Kisah Tommy Cooper dan Ian Cognito, Duo Pelawak Legendaris yang Wafat di Atas Panggung Stand Up Comedy

Senin, 01 November 2021, 00:06 WIB
50

Saking lucunya, momen mereka meregang nyawa tetap mampu mengundang gelak tawa.

Jika ada di antara kalian yang mengira profesi pelawak adalah hal mudah untuk dilakukan, kalian jelas salah besar. Sepintas mungkin terlihat sepele, terutama untuk genre Slapstick. Melawak gaya Slapstick cukup dengan melancarkan aksi dan ucapan kasar yang mengeksploitasi kemalangan seseorang atau suatu objek, untuk memicu hadirnya tawa.

Power of Thor Megaways

Slapstick memang jadi formula paling simpel dalam mengemas sajian komedi. Penggambarannya kurang lebih begini, beberapa pelawak hanya perlu saling dorong agar salah satunya bisa berlakon ‘pura-pura’ terjatuh. Ketika penonton melihat ada pelawak yang terjatuh, berarti ada objek yang menderita, dan di situlah tawa dapat muncul otomatis.

Sketsa Slapstick yang kesannya gampang dilakukan, rutin dipakai oleh pelawak-pelawak ternama, mulai dari Charlie Chaplin, Mr. Bean, Jackass, hingga Warkop DKI dan Opera Van Java. Mereka menyisipkan adegan Slapstick dalam aksi melawak. Hasilnya sampai sekarang nama-nama tadi terus dikenang sebagai pelawak-pelawak legendaris.

Namun patut kalian ketahui, Slapstick yang baik perlu tahap proses pemikiran ide cerita dan penulisan skenario. Tujuan utamanya tentu supaya Slapstick efektif menghasilkan tawa. Belum lagi ada kaidah-kaidah tertentu yang perlu dijaga agar tingkat kasarnya tidak keterlaluan.

Memainkan genre Slapstick yang terformat rapi lewat skrip saja sudah membutuhkan usaha ekstra. Apalagi Slapstick yang munculnya spontan di atas panggung, pelaksanaannya justru jauh lebih sulit. Pelawak perlu jam terbang tinggi dalam ketepatan membaca timing dan momen.

Intinya begini, profesi pelawak benar-benar membutuhkan keahlian khusus. Penulis percaya kalau semua orang bisa mempelajari komedi, tapi untuk sampai ke tahap profesional membutuhkan banyak jalan terjal dan cobaan. Kalau komedi mudah, pasti semua orang di dunia bisa jadi pelawak terkenal.

Chronicles of Olympus X Up

Ada satu aliran komedi yang penulis rasa benar-benar sulit, yakni Stand Up Comedy. Pelawak tunggal berdiri di atas panggung; melakukan monolog yang tampak alamiah, padahal diucapkan berdasarkan penulisan materi. Bahkan kerumitan melawak Stand Up Comedy sudah tertera sejak tahap penulisan materi.

Formula dasar penulisan materi cuma ada dua, menyusun set up (pengantar komedi) dan punchline (bagian lucunya). Walau begitu, proses pencarian ide, khususnya bagian punchline, selalu saja sangat sulit. Mungkin pelawak saat menulis telah amat yakin punchline buatannya bakal sangat lucu. Tapi bukan mustahil ketika dibawakan, punchline justru tidak bekerja sebagaimana perkiraan awal alias tidak lucu sama sekali.

Sebenarnya Stand Up Comedy bisa dipelajari teknik-tekniknya. Di Indonesia, ada banyak sekali komunitas yang cocok dijadikan wadah pengembangan kemampuan Stand Up Comedy. Namun tidak semua orang yang masuk komunitas pada akhirnya jadi komika (sebutan untuk pelawak aliran Stand Up Comedy) terkenal.

Lantas, apa kaitannya penjelasan teori-teori komedi dengan kisah Tommy Cooper dan Ian Cognito? Begini, ketika melawak Stand Up Comedy sangat susah, Tommy Cooper dan Ian Cognito berada di level berbeda. Mereka berdua merupakan komika legendaris yang kelucuannya tidak mengenal batasan kondisi.

