Makna Tersembunyi dari Viralnya Film Squid Game yang Tak Banyak Orang Tahu

Selasa, 28 September 2021, 16:59 WIB
222

Sudah banyak yang mengakui jika series Netflix ‘Squid Game’ sangat menarik untuk ditonton. Ceritanya yang menarik membuat banyak orang ketagihan untuk menonton series ini.

Ketegangan dalam setiap episode pun mewarnai suasana hari para penonton. Dalam series, diceritakan setiap karakter berlomba mempertahankan hidupnya dalam  sebuah permainan.

Gates Of Olympus

Bukan hanya pertahanan hidup yang amat menegangkan, sadar atau tidak ‘Squid Game’ juga memberikan pesan moral yang sangat berarti untuk kehidupan sehari-hari.

Sutradara Hwang Dong Hyuk mengungkapkan alasannya memilih Squid Game sebagai judul drama. Hwang Dong Hyuk mengatakan, Squid Game merupakan jenis permainan yang sering ia mainkan semasa kecil.

“Squid Game adalah sesuatu yang biasa saya mainkan sebagai Prajurit Anak di sekolah atau permainan yang yang saya mainkan di lingkungan rumah,” kata Hwang Dong Hyuk.

Hwang Dong Hyuk merasa orang yang dulunya bermain Squid Game ini saat kecil, ketika dewasa mereka akan kembali bermain, tetapi dengan sebuah taruhan. Alasan yang paling mendasar untuk memilih Squid Game sebagai judul karena kisah yang disuguhkan dalam drama ini bercerita tentang sebuah permainan.

“Alasan saya menggunakan Squid Game sebagai judulnya karena drama ini mengisahkan tentang permainan yang melibatkan aktivitas fisik,” kata Hwang.

Rise of Olympus

Hwang mengatakan, Squid Game menjadi permainan masa kecil yang paling sering ia dimainkan dan menjadi favoritnya. “Saya merasa bahwa permainan ini bisa menjadi permainan anak-anak paling simbolis yang menunjukkan kalau masyarakat masa kini semakin kompetitif. Kita hidup seperti itu sekarang,” kata Hwang.

Sebagai informasi, Squid Game berkisah tentang orang-orang putus asa yang mempertaruhkan nyawanya untuk mengikuti survival game demi meraih hadiah 45,6 miliar won.

Ki Hoon (Lee Jung Jae) kehilangan pekerjaan dan hidup sengsara. Setelah mendapatkan undangan misterius, ia bergabung dalam permainan. Teman kecilnya, Sang Woo (Park Hae Soo), juga mengalami krisis karena perusahaan tempatnya bekerja terkena penyelewengan dana. Squid Game adalah permainan tradisional Korea yang populer pada 1970 dan 1980-an.

Permainan yang mengharuskan pemainnya menggambar geometri seperti cumi-cumi ini akan berakhir ketika ada peserta yang berhasil menjadi pemenang. Drama bergenre thriller ini dibintangi oleh aktor ternama, di antaranya Wi Ha Joon, Lee Jung Jae, Park Hae Soo, Jung Ho Yeon, dan Heo Sung Tae.

Makna Tersembunyi di Squid Game

Adegan Squid Game yang Diduga Plagiat Disiapkan Sejak 2008

Squid Game bercerita tentang ratusan orang di Korea Selatan (Korsel) yang mengalami masalah finansial. Mereka kemudian diundang oleh kelompok misterius untuk mengikuti serangkaian permainan kompetitif yang mengancam nyawa. Iya, pada dasarnya Squid Game adalah survival game film yang mengangkat permainan anak-anak Korsel sebagai unsur dalam plotnya.

Plot utama Squid Game berfokus pada karakter bernama Seong Gi-hun, diperankan Lee Jung-jae. Gi-hun adalah laki-laki dewasa Korsel yang gagal membangun kehidupan layak di negaranya. Ia dipecat dari pabrik mobil tempatnya bekerja, kehilangan teman dalam aksi mogok, ditinggal istri yang menikahi pria lebih mapan, serta kehilangan hak asuh atas anak semata wayangnya.

Gi-hun juga terkucilkan di lingkungan sosialnya. Tanpa privilese. Ia bahkan hidup menumpang dengan sang ibu yang bekerja sebagai pedagang. Segala kondisi itu menyeret Gi-hun ke lingkaran setan utang dan perjudian. Gi-hun gila taruhan pacuan kuda dan begitu ketergantungan pada utang. Pada satu titik sang ibu sakit dan ia membutuhkan uang lebih dari sebelum-sebelumnya.

Segala situasi yang cukup jadi alasan Gi-hun ikut serta dalam rangkaian permainan kelompok misterius, meski Gi-hun tahu ia harus memertaruhkan nyawanya. Kelompok itu menjanjikan total hadiah 45,6 miliar won untuk peserta yang mampu memenangi pertandingan hingga tahap akhir. Seperti Gi-hun, para peserta adalah orang-orang yang mengalami masalah finansial akut.

