Membedah Wacana FIFA yang Ingin Helat Piala Dunia Dua Tahun Sekali: Makin Seru atau Malah Membosankan?

Kamis, 30 September 2021, 17:38 WIB
27

Di saat semua klub sepak bola di seluruh dunia tengah berusaha untuk bangkit kembali usai dihantem pandemi Covid-19, kabar mengejutkan justru datang dari induk organisasinya, FIFA.

Federasi Sepak Bola Internasional itu baru-baru ini membuat pernyataan kontroversial cendrung membuat orang kesal mendengarnya yakni mempertimbangkan untuk menggelar Piala Dunia pria dan wanita dua tahun sekali.

Gates Of Olympus

Wacana tersebut lahir dari Kongres FIFA yang digelar secara virtual, pada Jumat (21/05/2021) lalu. Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) jadi aktornya yang mengajukan proposal itu dalam forum tersebut.

“Sejumlah proposal dari federasi anggota telah disetujui. Salah satunya wacana menggelar Piala Dunia pria dan wanita dua tahun sekali,” tulis rilis FIFA.

“Sebelum memutuskan, kami akan melakukan studi kelayakan untuk mengeksplorasi kemungkinan dampak dari menggelar Piala Dunia setiap dua tahun,” lanjutnya.

Proposal dari SAFF sendiri belum tentu bisa langsung goal, sekalipun dalam studi nanti menyebut menggelar Piala Dunia setiap dua tahun layak digelar.

Rise of Olympus

Meski begitu, Presiden FIFA, Gianni Infantino menyadari bahwa wacana ini tidak akan berjalan mulus, sampai adanya hasil study kelayakan. FIFA sendiri sejatinya tidaklah salah, karena setiap negara boleh mengajukan usulan dan mempelajarinya.

“Kami akan menggelar studi kelayakan ini dengan pikiran terbuka. Dan kami juga tidak akan mengambil keputusan tergesa-gesa yang bisa membahayakan sistem kompetisi yang sudah kami lakukan,” ujar Infantino dikutip dari Sky Sports.

“Apakah kami benar-benar yakin memainkan kualifikasi sepanjang tahun adalah cara yang tepat ketika kami mengatakan bahwa penggemar menginginkan pertandingan yang lebih bermakna?,” sambungnya.

“Semua poin ini harus dipertimbangkan. Tapi kami akan menempatkan elemen olahraga sebagai prioritas utama, bukan elemen komersial,” lanjut Infantino.

Wacana yang semula hanya usulan proposal dalam forum Kongres FIFA itu, tiba-tiba menjadi bahasan serius oleh jajaran pengurus FIFA. Bahkan beberapa figure ternama ikut mendukungnya.

Dia adalah Arsene Wenger. Mantan pelatih Arsenal ini memang saat ini bekerja untuk FIFA, setelah dirinya dipecat oleh The Gunners dari kursi kepelatihan pada tahun 2018 lalu.

Tak lama menganggur, tawaran pekerjaan datang dari FIFA sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global dalam struktur organisasi FIFA. Jabatan ini sebelumnya diemban oleh Marco Van Basten.

Dalam tugasnya, Arsene Wenger bakal memantau panel pembuat aturan sepak bola yang dikenal dengan IFAB, program-program kepelatihan, dan analisis teknis pada turnamen yang berada di bawah naungan FIFA.

Hal itu yang kemudian membuat Arsene Wenger ikut campur soal isu Piala Dunia digelar dua tahun sekali. Dirinya berdiri pada sisi pro atau mendukung.

Alasannya agar para penggemar sepak bola bisa menyaksikan pertandingan internasional dengan lebih sering. Bahkan tidak hanya Piala Dunia, ia juga menyarankan Piala Eropa (EURO) juga digelar dua tahun sekali.

“Kita tidak perlu menggelar UEFA Nations League, dan menemukan kompetisi yang lebih jelas untuk dipahami kehadirannya oleh semua orang,” tutur Wenger kepada Bild.

“Bila Anda bertanya pada orang-orang di jalan, tidak banyak yang tahu maksud kompetisi ini,” lanjutnya.

“Satu Piala Dunia dan satu Piala Eropa setiap tahun mungkin lebih sesuai untuk dunia modern,” tukasnya.

 

Timbulkan Pro dan Kontra

Gagasan menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali tentu tidak akan mudah untuk digelar, karena FIFA berhadapan dengan sejumlah aturan dan sistem kompetisi yang sudah dibangun dan itu sulit untuk diubah.

Pro dan kontra juga menyelimuti ide tersebut, khususnya dari para asosiasi sepak bola negara-negara lain anggota FIFA.

CONMEBOL, Asoasi Sepak Bola Amerika Selatan itu secara tegas menentang adanya gagasan FIFA menggelar Piala Dunia dua  tahun sekali. Menurut mereka itu rencana yang tidak masuk akal.

“Piala Dunia setiap dua tahun sekali dapa merusak kompetisi sepak bola yang sudah berjalan. Menurunkan kualitasnya dan merusak karakter eksklusifnya,” tulis pernyataan CONMEBOL, dilansir dari InsideTheGames.

Hal senada juga disampaikan oleh UEFA, selaku induk organisasi sepak bola Eropa itu menolak dengan lantang. Hal itu disampaikan oleh Presiden UEFA, Aleksander Caferin.

