Kisah Si Raja Investor Saham Indonesia, Lo Kheng Hong: Merangkak dari Bawah untuk Jadi Miliarder

Kamis, 23 Desember 2021, 07:22 WIB
97

Edisi Bonanza88, Jakarta – Proses yang perlu dilewati setiap orang dalam upaya menuju kesuksesan memang berbeda-beda. Konsep sukses yang dipegang kerap kali juga menjadi urusan sudut pandang masing-masing. Seperti yang dialami oleh pria bernama Lo Kheng Hong. Kehidupan Lo Kheng Hong kini dianggap sudah mencapai kata sukses sempurna karena memiliki kekayaan dan harta melimpah. Tapi, jalan yang ditempuh Lo Kheng Hong untuk mencapai titik tersebut terbilang lain daripada prinsip masyarakat umum.

Banyak orang, khususnya di Indonesia, yang sungguh meyakini bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan proses merintis karier hingga nantinya mendapatkan gaji fantastis. Butuh ketangguhan mental ataupun fisik serta dedikasi tinggi dalam bekerja untuk menggapai fase puncak karier yang didambakan. Pandangan demikian sah-sah saja bila dijadikan pedoman hidup, toh lebih banyak kandungan efek positifnya ketimbang dampak-dampak negatif.

Lo Kheng Hong mungkin awalnya percaya akan prinsip seperti itu. Pengalaman akhirnya yang membawanya menemui metode lain supaya sukses secara finansial bisa masuk dalam genggaman meski tanpa bekerja sangat keras. Ya, kenyataannya Lo Kheng Hong sekarang mampu mengeruk pendapatan berjumlah besar cuma dengan duduk manis di kursi yang super nyaman.

Jika berpikir Lo Kheng Hong merupakan seorang pebisnis yang perusahaannya setiap tahun selalu untung besar, Anda salah mengira. Dia bukanlah pengusaha skala internasional yang punya kantor megah atau pabrik raksasa. Dia tidak punya karyawan atau bawahan yang digajinya guna memastikan bisnisnya terus berjalan baik. Resep yang diterapkan Lo Kheng Hong demi menggapai kesuksesan ternyata cukup berpatokan kepada metode investasi pasar modal.

Lo Kheng Hong begitu piawai sekaligus konsisten menggunakan uangnya sebagai modal investasi di pasar saham. Kejelian dan ketelatenannya melihat peluang keuntungan membuat Lo Kheng Hong bisa meraup kekayaan melimpah yang kabarnya sudah menyentuh nominal triliunan rupiah. Berkat rekam jejak apiknya ‘bermain’ saham, Lo Kheng Hong sering mendapat julukan Warren Buffet versi Indonesia.

Julukan yang melekat kepadanya boleh saja menyeret nama Warren Buffet selaku investor saham top asal Amerika Serikat. Namun jalan hidup antara Warren Buffet dan Lo Kheng Hong dipenuhi kontras yang amat mencolok. Bahkan, Lo Kheng Hong layak untuk disebut punya kisah perjalanan menuju sukses yang lebih inspiratif ketimbang Warren Buffet.

Latar belakang Lo Kheng Hong tidaklah seperti Warren Buffet yang lahir dari keluarga menengah ke atas. Sekedar pengingat, ayah Warren Buffet dulunya bekerja sebagai dewan perwakilan negara yag tentu nominal gajinya sangatlah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan berlebih. Sedangkan Lo Kheng Hong, orang tuanya termasuk kategori kalangan menengah ke bawah. Rumah yang jadi tempat tinggal masa kecil Lo Kheng Hong ukurunnya begitu kecil, cuma kontrakan petakan.

Faktor ekonomi orang tuanya yang serba terbatas, sempat membuat pendidikan formal Lo Kheng Hong terkendala biaya. Usai lulus jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Lo Kheng Hong terpaksa tidak bisa melanjutkan ke bangku perkuliahan. Orang tua Lo Kheng Hong tak punya uang untuk mendaftarkan anaknya ke perguruan tinggi.

Menghadapi keterbatasan, mental Lo Kheng Hong sama sekali tak menciut menerjang kerasnya hidup. Ia mencoba mencari pekerjaan yang mana gajinya nanti akan dia pakai sebagian untuk membiayai kuliahnya sendiri. Singkat cerita, beberapa bulan pasca kelulusan SMA, Lo Kheng Hong diterima bekerja di Overseas Express Bank (OEB) menempati bagian staf tata usaha.

