Lidah Pedas John Lennon dan Segala Kontroversi yang Dibawa Mati

Sabtu, 26 Juni 2021, 05:31 WIB
40

Bernama Lengkap John Winston Lennon, ia lahir di Liverpool, Inggris, 9 Oktober 1940 dan wafat di New York City, Amerika Serikat, 8 Desember 1980 pada umur 40 tahun. Ia paling dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, instrumentalis, penulis, dan aktivis politik yang terkenal di seluruh dunia sebagai pemimpin dari The Beatles.

Lennon dan Paul McCartney membentuk partnership pencipta lagu yang paling sukses dan berhasil hingga saat ini. Lennon dengan sinismenya dan mcCartney dengan optimismenya melengkapi satu sama lain dengan sangat baik.

Gates Of Olympus

John mengawali karir bersama The Beatles pada 1960. Bersama grup ini beberapa album yang dirilis di antaranya, Please Please Me (1963), With the Beatles (1963), A Hard Day’s Night (1964), Beatles for Sale (1964), Help! (1965), Rubber Soul (1965), Revolver (1966), Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967), The Beatles (1968), Yellow Submarine (1969), Abbey Road (1969) dan Let It Be (1970).

Selama 1970 sampai 1975, John menjalani karir solo, dengan album-album yang dirilis di antaranya, John Lennon/ Plastic Ono Band (1970), Imagine (1971), Some Time in New York City (with Yoko Ono 1972), Mind Games (1973), Walls and Bridges (1974), Rock ‘n’ Roll (1975), Double Fantasy (with Yoko Ono 1980), Milk and Honey (with Yoko Ono 1984), dan lain-lain.

Setelah bubarnya The Beatles pada tahun 1970, ia juga sukses dengan karir solonya. Salah satu hitsnya yang hingga kini masih sangat terkenal adalah Imagine, lagu yang kemudian menjadi salh satu himne perdamaian dunia.

Lennon juga menunjukkan sifatnya yang pemberontak dan selera humornya yang sinis dalam film-film seperti A Hard Day’s Night (1964), dalam buku yang ditulisnya seperti In His Own Write, konferensi pers dan wawancara. Ia menggunakan kepopulerannya untuk kegiatannya sebagai aktivis perdamaian, seniman dan penulis.

Lennon dua kali menikah, yaitu dengan Cynthia Powell di tahun 1962 dan seniman Jepang, Yoko Ono di tahun 1969. Ia memiliki dua orang anak, Julian Lennon (lahir tahun 1963) dan Sean Taro Ono Lennon (lahir tahun 1975). Ia meninggal di New York pada usia 40 tahun, ditembak oleh Mark Chapman, penggemarnya yang gila.

Rise of Olympus

John Lennon, adalah salah satu penyanyi dan juga aktor legendaris dunia. Terkenal sebagai anggota dan pendiri grup musik The Beatles, bersama Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr.

Kontroversi John Lennon

John Lennon dan berbagai mitos tentang sosoknya, dari nelayan hingga  pimpinan Partai Buruh - BBC News Indonesia

Tak ada yang menyangka, pernyataan pentolan grup musik legendaris The Beatles John Lennon di Inggris dalam sebuah wawancara umum dengan awak media, menjadi petaka besar.

Lima bulan kemudian, setelah pers Amerika mengetahui pernyataan itu, muncul skandal besar yang diberi julukan ‘Lebih besar dari Yesus’. Pernyataan Lennon dianggap menistakan Tuhan.

“Kekristenan akan pergi,” kata Lennon dikutip Edisi Bonanza88 dari history.com. “Agama itu akan hilang tenggelam… kami sekarang lebih populer dibandingkan Yesus.”

Omongan John Lennon itu pertama kali tercatat di London Evening Standard pada hari ini 4 Maret 1966. Sebenarnya dalam konteks aslinya, pernyataan John Lennon jelas tidak dimaksudkan sebagai suatu ungkapan kebanggaan karena popularitasnya mengalahkan Yesus. Akan tetapi sebagai komentar sinis tentang melemahnya peran penting agama.

Celotehan Lennon terlontar dalam sebuah wawancara yang sebenarnya sedang membahas topik-topik umum yang sedang ramai saat itu. Namun dari sekian banyak komentar yang dibicarakan, yang dimuat majalah DATEbook Amerika hanya soal, “Kami lebih popular daripada Yesus.”

