Melihat Inovasi Desain Kondom di Malaysia: Model Baru yang Katanya Lebih Aman dan Nyaman

Kamis, 25 November 2021, 18:58 WIB
31

Di negara di mana percakapan tentang seks adalah bisnis yang ‘lengket’, seorang ginekolog mempromosikan kesadaran masyarakat tentang kesehatan seksual. Cara sang ginekolog mengampanyekan misinya adalah dengan menciptakan jenis kondom yang berbeda dari versi umum. Kondom yang dimaksud memiliki kelebihan spesial karena bisa melekat pada kulit dan dapat digunakan pada penis maupun vagina.

“Hari demi hari, saya dihadapkan dengan pasien yang menderita efek samping dari metode kontrasepsi, atau karena tidak menggunakan metode, atau metode yang gagal, yang mengarah ke kehamilan yang tidak diinginkan,” John Tang Ing Ching, konsultan ahli kandungan-ginekologi di Sibu, Malaysia.

Extra Chilli

“Misalnya, tidak jarang saya menghadapi seorang siswi yang menangis di klinik saya ketika saya memberi tahu dia bahwa dia sedang hamil tua.”

Inisiatif Tang bukan hanya dipicu tidak maksimalnya fungsi alat kontrasepsi. Tang juga menemui bahwa banyak dari pasiennya yang harus bergulat dengan penyakit infeksi menular seksual. Ia sudah sering bertemu pasiennya yang mengidap penyakit kutil kelamin, herpes, dan HIV.

Melihat segala fenomena di hadapannya, Tang tak mau tinggal diam. Dia sungguh prihatin atas banyaknya jumlah kasus kehamilan yang tidak direncanakan dan penyebaran penyakit seksual menular yang ditemuinya selama 25 tahun bekerja sebagai dokter kesehatan reproduksi. Alhasil, Tang pun memulai langkah kepeduliannya lewat proses membuat kondom yang dapat mencegah kehamilan tak direncanakan dan penyakit seksual menular. Namun konsep produk kondom rancangan Tang berbeda, sebab dia melakukan inovasi dari cara yang tidak dilakukan desain-desain kondom saat ini.

Tang menyadari betul begitu banyak masalah yang tertera dalam banyak desain kondom yang kini beredar di pasaaran. Menurut Tang, kinerja kebanyakan kondom tidak benar-benar aman karena bisa saja sewaktu-waktu terlepas dari alat kelamin. Kondom biasanya hanya berfungsi pada penis yang ereksi. Sedangkan kondom yang dibuat untuk vagina (yang cara pakainya dengan memasang cincin di dalam vagina) dapat tergelincir atau salah arah di dalam tubuh.

Desain kondom yang ada juga tidak mencakup area yang cukup untuk memberikan perlindungan penuh. Tang memfokuskan perlindungan terutama perihal pencegahan penyebaran penyakit seksual menular. Mayoritas penyakit seksual menular menyebar melalui kontak kulit ke kulit seperti herpes genital dan infeksi HPV, dan itu dapat dicegah bila kondom mampu memberikan perlindungan maksimal.

Koi Gate

Tang menyebut kalau idenya untuk membuat kondom perekat berasal dari rekan-rekannya di sebuah konferensi medis di Sibu tujuh tahun lalu. Berkat konferensi tersebut, Tang akhirnya berani memulai program inovasi pembuatan kondom yang dia namakan Proyek Wondaleaf. Nama program ini diambil Tang berdasarkan referensi nakal untuk daun yang menutupi alat kelamin dalam penggambaran kisah Adam dan Hawa.

 

Desain Kondom Wondaleaf Unisex

Singkat cerita, Tang berhasil menyelesaikan program inovasinya dan resmi meluncurkan kondom Wondaleaf Unisex. Produk kondom buatan Tang hadir dengan bagian perekat yang dibuat agar tetap melekat pada kulit pengguna, bagaimana pun kondisinya. Produk kondom turut dipastikan Tang dapat menutupi bagian alat vital yang lebih luas cakupannya, termasuk vulva dan pangkal penis.

Intinya, desain kondom Wondaleaf Unisex idak seperti kebanyakan kondom di pasaran. Kondom Wondaleaf didesain oleh Tang dan timnya di perusahaan perlengkapan medis Twin Catalyst, agar alat perekatnya dapat dipakai bahkan selama foreplay, sebelum penis menjadi keras. Artinya, ini menjamin kalau kondom akan bekerja maksimal meskipun penis sedang tidak ereksi.

Meski menjadi rumah bagi produsen kondom terbesar di dunia , Malaysia, negara berpenduduk mayoritas Muslim, masih menganggap kontrasepsi tabu. Di antara mereka yang mengadopsi sikap yang lebih konservatif daripada menyebarluaskan manfaat penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi. Mayoritas masyarakat Malaysia melihat kondom sebagai sebuah alat yang tidak bermoral karena memungkinkan terjadinya hubungan seks di luar nikah.

“Banyak orang berpendapat bahwa kondom itu keriting dan bahkan mungkin tidak bermoral, tetapi bagi kami para ginekolog, ini sangat serius,” kata Tang, yang bertujuan untuk menghilangkan stigma seputar kesehatan seksual.

“Mungkin, dengan pemberdayaan universal dan perlindungan ganda yang komprehensif, Wondaleaf Unisex Condom dapat membantu memperluas percakapan kita tentang dilema ini.”

