Lika-liku Karier Peri Sandria, Penyerang Haus Gol Nan Legendaris yang Memegang Rekor Puluhan Tahun di Liga Indonesia

Jumat, 29 Oktober 2021, 15:14 WIB
49

Peri Sandria mustahil dilupakan dari sejarah sepak bola Indonesia. Semasa masih aktif berkarier, reputasi Peri Sandria terkenal sebagai penyerang yang begitu haus gol. Nalurinya di mulut gawang begitu lihai menghasilkan skor untuk tim yang dibelanya.

Kehebatan Peri Sandria perihal mencetak gol paling fenomenal tercipta pada musim 1994/95. Musim itu merupakan musim perdana bagi sepak bola Indonesia menggelar kompetisi liga yang menggabungkan Perserikata dan Galatama. Membela Bandung Raya, kiprah Peri Sandria di lini depan sangatlah fenomenal.

Power of Thor Megaways

Produktivitas golnya sepanjang satu musim benar-benar tinggi. Ia lantas mampu mengakhiri musim Liga Indonesia 1994/95 dengan meraih predikat top skor kompetisi berkat koleksi 34 golnya. Hal yang menarik, torehan berjumlah 34 gol Peri Sandria ternyata menjadi sebuah rekor tersendiri di Liga Indonesia yang bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya.

Mungkin Peri Sandria kala itu tak pernah menyangka, bahwa torehan golnya musim 1994/95, akan menjadi rekor ‘setengah abadi’. Kurang lebih selama 22 tahun, Peri Sandria menyandang status sebagai top skor dengan jumlah gol terbanyak dalam semusim di Liga Indonesia.

Rekor Peri Sandria baru bisa pecah pada Liga 1 2017 lalu. Penyerang Bali United, Sylvano Comvalius, menjadi top skor dengan catatan 37 gol, dan mengakhiri dominasi rekor Peri Sandria.

Prestasi mentereng Peri Sandria tak berhenti sampai di situ. Musim 1995/96, peran Peri Sandria di lini depan berhasil mengantarkan Bandung Raya menjuarai Liga Indonesia.

Bahkan bila jauh ke belakang lagi, tepatnya pada tahun 1991, Peri Sandria mampu memberikan kejayaan untuk Timnas Indonesia. Peri Sandria masuk ke dalam jajaran pemain Skuat Garuda yang meraih medali emas SEA Games 1991.

Chronicles of Olympus X Up

Sebagai penyerang, Peri Sandria dikenal punya kemampuan  komplet. Kedua kakinya sama-sama kuat dan kepalanya bahkan lebih berbahaya mengingat cukup banyak gol yang ia cetak melalui sundulan, baik di Galatama maupun Liga Indonesia (sekarang Liga 1).

Ayah satu putri ini juga diketahui sangat ngotot selama berada di atas lapangan. Peri tidak pernah mau kalah berduel dengan pemain lawan demi memperebutkan bola dan membuka ruang tembak. Tak jarang aksi tersebut membuatnya terlibat benturan fisik yang merugikan diri sendiri dan tim.

“Saya berkarakter keras. Tidak ada itu kata lembek di kamus saya,” cetus Peri Sandria.

“Penyerang yang ingin berprestasi harus tahan banting dan saya sudah membuktikannya, tapi segala bentuk emosi mesti dihabiskan di lapangan. Jangan dibawa-bawa sampai ke luar lapangan,” kata legenda kelahiran Binjai, Sumatra Utara.

Etos kerja kerasnya mungkin yang membuatnya bisa masuk Timnas Indonesia dan memberikan gelar juara SEA Games 1991. Peri Sandria mengaku kalau proses persiapan Skuat Garuda sebelum mengikuti kompetisi sangatlah berat. Banyak latihan fisik ekstra yang diberikan pelatih Anatoli Polisin. Pernah satu kali Peri Sandria dkk. diminta menempa kekuatan fisik dengan cara berjalan dan berlari mendaki gunung.

“Saat itu kami pemusatan latihan di Lembang, Bandung, selama tiga bulan. Selama periode itu, kami berlatih tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore tanpa henti. Sesi sore itu pun bisa sampai malam. Kami meminta libur saja butuh banyak pertimbangan,” ucap Peri.

“Tak hanya itu, dalam trek gunung yang berjarak sekitar tujuh kilometer itu, para pemain juga harus berlari. Tak pelak, latihan yang sangat berat itu menuai protes pemain. Namun, para pemain kemudian memilih menghormati keputusan sang pelatih,” ujar Peri.

Cerita Peri Sandria semasa masih bermain memang terlihat begitu indah. Memiliki naluri mencetak gol tinggi dan bergelimang prestasi, jelas menjadi catatan karier yang terbilang sempurna.

Tapi ternyata kisah Peri Sandria tak semulus kejayaan yang terlihat. Beberapa cerita miris penuh perjuangan juga harus dihadapi Peri Sandria.

 

Bonus Uang Raihan Top Skor yang Tak Cair

Peri Sandria mengalami era yang mana kompetisi sepak bola Indonesia masih terbagi ke dalam dua sistem, yakni Perserikatan dan Galatama. Nama Peri Sandria sendiri dahulu lebih memilih berkarier di kancah Galatama, dengan membela sejumlah klub, seperti KTB Bekasi, Assyabaab Surabaya, serta Putra Samarinda.

Kala melanglang buana menghiasi pentas Galatama, tingkat kesejahteraan Peri Sandria sebagai pemain sepak bola terdengar miris. Ia mengaku mendapat gaji yang sangat kecil, yakni sekitar Rp200 ribu per bulan.