Bayangkan saja, keduanya berhasil memecahkan tawa penonton meski sedang berada dalam momen kritis jelang kematian. Tommy Cooper dan Ian Cognito sama-sama wafat di atas panggung akibat serangan jantung. Menariknya, penonton malah mengira serangan jantung yang Tommy Cooper dan Ian Cognito alami merupakan bagian dari materi komedi.

 

Tommy Cooper

Pertemuan Tommy Cooper dengan komedi tampak merupakan sebuah ketidaksengajaan atau mungkin takdir. Dia awalnya bekerja sebagai polisi. Seiring berjalannya waktu, Tommy Cooper mendapatkan kesempatan mengembangkan karier dengan diangkat jadi perwira dan  masuk ke satuan tentara Inggris.

Kehidupan militer ternyata tak sepenuhnya disukai Tommy Cooper. Dia punya hobi lain, yakni seni pertunjukan. Ia pertama-tama menyalurkan hobinya melalui komunitas The Magic Circle yang banyak mengajari Tommy Cooper trik-trik sulap.

Ilmu sulap yang didapat coba dipamerkan Tommy Cooper kepada rekan-rekannya. Tapi entah kurang berbakat atau salah dalam belajar, Tommy Cooper malah selalu gagal ketika menampilkan trik sulapnya. Namun Tommy Cooper tetap merasa senang, sebab teman-temannya malah tertawa saat melihat kegagalannya bermain sulap.

Sampai suatu ketika, Tommy Cooper menyadari bahwa dirinya tidak perlu benar-benar jadi pesulap sungguhan untuk menggeluti seni pertunjukkan. Dia lantas sengaja merancang agar pertunjukan sulapnya gagal melulu sehingga memicu gelak tawa orang-orang yang menontonnya. Satuan tentara Inggris pun sering menggelar acara hiburan yang mana Tommy Cooper jadi artis utamanya.

Tommy Cooper setia menjadi komedian di satuan tentara sepanjang awal era 1940-an silam. Ia juga sering diundang sebagai penampil oleh pihak-pihak eksternal militer. Tommy Cooper pernah dalam seminggu diundang dan tampil untuk 52 acara berbeda sekaligus.

Sekitar bulan Maret tahun 1948, Tommy Cooper mendapat kesempatan tampil di layar televisi. Ia diundang oleh stasiun televisi BBC. Debutnya di layar kaca sungguh manis, membuat ketenaran Tommy Cooper melejit seketika.

Tommy Cooper bahkan memiliki acara sendiri yang isinya khusus menampilkan aksi-aksi komedi tunggalnya. Sedari 1960-an sampai 1980-an, Tommy Cooper merupakan komedian papan atas di Inggris maupun dunia. Indikiasinya jelas, dia komedian yang jadi langganan banyak acara stasiun-stasiun televisi top.

Namun ketenaran Tommy Cooper perlahan ambruk karena gaya hidupnya sendiri yang tak sehat. Ia ketagihan alkohol dan pecandu rokok kelas berat. Gaya hidupnya ini kemudian berpengaruh kepada penurunan profesionalitasnya ketika menampilkan aksi panggung.

Pernah suatu kali Tommy Cooper menggelar pertunjukan di kota Roma, Italia pada 1977, dan tiba-tiba batal saat acara tengah berlangsung. Penyebabnya lantaran Tommy Cooper mengalami serangan jantung. Beruntung, serangan jantungnya hanya kategori ringan yang mana nyawa Tommy Cooper masih tertolong.

Meski penurunan kariernya begitu terasa, Tommy Cooper tetap laku diundang ke sejumlah acara televisi. Pekerjaan panggung-panggung off-air juga sering didapatnya. Panggung terakhir Tommy Cooper adalah pertunjukan komedi yang disiarkan langsung oleh London Weekend Television.

