Melihat Sisa Tulang Belulang Makam Jepang di Medan

Kamis, 30 September 2021, 20:37 WIB
38

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia banyak orang Jepang yang meninggal di Indonesia khususnya di Sumatera Utara. Pemerintah Jepang memutuskan untuk membangun sebuah pemakaman sebagai tempat untuk menempatkan tulang-belulang tersebut. Makam ini berada di Delitua, Medan.

Saat ini makam orang Jepang di Medan berada di daerah delitua, namun sebelumnya makam orang Jepang di Medan berada di dalam kota Medan di jalan Gatot Subroto. Sebelum dipindahkan terdapat 250 pilar yang digunakan di makam orang Jepang di Delitua, Medan. Terdapat monumen untuk mengenang 25 Komandan perang yang dieksekusi pada tahun 1947.

Gates Of Olympus

Namun, pada tahun 1951 setelah perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda banyak batu nisan yang dicuri oleh penduduk lokal. Yang tersisa hanya belasan batu nisan. Bentuk makam di makam orang Jepang di Delitua, Medan masih dipengaruhi oleh kepercayaan Budha dan Shinto. Namun, ada juga bentuk Eropa yang menggunakan keramik. Orang-orang yang dikuburkan pada makam ini adalah pahlawan-pahlawan Jepang yang turut serta dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jepang di Deli Tua, Jejak Negeri Samurai di  Deliserdang - Halaman all - TribunMedan Wiki

Makam orang Jepang di Delitua, Medan adalah termasuk Pemakaman Umum. Oleh karena itu pemerintah Jepang melalui Badan Pengurus Perkuburan Jepang di Medan berusaha untuk menjaga kelestarian makam tersebut. Anggota Badan Pengurus Perkuburan tersebut adalah Konsulat Jendral Jepang di Medan, Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan, dan Medan Japan Club.

Badan Pengurus Perkuburan Jepang di Medan menggaji seseorang untuk mengontrol kebersihan, menjaga makam, kemudian merawat makam tersebut. Biaya pengeluaran untuk makam ini semuanya diambil dari donasi anggota Badan Pengurus Perkuburan Jepang di Medan.

Pemberian kuyo pada makam orang Jepang di Delitua, Medan dilakukan pada saat higan, yaitu pada pertengahan bulan Maret dan bulan September. Namun, acara yang jarang dilakukan pada masa sekarang ini adalah acara bersih-bersih makam seperti yang dilakukan pada masa keturunan pertama.

Rise of Olympus

Sebelum acara berziarah dilakukan Badan Pengurus Perkuburan Jepang di Medan melalui Konsulat Jendral Jepang di Medan menghimbau kepada warga Jepang dan warga Indonesia keturunan Jepang agar bersama-sama pergi ke pemakaman. Himbauan ini bertujuan untuk mempertahankan keharmonisan warga Jepang dan warga Indonesia keturunan Jepang, kemudian juga untuk mendidik generasi selanjutnya dari warga Indonesia keturunan Jepang tentang menghormati leluhur.

Sejarah Jepang di Sumatera Utara

Sejarah Kota Medan-5 | wisata medan

Jepang memasuki wilayah Indonesia pada saat sedang perang Asia Timur Raya. Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang membom Pangkalan Militer AS di Hawai. Oleh karena itu, Jepang datang ke Indonesia untuk mencari cadangan militer sebagai antisipasi terhadap serangan Sekutu. Kedatangan Jepang disambut baik oleh bangsa Indonesia.

Hal ini berkaitan dengan adanya anggapan dari masyarakat yang terdapat dalam ramalan Jayabaya bahwa Jepang telah berjasa besar melepaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan Belanda. Jepang juga menyebut dirinya “Saudara Tua” bangsa Indonesia. Intinya Jepang ingin menciptakan kesan bahwa mereka tidak sama seperti Belanda atau orang-orang Eropa lainnya yang telah menjajah Indonesia sebelumnya.

Pendudukan Tentara Jepang di Indonesia dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu wilayah Indonesia bagian Timur yang diduduki oleh tentara Angkatan Laut Jepang, sedangkan Indonesia bagian Barat dikuasai oleh Tentara Angkatan Darat Jepang. Angkatan darat Jepang yang berkedudukan di pulau Sumatera berpusat dan dikendalikan dari Singapura yang dipimpin oleh seorang gubernur Militer dinamakan dengan Gunseikan.