Sebenarnya Tang patut berterima kasih atas mewabahnya pandemi virus corona dalam keberhasilan proyeknya mengerjakan kondom Wondaleaf Unisex. Bagaimana tidak, Tang sendiri mengaku bahwa ide untuk Wondaleaf Unisex Condom terinspirasi dari alat pelindung diri (APD) yang biasa dipakai petugas medis. Efektif dalam mencegah banyak infeksi, APD sudah umum dipakai di kalangan petugas kesehatan bahkan sebelum pandemi COVID-19.

“Jadi pasti harus ada APD yang setara untuk hubungan seksual,” kata Tang.

Bentuk kondom Wondaleaf Unisex tidak terlalu tebal, kira-kira hanya setebal 30 mikrometer. Bahan yang dipakai untuk pembuatannya berasal dari dari poliuretan kelas medis. Sekedar catatan tambahan, poliuretan kelas medis merupakan bahan yang banyak digunakan dalam pembalut luka.

Namun Tang berusaha meningkatkan kinerja pada alat pelengketnya supaya jauh lebih kuat menempel ketimbang pembalut luka. Tang turut memastikan alat pelengket yang super rekat tidak akan menimbulkan rasa sakit saat dicopot dari kulit. Kerja Tang benar-benar ingin menjamin kenyamanan dan keamanan para pengguna kondom ciptaannya.

Tak lupa, Tang menghadirkan pelumas seperti kebanyakan kondom di pasaran. Menariknya, pelumas pada kondom Wondaleaf Unisex dibuat terpisah dari kondomnya. Pelumas pun senantiasa dapat dioleskan pada kulit sebelum pemakaian kondom.

Tang mengatakan bahwa kondom yang dia buat juga membahas beberapa “masalah kecil tapi penting”. Pandangan Tang dalam proses penciptaan kondom Wondaleaf Unisex memperhatikan masalah ukuran kondom yang kerap membingungkan; perlindungan dari sebelum dan sesudah sperma keluar; tindakan licik sejumlah orang yang suka melepas kondom saat berhubungan seks tanpa sepengetahuan pasangan seksualnya.

Selama bertahun-tahun, Tang dan timnya bekerja untuk mendapatkan dana. Setelah dana terkumpul, mereka mulai mengerjakan pembuatan prototipe dan mengatur uji klinis pada kondom unisex. Sekarang produk kondom buatan Tang telah tersedia secara online. Kondom Wondaleaf Unisex pertama-tama akan dijual lewat toko-toko di Malaysia pada bulan Desember mendatang. Namun Tang bersama tim masih mengusahakan supaya produk mereka dapat dirilis dan dijual ke cakupan yang lebih luas, kalau bisa secara internasional.

Untuk mendorong lebih banyak orang menggunakan kondom Wondaleaf, Tang dan timnya juga mengandalkan sajian rasa yang berbeda dan tekstur berbeda. Walau cara promosinya agak-agak mirip dengan kondom kebanyakan, kondom buatan Tang tetaplah spesial karena inovasi yang dia jalankan tadi. Tang hanya ingin memastikan makin banyak orang sadar dan peka akan kesehatan seksual dan alat kelamin.

“Saya telah memikirkan rasa durian, tetapi tim saya sangat menyarankan saya untuk tidak melakukannya,” kata Tang.

 

Masyarakat Menyukai dan Membutuhkan Kondom

Ketika pandemi virus corona menyerang dunia, banyak perusahaan kondom yang terdampak. Orang-orang harus di rumah saja, dan penjualan kondom pun merosot. Berbeda ketika memasuki tahun 2021 yang mana pembatasan kerumunan mulai dilonggarkan, angka penjualan kondom kembali mengalami peningkatan.

Reckitt Benckiser, perusahaan barang rumah tangga Inggris yang mengakuisisi Durex lebih dari satu dekade lalu, merilis angka perdagangannya untuk tiga bulan pertama tahun 2021. Perusahaan menyebut produk Durex mengalami pertumbuhan yang kuat dalam ‘kesejahteraan seksual’ dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020. Ya, saat virus corona muncul di China dan seluruh dunia perlahan mulai terjangkit pula sertamemasuki periode lock down sepanjang 2020, tingkat penjualan kondom sempat begitu menurun.

Peningkatan penjualan kondom Durex di tahun 2021 terutama didorong oleh pertumbuhan yang kuat di negara-negara seperti China, yang sebagian besar telah pulih dari pandemi dan mencabut sebagian besar atura pembatasan sosial. Tetapi Reckitt mengatakan bahwa permintaan tinggi akan kondom Durex juga tumbuh dari pasar luar China. Banyak negara lain yang mulai aktif lagi membeli kondom seiring dengan penurunan kasus Covid-19.

Ledakan penjualan kondom bukanlah hasil atas kegilaan seks yang meledak-ledak, di mana masyarakat tiba-tiba membeli produk-produk ini dalam jumlah yang sangat banyak. Sebaliknya, ini merupakan “pembalikan” dari efek buruk pandemi pada industri kondom dan aktivitas seksual yang terhalang. Seperti yang ditunjukkan oleh laporan Reckitt, ini hanyalah pemulihan dari permintaan yang tertekan pada paruh pertama tahun 2020. Terlebih, publik memang pada dasarnya membutuhkan kondom guna menunjang aktivitas seksual mereka.