Melihat Cara Ernesto Valverde Merombak Sepak Bola Yunani untuk Selamanya

Jumat, 31 Desember 2021, 20:16 WIB
59

Pada tahun 2008 silam, ketika Johan Cruyff ditanya Joan Laporta siapa yang cocok jadi pengganti jika Frank Rijkaard cabut, pilihan jatuh pada Pep Guardiola. Blaugrana pun siap ke halaman baru dan Rijkaard mengumpulkan semua staff di restoran lokal untuk makan malam perpisahan.

Tepat di sebelah mereka sedang minum-minum wine, pria asal Belanda itu melihat sosok yang sudah dikenalnya. Dia duduk di sebelah agen Inaki Ibanez dan manajer umum Olympiakos, Giannis Chrysikopoulos, seorang pelatih bernama Ernesto Valverde yang juga hendak mengucapkan selamat tinggal pada kota Catalan.

Sang pelatih akan mengambil langkah besar yang nantinya akan merombak sepak bola Yunani menjadi lebih modern. Pelatih yang saat itu melatih Espanyol menyetujui proposal kontrak yang diberikan Olympiakos. “Hidup ini penuh dengan kebetulan, karena malam sebelumnya, Ernesto sudah mengatakan ‘iya’ pada kontrak yang kami tawarkan. Saya dan Mr. Chrysikopoulos dan Valverde juga sedang makan malam di restoran Barcelona. Tepat di sebelah kami ada Rijkaard, yang sedang makan malam perpisahan. Sebuah momen yang kebetulan, karena Rijkaard mengucapkan selamat tinggal ke Barcelona, sementara Valverde bergabung ke Olimpiakos,” jelas Ibanez kepada Sport24.

Cruyff percaya bahwa kebetulan yang terjadi pada sebuah malam di bulan Mei 2008 tidak sekadar kebetulan, tapi juga masuk akal. Barcelona butuh awal yang baru, sementara Olympiakos harus mencari sejauh 3.000 km ke timur untuk menemukan pelatih yang akan memperkenalkan mereka, bahkan Yunani pada era sepak bola modern.

Seperti yang ditunjukkan oleh Guardiola kepada semua orang di seluruh Eropa saat melatih Barcelona, sepak bola modern mendikte permainan dengan bola yang cepat, dari kaki ke kaki, mengutamakan segi teknis dan juga menyerang.

Itulah yang ingin dibawa oleh pemilik Olympiakos saat itu, Sokratis Kokkalis ke timnya. “Saya percaya bahwa Valverde adalah salah satu pelatih terbaik di Spanyol. Dia adalah target kami karena gaya bermain yang dimainkan Espanyol. Kami ingin Olympiakos memainkan sepak bola modern, cepat dan indah, saya yakin dia mampu melakukannya,” kata Sokratis dalam konferensi pers pengenalan Valverde.

 

Musim Debut Ernesto Valverde di Olympiakos

Valverde pun tiba di Yunani menggantikan pelatih yang juga asal Spanyol, Pep Segura yang baru saja mempersembahkan gelar double domestic Yunani di musim 2007/2008. Namun ada sebuah kekhawatiran besar pada Olympiakos kala itu, mereka seperti klub yang memang ingin membuka bab baru dan membangun sesuatu yang baru dan tentunya lebih bergairah.

Dalam debut resminya sebagai pelatih Olympiakos, Valverde harus melihat timnya dikalahkan oleh klub asal Cyprus, Anorthosis Famagusta di kualifikasi ketiga Liga Champions. Olympiakos kalah agregat 3-1 dan harus mengikuti kompetisi Liga Europa sebagai akibatnya. Ini jelas merupakan pukulan besar bagi para fans dan kemunduran yang nyata untuk rezim baru.

