Kopi di Indonesia: Warisan Belanda yang Jadi Gaya Hidup Modern Bangsa

Jumat, 31 Desember 2021, 18:39 WIB
48

Setiap orang mungkin memiliki selera berbeda-beda soal kopi. Ada orang yang suka kopi super pahit, ada pula yang doyan dengan tambahan gula sehingga terasa manis. Ibarat perjalanan kehidupan, pahit atau manis itu pasti ada, intinya tetap hidup. Sama seperti kopi, baik cita rasa pahit maupun manis, muaranya hanya satu, yakni kopi itu sendiri.

Kebetulan di Indonesia, kopi belakangan memiliki tempat yang spesial di hati masyarakat. Budaya ngopi dewasa ini sudah menjadi lebih dari sekedar minuman, tapi sudah sampai ke level gaya hidup. Bahkan ada saja orang yang rela menghabiskan waktu dan uangnya untuk bisa memastikan dirinya menikmati kopi setiap hari.

Sebelum kita melangkah lebih jauh soal perkembangan kopi dan budaya ngopi era sekarang, ada baiknya kita lebih dulu menengok kepada sejarah. Bagaimana mulanya kopi bisa ada di dunia? Dan, bagaimana kopi pertama kali masuk ke Indonesia beserta perkembangannya?

Seperti kata Presiden Indonesia pertama, Ir Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah”. Sebagai negara dengan tingkat konsumi kopi tertinggi kedua di dunia, rakyat Indonesia tentu perlu tahu lebih jauh mengenai sejarah kopi. Berikut ulasan Edisi Bonanza88 perihal perjalanan panjang kopi di Indonesia.

Awal Kemunculan Kopi di Dunia

6 Jenis Biji Kopi Lokal dengan Cita Rasa Khas Indonesia

Selalu ada yang pertama di dunia, termasuk kopi. Awal kemunculan kopi menurut sejarah terjadi sekitar 3000 tahun silam. Menariknya, kisah penemuan kopi ini bukan berasal dari ilmuwan top, melainkan seorang peternak dan kambingnya yang hidup di kawasan Ethiopia, Benua Afrika sana.

Suatu ketika, sang peternak membawa kambing-kambing peliharaannya ke sebuah kebun liar yang penuh tanaman. Metode demikian sudah biasa dia lakukan untuk memberi makan kambing-kambingnya. Tapi ada satu momen si peternak melihat para kambing memakan semacam buah berukuran kecil yang bentuknya mirip berry dari sebuah pohon.

Si peternak kemudian melihat perubahan sikap yang terjadi pada kambing-kambingnya. Semua kambing peliharaannya tiba-tiba selalu bergerak lebih energik daripada biasanya pasca memakan buah tadi. Bahkan ada beberapa kambing yang tetap tampak segar meski malam sudah larut.

Fenomena ini dia lihat terjadi secara berkelanjutan. Pikiran si peternak pun menduga kalau kambing-kambingnya mampu mendapatkan tenaga lebih berkat buah yang mereka makan. Ogah dibuat makin penasaran, si peternak langsung menguji cobanya sendiri guna menemui kebenaran sekaligus memecahkan rasa penasarannya.

Dengan memberanikan diri, si peternak memakan buah dari pohon yang kerap dikonsumsi kambing-kambingnya. Setelah dikonsumsi, si peternak merasakan sesuatu yang luar biasa di dalam tubuhnya. Si peternak turut memiliki energi lebih, persis seperti yang dia lihat para kambing peliharaannya.

Kisah singkat peternak dan kambing itulah yang memulai eksistensi kopi di dunia. Kopi perlahan makin mahsyur memiliki khasiat tinggi dalam memberikan tambahan energi serta menahan ngantuk. Tapi, perkembangan kopi setelah kisah penemuan si peternak tak langsung berubah menjadi bahan minuman layaknya yang biasa kita lihat sekarang. Orang-orang zaman itu masih mengonsumsi biji kopi dengan cara dikunyah atau dimakan.

Butuh perjalanan waktu yang begitu panjang sampai akhirnya kopi dikonsumsi sebagai minuman. Setidaknya rentang waktunya hingga 500 tahun lamanya untuk peradaban manusia menemukan alat pemecah biji kopi. Berkat penemuan alat pemecah biji kopi, warga dunia pun akhirnya menikmati kopi dengan cara diminum.

