Kisah Memalukan Sepak Bola Dunia: Kala Para Penipu Memanipulasi Panggung Lapangan Hijau

Kamis, 02 Desember 2021, 01:59 WIB
112

Olahraga sepak bola pada dasarnya dihiasi oleh banyak sekali penipu. Sedari dulu sampai sekarang, penipu-penipu ulung terus bermunculan memanaskan persaingan lapangan hijau, bahkan sampai mampu meraih sejumlah prestasi mengesankan.

Penipu yang dihargai dalam sepak bola ialah mereka para pemain dengan bakat menawan. Mereka sering beraksi di atas lapangan sambil mengeluarkan beragam teknik olah bola yang ampuh memperdaya bek-bek lawan.

Namun kemeriahan pentas sepak bola ternyata turut melahirkan jenis penipu lainnya. Bahkan kisahnya terdengar lebih sensasional ketimbang penipu-penipu berlabel bintang top.

Nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar, yang lihai menipu bek-bek lawan, sangat wajar dapat berkarier sebagai pesepak bola profesional. Bakat olah bola mereka memang luar biasa, sehingga pasti ada saja tim-tim yang tertarik memakai jasa mereka.

Beda ceritanya bila menengok nama Ali Dia dan Carlos Kaiser. Keduanya adalah penipu sejati, sebab mereka bisa menjalani karier menjadi pesepak bola hingga gabung ke klub ternama, walaupun tanpa dibekali bakat yang memukau.

 

Ali Dia, Penipu yang Memakai Tameng George Weah

Ali Dia sepertinya tipe orang yang sangat menyukai cerita fiksi. Berkat segala bualannya, sosok yang katanya berasal dari Senegal ini pernah berhasil menghidupkan mimpinya untuk menjadi pesepak bola profesional.

Sebenarnya cukup sulit mencari jejak keberadaan Ali Dia ataupun informasi jelas tentangnya. Padahal kalau kita menelusurinya menggunakan internet, nama Ali Dia banyak mengisi judul-judul artikel media online.

Namun kisah yang dibahas mengenai Ali Dia selalu berkaitan dengan aksi tipu dayanya. Ia menjalankan aksi penipuan yang membawanya menuju klub Liga Inggris, Southampton.

Sosok Ali Dia pertama kali terendus jejaknya saat dia masih tinggal di Prancis. Kala itu namanya ditulis “Aly Dia”, bukan “Ali Dia”.

Sekitar tahun 1988 sampai 1992, Ali Dia memulai petualangan sepak bolanya bersama empat klub Prancis, Beauvais, Dijon, La Rochelle, dan Saint Quentin. Kontrak resmi baru datang menghampiri Ali Dia pada 1993, diberikan oleh AL Chateaubriant, klub yang bermain di Divisi 5 Liga Prancis.

Perlu diingat, kontrak Ali Dia di AL Chateaubriant tidak memintanya sebagai pemain. Isi kontrak lebih tepatnya menjelaskan tugas Ali Dia yang harus bekerja bersama tim reserve AL Chateaubriant selama 87 jam sebulan dan dibayar Rp 6,4 juta per bulannya.

Kontrak Ali Dia yang demikian diamini oleh ketua AL Chateaubriant, Michel Bonnier. Menurut Michel Bonnier, Ali Dia sempat bermain dalam beberapa laga dengan Tim A dan Tim B sepanjang perhelatan musim 1993/94.

Era-era itu situasi persepakbolaan Prancis memang dihuni banyak sekali pemai Afrika. Mayoritas datangnya dari negara-negara Afrika bekas jajahan Prancis, mungkin termasuk Ali Dia.

Anehnya, Federasi Sepak Bola Prancis nihil catatan tentang Ali Dia. Pihak Federasi mengklaim tidak ada pemain di Liga Prancis kasta manapun yang berasal dari Senegal dan bernama Ali Dia.

Ali Dia sepertinya kurang kerasan menjalani karier sepak bola di Prancis. Ia kemudian merantau menuju negara yang tidak menggunakan bahasa Prancis dalam komunikasi sehari-hari.

Negara yang dipilih Ali Dia adalah Finlandia. Pilihannya terbilang tepat, Ali Dia dikontrak oleh Finnairin Palloilijat (FinnPa) pada 1995.

