Kisah Tony Adams, Keluar dari Jeratan Alkohol dan Jadi Legenda Arsenal

Kamis, 30 September 2021, 17:44 WIB
31

Para penggemar sepak bola Liga Inggris, khususnya Arsenal, siapa yang tidak mengenal Tony Adams. Bek tengah berkebangsaan Inggris itu menjadi salah satu legendaris Arsenal yang hanya bermain untuk satu klub. Namun di balik kesuksesannya sebagai legenda dan kapten The Gunners, dirinya ternyata punya kisah memilukan, berkaitan dengan alcohol dan kehidupan malam.

Memang untuk sebagian besar pesepakbola, mereka seperti terpisahkan dari tatanan masyarakat. Orang-orang menganggap mereka sempurna, mendapatkan upah yang tidak masuk akal namun dilarang mengemukakan pikiran atau kelemahan sembarangan di social media. Dunia mereka seperti ditakdirkan harus bergelimang uang dan ketenaran, jadi segala cacat atau masalah hidup di luar lapangan, benar-benar harus ditutup rapat.

Namun pesepakbola sebenarnya tetaplah seorang manusia, sama seperti kebanyakan kita semua. Mereka punya kehidupan selain sepak bola, masalah yang nyata, keinginan, rasa nafsu, ingin mengemukakan pendapat, tersakiti, menangis, tertawa, sama halnya seperti yang kita alami sehari-hari.

Hal inilah yang membuat Tony Adams menjadi salah satu sosok penting dalam dunia sepak bola. Tony Adams, dikenal juga sebagai Mr. Arsenal, karena mencatat sebanyak 669 penampilan di skuat senior klub London Utara itu, menghabiskan 14 tahun sebagai kapten, juga jadi langganan tim nasional Inggris di level tertinggi. Sebanyak 10 trofi termasuk gelar liga berhasil dipersembahkan olehnya kepada Arsenal. Hanya membela satu klub selama karirnya, membuat sosoknya terasa sangat spesial apalagi di benak para Gunners seluruh dunia.

Namun kita flashback sedikit dan mungkin kisah ini sudah diketahui banyak orang, bahwa Tony Adams sekali pun, pemain hebat dan berdedikasi tinggi sepertinya, pernah berjuang melawan kecanduan alcohol. Dimulai pada tahun 1990an, dia menabrakkan mobilnya ke tembok hingga delapan pekan di penjara. Namun yang hebat, dia berhasil mengubah segala masa kelam itu dengan menjadi salah satu bek Inggris terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah, dia jelas inspirasi untuk banyak orang.

“Nama saya Tony dan saya pecandu alcohol,” katanya kepada media olahraga Inggris.

 

Candu Alkohol karena Menutupi Masalah Hidup

Sebenarnya hal-hal berbau alkohol yang dialami oleh Tony Adams bukan sepenuhnya dia pecandu. Namun dirinya hanya memakai alkohol untuk menutupi masalah yang sedang dihadapinya. Mungkin ini sebuah kelainan genetik alias turun dari salah satu keluarganya. Dan ternyata benar, ketika dia sering membuat masalah di luar lapangan, dia sangat terbuka dan mengaku bahwa kedua orang tuanya pecandu alkohol. Dia bahkan menerima bahwa gaya hidup yang lekat dengan alkohol mengiringi tumbuh kembangnya sejak kecil.

Sebelum alkohol menyerang hidupnya, kecanduan paling pertama yang dirasakan Tony Adams adalah sepak bola. Dia bocah yang kurus, canggung dan sangat pemalu, bahkan bisa dibilang lebih senang sendirian dari pada di tengah-tengah orang banyak. Namun ketika dia memasuki level professional bersama Arsenal, dia seperti menjadi orang lain, menjadi seorang pemimpin.

“Saya merasa tegas di lapangan sepak bola, di mana itu sangat kontras dengan diriku sebenarnya yang takut dan tertutup. Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan rasa sakit (gaya hidup alkohol orang tua), saya memiliki sepak bola. Namun sebanyak-banyaknya Anda bermain di lapangan, cepat atau lambat, kalian menyadari bahwa kehidupan di luar sana lebih menghabiskan waktu. Dan akhirnya, Anda melihat kembali cermin dan menatap diri Anda sebenarnya,” cerita Tony Adams soal penyebab dirinya terjerat alkohol.

Seperti pecandu pada awalnya, Tony Adams akhirnya tiba pada kali pertama, kedua dan seterusnya. Kala itu bersamaan saat dirinya menandatangani kontrak professional pertamanya bersama Arsenal. Sebagai anak sekolah yang baru berusia 17 tahun, dan langsung berkembang pesat melewati semua pemuda sepantarannya.

