Membongkar Keborokan Facebook yang Berpengaruh Besar Atas Kekacauan Dunia

Jumat, 29 Oktober 2021, 15:33 WIB
43

Pada tahun 2019, Facebook meluncurkan upaya besar-besaran untuk memerangi penyalahgunaan platform mereka yang sering dijadikan lapak perdagangan manusia. Karyawan Facebook bekerja lembur setiap hari demi misi mulia ini. Mereka menelusuri dengan teliti Facebook dan Instagram (anak perusahaan Facebook) untuk kata kunci dan tagar yang mempromosikan perbudakan manusia di Timur Tengah serta wilayah-wilayah lainnya.

Selama beberapa minggu, perusahaan menghapus 129.191 konten, menonaktifkan lebih dari 1.000 akun, memperketat kebijakannya, dan menambahkan cara baru untuk mendeteksi perilaku semacam ini. Setelah mereka selesai, sesama karyawan saling memberi selamat atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik.

Power of Thor Megaways

Harus diakui, agenda membantu memberantas praktik perdagangan manusia dilakukan dengan baik oleh Facebook, meski datangnya sedikit terlambat. Sekelompok peneliti Facebook memfokuskan penelusuran ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Mereka menemukan banyak profil Instagram yang digunakan sebagai media iklan untuk mempromosikan pembantu rumah tangga yang diperdagangkan pada awal Maret 2018.

“Orang Indonesia membawa Visa Turis,” salah satu keterangan foto dalam bahasa Arab. “Kami memiliki lebih banyak yang seperti mereka,” lanjut kalimat keterangan foto. Tetapi profil ini tidak ditindak, tidak dinonaktifkan atau dihapus. Laporan internal perusahaan nantinya akan menjelaskan bahwa Facebook enggan mengakui profil tadi sebagai bentuk pelanggaran serius.

Satu setengah tahun kemudian, investigasi digelar oleh BBC terkait perdagangan manusia lewat media sosial. Buah investigasi mengungkap seluruh cakupan masalahnya, antara lain; jaringan skala internasional yang bersindikat memperdagangkan pekerja rumah tangga secara ilegal; difasilitasi oleh platform internet dan dibantu oleh tagar yang didorong secara algoritmik.

Sebagai tanggapan atas investasigasi BBC, Facebook mengharamkan satu tagar dan menghapus sekitar 700 profil Instagram. Namun lagi-lagi menurut data internal perusahaan, Facebook masih mendapati adanya konten perbudakan dan perdagangan manusia di platform mereka.

Chronicles of Olympus X Up

23 Oktober 2019, Apple mengancam akan menarik Facebook dan Instagram dari App Store-nya karena temuan yang didapat BBC. Karyawan Facebook menuliskan dalam laporan internal perusahaan bahwa kebijakan Apple akan sangat merugikan perusahaan. Facebook akhirnya mulai bergerak kembali mengusahakan pemberantasan perdagangan manusia yang marak terjadi di platform merek.

Sayangnya, ada sebuah dokumen internal perusahaan yang menjelaskan kalau Facebook bertindak bukan dipengaruhi kesadaran mereka, melainkan cuma karena desakan BBC dan Apple. Atau dengan kata lain, Facebook sebenarnya sudah mengetahui akar permasalahannya, tapi mereka hanya berdiam; baru bergerak setelah BBC dan Apple menekan mereka.

 

Hanya Memanjakan Amerika Serikat

Membaca dokumen-dokumen internal perusahaan Facebook ibarat seperti orang rabun pergi ke dokter mata super hebat, pengelihatan tiba-tiba menjadi fokus. Bagaimana tidak, fakta yang tersaji di dalamnya sungguh mencengangkan.

Di Amerika Serikat, Facebook telah memfasilitasi penyebaran informasi yang salah, ujaran kebencian, dan polarisasi politik. Ini secara algoritmik telah memunculkan informasi palsu tentang teori konspirasi Covid-19 dan vaksin penangkal virus corona, serta berperan penting dalam kemampuan gerombolan ekstremis untuk mencoba kudeta kekerasan di Capitol.