Terlepas dari kekecewaan karena tersingkir dari Liga Champions, tim ini nyatanya berhasil menguasai puncak klasemen liga. Mereka tidak terkalahkan hingga Oktober datang. Para pemain pun mulai menunjukkan gaya bermain sepak bola khas Valverde. Dan sebuah momentum terjadi sebagai ajang pengenalan tim dengan gaya baru ala Ernesto, di Stadion Karaiskakis pada 27 November menghadapi raksasa Portugal, Benfica.

Sebuah tim yang saat itu dibela oleh David Luiz, Cardozo, Nuno Gomez dan Jose Antonio Reyes harus kalah 5-1 saat skuat asuhan Valverde mempersembahkan salah satu penampilan terbaik mereka dalam sejarah klub. Dan untuk para fans, kesuksesan itu adalah sesuatu yang luar biasa.

Saat Guardiola memperkenalkan tiki-taka ke seluruh dunia, Valverde sendiri memberikan para penggemar Olympiakos sebuah kesenangan pribadi. Permainan cepat, penuh gaya dan tenang, tentunya juga penguasaan bola, menjadi hal baru yang dimainkan oleh Olympiakos di sepak bola Yunani.

Secara tradisional di Yunani, sebuah tim memang rata-rata kebanyakan bergantung pada penampilan individu pemain bintang mereka. Tapi Olympiakos perlahan memasuki era modern, yakni bermain secara kolektif. Mereka membangun serangan dari lini pertahanan, memberi tekanan tinggi pada lawan, mempertahankan penguasaan bola dan pergerakan terus-menerus tanpa bola, sebuah inovasi yang benar-benar menyegarkan mata para penggemar kala pertandingan Olympiakos vs Benfica.

Olympiakos pun melaju ke babak 32 besar Liga Europa, namun sayang, mereka harus tersingkir oleh Saint-Etienne dengan agregat 5-2.

Meski tersingkir dari kompetisi Eropa, Valverde sendiri mampu mencapai target yang dicanangkan oleh tim, yakni gelar ganda domestik dan yang paling penting, gaya bermain yang baru. Memenangkan Liga Yunani dengan mengantongi hanya tiga kekalahan, dan mengalahkan AEK Athens lewat adu penalti di final Piala Liga, menjadi sesuatu yang menakjubkan di musim perdananya sebagai pelatih di negeri Balkan.

“Dalam musim perdananya, Valverde benar-benar mengubah Olympiakos, itulah mengapa dia diperlakukan bak dewa di Yunani. Dia mengajari saya banyak hal dan membuat saya melihat sepak bola dari perspektif yang berbeda,” ucap striker andalan Olympiakos saat itu, Darko Kovacevic.

Dengan gelar ganda domestik, Valverde harus meninggalkan Yunani guna mencari tantangan dan kembali ke negara asalnya. Sebelum kembali ke Olympiakos setahun kemudian dengan tugas berat, menyelamatkan klub yang sedang kembali ke masa-masa kritis mereka.

Saat dirinya pergi, Olympiakos harus puas hanya di posisi kelima Liga Yunani dan memulai musim 2010/11 dengan tersingkir di babak kualifikasi Liga Europa kontra Maccabi Tel Aviv. Sebuah pergantian di kursi presiden klub, Evangelos Marinakis yang menggantikan Sokratis Kokkalis, yang membuat para penggemar khawatir dengan masa depan klub.

Pemilik baru membutuhkan sebuah perubahan total untuk mempertahankan posisinya, dan Valverde pun kembali dipanggil. Terlebih lagi, Valverde sendiri sudah mendapatkan rasa hormat dari para penggemar sepak bola Yunani. Dia sudah dianggap meninggalkan warisan sepak bola modern sejak periode pertamanya semusim melatih Olympiakos di musim 2008/2009.