Acara itu digelar di gedung Her Majesty’s Theatre, Westminster, London, 15 April 1984. Tommy Cooper naik ke atas panggung ditemani asisten yang membantunya mengenakan jubah (alat peraga komedinya). Tepat di belakang Tommy Cooper berdiri, ada tirai yang di situ sudah ada pembawa acara Jimmy Tarbuck. Skrip komedi Tommy Cooper nantinya meminta Jimmy Tarbuck memasukkan alat-alat peraga komedi dari balik tirai ke jubah yang dikenakannya.

Namun Jimmy Tarbuck belum sempat menjalankan tugasnya, tubuh Tommy Cooper tiba-tiba ambruk perlahan. Asisten Tommy Cooper tertawa melihat bosnya beraksi demikian. Bagi asistennya, jarang sekali Tommy Cooper melakukan aksi komedi seperti itu.

Penonton yang datang langsung di gedung acara juga tertawa. Bahkan ada satu penonton yang tertawa terbahak-bahak sampai terguling. Bagi orang-orang yang melihat Tommy Cooper ambruk, itu seakan masuk bagian skrip komedi yang disengaja dan sangat lucu.

Sampai akhirnya produser acara menyadari adanya kejanggalan. Produser langsung mengambil kebijakan memasukkan iklan ke siaran, meminta kru musik orkesta yang mengiringi Tommy Cooper berhenti memainkan alat musik, dan menyuruh kru memasukkan tubuh Tommy Cooper ke balik tirai agar tidak dilihat penonton lagi.

Firasat sang produser ternyata benar. Tommy Cooper pinsang akibat mengalami serangan jantung. Kru televisi yang ada di balik tirai sontak berusaha menyelamatkan nyawa Tommy Cooper.

Demi mendapatkan pertolongan lebih lanjut, Tommy Cooper dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sayang sekali, begitu sampai di rumah sakit, tim dokter menyatakan bahwa Tommy Cooper telah tiada. Nyawa Tommy Cooper melayang setelah jatuh di panggung yang tadi dikira penonton sebagai bahan lelucon.

 

Ian Cognito

Berpuluh-puluh tahun pasca wafatnya Tommy Cooper, kejadian pelawak wafat di atas panggung kembali terulang. Lagi-lagi kisahnya menyeret nama komedian ternama asal Inggris. Sosok yang dimaksud bernama Paul John Barbieri atau yang nama panggungnya Ian Cognito.

Karier Ian Cognito tenar sebagai pelawak Stand Up Comedy garis keras. Materi buatannya kerap membahas isu-isu sensitif. Tak heran kalau Ian Cognito sepanjang kariernya tidak pernah diundang ke layar kaca, karena personanya yang demikian.

11 April 2019, Ian Cognito mendapat pekerjaan mengisi acara Stand Up Comedy di sebuah bar Atic di kota Bicester, Inggris. Pekerjaan ini biasa dilakukan Ian Cognito yang jadi komika langganan banyak bar. Namun, hari itu ternyata semuanya sungguh berbeda.

Ian Cognito membuka penampilannya dengan membawakan materi yang membahas serangan jantung. Penonton tertawa dengan monolog Ian Cognito. Intensitas tertawa penonton makin meningkat lantaran melihat Ian Cognito tiba-tiba melakukan act-out, duduk di panggung, menyandarkan bahu dan kepalanya ke tembok, sembari berakting kejang-kejang.

Semua pengunjung, termasuk komika-komika lain yang hadir di bar begitu terkejut mendapati kenyataan bahwa Ian Cognito tidak sedang berakting. Ian Cognito ternyata kejang-kejang karena kena serangan jantung sungguhan. Mengetahui hal itu, manajemen bar segera memberikan pertolongan dan memanggil tim medis dari rumah sakit terdekat.

Sayang sekali, ketika tim medis datang, Ian Cognito telah tiada. Nyawa sang komedian ekstrem ini sudah melayang tepat setelah dirinya kejang-kejang. Dia wafat bersama tertawaan penonton yang terhibur oleh momen dirinya menghadapi maut.