Kontroversi Barbara Baekeland, Wanita Kaya Raya yang Memperkosa Anak Laki-lakinya Sendiri

Jumat, 29 Oktober 2021, 15:19 WIB
40

Punya harta melimpah ternyata tak menjamin seseorang menemukan kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Kalau tidak percaya, silahkan tengok kisah yang dialami Barbara Daly Baekeland. Wanita kelahiran 28 September 1921 ini semasa hidupnya dipenuhi kemewahan dan kekayaan, tapi dia justru berulang kali menemui kekacauan yang menimbulkan sengsara hingga kontroversi.

Barbara menjalani masa kecil di tempat kelahirannya, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Awalnya kehidupan Barbara bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Namun situasinya berubah drastis ketika dia menginjak umur 11 tahun.

Power of Thor Megaways

Ayah Barbara, Frank, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Frank bunuh diri dengan cara membiarkan tubuhnya menghirup gas beracun yang berasal dari knalpot mobil. Kematian Frank membuat Barbara dan ibunya harus bertahan hidup tanpa hadirnya kepala keluarga yang memberikan nafkah serta kasih sayang.

Tak lama berselang pasca wafatnya Frank, ibunda Barbara mencari-cari cara supaya mendapatkan uang untuk melanjutkan kehidupan. Frank kebetulan memiliki asuransi jiwa yang selalu dibayarnya terartur. Ibunda Barbara lantas mencairkan semua uang asuransi jiwa milik almarhum suaminya.

Uang asuransi cair, Barbara dan ibunya ingin memulai kehidupan yang baru. Ibunya kemudian mengajak Barbara pindah rumah. Setelah rumah di Cambridge berhasil terjual, ibunya mengajak Barbara hijrah menuju kota New York City.

Pertama kali datang ke New York, Barbara dan ibunya belum memiliki rumah. Mereka hanya bisa menyewa hotel untuk beberapa hari, sebelum akhirnya memilih mengontrak sebuah apartemen kecil. Biaya hidup di New York tergolong cukup mahal, sehingga ibunya membiasakan Barbara untuk mengutamakan sisi kesederhanaan.

Seiring bertambahnya usia, Barbara yang memasuki fase remaja, mendapati dirinya memiliki kelebihan pada penampilan fisik. Wajahnya termasuk kategori wanita cantik yang mudah menghipnotis para lelaki. Ingin memanfaatkan kelebihannya, Barbara mencoba mencari rezeki guna membantu ibunya dengan menekuni profesi model.

Chronicles of Olympus X Up

Perkembangan karier Barbara sebagai model ternyata cukup pesat. Kecantikannya sering terpampang di majalah fashion ternama, seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Semakin hari, uang yang dikumpulkan Barbara dari ranah modelling kian banyak, meningkatkan derajat perekonomiannya.

Gaya hidup penuh kesederhanaann pelan-pelan juga mulai ditinggalkan Barbara. Dia merambah masuk ke kalangan sosialita yang kehidupannya diselimuti berbagai unsur glamor. Pesta-pesta garapan orang kaya raya kerap dihadiri Barbara.

Peningkatan taraf perekonomian Barbara turut mempengaruhi kisah asmaranya. Banyak pria berstatus taipan yang kemudian bisa dikencani Barbara. Terlebih, Barbara memang dianugerahi wajah amat cantik yang tak sulit buatnya meluluhkan hati pria-pria tampan.

Puncak petualangan cinta Barbara tercipta ketika dia diundang ke salah satu acara Hollywod oleh aktor Dana Andrews. Pada acara itu, Barbara berkenalan dengan wanita yang akhirnya menjadi aktris top, Cornelia “Dickie” Baekeland. Perkenalan singkat ternyata begitu berkesan, Barbara dan Cornelia bersahabat akrab setelahnya.

Persahabatannya dengan Cornelia membawa Barbara bertemu sosok pria bernama Brooks Baekeland. Latar belakang Brooks masih merupakan adik kandung dari Cornelia. Berprofesi sebagai pilot, Brooks yang tubuhnya kekar nan gagah sungguh menggoda hati Barbara.

Perlu ditekankan, Cornelia dan Brooks adalah orang terpandang. Mereka keturunan dari Leo Baekeland, kakek mereka yang diketahui ialah manusia penemu plastik jenis Bakelite. Intinya, keluarga Baekeland adalah dinasti pengusaha plastik super tajir.