Finnairin Palloilijat bukan tim sembarangan di Finlandia sana. Tim yang berbasis di kota Helsinki ini merupakan peserta kasta tertinggi Liga Finlandia setelah mendapat tiket promosi dua tahun sebelum Ali Dia gabung.

Sampai di titik memperkuat Finnairin Palloilijat, terlihat jelas kalau karier Ali Dia mengalami peningkatan. Menariknya, Ali Dia bisa gabung Finnairin Palloilijat bukan karena bakat olah bola, melainkan dipengaruhi ucapan mulutnya.

Ali Dia mengusung cerita bahwa dirinya masih punya hubungan darah sepupu dengan George Weah. Berulang kali Ali Dia menuturkan cerita tersebut sampai orang-orang di sekitarnya percaya.

“Ya, dia menceritakan kisah-kisah itu (tentang George Weah) pada saat itu,” ungkap mantan rekan setimnya, Kalle Lehtinen, dikutip dari Bleacher Report.

Mungkin Ali Dia paham konsep yang pernah dicetuskan oleh salah satu petinggi Partai Nazi Jerman, Paul Joseph Goebbels. Orang kepercayaan Adolf Hitler ini punya sebuah teori tersendiri dalam berkomunikasi: “Kebohongan yang diucapkan terus-menerus, niscaya akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran”.

Kebohongan yang dipakai Ali Dia rasanya sungguh jitu. Menggunakan tameng George Weah pasti akan menimbulkan decak kagum siapapun.

Maklum, George Weah pada 1995 sedang menapaki kejayaan karier. George Weah baru dinobatkan sebagai peraih penghargaan Ballon d’Or serta pemain terbaik FIFA.

Situasi makin mendukung aksi Ali Dia lantaran banyak klub-klub Eropa yang mulai tertarik terhadap potensi para pemain asal Afrika. Terlebih, memantau bakat-bakat Afrika kala itu belumlah semudah sekarang, internet tidak menyediakan banyak informasi, dan referensi biasanya datang melalui pihak ketiga.

AL Chateaubriant jelas tak punya sumber daya mumpuni yang dapat memastikan kebenaran informasi, “Ali Dia sepupu dari George Weah”. Alhasil, AL Chateaubriant dengan mudahnya percaya dan memberikan kontrak resmi sebagai pemain profesional kepada Ali Dia.

Saking percayanya, Finnairin Palloilijat tak ragu membayar Ali Dia sebesar 250 pounds atau sekitar Rp 4,7 juta per pekan. Kalau dibandingkan dengan pemain-pemain lain Liga Finlandia, mereka rata-rata hanya menerima seperlima gaji Ali Dia. Fantastis bukan?

Debut Ali Dia untuk Finnairin Palloilijat tercipta pada 30 April 1995. Ia tampil dalam laga tandang kontra Haka.

Total, Ali Dia lima kali bermain mengisi skuat Finnairin Palloilijat. Tentu Ali Dia tidak memberikan kontribusi apa-apa dari lima laga yang dimainkannya.

Ali Dia justru sering tampil buruk. Contohnya laga kandang melawan Ilves pada 15 Juni 1995, Ali Dia selalu merusak sistem penyerangan timnya sendiri serta 10 kali terjebak offside.

Laga terakhir Ali Dia bersama Finnairin Palloilijat adalah saat melawan Jaro pada 21 Juni 1995. Ali Dia baru dimainkan ketika laga memasuki menit ke-81.

Sembilan menit di lapangan, Ali Dia tidak berbuat apa-apa. Ali Dia cuma sanggup mencatatkan kartu kuning akibat melakukan pelanggaran keras.

Pasca laga kontra Jaro, Ali Dia terpaksa melepaskan jersey nomor 18 yang dipakainya di tim Finnairin Palloilijat. Manajemen Finnairin Palloilijat mengambil keputusan tegas memutus kontrak Ali Dia.

Sempat menghilang, Ali Dia kembali muncul dengan PK-35, klub dividi 2 Divisi Timur Liga Finlandia. Lagi-lagi kontrak didapat Ali Dia berkat bualannya yang memakai tameng George Weah.

Bersama PK-35, Ali Dia total tampil sebanyak tiga kali serta mencetak satu gol. Setelahnya, Ali Dia terdepak dan menghilang dari peradaban.

