Kisah Jose Leandro Andrade, Maestro Sepak Bola Sebelum Pele yang Pernah Jadi Gigolo dan Kena Penyakit Sifilis

Sabtu, 02 Oktober 2021, 03:13 WIB
40

Sidonie-Gabrielle Colette, wanita ini selalu dikenang sebagai penulis legendaris Prancis pada awal abad ke-20 silam. Tak heran jika semasa hidupnya Colette selalu diselimuti popularitas dan ketenaran. Tapi Colette punya sisi gelap, dia sering terlibat skandal yang menghebohkan publik.

Dia pernah menyebabkan kerusuhan di Moulin Rouge pada tahun 1907 ketika dia menampilkan simulasi adegan seks dengan wanita lain di atas panggung. Colette turut berani melancarkan rayuan bernada mesum kepada anak tirinya yang berusia 16 tahun. Rayuan Colette diisi ucapan:

“Sudah waktunya kamu menjadi seorang pria sejati.” Singkatnya, profil kehidupan pribadi Colette tiga kali menikah, dua di antaranya berujung perceraian, berulang kali gonta-ganti pacar (baik pria maupun wanita).

Memasuki musim panas tahun 1924, kota Paris kala itu menjadi tuan rumah bagi ajang Olimpiade. Colette selaku warga negara Prancis tentu ikutan semarak menyambut perhelatan kompetisi olahraga tersebut. Tapi fokus Colette teralihkan bergitu dia bertemu, dan terpikat oleh, salah satu peserta Olimpiade 1924: José Leandro Andrade.

Secara gambaran kasar, Colette rasanya bukan tipe wanita yang akan jatuh hati kepada Andrade, sebab latar pendidikan mereka sangat berbeda. Andrade adalah pemain sepak bola Uruguay yang masa kecilnya dipenuhi kemiskinan, tidur saja cuma beralaskan tanah.

Biaya untuk bersekolah tidak mencukupi, sehingga kualitas pendidikan yang didapat Andrade tergolong rendah. Meski dipenuhi latar belakang yang miris, Andrade kenyataannya membuat hati Colette dimabuk asmara. Bahkan, Colette bukan satu-satunya wanita elite Prancis yang dibuat Andrade merasakan jatuh cinta.

Josephine Baker, pesohor anggun Prancis yang juga salah satu pasangan lesbiannya Colette, ikutan bertemu Andrade selama perhelatan Olimpiade 1924 bergulir. Baker bukan orang sembarangan. Reputasinya digambarkan oleh Ernest Hemingway sebagai “wanita paling sensasional yang pernah dilihat siapa pun”.

Pesona Baker adalah artis terbesar di Paris pada 1920-an ketika dia berani menunjukkan atraksi tampil bertelanjang dada dengan rok pisangnya. Karier keartisan Baker sampai sekarang terus diingat sebagai pesohor keturunan Afrika-Amerika pertama yang sukses besar di ranah layar lebar.

Jika Baker adalah bintang film kulit hitam pertama yang berjaya, Andrade adalah ikon kulit hitam pertama dalam sepak bola. Sinar Andrade selaku bintang sepak bola Uruguay sungguh bersinar di ajang Olimpiade 1924.

Sebelum menekuni sepak bola, Andrade adalah seorang musisi dan penari ulung. Beberapa pihak yang mengaku mengenalnya mengatakan, bahwa semasa remaja Andrade sempat bekerja sebagai gigolo. Pada 1920-an, tepatnya 1924 dan 1928, Olimpiade masih secara efektif berstatus kejuaraan sepak bola dunia (FIFA belum mengggelar Piala Dunia), Andrade begitu menyihir para penonton yang mayoritas orang Eropa.

Ratusan ribu orang rela mengantre membeli tiket stadion hanya untuk menonton Andrade bermain. Bisa dibilang, Andrade adalah contoh paling awal dari simbol seks olahraga dan fenomena sepak bola. Kehebatannya mencuat, mengundang decak kagum dunia, jauh sebelum bintang Brazil seperti Pele eksis.

Andrade bersanding dengan Josephine Baker dalam julukan “mutiara hitam” yang diberikan kalangan wartawan Prancis (ada dugaan kalau mereka turut bersanding di atas hangatnya selimut ranjang).