Lanjut lagi, Brooks tergoda pula oleh pesona Barbara. Apa yang dirasakan Brooks sangat dapat dimaklumi. Laki-laki mana yang tak tergoda bila ada wanita secantik Barbara datang mendekat. Apalagi pada zamannya, Barbara disebut-sebut masuk deretan “10 wanita tercantik di New York”.

Saling menyimpan kekaguman, Barbara dan Brooks resmi berpacaran. Keduanya tampak menjadi pasangan yang sangat ideal; wanitanya sangat cantik, sang pria juga tampan dan kaya raya. Banyak orang di sekitar mereka menyarankan agar mereka segera melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

 

Pernikahan yang Berantakan

Barbara sedari awal berpacaran dengan Brooks memang sangat ingin menikah. Namun Brooks entah apa alasannya selalu menunda-nunda rencana bahagia itu. Tak ingin hubungannya terus digantung, Barbara kemudian terpaksa berbohong.

Dia pura-pura hamil dan menyampaikannya kepada Brooks. Mendengar kekasihnya mengandung benih cinta mereka, Brooks pun menikahi Barbara. Pesta pernikahan Barbara dan Brooks terselenggara mewah di California pada 1944.

Awal pernikahan, kehidupan Barbara dan Brooks tampak sangat bahagia. Mereka memiliki kediaman mewah di bilangan New York. Keduanya sering menggelar pesta atau acara makan malam yang dihadiri tamu-tamu undangan kalangan elite.

Umur pernikahan memasuki dua tahun, Barbara benar-benar hamil. 28 Agustus 1946, Barbara melahirkan seorang putra hasil pernikahannya dengan Brooks. Putra pertama mereka dinamai Antony Baekland.

Sayang sekali, keharmonisan rumah tangga Barbara dan Brooks seiring berjalannya waktu harus memasuki babak ruwet. Barbara punya riwayat gangguan kesehatan mental depresi. Penyakit psikologisnya ini persis seperti yang diidap ibunya.

Tingkat depresi Barbara sering meninggi selama menjalani kehidupan bersama Brooks. Di sisi lain, Brooks baru tahu kalau istrinya punya penyakit mental tadi setelah menikah. Brooks tak kuat melihat kelakuan Barbara yang sering tidak terkontrol dan mudah marah.

Saking tidak kuatnya menghadapi tingkah Barbara, Brooks mulai berani main cewek di luar. Seakan tak mau kalah, Barbara juga berselingkuh dengan beberapa pria. Hubungan suami-istri ala Brooks dan Barbara kalau dilihat menggunakan istilah zaman sekarang layak disebut “toxic relationship”.

Walau sama-sama saling menyakiti, Barbara dan Brooks tetap berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Keduanya sering mengajak Anthony untuk berpindah-pindah tempat tinggal. Pekerjaan Brooks memang mengharuskan dia dan keluarganya sering melakukan perjalanan ke Eropa. Rumah atau apartemen Brooks dan Barbara otomatis banyak tersebar di Benua Biru sana.

Suatu ketika, Brooks dan Barbara tinggal di Paris. Seperti biasa, mereka kerap menggelar jamuan acara makan malam mengundang tamu-tamu orang terpandang. Tiba pada hari di mana Brooks dan Barbara mengundang keluarga diplomat Inggris.

Sang diplomat Inggris datang ke kediaman Brooks dan Barbara sembari membawa putrinya. Brooks tergoda dengan kemolekan putri si diplomat Inggris yang usianya ternyata 15 tahun lebih muda. Setelah acara makan malam, Brooks dan putri diplomat Inggris menjalani hubungan gelap yang kemudian hari dipergoki Barbara.

Hati Barbara benar-benar hancur melihat suaminya berselingkuh. Ditambah punya riwayat depresi, kesedihan Barbara tak terkontrol sampai ingin bunuh diri. Brooks bertindak mencegah Barbara menghabisi nyawanya sendiri. Selain mengambil tindakan pencegahan, Brooks meminta maaf kepada Barbara dan berjanji tak akan berselingkuh lagi.

 

Perceraian dan Gagal Mendidik Anak

Barbara bukan hanya menghadapi situasi sulit dalam hubungan rumah tangganya dengan suami. Dia juga tertekan atas sikap anaknya yang ternyata punya kecenderungan seksual sebagai gay. Tak suka anaknya jadi gay, Barbara kerap melakukan tindakan preventif.

Pernah suatu hari Anthony yang sudah berumur 20 tahun, kedapatan pergi berduaan ke luar negeri bersama pria biseksual bernama Jake Cooper. Barbara langsung menghampiri Anthony di tempat liburan. Tanpa banyak basa-basi, Barbara yang marah langsung menjemput paksa Anthony.

