supaya tidak cepat habis.

Rombongan enam santri akhirnya memulai perjalanan mendaki Gunung Ciremai lewat jalur Linggarjati pada pukul 09.00 WIB pagi. Sejak di basecamp, mereka diingatkan untuk menjaga sikap dan perkataan. Terlebih kala itu tidak ada rombongan pendaki yang naik lewat jalur Linggarjati selain mereka.

Perjalanan sedari pos 1 sampai pos 3 dilalui mereka dengan lancar. Mereka menikmati betul pemandangan alam yang terhampar di area Gunung Ciremai. Namun ketika tiba di pos 3, beberapa orang dalam rombongan sedikit menghiraukan anjuran perihal menjaga sikap dan perkataan. Setidaknya ada tiga orang yang malah asyik berjoget ria sambil memutar musik dangdut koplo dengan volume cukup kencang.

Hari masih siang saat mereka melanjutkan perjalanan lagi dari pos 3. Tiba di pos 6, mereka menghentikan langkah kaki mereka untuk membangun tenda. Cuaca mendung dan akhirnya gerimis, membuat mereka terpaksa harus berteduh di dalam tenda.

Mengingat pendakian jalur Linggarjati tak boleh dilakukan malam hari, mereka pun memutuskan bermalam di pos 6 ini. Ketika tengah malam, salah satu pendaki yang tidur tiba-tiba terbangun akibat mendengar suara-suara aneh dari luar tenda. Dia merasa ada suara langkah kaki seperti orang berjalan tanpa menggunakan sepatu di sekitaran tenda tempatnya tidur.

Pagi hari, mereka terbangun dengan kondisi kaget lantaran plastik yang mereka gunakan buat menaruh sampah terurai berantakan. Mendapati hal itu, mereka tetap coba berpikir positif. Mereka berpendapat sampah yang berserakan disebabkan oleh ulah hewan sekitar pos 6.

Mumpung masih pagi, mereka segera membereskan tenda dan perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan ke pos 7. Perjalanan kembali dimulai dengan penuh semangat setelah puas beristirahat semalaman. Namun keanehan terjadi, sebab pos 7 yang mereka tuju tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Padahal semua orang yang ada di dalam kelompok pendakian ini hafal betul jalan ke pos 7 dan sudah mengikuti petunjuk arah yang sesuai.

Langkah demi langkah mereka pijakkan ke atas tanah demi mewujudkan target sampai ke pos 7. Tapi lama-kelamaan energi mereka terkuras banyak dan pos 7 tak kunjung mereka temukan keberadaannya. Mereka lantas berhenti berjalan sembari berdiskusi keputusan apa yang mesti mereka ambil.

Semua anggota pendakian sepakat tak mau ambil risiko lebih jauh. Mereka memutuskan turun ke basecamp awal lagi, menyudahi pendakian, sekaligus mengurungkan niat menapakkan kaki di puncak Gunung Ciremai. Sebelum tiba di basecamp awal, mereka mengunjungi warung untuk melepas rasa haus dan lapar.

Sembari menyantap makanan dan minuman, mereka berbincang-bincang dengan penjaga warung. Mereka menceritakan bahwa pendakian mereka agak aneh karena gagal menemukan pos 7. Mendengar curhatan para santri, sang penjaga warung menanyakan, “apakah rombongan diganggu makhluk tak kasat mata selama menempuh perjalanan naik?”, “apakah ada yang melihat sesosok wujud mirip anak balita manjat ke atas pohon?”.

Menanggapi pertanyaan penjaga warung, salah satu orang di rombongan santri mengaku melihat balita seakan memanjat pohon. Dia juga menjelaskan kalau dirinya kurang menjaga sikap ketika di pos 3. Begitu tahu cerita tersebut, penjaga warung langsung menyuruh enam orang santri mencuci muka dan membasuhnya dengan tanah.

Setelah anjuran penjaga warung dilakukan, tak ada lagi kendala yang rombongan pendaki temui. Mereka akhirnya turun ke basecamp dan pulang dengan selamat. Pelajaran yang bisa dipetik di sini, kalian wahai para pendaki diwajibkan untuk selalu menjaga perkataan dan sikap selama menempuh pendakian di gunung manapun.

BERITA TERKAIT