Keberadaan Andrade tidak hanya sekedar punya olah bola hebat, perannya bagi perkembangan sepak bola juga luar biasa. Menurut pendapat Hans Ulrich Gumbrecht, salah satu akademisi paling dihormati yang pernah menulis buku tentang olahraga, Andrade merupakan pemain paling berpengaruh sepanjang sepertiga awal abad ke-20 lantaran mampu meningkatkan citra sepak bola di peta olahraga internasional.

Kehebatannya Sering Diremehkan dan Kini Malah Terlupakan

Mengenal Jose Leandro Andrade, Bek Andalan Uruguay yang Susah Dilewatkan - MerahPutih

Tanah Inggris yang kini jadi kiblatnya sepak bola, tidak mengenal Andrade dengan baik. Hanya segelintir penggemar sepak bola dengan pengetahuan luas saja yang akan mengetahui sejarah manis Andrade. Kesuksesan masa silam Andrade hampir sepenuhnya diluputkan para penggila sepak bola Inggris. Andrade selalu kalah pamor dari dua pemain hebat Piala Dunia lainnya dari Amerika Selatan, Pele dan mendiang Diego Maradona.

Ada dua alasan utama mengapa rekam jejak cemerlang Andrade sering terlupakan. Pertama, pada zaman Andrade berkarier, tidak ada stasiun televisi yang menyiarkan ata meliput pertandingan sepak bola. Kedua, semasa Andrade beken, Inggris belum eksis di sepak bola. Inggris baru ikut serta ke ajang Piala Dunia pada dekade 1950-an.

Inggris juga tidak berkompetisi dalam cabang olahraga sepak bola di Olimpiade 1924 dan 1928. Inggris bahkan pada tahun 1928 mengundurkan diri dari keanggotaan FIFA. Prestasi Timnas Uruguay yang dimotori Andrade memang tidak tertandingi. Kala Andrade mengantarkan Uruguay memenangkan Piala Dunia edisi pertama pada tahun 1930, majalah sebesar Times bahkan tidak mencatat fakta tersebut.

Sewaktu Uruguay dan Andrade memainkan pertandingan perdana mereka di ajang Olimpiade 1924, publik Paris sejatinya tidak tertarik menyaksikannya. Khalayak awalnya lebih suka menonton laga Olimpiade 1924 antara Italia vs Spanyol di Stade de Colombes yang mana sanggup menyedot animo sebanyak 20 ribu orang suporter.

Sedangkan laga perdana Uruguay yang menghadapi Yugoslavia, dihelat di stadion yang sama sehari kemudian tapi hanya beberapa ratus orang yang hadir mengisi tribune penonton. Banyak khalayak yang masih belum tahu bahwa nantinya ada sebuah hal spesial dari kiprah Uruguay.

Perjalanan Indah Andrade Bersama Uruguay di Olimpiade 1924

Fútbolismo ⚽️🌎🌍🌏⚽️ on Twitter: "The Voodoo Child – The Unbelievable Tale of José Leandro Andrade Part 1 https://t.co/zipozv9jp5 by @srijandeep via @Football_P… https://t.co/Ja3ZHheKLo"

Beberapa hari sebelum memainkan laga perdana Olimpiade 1924, Uruguay begitu diremehkan oleh Yugoslavia. Dapat dimaklumi, sebab Yugoslavia telah mengirimkan sejumlah mata-mata yang menyaksikan proses latihan skuad Uruguay. Yugoslavia pun sesumbar akan langsung mengirim pulang Uruguay ke Amerika Selatan.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Yugoslavia dibantai habis-habisan oleh Uruguay dengan skor telak 0-7. Ternyata Uruguay tahu kalau ada sesi latihan mereka akan dimata-matai Yugoslavia. Alhasil, para pemain Uruguay termasuk Andrade, selama berlatih sengaja menampilkan kecacatan bermain demi mengecoh tim lawan.

Tiga hari kemudian, Uruguay yang maju ke babak selanjutnya bersua Amerika Serikat. Ketangguhan Andrade dan rekan-rekannya tak mampu dibendung Negeri Paman Sam. Uruguay menang meyakinkan 3-0. Pasca dua kesuksesan beruntun, Uruguay langsung banjir pujian. Wartawan asal Spanyol, Enrique Carcellach, mengutarakan pendapat bahwa kualitas permainan skuad Uruguay sangatlah indah.

