Kisah Tukliwon, Pelaut Indonesia yang Gigih Berjuang Melawan Belanda di Australia

Minggu, 02 Januari 2022, 02:36 WIB
49

Tukliwon, mungkin namanya terkesan ‘kampungan’ bagi masyarakat zaman sekarang. Meski demikian, warga Indonesia saat ini harus tahu betapa hebatnya aksi-aksi Tukliwon di masa lalu yang dicatatkan selama masa perjuangan bangsa mengusir penjajah dulu. Dia memiliki keberanian sekaligus kegigihan luar biasa bertempur melawan para serdadu kolonial Belanda melalui jalur laut.

Rekam jejak Tukliwon memanglah mentereng seiring profesinya sebagai pelaut asli Indonesia. Dia menjalani pekerjannya dengan merantau ke negeri orang, yakni Australia. Kala Indonesia masih dijajah Belanda, cukup banyak pelaut Tanah Air seperti Tukliwon yang mencari nafkah di Australia dan mendapatkan bayaran per bulannya sebesar 3 dolar.

Tubuh Tukliwon sejatinya tampak kurang gagah untuk pelaut yang secara umum dipandang sebagai profesi penuh kekuatan fisik. Dia termasuk orang Indonesia yang tidak dianugerahi postur menjulang tinggi. Bahkan ketika Tukliwon memulai karier pelautnya di umur 20 tahun, orang-orang Australia kerap mengiranya sepantaran remaja-remaja tanggung belasan tahun.

Sebenarnya Tukliwon mendapat kesempatan menekuni profesi pelaut berkat campur tangan pemerintah Belanda. Dia bersama rekan-rekannya sesama warga asal kota Malang, dipekerjakan untuk mengurusi kapal-kapal Belanda yang ada di Indonesia. Awal mula yang demikian perlahan membuat Tukliwon masuk ke pusaran sejarah momen berakhirnya penjajahan Belanda yang sudah ratusan tahun menduduki Bumi Nusantara.

Suatu hari, Tukliwon dan armadanya mendapat penugasan darurat dari atasannya yang tentu orang Belanda. Mereka diminta mengangkut sejumlah penduduk Belanda di Indonesia yang berusaha menyelamatkan diri dari ancaman tentara Jepang. Ya, tugas ini datang bertepatan dengan momen masuknya Jepang ke Indonesia, menggantikan periode kependudukan Belanda.

Bertajuk penugasan darurat, Tukliwon bersama rekan-rekannya menjalankan misi dengan apa adanya tanpa banyak persiapan. Para awal kapal, termasuk Tukliwon, memulai pelayaran cuma bermodalkan pakaian berupa sarung dan kaos tipis. Mereka semua menjelajahi lautan yang tentu identik dengan suhu udara dingin, demi menjalankan misi berlabuh ke daratan Australia.

Misi mengantarkan penduduk Belanda ke Australia sukses dijalankan Tukliwon dan kawan-kawan. Mereka tiba di Australia tanpa banyak menemui kendala berarti. Tapi, Tukliwon dan kawan-kawan tidak diperkenankan untuk langsung pulang. Para awak kapal diharuskan menetap di Australia, kalau-kalau saja nantinya dibutuhkan lagi berlayar oleh orang-orang Belanda.

 

Terpaksa Menetap di Australia

Cuma berstatus bawahan, Tukliwon dan kawan-kawan mau tidak mau menuruti perintah atasannya. Tukliwon sendiri lantas coba beradaptasi dengan lingkungan yang ada di Australia. Awalnya ia merasa amat kesulitan berkomunikasi dengan warga Australia yang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris. Enggan terasingkan dalam kehidupan sosial, Tukliwon lantas berinisiatif belajar bahasa Inggris kepada seorang wanita Australia bernama Gwyn William.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Tukliwon dalam berbahasa Inggris makin cakap saja. Begitu pula rekan-rekan senegara Tukliwon yang akhirnya mengikuti jejaknya berguru kepada Gwyn William setiap hari. Setelah mahir berbahasa Inggris, kehidupan pelaut-pelaut Indonesia dan Tukliwon di Australia kian membaik. Mereka tak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri.