Pernyataan yang keluar dari aktivis perdamaian tersebut praktis menuai kecaman. Di wilayah konservatif evangelis Amerika Serikat bagian selatan, komunitas DJ mengecam Lennon. Mereka bersumpah melarang permanen memutar lagu Beatles.

Sementara itu di Birmingham Inggris, para golongan konservatis bukan hanya mengimbau pelarangan pemutaran lagu Beatles, pada Agustus 1966 mereka mengumumkan akan membakar masal piringan rekamanan lagu-lagu Beatles.

“Jangan lupa membawa rekaman dan atribut Beatles lainnya ke salah satu titik di 14 titik yang ada di daerah Birmingham dan Alabama,” kata salah seorang DJ yang memboikot Lennon di Birmingham.

Meskipun tidak ada catatan pasti berapa banyak peristiwa itu terjadi, namun hal itu membuat The Beatles merasa tergoncang. “Ketika mereka mulai membakar catatan kami itu sungguh mengejutkan,” kata John Lennon beberapa tahun kemudian. “Saya tidak akan mampu untuk mengetahui lebih jauh bahwa saya telah menciptakan kebencian di dunia. Jadi saya minta maaf.”

Permintaan maaf  Lennon bukan untuk pernyataan yang ia coba sampaikan, melainkan meminta maaf karena sudah menyampaikan pesan dengan cara yang membingungkan. John kemudian menjelaskan maksud dari pernyataan yang mengundang kontroversi besar itu dalam sebuah konferensi pers di Chicago.

“Saya bukan anti-Tuhan, anti-Kristus atau anti-agama. Saya tidak mengatakan kita lebih besar atau lebih baik. Saya percaya pada Tuhan, tetapi bukan sebagai orang tua yang ada di langit. Saya sungguh minta maaf karena telah mengatakan hal itu. Dari apa yang saya baca, atau amati, Kekristenan seperti menyusut, kehilangan kontak,” pungkas Lennon.

Tolak Sarapan dengan Ibu Negara Filipina, The Beatles Diteror - Global  Liputan6.com

Bersama The Beatles, bulan Juli 1966, John Winston Lennon sedang berada di Filipina. Usai menggelar konser, mereka “berulah” dengan membuat ngamuk Ibu Negara Filipina Imelda Marcos dan kroni-kroninya. Mereka rupanya menolak kemauan Ibu Negara Filipina itu untuk tampil di Istana Malacanang, Manila.

Alasannya jelas: itu agenda yang tidak ada dalam jadwal. John dan personil Beatles lainnya yang dibesarkan di negara yang bebas, tak pernah tahu di negara yang dikuasai rezim macam Marcos semua kemauan keluarga penguasa adalah sabda yang harus dijunjung.

Tentu saja John Lennon tak peduli. “Jika ingin pertunjukan datang saja ke kamar kami,” kata John. Antek-antek Marcos yang terkenal korup itu tersinggung. Rombongan kugiran Britpop itu pun segera angkat kaki dari Filipina.

Mereka harus pergi lebih cepat sebelum orang-orang fasis yang cinta mati pada keluarga Marcos melakukan tindakan semena-mena. Meski harus senam jantung, John sukses menistakan rezim Marcos dengan menolak bermain.

John Lennon Menjelaskan Pernyataannya: The Beatles Lebih Populer dari Yesus

Bagi John, televisi yang kala itu mulai populer sebagai media massa penting, sebenarnya juga lebih populer daripada Yesus Kristus. John melihat kehidupan sekuler anak muda di tahun 1960-an, menunjukkan bahwa budaya populer memang lebih dahsyat daripada agama apapun di dunia.

John hanya ingin menunjukkan hal itu. “Beatles lebih berarti bagi anak-anak daripada Yesus, atau agama, pada waktu itu. Saya tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan, saya hanya mengatakan itu sebagai fakta,” ucap John.

Segera poster dan piringan hitam The Beatles pun jadi sasaran pembakaran orang-orang yang agamanya dinistakan John. Dia belakangan harus minta maaf atas ucapannya. Dia begitu gugup. John tentu saja punya alasan mengapa dia mengatakannya.

