Kisah Taipan Tanah Justinus Vinck Bersama Sejarah Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang

Jumat, 31 Desember 2021, 18:44 WIB
37

Edisi Bonanza88, Jakarta – Kemegahan wilayah DKI Jakarta dewasa ini dihiasi oleh nama-nama daerah yang disertai dengan istilah pasar. Mulai dari Pasar Senen hingga Pasar Tanah Abang, semuanya sudah sangat familiar di telinga warga ibu kota. Saking mahsyurnya, eksistensi daerah-daerah itu bahkan sering dijadikan pusat roda ekonomi hingga aktivitas publik.

Namun hal yang mungkin jarang khalayak ketahui, bahwa beberapa daerah di Jakarta yang menggunakan istilah pasar tadi, sejatinya merupakan bentuk warisan sejarah bangsa kala masih dijajah pemerintah kolonial Belanda. Kisahnya amat kental terhadap operasional organisasi dagang Belanda, VOC. Tapi ada satu aktor utama yang tidak boleh terlupakan perannya, yaitu Justinus Vinck.

Sekitar tahun 1733 silam, pria bernama Justinus Vinck hidup kaya raya bergelimang harta di Batavia (Jakarta). Dia memiliki kekayaan melimpah berkat latar belakangnya sebagai orang Belanda terpandang sekaligus juragan tanah. Berbekal status demikian, Justinus Vinck coba mengambil kesempatan mengeruk keuntungan melalui sebuah usulan kepada VOC.

Isi usulan Justinus Vinck adalah membangun fasilitas umum berupa pasar di beberapa titik daerah di Batavia. Justinus Vinck berpendapat kalau munculnya pasar bakal memberikan dampak baik bagi roda perekonomian warga Batavia serta menambah pemasukan VOC. Sembari mengusulkan ide, Justinus Vinck juga rela memberikan lahan miliknya untuk menjadi lokasi pendirian pasar yang ia maksud.

Inisiatif Justinus Vinck kebetulan sesuai dengan kondisi program pembangunan kota Batavia kala itu. Beberapa daerah sudah mulai ramai pemukiman penduduk. Sekitar kawasan perumahan mulai pula berdiri beberapa lahan perkebunan. Namun belum sama sekali ada pasar yang dapat menghubungkan antara daya beli kebutuhan pokok warga di pemukiman dan kemampuan jual para pegiat perkebunan.

Mendengar usulan Justinus Vinck, VOC tergugah dan akhirnya melahirkan restu. VOC baru mengeluarkan keputusan resmi soal persetujuan pendirian pasar berdasarkan usulan Justinus Vinck pada 1735. Begitu restu VOC didapat, Justinus Vinck lantas segera merenovasi dua lahan miliknya untuk disulap dan dijadikan pasar.

Lahan pertama milik Justinus Vinck yang didirikan pasar ada di kawasan Weltevreden, sementara lahan yang kedua ada di kawasan Bukit Tanah Abang. Pasar di Weltevreden dinamai Justinus Vinck dengan sebutan Vincke Passer. Menurut berbagai catatan sejarah, pembangunan Pasar Senen lebih dulu rampung dibandingkan pasar yang satunya di Bukit Tanah Abang (Pasar Tanah Abang).

Meski berdiri di tanahnya Justinus Vinck, roda perekonomian Vincke Passer dan Pasar Tanah Abang mendapat pengawasan ketat dari pejabat VOC. Contohnya soal waktu operasional yang jadwalnya diatur berdasarkan hari. Khusus Vincke Passer, jadwal yang ada dalam aturan VOC hanya boleh beroperasi pada hari Senin saja.

Faktor pembagian jadwal inilah yang kemudian mempengaruhi kemunculan istilah Pasar Senen selaku nama lain dari Vincke Passer. Biasanya penyebutan Pasar Senen lebih sering dipakai oleh penduduk pribumi atau orang-orang asli Indonesia. Istilah Pasar Senen ternyata sampai sekarang terus digunakan dan telah jadi nama resmi sebuah daerah di Jakarta.