Hingga cedera tulang metatarsal membuat dirinya sempat stop sejenak, cedera ini cukup mengganggu karirnya. Bahkan bisa dibilang cedera ini pemicu dirinya beralih ke alkohol dan setelah pulih dari cedera, dia pun masih kecanduan.

 

Mulai Dipercaya oleh Arsenal dan Jadi Kapten

Tiga tahun setelah penandatanganan kontrak professional bersama Arsenal, dia akhirnya mendapatkan debut alias laga perdananya yang berjalan agak mengecewakan. Dia melakukan kesalahan fatal yang membuat Sunderland mencetak satu-satunya gol dalam laga debutnya itu. Debutnya jelas tidak sesuai rencana dan musim tersebut, dirinya total cuma mengantongi empat penampilan saja. Namun musim 1986/1987, dirinya kemudian bisa dibilang menjadi pemain regular saat Arsenal dilatih oleh George Graham, usianya menginjak 21 tahun.

Musim berikutnya, George Graham memberinya jabatan kapten tim, yang membuatnya jadi pemimpin termuda di skuat dalam sejarah klub Arsenal. Terlepas dari pencapaian yang tinggi ini, pada usia dini, Adams sering menjadi bahan ejekan di pers nasional.

Daily Mirror tanpa perasaan menggambarkan Adams dengan telinga keledai setelah dia mencetak gol di kedua ujungnya dalam pertandingan melawan Manchester United. Menjadi pihak yang menerima intimidasi tak tahu malu seperti itu dalam skala nasional akan sulit bagi siapa pun untuk mengatasinya. Tetapi bagi seorang pemuda yang diam-diam berjuang melawan depresi dan alkoholisme, tidak begitu sulit. Tony Adams secara mengejutkan mampu mengatasi rintangan seperti itu. Dia juga menjadi tokoh utama dalam barisan pertahanan yang dihuni empat bek Arsenal terkenal sepanjang sejarah.  Lee Dixon, Nigel Wingerburn, dan duet di jantung pertahanan bersama Adams, yakni Steve Bould benar-benar tidak tergantikan.

Seperti yang dikatakan seorang penulis buku sepak bola terkenal, Amy Lawrence: “Jarang terjadi dalam sejarah Anda mendapatkan semacam ‘departemen kecil’ dalam tim yang kemudian menjadi entitas atau kekuatan mereka.

“Mungkin kita mengetahui kolaborasi yang terkenal seperti Messi, Neymar, Suárez yang dimiliki Barcelona beberapa tahun silam dan semua orang berpikir betapa hebatnya trio tersebut. Tapi seberapa bagusnya mereka di atas lapangan, barisan pertahanan Arsenal era kepemimpinan Adams lebih terkenal,” jelasnya.

Bersama dengan anggota skuad lainnya, seperti Paul Merson dan Perry Groves, yang dipimpin oleh Adams, karena dirinya tidak senang pulang dan sendirian di kediamannya, rekan-rekannya di barisan pertahanan, berkumpul usai pelatihan pada hari Selasa malam untuk minum sebanyak yang mereka bisa.

Dari beberapa film dokumenter yang menjelaskan kejenakaan anggota tim Arsenal awal 90-an, kita langsung sadar seberapa mengejutkannya hal tersebut. Atlet professional datang ke pelatihan dan bahkan pada hari pertandingan, dengan keadaan masih mabuk. Adams menceritakan saat di mana dirinya entah bagaimana dianugerahi man of the match meskipun tidak mengingat apa pun yang terjadi. Karena pada laga tersebut, dirinya mengaku sedang mabuk akibat acara minum-minum dengan rekan setimnya.

Kejadian-kejadian unik dan harusnya indisipliner ini memang seringkali terjadi di tanah Britania Raya. Sepak bola dan alkohol selalu berjalan beriringan di Inggris, khususnya tahun 90an. Dengan begitu seringnya dia minum-minuman keras saat itu, Adams adalah individu lain yang direduksi menjadi: ‘oh, dia hanya suka minum.’

Dan, juga, percakapan tentang kesehatan mental; seperti kecemasan dan depresi tentunya selalu hinggap di nama besar sepertinya. Jadi, tahun 90-an, kehidupan malam di Kota London bagian Utara benar-benar dimeriahkan oleh sosok Adams. Bahkan terdapat beberapa insiden seperti perkelahian di klub malam, berantem dengan penggemar Spurs, pemadam kebakaran dan yang paling terkenal adalah, kecelakaan mobil sebanyak empat kali. Dirinya bahkan dijatuhi hukuman penjara dan melewatkan pesta kemenangan gelar Arsenal di tahun 1991.