“Berharganya Piala Dunia disebabkan oleh jarangnya ajang itu digelar,” kata Ceferin seperti dilansir BBC Sport.

Menurut Ceferin, Piala Dunia yang berlangsung setiap dua tahun akan membuat turnamen sepak bola antarnegara sedunia itu menjadi kurang seru.

Tak hanya UEFA, para klub-klub Eropa juga ikut menanggapi wacana FIFA yang ingin menggelar Piala Dunia dua tahun sekali.

Protes tersebut dilontarkan oleh Presiden PSG dan Asosiasi Klub Eropa (ECA), Nasser Al-Khelaifi, mengatakan Piala Dunia tak boleh diadakan dua tahun sekali.

“Suasana klub sangat baik dan langsung ke intinya, Piala Dunia digelar setiap dua tahun tidak boleh terjadi,” kata Nasser Al-Khelaifi mengutip dari The Sun, Selasa (07/09/2021).

CEO Ajax Amsterdam juga ikut menyuarakan pendapatnya. Mantan penjaga gawang Manchester United itu mengatakan jika Piala Dunia digelar dua tahun sekali dapat merusak agenda klub.

“Sepakbola adalah tentang klub terlebih dulu dan harus begitu. Kami harus mengutamakan para pemain,” kata Van der Sar.

Tidak hanya asosiasi sepak bola negara saja yang ikut bersuara. Asosiasi pemain profesional, FIFPro juga ambil andil dalam penolakan ini.

FIFPRO merilis sebuah pernyataan pada hari Selasa (14/09) untuk mengatakan tidak akan mendukung reformasi turnamen.

Jika Piala Dunia digelar dua tahun sekali, fisik para pemain praktis yang terkuras. Sebab, waktu yang biasa mereka manfaatkan untuk liburan musim panas, otomatis terganggu jika mereka rutin tampil di Piala Dunia dua tahun sekali.

Namun hal tersebut sempat dibantah oleh Arsene Wenger. Dirinya menolak anggapan turnamen ini akan kehilangan daya tarik jika digelar dua tahun sekali.

Justru menurutnya lebih menguntungkan, karena bisa mempermudah penjualan hak kepada penyiar dan sponsor, dimana keuntungannya juga didapat oleh asoasi dan negara yang berpartisipasi.

“Lagi pula, orang-orang terus menonton Liga Champions setiap tahun. Secara pribadi, saya pikir ini akan menjadi sebuah kemajuan yang bagus.”

Sementara itu tidak semua federasi sepak bola negara-negara anggota FIFA ikut menolak seperti sikap AFC dan CONCACAF.

AFC selaku asosiasi sepak bola Asia, mendukung wacana menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali. Dilansir dari laman resminya, gagasan itu bisa menguntungkan negara-negara di Asia termasuk Indonesia.

Alasan AFC dinilai sangat masuk akal, dengan dihelatnya Piala Dunia dua tahun sekali maka timnas dari negara-negara di Asia akan memiliki peluang yang lebih besar untuk bisa tampil di putaran final Piala Dunia.

“Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyambut baik proses konsultasi ekstensif yang diprakarsai dan dipimpin oleh FIFA dalam mengkaji opsi-opsi untuk mengoptimalkan Kalender Pertandingan Internasional yang baru dengan melihat kelayakan Piala Dunia FIFA dan Piala Dunia Wanita FIFA setiap dua tahun,” bunyi pernyataan AFC.

Sedangkan CONCACAF, asosiasi sepak bola untuk negara-negara benua Amerika Utara, Tengah dan Caribia, mengonfirmasi mereka terbuka dengan ide Piala Dunia dua tahun sekali.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis di situs resmi mereka, CONCACAF mengatakan mereka mengakui manfaatnya seperti memangka biaya tandang, meminimalisir pertandingan persahabatan yang jadi virus cedera pemain.

“Kami akan terus melihat proposal ini secara konstruktif, dengan pikiran terbuka, dan dalam semangat keterlibatan positif,” kata CONCACAF dalam pernyataan mereka.

“Sementara fokus langsung CONCACAF adalah pada wilayahnya sendiri, kami juga percaya pada pentingnya menjadi bagian dari keluarga sepak bola global dan kami akan mendengarkan pandangan para pemangku kepentingan sepak bola di seluruh belahan dunia.”

Usulan menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali juga mendapat kritikan dari media sosial.

Sebagian besar netizen menganggap menggelar Piala Dunia dua tahun sekali bisa merusak kompetisi domestik dan regional yang sudah berjalan.

Sejarah juga mebuktikan tidak pernah ada Piala Dunia digelar dua tahun sekali. Jika ditarik dari sejarah penyelenggaraannya, turnamen Piala Dunia hampir selalu bergulir setiap empat tahun sejak awal kompetisi ini dimulai tahun 1930 silam.

Hanya edisi 1942 dan 1946 yang terganggu akibat Perang Dunia II. Sementara Piala Dunia putri juga dihelat setiap empat tahunan sejak 1991 lalu.

Melihat sederet gelombang protes di atas, apakah FIFA masih ingin melanjutkan rencana merea? Menarik untuk dinantikan.