Kalau mengulas sejarah kopi melalui prinsip bahasa, Arab menjadi pionirnya. Asal kata kopi berasal langsung dari bahasa Arab, yakni qahwa. Dalam perkembangannya, qahwa kerap disejajarkan dengan terjemahan bahasa Turki yang pelafalannya mirip-mirip, yaitu kahveh.

Baik qahwa maupun kahveh merujuk pada sebuah pengartian yang sama. Keduanya sama-sama menggambarkan wujud minuman yang bahan dasarnya berupa biji dan diseduh menggunakan air panas. Khusus makna kata qahwa, ada pengertian lain yang populer. Qahwa kerap pula diartikan kuat, sebab unsur khasiat kopi yang memang ampuh menghadirkan kekuatan lebih.

Kopi Masuk ke Indonesia

Yuk, Mengenal 7 Jenis Kopi Terbaik di Indonesia

Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah mengajarkan bahwa Indonesia dijajah pemerintahan kolonial Belanda selama 350 tahun yang dipenuhi kekejaman. Premis bahwa kekejian era penjajahan Belanda harus diakui ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya. Pasalnya, ada beberapa jasa Belanda yang sampai sekarang jadi warisan dan terus dinikmati khalayak nasional. Salah satunya adalah kopi.

Tanpa campur tangan Belanda, mustahil kita sekarang bisa jadi negara dengan tingkat konsumsi kopi kedua tertinggi di dunia. Belanda adalah negara yang memperkenalkan dan membawa masuk kopi ke Bumi Nusantara. Kisahnya terjadi sekitaran abad ke-17 silam, tepatnya awal-awal orang Belanda menginjakkan kakinya di Indonesia.

Orang Belanda sudah tahu lebih dulu tentang kopi. Mereka paham bagaimana kopi awalnya ditemukan di Afrika, berkembang di Arab, kemudian makin marak dengan menyebar ke daratan Eropa dan Amerika. Kebetulan Belanda tidak memiliki limpahan faktor alam yang cocok untuk membudidayakan kopi.

Momen Belanda menduduki Indonesia lantas mereka manfaatkan guna mengatasi keterbatasan negara mereka. Terlebih Belanda tahu persis betapa cocoknya iklim alam Indonesia dengan tumbuhan kopi. Sudah seperti garis takdir kalau kejadian berbau petaka yang mana penjajah datang, justru di kemudian hari memberikan dampak berarti (mungkin baik) bagi Indonesia selaku salah satu negara pecinta kopi terbesar.

Singkat cerita, pemerintah Belanda yang bertugas di Indonesia melakukan impor bibit-bibit kopi. Bekerja sama dengan Gubernur Belanda di negara jajahan lain, seperti Malabar dan India, terciptalah momen kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada 1696. Jenis bibit kopi yang diimpor yakni Arabika khas negara Yaman.

Kebijakan impor bibit kopi ke Indonesia dikomandoi langsung oleh Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). Setelah bibit kopi yang dipesan tiba, segeralah upaya pembudidayaan kopi dilaksanakan. Namun usaha perdana ini menemui kegagalan total. Bibit kopi yang telah ditanam gagal panen semua akibat Batavia yang diterjang bencana alam banjir.

Upaya mengembangkan tanaman kopi di Indonesia yang dijalankan Belanda awalnya memang menemui berulang kali kegagalan. Belanda saja baru bisa benar-benar memetik biji kopi dari Indonesia dan diperdagangkan luas pada 1711, atau 15 tahun pasca kebijakan impor kopi perdana. Keberhasilan penanaman kopi membuat perdagangan yang awalnya hanya melayani kawasan lokal Pulau Jawa, pelan-pelan merambah pasar internasional dan diekspor organisasi dagang Belanda (VOC) ke Benua Biru.

Kalau ditanya, di mana lahan pertanian kopi pertama yang dibuat pemerintah Belanda? Jawabannya yakni daerah di Jakarta Timur yang kini mahsyur dengan sebutan Pondok Kopi. Lahan yang digunakan merupakan properti pribadi milik Gubernur Jenderal VOC Willem van Outhoorn.