Bagaimana dengan Pasar Tanah Abang? Jadwal operasional Pasar Tanah Abang era VOC hanya diperkenankan berjalan pada hari Sabtu saja. Namun tidak seperti Vincke Passer yang tiba-tiba identik dengan nama Pasar Senen. Pasar Tanah Abang walau sempat dijuluki Pasar Sabtu, namanya tetap tidak berubah sampai sekarang, tetaplah Pasar Tanah Abang.

Bukan hanya soal jadwal operasional, VOC turut mengatur perihal barang-barang apa saja yang boleh diperdagangkan. VOC secara spesial menempatkan Pasar Senen sebagai pusatnya perdagangan sayur-sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Beda dengan Pasar Tanah Abang yang VOC perintahkan fokus memperdagangkan barang-barang tekstil.

Berjaya Hingga Akhirnya Dihancurkan VOC

Pasang Surut Pasar Tanah Abang - Historia

Justinus Vinck tidak benar-benar lepas tangan atas berdirinya dua pasar di dua lahannya. Bagaimana pun, Justinus Vinck tetap punya porsi keuntungan yang ia berhak dapat dari operasional Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Maka dari itu, Justinus Vinck terus-menerus coba mengembangkan segala fasilitas yang dapat mendukung perkembangan perdagangan di pasarnya.

Pengembangan utama yang diterapkan Justinus Vinck berpusat ke sektor pembangunan fasilitas jalan. Justinus Vinck percaya bahwa jika aksesnya makin mudah, makin banyak jumlah pembeli yang datang ke Pasar Senen maupun Pasar Tanah Abang. Mengucurkan dana pribadinya, Justinus Vinck mengerahkan pekerja untuk membangun jalan raya yang dapat menghubungkan dua pasar miliknya.

Prediksi Justinus Vinck yang yakin kalau kedua pasarnya bakal mengalami kemajuan pasca mudahnya akses, ternyata benar terjadi. Sejak adanya jalan raya, Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah transaksi jual beli. Tidak hanya memudahkan pembeli yang ingin berbelanja, jalan raya buatan Justinus Vinck turut mendukung kerja para pedagang pasar menambah terus barang dagangan.

Tahun demi tahun dilewati Justinus Vinck dengan melihat Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang ramai transaksi jual beli. Justinus Vinck untung besar, begitu pula para pedagang serta VOC yang menarik biaya pajak. Setidaknya kondisi amat kondusif Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang konsisten terjadi selama rentang lima tahun sejak pertama kali didirikan.

Masa awal kejayaan Pasar Senen sempat terekam dalam lukisan yang dibuat oleh seniman bernama Johanes Rocht pada 1750. Lukisannya tampak jelas menggambarkan suasana keramaian pasar yang semua bangunannya terbuat dari bahan dasar bambu. Tampak pula gambaran tentang alat transportasi para pedagang yang kala itu umum menggunakan gerobak kerbau ataupun kuda.

Kejayaan Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang memang tampak membuat pundi-pundi kekayaan Justinus Vinck terus melejit. Meski demikian, bukan berarti Justinus Vinck tidak mendapati cobaan dalam bisnisnya itu. Ibarat kata pepatah, setiap bidang bisnis pasti ada saja kerugian yang harus dihadapi, begitu pula bisnis pasar milik Justinus Vinck.

Ujian paling berat yang pertama kali muncul mendera Pasar Tanah Abang. Tragedi serangan maut VOC pada 8 Oktober 1740 benar-benar membuat Justinus Vinck dan para pedagang di sana merasakan nestapa. Tepat pada hari itu, Gubernur Jenderal Gustaaf Williem Baron von Imhoff, selaku petinggi VOC, menembakkan sejumlah peluru senapan bahkan meriam ke area pasar.