“Saya telah menonton sepak bola selama 20 tahun dan belum pernah melihat tim mana pun bermain dengan penguasaan bola seindah Uruguay. Saya tidak menduga sepak bola dapat dibawa ke tingkat keahlian luar biasa seperti ini, mereka bukan sekedar berolahraga, tapi menunjukkan seni dan keindahan. Mereka seakan sedang bermain catur dengan kaki!” kata Carcellach.

Pujian bertubi datang dari mana-mana menghampiri Uruguay. Pengamat sepak bola dan kalangan wartawan terkagum-kagum. Puncaknya ketika Uruguay bertemu tim tuan rumah di babak perempat final. Uruguay tak ragu membantai Prancis 5-1 di hadapan suporter tuan rumah yang jumlahnya kira-kira 45 ribu orang memadati tribune penonton. Pada saat Andrade dkk. menjungkalkan Prancis, Colette hadir langsung ke stadion. Colette sengaja datang demi memenuhi kewajibannya bekerja sebagai penulis bagi media massa, Le Matin.

Awalnya pandangan Colette enggan serius menyaksikan laga. Ibaratnya, Colette datang hanya sebatas formalitas pekerjaan saja. Namun Colette mulai beranjak dari kursi penontonnya begitu menyaksikan Andrade dan skuat Uruguay mengolah bola. Isi tulisan Colette pun akhirnya berisi puja-pujinya yang mengagumi permainan indah Uruguay.

Selepas laga lawan Prancis, seluruh penggawa Uruguay kembali ke hotel tim. Memasuki malam hari, Andrade tiba-tiba menghilang dari hotel, membuat semua rekan-rekannya panik. Khawatir Andrade tersesat atau diculik, pencarian pun dilakukan. Setelah beberapa jam, akhirnya Andrade ditemukan dalam kondisi bak seorang sultan. Ia sedang berada di apartemen termewah di Paris dan dikelilingi oleh banyak wanita cantik, salah satunya Josephine Baker.

Keluar malam menikmati ketenaran, tak menjadikan performa Andrade menurun. Laga final kontra Swiss, Andrade masih saja cemerlang. Perannya berhasil mengantarkan Uruguay menang 3-0 sekaligus keluar sebagai jawara Olimpiade 1924. Ketenaran Andrade seketika melejit drastis berkat aksi memukaunya di lapangan hijau.

Kegemilangan Andrade Berlanjut

First International Black Footballer 👦🏿 Pioneer of Defense Midfielder — Steemit

Olimpiade 1924 yang dimenangkan Uruguay rampung, kekaguman publik terhadap Andrade belum jua mereda. Andrade bahkan mendapat undangan spesial dari seorang yang sampai sekarang masih anonim, untuk menetap sementara di Paris. Konon, Andrade diperbolehkan tinggal di rumah mewah milik wanita cantik Paris nan kaya raya. Andrade benar-benar tinggal selama sebulan di Paris sejak pagelaran Olimpiade 1924 selesai.

Puas sebulan di Paris, Andrade pulang ke Uruguay. Ketika pulang, gaya penampilan Andrade berubah drastis. Dari yang pakaiannya lusuh, tiba-tiba Andrade bisa mengenakan berbagai aksesoris fashion brand ternama. Popularitas sungguh mengubah cara hidup Andrade yang penuh kemiskinan, tiba-tiba diselimuti banyak kemewahan.

Soal gaya main, Andrade adalah seorang gelandang pengatur serangan yang flamboyan. Kalau mengambil contoh era sepak bola modern, gaya main Andrade mirip dengan Zinedine Zidane, penuh gerakan indah dan berteknik tinggi. Bedanya, Andrade turut memiliki kemampuan fisik luar biasa tangguh. Otot badan dan kakinya amat kuat, sulit dijatuhkan bek-bek lawan.

Ciri khas lainnya yang dimiliki Andrade adalah kebiasaannya malas melakukan selebrasi gol. Andrade juga tergolong pemain yang malas latihan. Sudah sangat sering Andrade membolos saat timnya menggelar sesi latihan. Meski begitu, performa Andrade ketika merumput tetaplah memukau. Dia punya bakat olah bola melimpah ruah, sehingga mungkin tidak perlu latihan sekeras pemain-pemain lainnya.