Bicara soal agama, John memang tidak pernah mesra dengan agama apa pun di dunia ini. Bahkan perjalanannya ke India tak membuatnya memuja Tuhan. Setelah Beatles bubar dan bersolo karier, John bahkan pernah menulis lagu berjudul “God” (1970).

Lagu tersebut menegaskan ketidakpercayaan John pada tokoh-tokoh dan hal-hal mulia macam Yesus, Budha, Injil, Taurat dan lain-lainnya. Tidak percaya pada Yesus, tentu bisa dianggap dia tidak percaya ajaran Yesus juga. Begitu pun pada Budha. Entah kenapa dalam lagu tersebut John tak menyebut nama Muhammad.

Tak Lekang Oleh Waktu, Ini 9 Lagu Solo Terbaik John Lennon

John termasuk orang yang membenci perang. Meski tinggal di New York, John adalah musuh Amerika Serikat. Sebagai seniman asal Inggris, dia mirip Charlie Chaplin: sama-sama dimusuhi pemerintah Amerika. Lewat lagunya ini,

John juga mengajak orang-orang untuk membayangkan jika agama tak pernah ada. Baginya, mungkin di dunia tidak ada perang yang membawa-bawa nama Tuhan. Di awal lagu saja, John sudah menulis, “Bayangkan jika tidak surga”.

John bermimpi juga tak ada neraka. Selain berharap agama, yang bagi Marx adalah candu, sebaiknya tak perlu ada, John juga membayangkan negara tak pernah ada. Bagi John, jika negara (dan agama) tidak ada, tentu tak akan pernah ada banyak darah yang tertumpah.

Dalam Lennon in America (2000) karya Geoffrey Giuliano, Lennon berkomentar bahwa lagu “Imagine” adalah “lagu anti agama, anti nasionalistis, anti konvensional, anti kapitalistis, tetapi karena kata-katanya diperhalus, lagu ini dapat diterima”.

Ternyata, John tetap saja “penista”. Hanya saja, dari tahun ke tahun John makin mampu menista tanpa harus membuat kehebohan sedahsyat seperti saat membandingkan Beatles dengan Yesus.

Tetap saja kepiawaian bermain kata-kata, bahkan saat menista, tak mampu menyelamatkannya dari peluru yang dimuntahkan oleh pistol dalam genggaman Chapman. Peluru rupanya lebih konkret daripada kata-kata, setidaknya di saat ia meregang nyawa. Tapi tetap saja, dunia berkabung karena kematiannya.

Dalil Pembunuhan John Lennon

The shooting of John Lennon: Will Mark David Chapman ever be released? |  The Independent

Jauh sebelum menembak John Lennon, Mark David Chapman adalah penggemar The Beatles. Belakangan, sebelum menembak John, David memilih menjadi seorang Kristen garis keras.

Berbekal revolver Colt 38 special, David mendatangi kawasan apartemen yang menjadi tempat tinggal John bersama Yoko Ono di New York. Pistol itu diselipkan di balik pakaian. Tak ada yang tahu rencana pembunuhan kecuali David dan Tuhan.

Tak lupa, sebelum mengeksekusi, Mark David meminta John membubuhkan tanda tangan di album Double Fantasy. Setelah John memberi tanda tangan dan hendak memasuki gedung apartemen, David memanggil sang bintang sambil mencabut pistolnya dan menembak berkali-kali hingga tumbang. Nyawa John pun melayang di usianya yang ke-40.

David pun dengan cepat menjadi terkenal seketika karena menghabisi John Lennon pada 8 Desember 1980, peristiwa yang hari ini persis sudah berusia tiga puluh tujuh tahun. Dunia pun berkabung.

Ribuan lilin menyala untuk mengenang John yang cinta damai. Sejak muda, John adalah sosok yang bengal di balik lagu-lagu yang ditulis dan dinyanyikannya. Dia senang mengganggu otoritas, entah itu otoritas negara maupun moral.

Sejak kematiannya, sebagaimana para musikus yang mati muda saat sedang di puncak kesuksesan, sosok Lennon menjadi legenda.

Namun pernyataan itu barangkali tidak seluruhnya tepat atau setidaknya tidak mencerminkan kisah utuh tentang Lennon.