Kolonel Jepang di Medan Area - Historia

Pembagian tentara Jepang menjadi dua bagian bertujuan untuk melengkapi perlengkapan pasukan di dua kelompok besar pertahanan (Darat dan Laut). Untuk memperlancar pencarian pemuda calon cadangan pertahanan Jepang, maka dibentuklah Sendendu.

Pasukan Sendendu juga dibentuk sebagai propoganda tentang Jepang di Sumatera Utara. Badan ini juga membentuk surat kabar yang terbit di Sumatera Utara sebagai bacaan rakyat. Surat kabar ini dinamakan dengan Sumatera Shinbun.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia banyak orang Jepang yang meninggal di berbagai tempat di Indonesia khususnya di Sumatera Utara menurut Sari (2006:48) antara lain: Tebing Tinggi, Binjai, Tanjung Tiran Batu Bara Kabupaten Asahan, Kisaran, Tanjung Balai, Stabat, Siantar, Prapat, Kabanjahe, Kabanjahe-Tigapana, Sawalunto, Medan, Pangkalan Brandan, Rantau Prapat, Aceh Mulabo, Aceh Langsa, Kuala Simpang, Aceh-Arakundoe, dan Jakarta.

Pemerintah Jepang memutuskan untuk membangun sebuah komplek pemakaman untuk menempatkan semua tulang-belulang dari orang-orang yang meninggal tersebut dalam satu tempat. Makam ini terletak di kota Medan tepatnya di daerah Delitua.

Makam Orang Jepang di Medan

Kuburan Jepang - Disporabudpar Deli Serdang

Makam ini dibangun atas keputusan Konsulat Jendral Jepang yang ada di Medan dengan persetujuan dari pemerintah Indonesia dengan perincian biaya dari pemerintah Jepang melalui Konsulat Jendral Jepang Medan.

Makam orang Jepang di Medan bukanlah makam keluarga karena tidak terdapat kamei (nama keluarga), kamon (kepala keluarga), koro (tempat dupa), dan geika (tempat bunga). Tulang-belulang yang dikuburkan di pemakaman ini juga bukan tulang belulang yang memiliki hubungan darah antara satu sama lain.

Pada pemakaman ini terdapat 33 makam dan 119 buah guci abu. Seluruh bangunan makam memiliki bentuk yang dipengaruhi oleh kepercayaan Buddha dan Shinto. Ada juga makam yang memiliki bangunan dengan bentuk Eropa, namun masih tetap memiliki unsur kepercayaan Buddha dan Shinto pada tulisan di batu nisannya.

Sebelumnya makam orang Jepang di Medan berada di Jalan Gatot Subroto yang sekarang dikenal sebagai Plaza Medan Fair. Sebelum perang, perkumpulan orang Jepang yang menetap di Indonesia saat itu membentuk kepanitiaan untuk mengontrol pemeliharaan, sekitar 250 pilar digunakan pada pemakaman tersebut.

Setelah perang dunia ke-2 pada tahun 1945 saat Jepang kalah perang lokasi pemakaman dibiarkan sunyi tidak ada yang mengelola karena seluruh anggota pengurus dan biksu Buddha ditarik kembali ke Jepang pada saat itu.

Pada tahun 1951, setelah perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda, sisa-sisa tentara asli Jepang dan pejabat Konsulat berkumpul, saat itu pemeliharaan makam tidak lagi cukup jika hanya menjadi otoritas panitia kepengurusan makam orang Jepang di Medan.

Saat-saat itu adalah saat yang penuh masalah bagi Indonesia, orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal mulai berkumpul disekitar makam, kemudian mereka merusak batu nisan dan membangun rumah di pinggir sungai menggunakan pondasi dari pecahan-pecahan batu nisan dari pemakaman orang Jepang di Medan.

Kuburan Jepang Delitua, Sumatra Utara (+62 21 31924308)

Orang-orang Jepang yang pulang ke Jepang mencemaskan batu nisan tersebut, mereka memasang kawat besi disekitar makam namun, dalam satu malam kawat besi tersebut sudah rusak, dalam tahun terakhir hanya sekitar belasan batu nisan yang selamat.

Dengan adanya perencanaan pembangunan di kota Medan membuat konsulat meminta kepada pemerintah kota Medan untuk memindahkan makam orang Jepang keluar.