Sebenarnya Anthony kemudian sudah coba berbicara pelan-pelan dengan ibunya tentang referensi seksnya. Barbara coba memahami kebutuhan anaknya yang penyuksa sesama jenis. Tapi dalam hati Barbara, dia tetap lebih suka bila anaknya mengencani wanita.

Anthony yang coba menuruti kemauan ibunya, membangun hubungan dekat dengan wanita seumurannya bernama Sylvie. Ingin ibunya bangga, Anthony sering mengajak Sylvie berpacaran di rumah. Tapi lambat laun hati Anthony merasa tidak cocok bila harus terus melanjutkan hubungan tersebut.

Putus dari Sylvie, Anthony melanjutkan diri jadi gay lagi. Sedangkan Sylvie ternyata diam-diam membangun hubungan spesial dengan suami Barbara, Brooks. Sylvie mencuri hati Brooks selama dirinya bertamu ke kediaman Anthony.

Barbara awalnya tidak tahu kalau suaminya selingkuh. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga. Barbara akhirnya memergoki suaminya sedang bermesraan dengan Sylvie.

Marah besar, Barbara kembali kalut dipenuhi amarah dan kesedihan. Emosi Barbara sungguh tak terkontrol melihat ulah suaminya dan lagi-lagi mengancam ingin bunuh diri. Brooks kesal pula melihat sikap Barbara yang selalu begini. Puncaknya, Brooks mengajukan gugatan cerai.

Perceraian antara Brooks dan Barbara tak terhindarkan. Pasca bercerai, Brooks menikahi selingkuhannya yang tadinya teman kencan Anthony. Sementara Barbara masih kalut dalam kesedihan luar biasa, tetap coba bunuh diri tapi bisa diselamatkan tetangganya.

 

Hubungan Kompleks dengan Anaknya

Cerai dari Brooks, membuat Barbara semakin tak terkendali. Barbara sering gonta-ganti pacar hanya untuk memenuhi hasrat seksualnya. Di sisi lain, Barbara juga semakin tegas melarang anaknya Anthony untuk melanjutkan hubungan gay.

Otak Barbara lantas meminta Anthony berhubungan seks dengan pelacur. Bahkan Barbara langsung yang menyewakan dan membayar sang pelacur ini. Dia memilihkan pelacur tercantik agar Anthony bisa tobat.

Usaha Barbara ternyata tetap saja gagal. Anthony masih meneruskan sikap gay yang konon memang menjadi jati dirinya. Barbara engggan menyerah dan mencoba cari cara lain yang lebih nekat.

Musim panas 1968, Barbara kabarnya turun tangan sendiri dalam usaha mengubah referensi seksual anaknya. Barbara merelakan tubuhnya untuk dinikmati Anthony. Sang anak tentu menolak ide gila Barbara. Tapi Anthony tetap dipaksa, sehingga Barbara tergolong memperkosa anak kandungnya sendiri.

Hubungan kompleks ibu dan anak antara Barbara-Anthony tak hany soal kontroversi inses. Keduanya juga sering bertengkar sampai ke tahap yang tak terkontrol. Terlebih Anthony akhirnya dinyatakan memiliki gangguan skizofrenia. Sikap Anthony ketika bertengkar akibat skizo kacau balau, sementara Barbara dengan latar belakang depresinya turut demikian.

Salah satu pertengkaran heboh terjadi pada penghujung bulan Juli 1972. Anthony marah besar sampai tega mendorong ibunya sendiri ke jalan raya supaya mati tertabrak mobil. Beruntung, nyawa Barbara selamat berkat pertolongan warga sekitar TKP.

Dua minggu kemudian, Barbara dan Anthony bertengkar hebat lagi. Keduanya saling adu mulut di kediaman mereka. Adu mulut lantas membuat Anthony bersikap kasar.

Barbara coba menyelamatkan diri dengan lari ke arah dapur. Anthony mengejar ibunya sambil membawa sepucuk pisau tajam. Begitu Barbara terkejar, Anthony langsung menancapkan berulang kali pisau yang dibawa ke bagian punggung ibunya.

Akibat kekejian Anthony, nyawa Barbara kali ini tidak tertolong. Barbara tewas di tangan anaknya sendiri yang dulu pernah diperkosanya. Begitulah kisah miris kehidupan Barbara.

BERITA TERKAIT