Sederet peristiwa yang tidak menyenangkan itu menjadi momen-momen acuh tak acuh untuk Adams dan Arsenal hingga tahun 1996. Di mana ini menjadi tahun yang sangat penting bagi bek legendaris tersebut, dengan menjadi kapten Timnas Inggris yang melaju hingga semifinal Euro.

“Saya sadar pada hari Jumat 16 Agustus 1996, pukul lima sore, setelah pingsan selama tiga hari,” sedikit cerita dari Adams di momen tersebut.

 

Kedatangan Wenger Membawa Tony Adams Keluar dari Alkoholisme

George Graham memanggilnya “raksasaku” tetapi Arsene Wenger mengubahnya menjadi “seorang profesor pertahanan.” Kedatangan manajer baru dalam hal ini ialah Wenger, pada tahun 1996 datang pada waktu yang tepat untuk Adams dan mencegah karirnya menuju kegagalan yang lebih buruk. Alih-alih mengalami penurunan sepanjang sisa karirnya, karena memang saat itu, Adams sudah berusia 29 tahun, rezim baru Wenger malah membuat karir Adams bertahan selama enam tahun lagi, periode waktu yang akan memastikan statusnya sebagai salah satu bek Inggris yang hebat.

Adams dan George Graham mungkin telah menjadi teman minum dan landasan untuk sejumlah kemenangan kejuaraan, tetapi kedatangan Wenger merevitalisasi empat bek yang terkenal tersebut. Khususnya mengubah Bould dan Adams menjadi pemain bertahan yang mampu tenang mengendalikan bola di kakinya, bukan sekadar membersihkan area pertahanan.

Ada aturan diet baru dan lebih banyak fokus serta waktu yang dihabiskan untuk persiapan jelang pertandingan, baik di dalam maupun di luar lapangan. Dengan sebagian besar persiapan pra-pertandingannya berfokus untuk memastikan para pemain siap secara mental untuk tampil. Keraguan awal tentang Wenger akhirnya berakhir pada penerimaan taktik barunya yang lebih modern.

Entah apa yang dilakukan Wenger, bahkan dirinya merubah Adams menjadi orang yang dengan sendirinya melarang bau alkohol sedikit pun tercium di ruang pemain.

“Setelah sadar, saya mengalami puncak tertinggi dalam permainan, bebas seperti burung, selama enam tahun lagi. Saya merasa tak terkalahkan,” kata Adams berbicara titik kebangkitan karirnya di usia 29 tahun.

Dan di lapangan, kemitraan baru Wenger dan Adams membuahkan hasil, menghasilkan gelar ganda di Liga Premier dan Piala FA untuk Arsenal di musim 1997/98. Ini termasuk sepuluh kemenangan beruntun untuk menyegel gelar juara, serta The Gunners hanya kebobolan dua gol. Pertandingan terakhir dari musim tersebut terjadi di Highbury melawan Everton, dengan Arsenal tidak menurunkan Bergkamp padahal membutuhkan kemenangan untuk menyegel gelar. Ternyata tanpa Bergkamp pun mereka tidak mengalami kesulitan. Tony Adams yang jadi Bintang dengan sentuhan terakhirinya menjadi salah satu gol paling diingat oleh para penonton di Highbury saat itu.

 

Jadi Pribadi Baru Bersama Wenger, Adams Inspirasi untuk Atlet Lain

Hal lain tentang kecanduan sebenarnya tidak berakhir semudah itu. Adams secara bertahap mempertahankan perjuangannya untuk mencegah depresi dan kecanduan alkohol kembali masuk dalam hidupnya.

Inilah seorang pria yang telah berjuang, berjuang dan berjuang terus-menerus selama bertahun-tahun untuk merebut kembali hidupnya yang sempat direnggut alkoholisme. “Setiap hari saya tidak minum, saya merasa akan selalu menjadi pemenang.” Ucap Adams.

Dia kemudian memenangkan gelar lain pada tahun 2002, dinobatkan sebagai pemain terbaik ketiga sepanjang sejarah Arsenal. Tony Adams juga rutin mengunjungi penjara untuk berbicara dengan narapidana, dan mendirikan Sporting Chance, sebuah klinik yang dirancang untuk membantu atlet lain berbicara tentang kesehatan mental mereka.

Beberapa mantan pemain, tidak terkecuali Dean Windass, mengklaim bahwa badan amal itu menyelamatkan hidup mereka. Di dalam dan di luar lapangan, Adams tetap menjadi juara, juara yang sangat manusiawi, dan inspirasi bagi banyak orang. Itu semua berkat perjuangannya melawan dan keluar dari gaya hidup alkoholisme. Luar biasa.