Prestasi mentereng Andrade tidak berhenti hanya di Olimpiade 1924. Ajang serupa empat tahun berikutnya juga berhasil dimenangkan Andrade bersama Uruguay. Walau kecepatan berlari Andrade sudah menurun, tekniknya terus menghadirkan gerakan-gerakan indah.

Laga final kontra Argentina yang dimainkan di Amsterdam, Belanda, mengundang gemuruh animo publik. Jumlah penonton yang ingin langsung menonton ke stadion mencapai 250 ribu orang, 10 kali lipat lebih banyak dibanding kapasitas stadion.

Wajar, pertemuan Uruguay vs Argentina memang merupakan sebuah laga akbar. Uruguay berstatus juara bertahan, sementara Argentina sepanjang kompetisi Olimpiade 1928 tampil amat mengesankan. Namun sekali lagi, Uruguay adalah penguasa sepak bola zaman itu. Argentina sukses dipecundangi Uruguay dengan skor tipis 2-1.

Tahun 1930, FIFA akhirnya menggelar Piala Dunia untuk pertama kalinya. Uruguay ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah penyelenggara. Andrade kembali memimpin skuat Uruguay untuk mengarungi ajang yang sungguh bersejarah ini. Dia tampil dalam setiap pertandingan yang dimainkan Uruguay sampai menembus babak final.

Pertandingan puncak, Uruguay mengulang laga final Olimpiade 1928 lantaran untuk kedua kalinya bersua Argentina. Bermain di depan publik sendiri, Andrade dan kawan-kawan tak menyia-nyiakan kesempatan. Sempat tertinggal 1-2 pada babak pertama, Uruguay berhasil membalikkan keadaan dan menang 4-2. Andrade bersama Uruguay resmi menjadi juara di edisi perdana Piala Dunia, sekaligus meraih trofi bergengsi ketiga dalam kurun enam tahun.

Masa Setelah Kejayaan Piala Dunia 1930

All-Time Uruguayans: José Leandro Andrade | Jobu's Rum

Andrade menjadikan laga final Piala Dunia 1930 sebagai penampilan terakhirnya untuk Timnas Uruguay. Ia mengemas total 34 penampilan dengan torehan 1 gol. Setelah pensiun dari tim nasional, Andrade melanjutkan kariernya dengan berfokus ke level klub.

Karier klub Andrade hanya bertahan sampai tahun 1934 saja. Selepas gantung sepatu, Andrade mengalami periode yang amat sulit. Dia tak bisa mendapatkan pekerjaan tetap, sementara kondisi keuangannya begitu buruk. Nasibnya sungguh beda ketimbang rekan-rekan seangkatannya yang usai pensiun bisa membuka bisnis atau jadi pelatih.

Penyebabnya ternyata adalah gaya hidup Andrade yang terlalu hedon dan suka berpesta. Uangnya sebagian besar sering habis hanya untuk membeli minum-minuman keras. Situasinya makin parah lantaran kehidupan percintaan Andrade berantakan, kondisi kesehatan tubuh dan mentalnya juga memburuk seiring berjalannya waktu.

Dia didera depresi akut. Salah satu bagian matanya juga mengalami kebutaan. Konon, kebutaan disebabkan oleh benturan keras yang diterima Andrade saat melakoni laga final Olimpiade 1928. Namun banyak yang berasumsi lain, kalau kebutaannya disebabkan oleh gaya hidup suka mabuk-mabukan. Kian miris, Andrade juga diketahui mengidap penyakit sifilis.

Wajah muram Andrade sempat cerah sebentar ketika dia diungang sebagai tamu kehormatan dalam ajang Piala Dunia 1950 di Brazil. Tapi setelah itu, Andrade kembali ke habitat aslinya yang hidup penuh keterpurukan. Dia cuma tinggal di sebuah apartemen kecil bawah tanah. Kebiasaannya minum-minuman keras tak jua berhenti meski dirinya tahu kesehatannya kian memburuk. Umur Andrade lantas tak panjang. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi tanpa uang sepersen pun pada 1957 atau saat dirinya berusia 56 tahun.