Sorotan konflik kelas sosial dalam film menyentuh capaian penting ketika Parasite memenangi Best Picture Oscar 2020. Ini tak kalah penting bagi sang sutradara, Bong Joon Ho, yang konsisten mengangkat isu ini: Snowpiercer (2013) hingga Okja (2017). Sama-sama dari Korsel, sutradara Squid Game, Hwang Dong Hyuk mengangkat keresahan sama dalam Squid Game.

Squid Game Dituduh Plagiat, Ini Kemiripannya dengan Film As The Gods Will

Pengamat budaya lokal, Kim Seong Su melihat Squid Game sebagai ilustrasi realitas kehidupan banyak manusia hari ini: konflik kelas sosial dan kerasnya hidup dalam sistem kapitalisme. Ya, pemilik kapital atau pemodal akan selalu semakin kaya. Sisanya adalah para proletar yang merupakan roda kapitalisme, yang hanya memiliki tenaga atau pikiran untuk berkontribusi.

“Semua permainan di sini hanya membutuhkan tenaga dan pikiran. Jika kita bersatu, kita tak akan terkalahkan,” tutur Cho Sang-woo (Park Hae Soo) kepada karakter Ali (Anupam Triphati) dalam sebuah adegan. Sang-woo dikisahkan sebagai pemuda Korsel jenius, peraih beasiswa kampus ternama. Sementara Ali adalah karakter yang sejak awal menonjolkan kekuatan fisiknya.

“Permainan seperti squid game, kelereng, dan dalgona muncul dalam drama adalah permainan yang biasa dimainkan di gang-gang. Tetapi pada kenyataannya, permainan ini mewakili cara manusia bertahan hidup,” tutur Kim Seong Su, dikutip The Focus.

Dalam pengertian umum, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang memberi kebebasan penuh bagi setiap orang untuk mengendalikan kegiatan perdagangan, industri, serta produksi, dengan tujuan mendapat keuntungan. Kapitalisme juga kerap dijelaskan sebagai sistem ekonomi, di mana segala kegiatan ekonomi diselenggarakan swasta. Otoritas pemerintahan hanya mengawasi.

Dilansir dari berbagai sumber, Karl Marx menjelaskan kapitalisme sebagai sistem, di mana harga barang dan kebijakan pasar ditentukan pemilik modal dengan tujuan mencapai keuntungan maksimal. Sementara, Adam Smith menyoroti kapitalisme idealnya dapat mewujudkan kesejahteraan karena pemerintah tidak mengintervensi kebijakan dan mekanisme pasar.

Proklamator Republik Indonesia, Ir Soekarno menjelaskan kapitalisme sebagai sistem sosial dalam masyarakat yang lahir karena terpisahnya kaum buruh dari alat produksi. Sementara, sektor-sektor produksi justru bertumpu pada pemilik modal. Soekarno menyebut kapitalisme sebagai sebab dari celakanya masyarakat kecil. Lingkaran setan yang tak berakhir.

Squid Game adalah buku gambar dengan banyak warna dan simbol di dalamnya. Sejumlah karakter dirancang sebagai simbol dari karakteristik masyarakat. Selain Sang Woo dan Ali yang menggambarkan kelas pekerja, ada juga Han Mi-nyeo (Kim Joo-ryung), kalangan paling tertindas di Korsel: wanita dan miskin. Di Korsel, budaya dan struktur sosial patriarki begitu kental.

Kajian LIPI menjelaskan ketimpangan gender di Korsel bahkan dimulai dari perbedaan standarisasi gaji. Kesenjangan gender signifikan dalam partisipasi pasar tenaga kerja. Data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan hanya 55 persen perempuan Korsel dari usia 15-64 tahun berada dalam angkatan kerja.

Angka ini terbilang rendah jika melihat persentase rata-rata 65 persen di negara-negara OECD. Memang, Korsel kini telah mencapai kemajuan ekonomi yang signifikan. Tapi negara itu memiliki budaya unik yang berpengaruh besar pada kehidupan ekonomi masyarakatnya. Dalam konteks kesetaraan gender, aspek paling menonjol itu adalah konfusianisme dan kolektivisme.

Konfusianisme merupakan petunjuk tingkah laku berdasar moral yang dianut penganut kepercayaan tertentu. Nilai itu memengaruhi bagaimana struktur sosial menempatkan perempuan dalam tekanan dan diskriminasi. Perempuan harus seratus persen untuk keluarga, ketika di waktu yang sama juga wajib berkontribusi penuh dalam lingkungan sosial-ekonomi yang mengucilkan mereka.

Perempuan adalah pekerja yang bisa digaji rendah. Perempuan juga memiliki penampilan menarik. Perempuan juga simbol untuk mencitrakan sebuah perusahaan maju. Tiga alasan itu biasanya yang mendasari alasan sebuah perusahaan merekrut perempuan. Ironi lainnya, seorang perempuan harus keluar dari perusahaan ketika memutuskan menikah atau melahirkan anak.

Dari kalangan kelompok misterius yang jadi otoritas permainan, permainan simbol juga ditampilkan. Sutradara, Hwang Dong-hyuk menjelaskan makna lingkaran, segitiga, dan segi empat di topeng para pria ber-jumpsuit merah muda. “Simbol lingkaran mewakili para pekerja, segitiga adalah simbol untuk tentara, sementara segi empat untuk manajer,” kata Dong-hyuk dalam konferensi pers yang digelar Netflix, Rabu, 15 September.