Musim gugur 1995, Ali Dia mencoba peruntungannya di Jerman. Masih mengandalkan bualannya, Ali Dia mendapat kontrak dari tim Divisi 2 Liga Jerman, Vfb Lubeck.

Sama seperti yang lalu-lalu, Ali Dia diberi kesempatan main tapi tidak mampu melakukan apa-apa. Dua kali berlaga kontra Hannover 96 dan VfB Leipzig, Ali Dia langsung dipecat oleh Vfb Lubeck.

Puncak kebohongan Ali Dia terjadi pada 1996. Suatu hari bulan November 1996, telepon di ruangan kantor Manajer Southampton, Graeme Souness berdering kencang.

Tanpa memasang raut curiga, Souness mengangkat telepon. Souness terkejut mendengar orang yang menelponnya ternyata George Weah.

Souness sudah membayangkan kalau skuat Southampton nantinya akan kedatangan George Weah. Namun bukan itu ternyata tujuan George Weah menghubungi Souness.

Isi pembicaraan membahas keponakan Weah yang bernama Ali Dia. Weah meminta Souness agar Ali Dia diberi kesempatan trial bersama Southampton.

Ucapan Weah meyakinkan hati Souness. Bagaimana tidak, Weah berujar kalau Ali Dia baru menjalani debut bersama Timnas Senegal dan langsung mencetak dua gol.

Sekedar catatan, Souness bukanlah manajer sembarangan di sepak bola Inggris. Souness ialah sosok yang mengorbitkan nama top seperti Matt Le Tissier.

Selanjutnya, Souness mewujudkan keinginan Weah mempromosikan Ali Dia. Souness mempersilahkan Ali Dia berlatih bersama Southampton.

Selama latihan sebenarnya sudah kelihatan jelas Ali Dia tidak bisa bermain sepak bola, apalagi untuk ukuran Liga Inggris. Tapi Souness akhirnya tetap memberanikan diri mengontrak Ali Dia secara profesional.

23 November 1996, Southampton harus menjalani laga lanjutan Liga Inggris kontra Leeds United. Sosok Ali Dia secara mengejutkan duduk di bangku cadangan.

Laga memasuki menit ke-32, bintang andalan Soton, Le Tissier mengalami cedera. Le Tissier tak bisa melanjutkan laga dan Souness menggantinya dengan Ali Dia.

Kepercayaan Souness kepada Ali Dia seketika runtuh dalam laga tersebut. Bayangkan, Ali Dia cuma bisa bertahan di atas lapangan selama 54 menit kemudian minta diganti.

Parahnya, setelah laga usai, Ali Dia harus mendapat perawatan intensif dari staf fisioterapis Soton. Tubuh Ali Dia mengalami kelelahan akut.

Souness mulai mencium gelagat aneh. Tanpa banyak pikir panjang, Souness langsung memutus kontrak Ali Dia.

Sudah bisa ditebak, telepon yang diterima Souness dari Weah adalah bentuk aksi penipuan Ali Dia. Terungkap fakta kalau Ali Dia meminta rekannya berpura-pura sebagai Weah dan berbicara kepada Souness.

Pasca kejadian di Southampton terbongkar, Ali Dia tak pernah kelihatan batang hidungnya lagi. Bahkan sampai sekarang keberadaan Ali Dia masih menjadi misteri, hal yang tersisa hanyalah kebohongan-kebohongannya saja.

 

Sejuta Alasan Carlos Kaiser

          CV seorang pemain sepak bola salah satunya dapat dilihat dari klub-klub mana saja yang pernah dibela. Menengok CV Carlos Kaiser, isinya cukup mentereng dan mungkin kita tak akan menyangka kalau dirinya hanyalah penipu saja.

Carlos Kaiser adalah seorang pria asal Brazil yang punya impian tinggi untuk menjadi pesepak bola profesional. Wajar, ia tumbuh besar di Brazil yang punya kultur sepak bola amat kental.

Sebenarnya Carlos Kaiser sadar bahwa dirinya tidak punya bakat hebat perihal olah bola. Sisi bagusnya, Carlos Kaiser tak mau menyerah mengejar mimpi meski terhalang oleh keterbatasan tadi.