Kondisi baru membaik ketika Perserikatan dan Galatama bersatu menjadi Liga Indonesia. Jumlah gaji per bulan Peri Sandria mulai meningkat drastis.

“Kalau zaman saya Liga Dunhill saja yang lumayan, waktu Galatama saya cuma digaji 200 ribu sebulan. Paling besar saya terima Rp4 juta waktu di Bandung Raya tahun 1994,” ungkap Peri Sandria.

Namun cerita miris dari Peri Sandria belum berhenti. Peri Sandria pernah pula merasa diingkari oleh pihak PSSI.

Tepatnya saat Peri Sandria menjadi top skor, PSSI berjanji bakal memberikan hadiah berupa sepatu dan uang. Sayangnya, hingga momen pemberian penghargaan rampung, uang yang dijanjikan tak sama sekali datang.

“Dulu dikatakan oleh PSSI, selain dapat sepatu saya juga dapat uang Rp50 juta. Begitu saya terima sepatunya, uangnya tidak ada,” jelas Peri.

“Janji PSSI tidak komit, saya kecewa. Padahal saya berjuang untuk itu,” lanjutnya.

Peri Sandria lantas berusaha mencukupi kehidupannya dengan mengandalkan gaji dan klub. Khusus perihal bonus, Peri Sandria bisa mendapatkan sekitar Rp1 juta tiap pertandingannya.

Pria berusia 50 tahun itu pun menyebut pendapatannya dari klub seringkali lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri. Fasilitas klub era Liga Indonesia disebutkan Peri Sandria sangat membantu tingkat finansial keluarganya.

“Kadang masih ada lebih buat keluarga, karena saya makan dan semuanya ditanggung di tim. Selain gaji, bonus juga lumayan di Bandung Raya, di atas satu juta per pertandingan,” ucap Peri Sandria.

 

Penyembuhan Cedera yang Tak Ditanggung PSSI

Gemilang di level klub, jelas membuat Peri Sandria kerap mendapat tugas negara. Ia seringkali dipanggil untuk membela Timnas Indonesia.

Nama Peri Sandria bahkan turut masuk ke dalam skuat Timnas Indonesia peraih medali emas 1991. Ia kala itu berkerjasama dengan sejumlah nama beken, seperti Aji Santoso, Kashartadi, Robby Darwis, dan Rochy Putiray.

Akan tetapi, Peri Sandria mengaku malah mendapatkan tingkat kesejahteraan yang kurang baik ketika membela Timnas Indonesia. PSSI dinilainya lalai dalam memenuhi kewajibannya kepada pemain Skuat Garuda eranya.

“Sangat kurang, apalagi kalau kita sedang TC (pemusatan latihan), seharusnya PSSI ada perhatian buat keluarga kami, ini tidak sama sekali,” ucap Peri Sandria.

“Waktu saya di Timnas, kalau tidak salah gaji saya Rp250 ribu sebulan,” tambahnya.

Peri Sandria bercerita jika dirinya pernah menderita cedera tulang mata saat berlaga memperkuat Timnas Indonesia untuk ajang SEA Games 1993. Namun, PSSI justru tak memberikan bantuan dana untuk proses penyembuhan Peri Sandria.

Bantuan dana malah keluar bukan dari PSSI. Biaya pemulihan cedera justru berasal dari uang pribadi manajer PSSI kala itu, Nirwan Bakrie.

“PSSI tidak membiayai. Waktu itu ketika di Singapura, kebetulan manajer Timnas Indonesia Nirwan Bakrie, saya langsung bicara sama beliau. Alhamdulilah beliau menolong dengan uang pribadi, bukan uang PSSI,” jelas Peri Sandria.

Lebih lanjut, Peri Sandria menyebut perhatian PSSI untuk para legenda sepak bola Indonesia yang berprestasi juga masih sangat kurang. Sejak pensiun dari arena sepak bola, Peri Sandria belum pernah mendapatkan tunjangan PSSI.

Tunjangan malah didapatkan Peri Sandria dari perusahaan swasta. Namun bila berkaca pada kondisi perekonomian Indonesia saat ini, nominal tunjangan yang diberikan perusahaan swasta jumlahnya tak seberapa.

“Tidak ada (bonus dari PSSI dan Kemenpora). Kita dapat tunjangan dari Yasindo, per bulan dulu 50 ribu. Sekarang sudah naik 100 ribu, tapi ya sekarang angka segitu sudah tidak ada artinya,” tutur Peri Sandria.

 

Wajah Sepak Bola Indonesia Kini

Kondisi para pemain sepak bola Indonesia sekarang, jauh lebih enak ketimbang eranya Peri Sandria dulu. Pemain sepak bola profesional Indonesia yang kini aktif merumput, bisa mendapatkan gaji dengan nominal fantastis.

Bagi yang berhasil masuk Timnas Indonesia, bahkan masih akan mendapatkan tambahan menggiurkan berupa gaji dari PSSI. Namun Peri Sandria sangat menyayangkan, mengapa ketika kesejahteraan pemain sepak bola sudah lebih makmur, malah tak ada satupun prestasi yang muncul untuk Timnas Indonesia?

“Zaman sekarang kesejahteraan sudah cukup. Uang gaji jumlahnya besar dari klub, di PSSI dapat gaji gede pula dan dibayarnya per minggu,” jelasnya.

“Saya per bulan dulu nunggu gajinya cuma Rp250 ribu dari PSSI. Mereka (pemain bola saat ini) sekarang per minggu bisa di atas 5 lima gajinya. Tapi pertanyaan sekarang, kemana prestasi Timnas Indonesia?” tegas Peri Sandria.