Pelan-pelan, Lo Kheng Hong menyisihkan gajinya, ditabung supaya bisa menjadi bekalnya nanti mendaftar kuliah. Beberapa persen dari gaji Lo Kheng Hong turut diberikan kepada orang tuanya guna membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Kurang lebih dua tahun lamanya, hingga Lo Kheng Hong berumur 20 tahun, baru dia punya uang yang cukup mendaftar kuliah.

Lo Kheng Hong berhasil masuk ke salah satu universitas negeri di Indonesia. Jurusan perkuliahan yang diambil Lo Kheng Hong adalah sastra Inggris. Hampir seluruh tabungan hasil kerjanya ia pakai untuk membayar uang masuk kuliah yang senilai Rp 50 ribu. Angka ini mungkin terdengar kecil untuk nilai mata uang sekarang. Tapi percayalah, pada zaman Lo Kheng Hong muda, uang Rp 50 ribu termasuk nominal besar.

Mengingat Lo Kheng Hong harus membiayai kuliahnya dengan gajinya bekerja, dia memilih mengambil kelas karyawan. Setiap jam perkuliahan Lo Kheng Hong dimulai pada malam hari selepas dirinya pulang kerja. Lo Kheng Hong berusaha keras membagi waktu serta fokusnya agar tetap mendapatkan hasil maksimal di pekerjaan maupun di perkuliahan.

Nominal gaji Lo Kheng Hong sejatinya tidaklah besar. Lo Kheng Hong harus pintar-pintar mengatur keuangannya lantaran harus dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, membayar kuliah, dan membantu orang tuanya. Hebatnya, Lo Kheng Hong tetap bisa menyisihkan sedikit dari gajinya untuk porsi menabung.

Mungkin kecakapannya mengatur uang dipengaruhi oleh kebiasaannya yang sejak kecil selalu dipenuhi keterbatasan finansial. Alhasil, gaya hidup Lo Kheng Hong tidaklah neko-neko, malah amat sederhana. Demi menghemat biaya makan, Lo Kheng Hong kerap membawa bekal makanan dari rumah. Intinya, Lo Kheng Hong berupaya sebisa mungkin hidup hemat dan minimalis.

Mulai Mengenal Investasi Saham

Lo Kheng Hong dan Strategi Investasi Saham | Universal Broker Indonesia  Sekuritas

Warren Buffet berasal dari keluarga kaya raya sehingga jalannya menuju kesuksesan terbuka lebar. Perkara pendidikan, Warren Buffet tidak perlu menunda ataupun bersusah payah bekerja membiayai kuliahnya sendiri. Walau akhirnya Warren Buffet juga sering bolos kuliah, tapi semua biaya pendidikannya sangat aman ditanggung orang tuanya. Cerita yang sungguh berbeda ketimbang perjalanan pedih Lo Kheng Hong.

Cerita yang kurang lebih sama, juga tertera dalam proses awal mengenal saham antara Warren Buffet dan Lo Kheng Hong. Warren Buffet sudah punya uang yang cukup pada umur 11 tahun untuk membeli dan berinvestasi saham. Sedangkan Lo Kheng Hong baru bisa punya uang dingin berinvestasi saham ketika usianya sudah menginjak kepala tiga.

Kala awal-awal masuk ke ranah investasi pasar saham, perjalanan Lo Kheng Hong masihlah penuh perjuangan. Lo Kheng Hong begitu minim pengetahuan tentang bagaimana cara jitu mendulang keuntungan dari pasar saham. Alhasil, investasi saham pertamanya membuat Lo Kheng Hong menjauh dari kata untung, justru menderita kerugian.

Lo Kheng Hong ingat betul emiten apa yang dibelinya kala kali perdana membeli saham. Ia menginvestasikan uangnya kepada emiten PT Gajah Surya Multi Finance Tbk. Keyakinan yang dipenuhi harapan menjadikan Lo Kheng Hong berani membeli saham emiten tersebut ketika baru IPO atau penawaran saham perdana pada 1989.