Awal era 1980-an, Carlos Kaiser mulai menebar jala koneksi dengan pemain-pemain top Brasil. Ia berteman dengan nama-nama beken, seperti Romario, Bebeto, Edmundo hingga Ricardo Rocha.

Cara yang dijalankan Carlos Kaiser sederhana sekali. Carlos Kaiser selalu menjamu dan melayani para pemain top Brazil ketika berkunjung ke tempat-tempat hiburan malam.

Hubungan pertemanan dengan bintang-bintang Brazil semakin akrab, membuat Carlos Kaiser mulai memberanikan diri meminta imbalan. Carlos Kaiser ingin bintang-bintang Brazil merekomendasikan namanya kepada klub-klub profesional.

Kontrak profesional kemudian didapat Carlos Kaiser. Bahkan tim yang mengontraknya kebanyakan berstatus raksasa Liga Brazil, seperti Bangu, Botafogo,Vasco Da Gama, Palmeiras, Flamengo, hingga ke klub Liga Prancis, Gazelec Ajaccio.

Menariknya, Carlos Kaiser tak pernah mengecap satu penampilan pun. Ia punya sejuta alasan untuk menghindari kewajiban bertanding, sehingga kedoknya tidak terbongkar.

Biasanya Carlos Kaiser memakai alasan cedera. Kalaupun harus latihan, Carlos Kaiser hanya menjalani latihan fisik berlari keliling lapangan saja, alasannya untuk mengembalikan kondisi fisik terbaiknya.

Alasan lain yang dipakai Carlos Kaiser guna menghindari pertandingan juga unik-unik. Misalnya ketika membela Bangu pada 1998, Carlos Kaiser duduk di bangku cadangan dan tiba-tiba diminta pelatihnya melakukan pemanasan.

Carlos Kaiser sebenarnya sangat panik, jika benar-benar dimainkan nanti kebohongannya akan terungkap. Beruntung, ada suporter lawan dari tribune stadion yang melontarkan hinaan kepadanya.

Hinaan suporter tersebut, memunculkan ide brilian di otak Carlos Kaiser. Tanpa banyak pikir panjang, Carlos Kaiser langsung menghampiri suporter yang mencacinya supaya tercipta perkelahian.

Wasit yang memimpin laga melihat keributan antara Carlos Kaiser dan penonton. Sang pengadil lapangan lantas menghukum Carlos Kaiser dengan kartu merah.

Bukannya sedih, Carlos Kaiser senang bukan kepalang diusir wasit keluar lapangan. Ia selamat dari pertandingan yang harus dimainkannya.

Pernah pula Carlos Kaiser memanfaatkan situasi teknologi yang belum terlalu canggih. Ia berhasil mengubah riwayat cedera paha menjadi sakit gigi saja, lagi-lagi demi menghindari pertandingan.

“Saya meminta bola kepada seorang teman (saat latihan). Tiba-tiba saya merasakan sakit di paha. Tim  medis mengirim saya ke ruang perawatan. Setelah 20 hari tidak ada tanda-tanda saya keluar. Padahal, saya merasa sehat. Tidak ada MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada saat itu. Ketika itu menjadi berat bagi saya, ada seorang teman dokter gigi yang memberikan sertifikat bahwa itu hanya masalah gigi,” kata Carlos Kaiser.

Ada lagi sebuah momen latihan yang mana Carlos Kaiser menendang semua bola ke suporter di tribune penonton. Hal yang dilakukan Carlos Kaiser kesannya ingin memberikan suvenir kepada suporter yang sudah datang.

Namun aksi Carlos Kaiser membuat bola yang dipakai untuk latihan tak tersisa lagi. Latihan otomatis dibatalkan karena tak bisa berjalan tanpa adanya bola.

Trik kebohongan Carlos Kaiser juga didukung oleh perawakan fisiknya yang memang proposional untuk ukuran pemain sepak bola. Bentuk tubuhnya tampak atletis, membuat tim-tim yang ditipunya mudah percaya kalau Carlos Kaiser memanglah seorang pesepak bola berbakat.

Segala kebohongan Carlos Kaiser terus berjalan mulus, sampai akhirnya dia pensiun saat umurnya menginjak 39 tahun. Berkat sejuta alasan yang dipakainya, Carlos Kaiser sanggup membangun karier sepak bola yang berlangsung 20 tahun lamanya.