Kisah Pebasket Indonesia Berjuang Menembus Pentas NBA Sepanjang 2021: Dari Bakat Muda Hingga Pemain Naturalisasi

Jumat, 31 Desember 2021, 19:05 WIB
62

Edisi Bonanza88, Jakarta – Semua pecinta olahraga bola basket pasti setuju bahwa National Basketball Association (NBA) merupakan kompetisi paling bergengsi di dunia. Ajang ini cakupannya memang hanya berskala lokal untuk tim-tim dari negara Amerika Serikat. Meski demikian, pesona NBA tetaplah mampu menjadi pusat perhatian masyarakat internasional mengenai keseruan perkembangan pentas basket.

NBA setiap musimnya selalu dihiasi oleh bintang-bintang basket ternama dengan teknik skill individu luar biasa hebat. Fenomena demikian masih terus terjadi hingga sekarang. Nama-nama pebasket top NBA yang belakangan sedang banyak diidolakan khalayak antara lain ialah Stephen Curry, LeBron James, Kyrie Irving, Russell Westbrook, Giannis Antetokounmpo, dan Kevin Durant.

Bukan hanya pebasket yang masih aktif berkarier saja, yang mendapat atensi publik perihal kemegahan NBA. Pembicaraan yang menyoroti para legenda NBA juga terus langgeng diterapkan. Kami yakin kalau kalian minimal mengetahui betapa populernya sosok legenda NBA bernama Michael Jordan. Sepanjang berkarier dulu, performa Michael Jordan begitu mengesankan, terutama semasa membela tim Chicago Bulls.

Selain Michael Jordan, sejumlah legenda NBA lainnya kerap pula dikenang akan kehebatan masa lalu mereka. Sebut saja Kobe Bryant (almarhum), Shaquille O’Neal, Dirk Nowitzki, Tim Duncan, hingga yang paling lawas Kareem Abdul-Jabbar. Mereka semua meninggalkan warisan rekam jejak karier di NBA yang amat mengesankan, sehingga membuat orang-orang sulit melupakan nama besar mereka.

Sebenarnya, kemahsyuran NBA di lingkup olahraga bola basket internasional lumayan dipengaruhi oleh kultur Amerika Serikat selaku negara empunya kompetisi. Catatan sejarah menurut Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa Amerika Serikat menjadi tempat pertama kali lahirnya olahraga bola basket ke dunia. Penemuannya tercipta berkat kinerja seorang pria bernama James Naismith pada 1 Desember 1891 silam.

Setelah ditemukan, basket terus melekat erat dalam kehidupan masyarakat Negeri Paman Sam. Banyak penduduk di sana yang biasa memainkan basket sebagai aktivitas olahraga maupun hobi rutin. Pelan-pelan, basket tidak lagi cuma populer di Amerika Serikat saja, tapi turut menyebar menuju berbagai negara. Puncaknya terjadi pada medio 1930-an yang mana basket mencuat jadi tren di mana-mana.

NBA sendiri didirikan pada 3 Agustus 1949, sekitar 17 tahun pasca Federation Internationale de Basketball (FIBA ) atau Federasi Bola Basket Internasional terbentuk. Proses pendirian NBA didahului penggabungan dua asosiasi olahraga basket di Amerika Serikat yang memilih bersatu, Basketball Association of America (BAA) dan National Basket League (NBL). Sejak pertama kali ada, NBA terus mengalami perkembangan sampai akhirnya di titik seperti sekarang, menjadi kiblatnya olahraga basket dunia.

Kepopuleran pentas NBA tentunya dirasakan oleh pecinta basket di Indonesia. Kalau dibandingkan dengan olahraga sepak bola, penduduk Tanah Air yang telaten mengikuti perkembangan kompetisi NBA ceruknya tergolong kecil. Publik Indonesia terlanjur ‘gila bola’, atau minimal bila mau memilih hobi olahraga lain, arahnya mayoritas tertuju ke bulutangkis. Basket dan NBA masih jadi barang kurang laku bagi Indonesia.

Walau demikian, Indonesia tetap memiliki atlet maupun kompetisi basket profesional. Setiap atlet basket Indonesia pasti sungguh mendamba agar suatu hari nanti bisa merasakan langsung berlaga di sengitnya kompetisi NBA. Sayangnya, kualitas basket Indonesia cukup tertinggal. Impian seperti ini pun sangat sulit diwujudkan.

Harapan menembus kemegahan pentas NBA setidaknya menemukan titik cerah pada 2021. Tahun ini, kabar baik datang menghampiri Indonesia. Beberapa nama atlet basket kewarganegaraan Indonesia diketahui ada yang berhasil memutus kemustahilan. Bahkan ada pebasket Tanah Air yang sampai benar-benar berlaga di NBA.

Menanti Potensi Derrick Michael Xzavierro

Derrick Michael Xzavierro, Baru 2 Menit Tampil untuk Timnas Basket  Indonesia Langsung Pikat Akademi NBA

Indonesia menyimpan harapan besar akan potensi pebasket muda bernama Derrick Michael Xzavierro. Usianya belum genap 20 tahun (kelahiran tahun 2003), tapi Derrick Michael sudah mampu unjuk gigi kalau potensinya dalam olahraga basket tak bisa dipandang sebelah mata. Bukti nyatanya, Derrick Michael sejak pertengahan 2021 lalu berhasil menapakkan karier internasional dengan menembus NBA Global Academy.