Akibat sering gagalnya penanaman kopi di Jakarta yang dipengaruhi bencana alam banjir, penanaman akhirnya ditambah menggunakan lahan-lahan di kawasan Jawa Barat. Sinergi mengembangkan kopi yang dimulai dari Batavia dan Jawa Barat ini menimbulkan kekaguman tersendiri dari kalangan pecinta kopi di zamannya.  Pujian khususnya diberikan oleh para ilmuwan biologi Hortus Botanicus Amsterdam.

Menurut para ilmuwan Hortus Botanicus Amsterdam, biji kopi yang lahir dari penanaman di Pulau Jawa mampu mengeluarkan cita rasa spesial nan unik. Saking terkesannya, para ilmuwan tadi sampai rela menggelar pameran khusus yang memperkenalkan biji kopi Jawa kepada bangsa-bangsa Eropa lainnya. Tak heran jika kala itu biji kopi buatan Indonesia dapat menjamah pasar Eropa.

Kopi dan Budaya Modern Indonesia

Alasan Konsumsi Kopi Jadi Tren Gaya Hidup Masyarakat Urban : Okezone  Lifestyle

Kopi kini telah masuk serta menyatu ke kehidupan budaya modern masyarakat Indonesia. Kalau ditelusuri apa yang jadi pemicu awalnya, mungkin sangat sulit dan bisa menimbulkan perdebatan. Namun mau bagaimana pun itu, kenyataan yang terjadi begini adanya sekarang.

Kita dapat melihat betapa banyaknya cafe bertajuk coffee shop baru yang bertebaran di Indonesia. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, jelas terpampang betul fenomena menjamurnya coffee shop.  Fenomena demikian bahkan mulai menular ke daerah-daerah kecil.

Menikmati kopi bukan lagi identik sebagai kegiatan bapak-bapak di pagi hari yang menyerutup sambil membaca koran. Lintas generasi, terutama anak muda, kini juga jadi konsumen setia kopi. Urusan gender pun kini melebur. Dahulu, kopi identik dengan kaum laki-laki. Beda dengan sekarang yang menampilkan wajah baru dengan banyaknya jumlah pengunjung wanita di berbagai coffee shop.

Kalau menduga budaya ngopi di coffee shop hanyalah bentuk tren musiman, rasanya anggapan demikian sudah kadaluarsa. Buktinya kini tetap ada sederet coffee shop yang melenggang sukses bisnisnya dalam usia bertahun-tahun lamanya. Singkatnya, ini bisa terjadi karena kesinambungan akan permintaan dan persediaan. Pecinta kopi bertambah, pebisnis coffee shop pun ikut marak.

Tapi ada faktor lain yang layak untuk dibahas pula dalam memberikan pengaruhnya terhadap perkembangan kopi di budaya modern masyarakat Indonesia. Pertama, dari segi psikologis. Menikmati kopi era sekarang bukan cuma diandalkan untuk pengusir rasa ngantuk, tapi juga berfungsi sebagai sarana melepas kepenatan.

Banyak anak muda maupun generasi yang lebih tua secara sengaja memilih datang ke coffee shop untuk mengisi waktu luang. Mereka berkumpul bersama orang-orang dan teman-teman tercinta, mengobrol asyik, bercanda gurau, tertawa riang, nongkrong, hingga berjam-jam lamanya. Bahkan menenggak atau menikmati cita rasa kopi seperti bukan lagi esensi utamanya. Kopi seakan hanya jadi ‘alasan’ agar pertemuan dan obrolan berkesan bisa terjadi.

Faktor kedua, kopi bisa menunjukkan gengsi dan kelas sosial. Entah bagaimana awalnya, budaya ngopi sekarang memang sepintas menunjukkan budaya yang dipegang oleh masyarakat menengah ke atas. Apalagi ada sejumlah coffee shop yang berani membanderol harga segelasnya cukup mahal dan masih ramai pengunjung.

Segala perkembangan kopi yang mana sekarang jadi budaya modern masyarakat Indonesia, patutlah diapresiasi. Namun hegemoni ini perlu pula dicermati bijak, jangan sampai kebablasan. Pasalnya, pernah ada asumsi sensasional yang menyebut kalau generasi milenial akan susah untuk memiliki rumah sendiri karena uangnya habis dipakai membeli kopi melulu.

Tags: