Kisah Karir Profesional Fakhri Husaini: Sepak Bola Iya, Kuliah Tetap Jalan

Kamis, 02 Desember 2021, 01:27 WIB
118

Pada era 90-an, tampaknya sepak bola nasional benar-benar bergairah untuk menelurkan para pemain berbakat dan kelak menjadi seorang legenda. Dalam artikel kali ini, kita akan bahas legenda dari daerah Aceh bernama Fakhri Husaini. Lahir di Lhokseumawe, tanggal 27 Juli 1965, siapa yang menyangka dirinya berhasil menjadi salah satu pemain terbaik, di level klub dan juga Timnas Indonesia.

Fakhri banyak menghabiskan karirnya dan terkenal sebagai ikon klub yang sekarang erganti nama menjadi Bontang FC, yakni Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang. Klub yang didirikan oleh Perusahaan bernama PT Pupuk Kaltim pada tahun 1988, yang kemudian cukup bersaing di Galatama – kompetisi sepak bola professional saat itu. Bahkan beberapa kali, PKT juga mewakili Indonesia di kancah internasional seperti Piala Winners Asia, turnamen yang mempertemukan juara-juara liga di benua Asia.

Selama dibela oleh Fakhri, prestasi PKT juga sangat mentereng selama sembilan musim di sana. Dirinya bahkan tiga kali membawa timnya menjadi runner-up Liga Indonesia.

Tidak hanya di level klub, Fakhri Husaini juga mampu menjadi andalan Timnas Indonesia dengan tampil tiga kesempatan di ajang SEA Games. Puncak karirnya bersama Merah-Putih adalah saat menyabet medali perak dengan ban kapten di lengannya melingkar sangat tegas.

Belakangan ini, kita tahu bahwa Fakhri membuktikan dirinya tidak hanya sebagai pemain saja, tapi juga sebagai seorang pelatih. Dirinya terkenal lihai memoles bakat-bakat muda Tanah Air saat menjadi pelatih kelompok usia. Timnas Indonesia U-16 dan U-19 pernah dibawanya tampil menggebrak publik sepak bola Asia sejak dilatih olehnya pada 2017.

Seperti saat Timnas U-16 berhasil menyabet gelar juara Piala AFF U-16 di Sidoarjo pada tahun 2018 lalu. Dengan tim yang sama, dia juga berhasil membawa Timnas Indonesia lolos hingga babak perdelapan final di Piala Asia U-16, Kuala Lumpur, pada tahun 2018. Pencapaian terakhir merupakan sebuah prestasi, karena Timnas kelompok usia tidak pernah sejauh itu sebelumnya.

Pada perdelapanfinal Piala Asia U-16, langkah Garuda Muda asuhan Fakhri terhenti oleh Australia. Negara yang baru saja gabung federasi Asia untuk Piala Asia dan juga kualifikasi Piala Dunia saat itu. Sangat disayangkan bukan?

 

Keluarga yang Sempat Melarang, Harus Kuliah

Di balik kesuksesan dirinya menjadi seorang pemain legendaris, ternyata jauh sebelum itu terdapat semacam larangan atau orang tua tidak merestui dirinya meniti karir di sepak bola. Apalagi kalau bukan Pendidikan yang menjadi alasan orang tua melarang anaknya untuk fokus di sepak bola. Sebenarnya, saat pertama kali banget, dia mengenal sepak bola dari ayahnya.

Tapi secara mengejutkan ketika bakat anaknya makin terasah, sang ayah malah melarang dirinya untuk jadi pemain professional. Bahkan ibunya juga ikut melarang dengan alasan ingin sang putra fokus pada Pendidikan formal.

“Ayah yang memperkenalkan sepak bola, dia dulu pemain di PS Pertamina Rantau Panjang. Awalnya dia memang punya pengalaman buruk sebagai pemain sepak bola. Dia pernah ribut di pertandingan, kepalanya luka karena kena lemparan dari penonton. Jadi dia gak mau saya ikut jejaknya sebagai pemain professional,” ucap Fakhri Husaini dalam sebuah kesempatan di channel YouTube Omah Bal-balan.

Namun seiring berjalannya waktu dan terus diyakinkan dengan bakat sang anak tidak terbendung, ayahnya mulai melunak, tapi prosesnya tidak mudah. Terlihat lewat cerita Fakhri, saat itu pengurus tim Lhokseumawe datang menemui ayahnya ke Rumah meminta izin untuk sang putra ikut tampil di Piala Soeratin. Bahkan nama Fakhri Husaini sempat diminta ikut seleksi program PSSI Garuda I.

Tidak hanya tim kota kelahirannya saja, klub Malaysia yang saat itu sempat tur ke Aceh dan Medan dan tertarik dengan bakat Fakhri. Hingga akhirnya dia mendapatkan tawaran bermain di Malaysia, tapi ayahnya tidak memberi izin tersebut.

“Pelan-pelan memang mendapatkan dukungan untuk main sepak bola, tapi keluar dari Aceh tidak boleh. Di Piala Soeratin saya ikut Aceh Utara menghadapi Medan, ayah saya kebetulan manajernya, jadi saya tidak boleh main. Padahal umur masih 15 tahun dan ingin main dengan pemain sebaya,” lanjut cerita Fakhri.

“Kemudian saya diperbolehkan ke Jakarta dan masuk Bina Taruna setelah lulus ujian SMA. Saya kembali ke Aceh cuma untuk ijazah dan kelulusan SMA. Lima tahun di Bina Taruna itu, saya lanjut ke klub professional, mulai dari Lampung Putra, Petrokimia Putra Gresik dan PKT Bontang,” lanjut pria yang sekarang berusia 56 tahun itu.