Gwyn William agaknya punya perhatian lebih terhadap Tukliwon dan pelaut-pelaut asal Indonesia yang ‘terdampar’ di Australia. Selain mengajarkan secara intens tentang bahasa Inggris, Gwyn William juga mencarikan Tukliwon dan kawan-kawan pekerjaan. Kenalan Gwyn William bersedia menampung Tukliwon dkk. untuk bekerja menjadi teknisi kapal.

Penghasilan Tukliwon dkk. setelah diberi pekerjaan teknisi kapal pun bertambah. Mereka tak lagi hanya mengandalkan uang 3 dolar per bulan hasil dari profesi asli mereka sebagai pelaut. Tukliwon dkk. banjir pesanan untuk memperbaiki dan merawat kapal-kapal yang ada di area Pelabuhan Sydney.

Mengingat pekerjaannya yang harus selalu pergi ke pelabuhan, Tukliwon dkk. memilih mencari tempat tinggal yang tak jauh dari lokasi kerja. Mereka semua diketahui menetap di wilayah bernama Woolloomoolloo. Jika diukur secara jarak, Woolloomoolloo wilayahnya hanya beberapa ratus meter dari Pelabuhan Sydney.

Rutinitas Tukliwon selama tinggal di Australia kurang lebih begitu adanya. Tukliwon menjalani hari-harinya sebagai pelaut dan teknisi kapal di Pelabuhan Sydney. Sembari melewati hari demi hari, Tukliwon berharap agar suatu hari nanti dirinya bisa pulang ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarganya lagi.

Kerinduan Tukliwon akan Tanah Air terobati saat sebuah pengumuman besar muncul pada pertengahan bulan Agustus 1945. Tukliwon yang sedang bersantai, menikmati momen dengan mendengarkan radio. Dia duduk di sebuah kursi di ruangan kantor Seerikat Pelaut Indonesia. Kala itu radio memang menjadi satu-satunya sarana hiburan Tukliwon perihal melepas penat dari segala rutinitasnya.

Tiba-tiba, gelora nasionalisme di dalam diri Tukliwon bergejolak karena mendengar berita bahwa Jepang telah menyerah dalam kesengitan Perang Dunia II. Setelah mendengar kekalahan Jepang, Tukliwon makin gembira mendapati informasi kalau bangsa Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan. Tukliwon meski dirinya berada jauh di Australia, dia tetap merasa gembira mendapati negara tercintanya akhirnya bebas dari belenggu penjajahan.

Kegirangan Tukliwon langsung diekspresikannya dengan menari-mari dan senyum yang amat sumeringah. Tukliwon kemudian bergegas menuju kediaman Gwyn William untuk menceritakan betapa bahagia hatinya saat ini mengetahui Indonesia merdeka. Tak lupa Tukliwon menjalankan tugasnya selaku sekretaris Serikat Pelaut Indonesia menyebarkan kabar gembira tersebut ke sesama pelaut-pelaut Indonesia di Australia.

Kebetulan, bukan cuma kalangan pelaut Indonesia saja yang menetap di Australia. Ada sejumlah warga Indonesia dengan profesi lainnya yang turut tinggal di sana. Tukliwon pun turut berusaha menyebarluaskan kabar kemerdekaan Indonesia kepada WNI di Australia non-pelaut. Tukliwon benar-benar diselimuti gelora semangat kemerdekaan.

“Pagi 18 Agustus 1945, dia pergi ke luar kantornya untuk menyebarkan berita gembira itu kepada mitra serikat kerja Australia,” tulis Hersri dalam artikelnya, “The exemplary life of Joris Ivens (1898-1989)”, yang dimuat di Inside Indonesia No.22 (Maret 1990).