Catatan penting yang patut digarisbawahi, Derrick Michael adalah pebasket asal Indonesia pertama yang masuk ke program garapan NBA tersebut. NBA Global Academy sendiri merupakan sebuah program pendidikan istimewa yang sengaja dirancang untuk memberikan kesempatan pengembangan karier bagi para pebasket muda berbakat dari negara-negara non Amerika Serikat. Pebasket yang dibina dalam NBA Global Academy ini, semuanya sedang di fase umur-umur pelajar Sekolah Menengah Atas.

Pendidikan yang dimaksud bukan hanya soal teknis permainan basket saja. Para peserta NBA Global Academy, termasuk Derrick Michael, bakal dipoles pula sisi kekuatan fisik dan ketangguhan mentalnya. Segala pengajaran dilakukan secara holistik oleh pelatih-pelatih NBA profesional yang sudah terbiasa menangani pebasket-pebasket muda level perguruan tinggi.

Tidak sembarangan pebasket muda yang bisa ikut serta ke NBA Global Academy. Pihak panita penyelenggara lebih dulu menerapkan pemantauan bakat dan seleksi ketat lewat program lain bertajuk NBA Global Scout. Selama proses seleksi, NBA Global Scout mengandalkan aplikasi Homecourt, suatu platform canggih yang dilengkapi teknologi AI.

Homecourt mampu begitu akurat memantau bakat-bakat pebasket muda potensial di seluruh dunia. Tingkat keterjangkauan aplikasi Homecourt terkini telah sanggup mencakup total 197 negara dengan total 25.000 pebasket muda yang diamati intens bakatnya. Kecanggihan Homecourt jugalah yang akhirnya menemukan bakat Derrick Michael hingga berkesempatan menimba ilmu di NBA Global Academy.

Derrick Michael menjalani pendidikan NBA Global Academy di cabang Australia. Kemampuan Derrick Michael akan terus ditempa sampai batas waktu tertentu. Seandainya Derrick Michael menunjukkan perkembangan signifikan, dia berhak maju ke jenjang pendidikan selanjutnya yang berpotensi membawanya benar-benar direkrut tim NBA.

“Menjadi orang Indonesia pertama yang bergabung di NBA Academy aku ngerasa seneng banget, walaupun tangggung jawabnya besar aku yakin aku bisa ngelakuin ini”, ujar Derrick Michael.

Profil fisik Derrick Michael tergolong kompeten jika mentas di kompetisi NBA. Bagaimana tidak, postur badannya menjulang sangat tinggi, mencapai 203 cm. Berbekal modal keunggulan tinggi badan itu, Derrick Michael hanya perlu mengasah teknik, mental, dan staminanya, agar suatu hari nanti dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah bola basket paling bergengsi dunia.

Kiprah Pebasket Naturalisasi Marques Bolden

5 Fakta Marques Bolden, Pemain yang Pernah Main di NBA

Bukan cuma sepak bola saja yang mana Indonesia menerapkan kebijakan naturalisasi atlet. Basket juga melakukan hal serupa. Sekitar bulan Juli 2021 lalu, Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) berani memberikan secara resmi status kewarganegaraan Indonesia kepada tiga pebasket, yakni Dame Diagne, Serigne Modou Kane, dan Marques Bolden.

Khusus nama terakhir, kiprahnya di tahun 2021 lumayan mentereng. Baru beberapa bulan dinaturalisasi, Marques Bolden sanggup mengharumkan nama Indonesia lantaran mendapatkan kontrak dari tim NBA, Utah Jazz. Kontrak gabung Utah Jazz sah ditandangani Marques Bolden pada 28 September 2021 kemarin.

Sejak pertama kali bergabung, Marques Bolden dipersiapkan Utah Jazz untuk berlaga di ajang Liga Musim Panas 2021. Berposisi sebagai center, Marques Bolden secara beruntun mendapat kesempatan masuk ke jajaran skuat Utah Jazz dalam dua laga awal. Namun, Marques Bolden hanya duduk diam di bangku cadangan karena tidak diturunkan pelatih Utah Jazz sama sekali.

Usai laga kedua Liga Musim Panas 2021, manajemen Utah Jazz mendepak Marques Bolden dari tim senior. Meski demikian, Utah Jazz masih mau melihat perkembangan Marques Bolden lebih jauh lagi. Manajemen Utah Jazz selanjutnya mendaftarkan Marques Bolden ke tim mereka yang berlaga di ajang NBA G League, Salt Lake City Stars.

Jika Marques Bolden bisa tampil impresif di G League, bukan mustahil dia nantinya diangkut kembali ke tim senior Utah Jazz. Sayangnya, Marques Bolden belum jua mendapat menit bermain bersama Salt Lake City Stars pada G League musim 2021/22. Butuh perjuangan yang lebih ekstra agar Marques Bolden benar-benar bisa menembus level utama NBA.

Marques Bolden sendiri sebenarnya sempat masuk ke jajaran NBA Draft tahun 2019. Keberuntungan belum memihak Marques Bolden kala itu lantaran tidak ada satu pun tim yang mau merekrutnya. Walau gagal terangkut dari NBA Draft 2019, Marques Bolden dipinang Cleveland Cavaliers untuk Liga Musim Panas 2019.

Nasib Marques Bolden di Cavaliers kurang lebih mirip-mirip seperti yang dirasakannya bersama Jazz. Usai Liga Musim Panas 2019, Cavs menurunkan status Marques Bolden ke tim G League, Canton Charge. Bedanya, Canton Charge memberikan Marques Bolden menit bermain yang cukup banyak. G League 2019/20, Marques Bolden tampil sebanyak 38 kali dengan rata-rata 9,7 poin per laga. Sementara musim 2020/21, Marques Bolden menorehkan 10 penampilan dan 9,2 poin per laga.

BERITA TERKAIT