Usai kekalahan 2-1 dari rival terberat tim, Panathinaikos, filosofi menyerang Olympiakos mulai mendapatkan serangan dari para pengamat sepak bola Yunani. Namun Valverde tetap bersikeras bahwa kesuksesan sepak bola modern dibangun di atas permainan menyerang. “Olympiakos adalah tim yang selalu berusaha untuk menang dan kami harus memainkan sepak bola menyerang, tapi juga selalu kompak di pertahanan. Kami mengakui risiko dari sepak bola modern, tapi ini adalah filosofi kami dan tidak ada alasan untuk mengubahnya. Karena itulah yang dicintai oleh para fans kami,” kata Valverde kala itu.

 

Valverde Bukan Sekadar Pelatih, tapi Dewa untuk Yunani

Untuk melihat dampak nyata yang dihadirkan oleh Valverde, kita lihat saja penggantinya di kursi pelatih pada awal musim 2012/13, Leonardo Jardim. Pelatih asal Portugal itu hanya bertahan delapan bulan dan dipecat, padahal Olympiakos tidak terkalahkan di Yunani dan mencapai babak 32 besar Liga Europa. Namun pemecatan itu lebih dikarenakan permainan sepak bola yang kurang atraktif.

Bertahun-tahun kemudian setelah Valverde mengakhiri periode keduanya di klub, seorang penerjemah klub Olympiakos, Marina Tsali menjelaskan alasan di balik kenapa para penggemar begitu mengeluk-elukkan nama sang pelatih.

“Mengapa dia begitu dicintai di sini, anda harus ingat bahwa orang-orang Yunani sangat suka gaya permainan Tim-tim Spanyol dan La Liga. Valverde adalah orang pertama yang mengusulkan jenis sepak bola seperti itu di negeri kami dan itu membuat semua orang senang,” katanya kepada MARCA.

“Dia dicintai dan yang paling penting adalah seberapa baik tim bermain di bawah asuhannya, dia juga memenangkan gelar, sementara rival kami senang dengannya karena sikap hormatnya sebagai pesaing, dan menjawab semua pertanyaan dengan kerendahan hati,” jelasnya lagi.

Ketika Olympiakos menahan imbang Barcelona di fase gugur Liga Champions musim 2017/2018, Valverde akan kembali namun sebagai pelatih lawan. “Dia ada di sana selama dua periode dan Anda melihat dia kembali ke Yunani, meski sebagai pelatih lawan, kami semua tetap mencintainya. Dia memenangkan gelar tapi juga punya cara bermain yang sangat berwarna,” ucap mantan pemain Olympiakos, Moises Hurtado.

“Terlebih lagi, mereka mencintai Ernesto karena kepribadiannya, dia bukan orang yang egois atau ingin menjadi pusat perhatian, oleh karena itu dirinya sangat dihargai di Yunani. Pelatih adalah sosok yang penting di sana, Ernesto Valverde dicap sebagai dewa,” jelas Hurtado lagi.

Jelang pertandingan kontra Barcelona, sebuah artikel diterbitkan oleh surat kabar Catalan Sport yang menjuluki Valverde sebagai dewa Yunani. Benar saja, saat pertandingan digelar di Stadion Karaiskakis, terdapat spanduk besar bertuliskan ‘Ernesto Gracias por Todo’, yang artinya ‘Terima kasih untuk segalanya, Ernesto’. Sementara itu, presiden klub, Marinakis juga memberikan hormat kepadanya atas semua jasanya untuk Olympiakos.

Baik bagi supporter ataupun para pemain yang dia asuh, Valverde merupakan pelatih yang mampu memodernisasi gaya bermain Olympiakos dan bahkan merevolusi permainan di Yunani. Dialah yang memperkenalkan gaya bermain Spanyol yang memang sukses, model yang menjanjikan untuk pengembangan para pemain muda dalam jangka panjang.

Bagi penggemar sepak bola Yunani, khususnya Olympiakos, pelatih asal Spanyol itu bukan hanya sekadar pelatih. Bagi mereka, Ernesto Valverde adalah més que un entrenador.