 

Demi Melanjutkan Kuliah, Pindah ke PKT Bontang

Fakhri juga menceritakan kisahnya di klub yang kelak dia menjadi seorang legenda, bersama PKT Bontang. Dia menjelaskan kepindahan itu disebabkan ‘kecelakaan’ yang membuat dirinya harus meninggalkan Petrokimia Gresik ke Bontang, kota kecil di Kalimantan Timur.

‘Kecelakaan’ kecil itu adalah kontraknya dengan Petrokimia Putra tidak diperpanjang dikarenakan tidak terdapat kesepakatan soal isi kontrak dari manajemen klub. Di saat yang bersamaan juga, perwakilan PKT yang sudah kesengsem dengan bakatnya, sudah intens menghubungi Fakhri Husaini.

Pengurus PKT saat itu, Arifin Tasrif, yang kini kita kenal menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia ditunjuk oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada tahun 2019 lalu.

“Setelah kontrak dengan Petrokimia Putra berakhir, saya di mes Petrokimia ditelfon orang yang sebenarnya tidak saya kenal. Namanya Arifin Tasrif, orang dari PKT Bontang,” katanya.

Uniknya, pembicaraan dengan Arifin Tasrif lewat telepon ternyata bukan membahas karir professional untuk pindah ke PKT. Tapi tawaran untuk melanjutkan kuliah, alias Pendidikan normal.

Fakhri pun sebenarnya ingin menyelesaikan kuliahnya di Surabaya sambil bermain untuk Petrokimia Putra Gresik. Pria asal Lhokseumawe itu pun langsung tertarik dengan tawaran Arifin Tasrif untuk lanjut kuliah di Bontang, tentu saja sekaligus bermain di PKT Bontang.

“Dia (Arifin Tasrif) menanyakan apakah mau kuliah lagi? Tidak bahas sepak bola awalnya. Saya pun saat itu masih berhutang pada orang tua untuk selesai kuliah. Saya kuliah di Surabaya dan tinggalnya di Gresik, itu kan jauh, akhirnya memang berhenti. Jadi saya pikir apa salahnya, meski ada beberapa klub lain yang menawarinya kontrak, akhirnya saya sepakat dengan PKT,” jelasnya lengkap.

Pada awal kedatangannya ke PKT, Fakhri mengaku butuh adaptasi karena kondisi daerah dan lingkungan Kota Bontang. Daerah yang benar-benar berada di tengah hutan dengan fasilitas dan infrastruktur jalan yang masih terbilang buruk kala itu.

Namun adaptasi itu berhasil dan sampai sekarang dia tinggal di Bontang selama puluhan tahun. Dia mengaku adaptasi itu memang tidak sulit, karena daerah asalnya, Lhokseumawe dikatakan tidak jauh berbeda dengan kota Bontang.

“Yang bikin saya senang adalah lapangan sepak bola PKT, Stadion Mulawarman, yang saat itu, bisa dibilang stadion terbaik di Indonesia. Banyak pemain yang lelah bertandang ke sana, tapi jadi segar karena stadion Mulawarman milik PT PKT,” katanya mengenang karirnya di PKT.

“Momen paling saya patut dikenang sangat banyak, tidak hanya final kontra PSM di tahun 2000. Sepak bola bukan tugas mudah, apalagi untuk menang di tandang. PKT memang tidak pernah juara, tapi tiga kali runner-up. Itu menunjukkan bahwa tim tanpa bintang tapi kekompakan luar biasa, juga mampu bersaing,” tuturnya lagi.

 

Fakhri Husaini, Gelandang Jenius Pada Masa Keemasan

Pada masa keemasannya sebagai pesepakbola, Fakhri Husaini bermain di posisi gelandang dan bersinar tidak hanya untuk klub PKT, tapi kegemilangannya juga dirasakan oleh Timnas Indonesia. Posisi gelandang atau lebih tepatnya playmaker jenius, adalah label yang melekat semasa dirinya jadi pemain professional.

Dia tidak hanya cepat dan lincah dalam menggiring bola, tapi cerdik dalam melihat posisi yang tidak dijaga lalu memberikan operan akurat ke rekan-rekan setimnya. Tidak hanya mengkreasi permainan lewat operan-operan ciamiknya, dia juga punya naluri mencetak gol sangat tajam.

Dia mengaku bahwa kejeniusan yang sudah dijelaskan di atas dikarenakan belajar sepak bola kala di Aceh. Formasi 4-2-4 sangat menjadi langganan di kampung kelahirannya dan membuat dirinya terbiasa menjadi gelandang yang berlarian dan mencari peluang lebih keras.

“Saya dulu paling muda di Aceh dan terus-terusan disuruh kejar bola. Akhirnya kreativitas itu muncul, karena kalau salah umpan atau peluang gagal, saya merasa malu sendiri. Latihan di rumah sendiri, dengan pot-pot untuk menggiring bola, pot pecah dan ibu saya seringkali marah,” kenangnya mengingat masa kecilnya.

Dengan latihan seperti itu selama di Aceh, dia semakin berkembang dari pola bermain 4-2-4 ke 4-4-2 yang membuatnya merasa dibantu dengan gelandang lain di sampingnya. Itu ketika dia pindah ke Jakarta dan bergabung bersama Bina Taruna.

“Saya terbilang pemain yang beruntung bisa merasakan tangan dingin dari pelatih bernama Ipong Silalahi di Bina Taruna, Jakarta. Setelah itu ada pelatih yang juga berperan untuk saya, Risdianto di Lampung Putera, dan Ronny Pattinasarany di Petrokimia. Mereka semua memberi dampak positif yang besar dalam mendidik saya untuk jadi gelandang seperti masa saya bermain dulu,” akhir cerita dari Fakhri Husaini.