Beberapa hari setelah membeli saham PT Gajah Surya, Lo Kheng Hong tidak melihat harga saham mengalami peningkatan signifikan. Satu-satunya teknik yang ia tahu hanya bersabar menanti momen. Tapi, waktu berjalan malah memperlihatkan harga saham emiten yang dipegangnya menurun, hingga ke angka yang lebih kecil ketimbang harga kala Lo Kheng Hong membeli. Ogah makin merugi, Lo Kheng Hong terpaksa menjual saham pertamanya itu.

Belajar dari kesalahan, mengantarkan Lo Kheng Hong kepada proses perbaikan. Dia mulai banyak membaca literatur yang membahas teknik-teknik berinvestasi saham. Berbagai buku maupun seminar dijadikannya sumber pembelajaran. Lo Kheng Hong benar-benar mempelajari detail bagaimana memprediksi emiten yang punya harga saham berprospek menjanjikan.

Fokus ke Investasi Saham

Lo Kheng Hong Ternyata Ogah Beli Saham Perusahaan Start Up, Ini Alasannya!  - Market Bisnis.com

Lebih dari sedekade lamanya, Lo Kheng Hong mengabdi bekerja untuk OEB. Namun Lo Kheng Hong mendapati kalau kariernya mandek. Dia tidak kunjung mendapatkan kenaikan jabatan. Setiap hari dilaluinya dengan mengisi jabatan staf tata usaha dengan pertumbuhan nilai gaji yang amat pelan.

Sadar jika dirinya butuh perkembangan karier, Lo Kheng Hong memilih resign dan pindah kerja ke Bank Ekonomi pada 1990, Keputusannya ini ternyata tepat. Lo Kheng Hong cepat mendapatkan peningkatan karier yang diharapkannya. Setahun bekerja di bank tersebut, Lo Kheng Hong langsung diberikan promosi jabatan menjadi petugas kepala cabang.

Naiknya jabatan otomatis membuat gaji Lo Kheng Hong juga meningkat. Apalagi posisi kepala cabang amatlah krusial di sektor bisnis bank. Tak heran kalau Lo Kheng Hong diberi gaji tinggi begitu ia dipercaya mengisi posisi baru.

Gaji yang sudah besar, tidak menjadikan Lo Kheng Hong lupa diri untuk menabung. Dia bahkan mau lebih banyak memporsikan gajinya untuk dipakai berinvestasi saham. Berkat bekal pembelajaran yang telah ia lakukan, Lo Kheng Hong pelan-pelan mampu meraup untung dari pasar saham.

Lo Kheng Hong merasa makin konsisten menekuni pasar saham yang pendapatannya ternyata bisa lebih besar ketimbang gaji utamanya di kantor. Faktor demikian yang lantas memicu Lo Kheng Hong mengambil keputusan resign dari Bank Ekonomi. Dia berhenti bekerja setelah enam tahun mengabdi di sana.

Niat utama Lo Kheng Hong setelah berhenti bekerja adalah memfokuskan produktivitas waktunya untuk berinvestasi saham. Bukan hanya fokus memantau pergerakan harga saham dan menganalisisnya. Lo Kheng Hong turut menggunakan waktunya menambah ilmu supaya kemampuannya berinvestasi saham kian handal.

Kisah yang selanjutnya dialami Lo Kheng Hong menjadi sejarah. Dia terus-menerus mampu meraup keuntungan melimpah dari praktik investasi pasar saham. Salah satu emiten yang memberikannya keuntungan fantastis ialah MBAI.

Pertama kali Lo Kheng Hong membeli saham MBAI pada 2005, harganya masih Rp 250 perak per lembar. Kala itu, jarang sekali pemain saham yang berani melakukan kebijakan pembelian seperti yang Lo Kheng Hong terapkan. Namun yang terjadi enam tahun kemudian luar biasa. Harga saham MBAI pada 2011 melonjak ke angka Rp 31.500 per lembarnya atau naik 126 kali lipat. Lo Kheng Hong otomatis menjual saham MBAI dan mengeruk keuntungan fantastis.

Kini, Lo Kheng Hong telah menjadi miliarder Indonesia. Namanya juga amat disegani di kalangan investor saham. 2021 jadi tahun ke-31 bagi Lo Kheng Hong menekuni pasar saham. Aset yang dimilikinya kini di pasar saham senilai Rp 2,5 triliun. Dari asetnya yang sebegitu banyak, Lo Kheng Hong berpotensi mengumpulkan sedikitnya keuntungan senilai Rp 16 miliar. Luar biasa Lo Kheng Hong!