 

Tukliwon Akhirnya Pulang ke Indonesia

Tak lama setelah kabar kemerdekaan Indonesia terdengar, Tukliwon mendapati berita bahagia lainnya. Seminggu pasca kemerdekaan Indonesia, Tukliwon dihubungi pihak pemerintah Belanda yang berwenang di Australia. Tukliwon diberi tahu bahwa Belanda akan membantu mengusahakan kepulangan pelaut-pelaut Indonesia.

Sebenarnya Tukliwon senang dengan bentuk perhatian pemerintah Belanda tersebut. Namun lama-kelamaan Tukliwon menyadari kalau Belanda memiliki maksud terselubung di balik rencanan memulangkan pelaut-pelaut Indonesia yang ‘terdampar’ di Australia. Tukliwon mengetahui Belanda ingin memanfaatkan pelaut-pelaut supaya bisa menduduki Indonesia lagi.

Enggan diperdaya Belanda, Tukliwon melancarkan aksi penolakan keras. Ia mengajak rekan sejawatnya agar menolak bantuan Belanda yang terkesan amat baik hati itu. Sikap tegas Tukliwon mengacuhkan Belanda ternyata didukung penuh oleh masyarakat Australia, terutama Partai Komunis Australia.

Salah satu sosok warga Australia yang membantu Tukliwon melawan Belanda ialah E.V Elliot. Dia merupakan seorang petinggi dari Serikat Buruh Laut Australia yang paham betul betapa liciknya Belanda ingin menunggangi pelaut-pelaut Indonesia. Elliot lantas mengatur agar pelaut-pelaut Indonesia maupun Australia bekerja sama melakukan mogok kerja dan boikot terhadap kapal-kapal Belanda.

Kala itu, kapal-kapal Belanda memerintahkan pelaut Indonesia dan Australia untuk mengangkut barang-barang menggunakan kapal menuju Indonesia. Aksi mogok dan boikot tadi lantas berusaha menggagalkan serta mengabaikan perintah Belanda. Sebanyak 25 kapal yang sedianya akan dipakai Belanda kembali ke Indonesia tak berjalan operasionalnya sama sekali.

Pelaut-pelaut Indonesia terpicu oleh semangat Tukliwon untuk mogok kerja sebagai bentuk perlawanan atas niat busuk Belanda. Semakin hari, jumlah pelaut yang mogok kerja makin bertambah, sehingga membuat Belanda tak punya pilihan. Barang-barang yang tadinya hendak dibawa Belanda ke Indonesia pun terbengkalai begitu saja di Pelabuhan Sydney.

Sekali lagi, warga Australia banyak yang mendukung pergerakan Tukliwon dan kawan-kawan. Beberapa dari mereka, termasuk Tukliwon, gencar menjalankan razia kapal yang ada di Pelabuhan Sydney. Hasil razia mendapati ada sebuah kapal yang diawaki orang-orang India sedang membawa barang-barang kebutuhan Belanda dan siap berlayar ke Indonesia.

Memasuki bulan Oktober 1945, Tukliwon dan seluruh pelaut asal Indonesia akhirnya bisa pulang ke Tanah Air. Pemerintah Australia membantu proses kepulangan pelaut-pelaut Indonesia. Pihak Australia meminta sebuah kapal milik Inggris agar mengangkut semua pelaut-pelaut Indonesia.

Bantuan Australia belum berhenti sampai di pencarian kapal yang akan ditumpangi pelaut-pelaut Indonesia. Australia hendak memastikan bahwa kapal Inggris tidak berbuat curang dengan menurunkan pelaut-pelaut Indonesia ke pelabuhan-pelabuhan yang diduduki kepenguasaan Belanda. Demi memastikan ketiadaan kecurangan, ada beberapa pejabat politik Australia yang ikut serta naik ke kapal bersama pelaut-pelaut Indonesia.