Pemicu tragedi karena Baron von Imhoff kesal melihat aksi para pedagang Pasar Tanah Abang yang didominasi etnis Tionghoa. Sehari sebelum tragedi serangan Baron von Imhoff, para pedagang Tionghoa kedapatan menyerang sejumlah petugas VOC. Baron von Imhoff lantas menjadikan serangan ke Pasar Tanah Abang sebagai bentuk aksi balas dendam.

Saat serangan terjadi, kondisi pasar benar-benar kacau balau. Banyak pedagang Tionghoa yang jadi korban serangan. Bagi yang beruntung, mereka bisa berlari ke arah yang tepat untuk berlindung dari tembakan membabi buta tentara VOC.

Akibat serangan VOC, hampir semua bangunan pasar hancur tak tersisa. Pasalnya, VOC tidak puas hanya menembakkan peluru dan meriam. Setelah Pasar Tanah Abang dikuasai, VOC menyulutkan api sehingga membuat seisi pasar dilalap si jago merah.

“Baru lima tahun berdiri Pasar Tenabang terkena bencana, porak-poranda, dan terbakar ludes,” tulis Abdul Chaer dalam Tenabang Tempo Doeloe.

Pasca serangan, Justinus Vinck kesulitan menemukan semangat untuk membangun kembali kejayaan Pasar Tanah Abang. Para pedagang yang selamat juga mengalami trauma berat. Dampaknya lantas berjalan berkepanjangan, sampai 20 tahun lamanya Pasar Tanah Abang lumpuh total dari operasi jual beli.

Sekilas Soal Sejarah Pasar Menggunakan Nama-nama Hari

Sejarah Pasar Senen, Bekas Tempat Tuan Tanah Belanda hingga PKL Era Ali Sadikin Halaman all - Kompas.com

Kami sudah menyinggung sedikit di atas mengenai kebijakan VOC yang sempat membuat aturan khusus soal jadwal operasional pasar. Setiap pasar diberikan hari-hari tertentu untuk bisa menjalankan aktivitas jual beli. Contohnya Vincke Passer yang jadwalnya hanya diperbolehkan beroperasi pada hari Senin, hingga membuat namanya kini dikenal menjadi Pasar Senen.

Selain Vincke Passer, ada enam pasar lain yang operasionalnya terbagi dari hari Selasa sampai Minggu. Beberapa dari pasar itu namanya masih identik hingga sekarang menggunakan nama-nama hari. Apa saja nama pasar yang dimaksud?

Mulai dari Pasar Selasa yang tentu jadwal operasionalnya cuma pada hari Selasa di era VOC. Pasar Selasa ternyata juga didirikan oleh Justinus Vinck yang lokasi pastinya ada di daerah Pasar Koja, Jakarta Utara. Pasar Selasa dikenal banyak warga sebagai pasar yang handal dalam memperjual belikan emas-emas berkualitas terbaik.

Selanjutnya ada Pasar Rabu (Rebo). Lokasi pasar ini sekarang dikenal dengan nama Pasar Induk Kramatjati. Meski begitu, istilah Pasar Rebo terlanjur begitu mahsyur sehingga tetap dijadikan nama daerah di kecamatan kota Jakarta Timur. Pada era DKI Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin, lokasi Pasar Rebo dipindah dan terus bertahan hingga kini di Pasar Induk Kramatjati.

Kalau Pasar Kamis (Kemis) disebut-sebut sebagai pionir yang akhirnya kini menjadi Pasar Jatinegara. Sementara Pasar Jumat saat ini lebih mahsyur dengan sebutan Pasar Lebak Bulus. Pasar Sabtu seperti yang sudah dijelaskan merupakan Pasar Tanah Abang. Terakhir, Pasar Minggu, lokasinya ada di Jakarta Selatan dan sampai sekarang tetap dijadikan nama daerah di sana.

BERITA TERKAIT