Selain mendapat status legenda, yang mungkin tak lagi bermakna karena terminologi ini disematkan ke banyak orang, Lennon juga menjadi sosok yang samar.

Status legenda diberikan kepada orang yang dianggap pahlawan. Sementara itu, cakupan mitos lebih besar dari itu. Mitos biasa disematkan untuk dewa.

Dan John Lennon memang telah mencapai semacam keabadian yang nyata. Titik itu dia raih berkat kepribadiannya dalam karya fiksi dan drama.

Sosok Lennon berkelindan dari pengangguran hingga pemimpin Partai Buruh di Inggris. Dia juga digambarkan sebagai nelayan tua yang bijak hingga dewa musik psikedelik yang sebenarnya.

Melalui berbagai citra itu, kehidupan Lennon dibuat menjadi roman dan ditulis ulang sampai titik di mana mitos tentangnya sering kali lebih nyata ketimbang sosok aslinya.

Namun lebih nyata tidak selalu berarti lebih benar. Dan imajinasi ulang John Lennon memang dimulai segera setelah kehidupannya berakhir.

Segera setelah kematiannya, sungguh hanya dalam beberapa jam, Lennon digambarkan sebagai sosok yang benar-benar suci dan bersih, tidak sesuai dengan kepribadian dan selera humornya atau teman-temannya di The Beatles,” kata jurnalis Rolling Stone, Rob Sheffield.

Rob adalah penulis di majalah Rolling Stone. Tahun 2017 dia menerbitkan buku berjudul Dreaming The Beatles.

“Saya selalu sependapat dengan apa yang dikatakan Paul Mccartney pada tahun 1980-an, ‘Sejak kematiannya, John Lennon menjadi Martin Luther Lennon’,” kata Rob.

Tanpa komando apapun, apartemen Dakota diserbu para penggemar Lennon pada hari-hari setelah kematiannya. Tempat itu berubah menjadi lautan bunga dan pesan duka.

Ratusan orang mengheningkan cipta di tangga gedung Lincoln Memorial di Washington DC. Stasiun radio setempat tidak memutar apa pun kecuali lagu karya Lennon dan Beatles selama berhari-hari.

Toko musik menjual habis album Double Fantasy, hasil duet Lennon dan pasangannya, Yoko Ono. Sementara di belahan dunia lain, seremoni ‘beautifikasi orang suci’ yang sama juga bergulir.

Beberapa hari setelah kematian Lennon, sebuah mural muncul di jalan tersembunyi di kota Praha, Cekoslowakia. Gambar dinding serupa terus bermunculan selama bertahun-tahun setelahnya dan menjadi semacam kuil untuk penggemar Lennon.

Meskipun ada upaya untuk menghapusnya atau menutupinya, mural-mural itu sekarang menjadi objek wisata utama di Praha. Lokasi itu menjadi perhentian reguler banyak tur wisata berpemandu di ibukota Ceko itu.

“Dapat dimengerti bahwa pada awal-awal kedukaan, banyak orang ingin melihat sosoknya sebagai orang suci, tapi itu adalah klaim terakhir yang dibuat Lennon untuk dirinya sendiri,” kata Rob Sheffield.

“Di dunia musik Lennon adalah orang yang paling bermulut pedas, sarkastik, dengan kecerdasan yang membuat orang terluka. Dengan mudah hal-hal itu membuatnya dilihat sebagai orang yang optimis dengan pikiran sederhana,” tuturnya.

Lennon jelas bukan orang suci dalam imajinasi apa pun. Pada 2015, sebuah dokumen hukum berisi pernyataan dari Dorothy Jarlett, muncul ke publik.

Jarlett adalah asisten rumah tangga Lennon saat dia masih terikat pernikahan dengan istri pertamanya, Cynthia.

Dalam dokumen itu, Lennon digambarkan sebagai seorang pemikir yang agresif dan kerap bersikap kasar kepada putranya, Julian.

Dalam sebuah wawancara dengan Playboy, yang diterbitkan dua hari sebelum dia meninggal, Lennon mengakui, “Saya dulu kejam pada pasangan saya, dan secara fisik kepada perempuan mana pun.”

“Saya adalah orang yang gemar memukul. Jika saya tidak bisa mengekspresikan perasaan, saya akan memukul,” kata Lennon.