Kemudian dari hasil diskusi Konsul Jendral dengan pemerintah kota Medan, pemerintah kota menawarkan daerah Delitua yang menjadi lokasi pemakaman saat ini sebagai situs alternatif. Hari perpindahan makam resmi jatuh pada 22 September 1973, dilaksanakan upacara perpindahan dengan kepercayaan Buddha yang dihadiri oleh Bapak Inoue dari kuil Nishihon dari Jepang dan warga Jepang.

Perlu dicatat bahwa saat ini biaya konstruksi makam orang Jepang dibiayai oleh sumbangan relawan perusahaan Jepang di Medan. Terdapat 25 monumen prajurit di dalam pemakaman saat ini, sekitar tahun 1947, setelah perang besar 25 komandan militer dan 25 orang lainnya di eksekusi.

Monumen ini dibangun untuk menghibur arwah mereka, monumen ini juga merupakan monumen untuk mengenang sisa tentara Jepang yang terluka yang turut serta dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Pada waktu itu di Medan juga kedatangan dengan yang disebut karayuki-san. Mereka meninggalkan barang-barang seperti: shamisen, botol kosmetik dan lain-lain. Perempuan Jepang yang meninggal pada zaman Meiji sampai tahap awal Showa berasal dari prefektur Kumamoto (Amakusa), Nagasaki, dan berbagai tempat lainnya di Jepang.

Menurut catatan dokumentasi Badan Pengurus Perkuburan Jepang di Medan, sebelum di pindahkan ke Delitua, terdapat 250 pilar (nisan) yang digunakan pada Makam Orang Jepang di Medan. Pada saat itu makam masih berada di dalam kota

Medan, tepatnya di jalan Gatot Subroto yang sekarang dikenal dengan Medan Fair.Terdapat 25 monumen prajurit yang menjadi monumen untuk mengenang 25 komandan perang dan 24 orang yang di eksekusi pada tahun 1947, dan juga sisa tentara Jepang yang terluka pada saat perang kemerdekaan Indonesia.

Namun, pada pada tahun 1951 setelah perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda, banyak batu nisan yang dicuri oleh penduduk Indonesia sehingga hanya tinggal belasan batu nisan yang tersisa.

Orang yang dikuburkan pada makam orang Jepang di Delitua, Medan kebanyakan adalah pahlawan yang turut serta dalam perang kemederkaan Indonesia melawan Belanda.

Menurut catatan dokumentasi dari Badan pengurus perkuburan Jepang di Medan, diantaranya terdapat 74 pejuang yang terdiri dari 25 prajurit yang gugur dalam perang kemerdekaan Indonesia, kemudian 25 orang komandan perang yang berpangkat sersan dan mayor, dan 24 pejuang yang dieksekusi, namun ada juga beberapa warga sipil yang juga di kuburkan pada pemakaman tersebut.

Jenis Makam Orang Jepang

Kisah kuburan jepang di medan - YouTube

Pemakaman umum merupakan salah satu pemakaman masyarakat Jepang yang dikelola oleh negara. Pemakaman ini terbagi atas 2 pihak pengelola, pemakaman yang dikelola public dan negara.

Pemakaman ini/Koeibochi merupakan pememkaman umum masyarakat Jepang yang dikelola oleh negara. Hal ini sesuai dengan konsep pemikiran masyarakat jepang dengan sistem Ie dalam kelembagaannya. Bahwa negara adalah sebuah keluarga dimana rumah tangga adalah unit terkecil sedangkan negara adalah unit keluarga terbesar.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pengelolaan makam orang Jepang yang berada diluar negara Jepang juga merupakan tanggung jawab pemerintah Jepang. Dalam hal ini pengelolaan dilakukan oleh para duta Jepang pada setiap negara.

Contohnya adalah makam orang Jepang di Delitua, Medan yang dikelola oleh Badan Pengurus Perkuburan Jepang di Medan yang terdiri dari tiga lembaga yaitu: Konsulat Jendral Jepang di Medan, Medan Japan Club, dan Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan.

Pemakaman Kampung/Burakuyobochi adalah pemakaman masyarakat Jepang yang dikelola oleh pemerintah wilayah pada suatu daerah atau desa. Pada masyarakaat Jepang terdapat pemikiran negara sebagai sebuah keluarga.

Pada masa feodal pengertian keluarga adalah satu keluarga dalam ruang lingkup satu wilayah. Di daerah kepala keluarganya adalah Daimyo dan seluruh anak buahnya adalah anggota keluarga. Makam ini dikelola oleh badan pengurus perkuburan yang ada pada setiap kantor pemerintahan wilayah masing-masing daerah.