Selain itu, tiga simbol itu juga merepresentasikan permainan cumi-cumi itu sendiri. Dikutip The Focus, lingkaran, segitiga, dan kotak sejatinya adalah huruf alfabet Korea yang ditulis dalam hangul: sistem penulisan Korea. Lingkaran adalah huruf ‘o’. Segitiga merupakan bagian dari huruf ‘j’. Sementara segi empat adalah ‘m’. Jika dirunut, ketiganya membentuk OJM. OJM adalah inisial dari permainan cumi-cumi dalam bahasa Korea yang dibaca sebagai Ojingeo Geim.

Simbol lain lain yang paling menarik adalah karakter Kang Sae-byeok, diperankan HoYeon Jung. Sae-byeok adalah perspektif kritis yang mewakili film secara keseluruhan. Datang dari negeri seberang dinding, Korea Utara, Sae-byeok membawa banyak harapan untuk memperbaiki hidupnya dan adiknya.

Namun hidup di dalam sistem yang berjalan di Korsel pun tak seaman yang ia bayangkan. Di satu waktu ia begitu skeptis dan sinis. Pada titik lain ia begitu dapat diandalkan. Sae-byeok juga dimodali dialog-dialog yang kuat dan mendalam. Dari segi perkembangan karakter, Sa-byeok berhasil membawa kita ke perjalanan pikiran yang dirancang Squid Game.

Squid Game Menjadi Kontroversi

Review Series: Squid Game, Pertaruhan Nyawa, Harta dan Kisah Pelik di Medan  Permainan Masa Kecil - Beauty Journal

Film Squid Game yang kini tengah hits di Netflik dan banyak dibicarakan para penggemar film di Indonesia, dilanda serangkaian tuduhan plagiarisme.

Squid Game dituding meniru film asal Jepang ‘As The Gods Wils’ yang dirilis pada 2014.

Melansir Allkpop, jika beberapa penonton menuding beberapa adegan dan plot yang sama di film ‘As The Gods Will’ dihadirkan pada film ‘Squid Game’.

Salah satu bukti yang dikumpulkan para penonton ialah shoot kepala boneka raksasa yang memperlihatkan matanya sedang melototi sesuatu.

Ada juga shoot waktu yang menunjukan permainan akan segera berakhir.

Bahkan menurut laporan tersebut game pembukanya yang nyaris sama menggunakan lampu merah dan lampu hijau juga sama.

Meski demikian game lainnya berbeda. Ini sebagian besar karena Squid Game menggunakan permainan masa kecil Korea sebagai premis mereka.

Usai kontroversi nomor ponsel yang tertera di kartu nama sales Squid Game, kini tuduhan baru kembali menerpa drama Korea sadis tersebut. Squid Game disebut kembali melanggar hak privasi seseorang akibat sebuah nomor rekening yang muncul di akhir episode.

Setelah Gi-Hun, diperankan Lee Jung-Jae, memenangkan Squid Game, dirinya dilempar ke sebuah trotoar dengan kartu debit yang terselip di dalam mulutnya. Ketika dicek, rupanya Gi-Hun benar-benar memiliki uang sejumlah KRW456 miliar, sekitar Rp550 miliar, dalam rekening tersebut yang dia dapatkan dari penyelenggara Squid Game.

Ketika kamera menyorot layar ATM yang digunakan, tampak sekilas nomor rekening lengkap dari kartu yang dimiliki Gi-Hun. Warganet yang penasaran pun mencoba menelusuri eksistensi nomor rekening tersebut dan menemukan bahwa nomor tersebut benar-benar ada di dunia nyata.

Dilansir dari Koreaboo, nomor rekening ini diketahui dikeluarkan oleh KakaoBank dan dimiliki oleh seorang bermarga Lee yang nama lengkapnya tak disebutkan demi menjaga privasi. Karena ini bukan kali pertama Squid Game membocorkan informasi orang yang tak ada kaitannya dengan proyek mereka, warganet pun menduga bahwa nomor rekening ini digunakan tanpa seizin Tuan/Nyonya Lee.

Mendengar keributan ini, tim produksi Squid Game akhirnya muncul ke publik dan turut berkomentar mengenai masalah nomor rekening ini. Representatif dari tim Squid Game mengatakan bahwa mereka sudah lebih dulu bernegosiasi dengan pemilik rekening untuk menggunakan nomor tersebut.

“Nomor rekening yang terkait kami gunakan setelah bernegosiasi dengan pemilik dalam masa produksi konten,” ujar mereka singkat.

Namun, meski sudah mendapat pernyataan resmi, warganet sudah terlanjur tak percaya pada tim Squid Game karena sebelumnya mereka juga tanpa sengaja membocorkan nomor telpon seorang pria yang tak ada kaitannya dengan Netflix tanpa meminta izin terlebih dahulu. Hingga kini, tim Squid Game pun masih berusaha berunding dengan pemilik nomor telepon, disebut Tuan A, untuk memberi kompensasi yang layak.