Walau diterjang isu-isu miring, sebenarnya Facebook yang ada di Amerika Serikat memiliki ukuran kualitas terbaik dibanding negara-negara lainnya. Ini adalah versi yang dibuat tepat sesuai berdasarkan kebutuhan penduduk Amerika Serikat; versi yang sangat memahami budaya Amerika Serikat; intinya Facebook di Amerika Serikat diciptakan dari dan untuk Amerika Serikat sendiri. Facebook benar-benar memaksimalkan kinerjanya dalam cakupan pasar Negeri Paman Sam.

Sedangkan di belahan dunia lain, dokumen internal perusahaan menunjukkan Facebook menyajikan kualitas yang amat kontras. Di bagian dunia yang paling rawan perang, atau tempat dengan akses internet terbatas, atau tempat di mana jumlah pengguna yang lebih sedikit, atau tempat yang pelaku-pelaku kejahatan bisa bebas beroperasi, kinerja Facebook jauh dari kata maksimal. Sialnya, sikap Facebook dapat menimbulkan konsekuensi yang begitu mematikan bagi kelangsungan kehidupan masyarakat di daerah-daerah itu.

 

Kinerja Sistem AI yang Tidak Maksimal

Facebook menyadari bahwa produk mereka digunakan untuk memfasilitasi pidato kebencian di Timur Tengah, kartel narkoba dan kriminal di Meksiko, pembersihan etnis di Ethiopia, pengembangan paham ekstremis anti-Muslim di India, dan perdagangan seks di Dubai. Facebook juga menyadari bahwa upaya mereka untuk memerangi hal-hal ini tidak pernah benar-benar cukup serius. Laporan internal perusahaan pada Maret 2021 mencatat, bahwa Facebook sebenarnya sering mengamati aktivitas yang sangat terkoordinasi dan disengaja oleh tokoh-tokoh pembuat onar.

Memang dalam beberapa kasus, karyawan Facebook telah berhasil mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah ini. Tetapi banyak pula kasus lainnya yang mana sikap cepat tanggap Facebook begitu lambat. Baru-baru ini pada akhir 2020, laporan internal Facebook menemukan bahwa hanya 6 persen konten kebencian berbahasa Arab di Instagram yang terdeteksi oleh sistem Facebook.

Laporan lain yang beredar musim dingin 2020 menemukan, dari sekian banyak unggahan-unggahan di Afghanistan (dalam rentang waktu 30 hari) yang diklasifikasikan sebagai ujaran kebencian, hanya 0,23 persen yang dihapus secara otomatis oleh alat Facebook. Kedua temuan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan karyawan Facebook menyalahkan kepemimpinan perusahaan yang tidak memberikan sistem terbaik guna membasmi segala tindak kejahatan.

Di banyak negara berkategori ‘rawan’, Facebook yang harga perusahaannya mencapai ratusan miliar dolar, belum cukup tangguh mengembangkan sistem kecerdasan buatan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah tadi. Tahun lalu memang Facebook cuma dikotori 13 persen kecatatan operasional di negara-negara di luar Amerika Serikat; catatan kinerja yang baik tentunya.

Namun sistem Facebook tidak mampu memadahi kebiasaan para pengguna Facebook non-Amerika Serikat yang mengunggah konten-konten setidaknya memakai 160 bahasa berbeda. Sistem AI yang kuat milik Facebook hanya bisa menjangkau sebagian kecilnya saja. Padahal jumlah pengguna Facebook paling besar disumbangkan oleh negara-negara non-Amerika Serikat. Sementara konten-konten bermasalah datangnya juga banyak dari negara-negara non-Amerika serikat, sehingga sistem Facebook jarang bisa mendeteksinya.

 

Mudah Dipengaruhi Kepentingan Tertentu

Dalam banyak kasus, Facebook lambat merespons krisis yang berkembang di luar Amerika Serikat dan Eropa. Facebook seringnya baru bergerak kalau sudah ada desakan dan tekanan dari pihak-pihak luar yang memiliki pengaruh global. Facebook hanya memperhatikan masalah-masalah yang menjadi perhatian publik secara masif.

Jika tidak ada yang menekan, jangan harap Facebook mau menangani walau sejatinya mereka sudah tahu duduk permasalahannya. Bahkan, tak jarang Facebook tetap enggan bergerak meski sudah jelas-jelas ada tekanan publik.

Pada tahun 2019, kelompok hak asasi manusia Avaaz menemukan bahwa Muslim Bengali di negara bagian Assam India mendapat pelecehan dan ujaran kebencian yang luar biasa kejam di Facebook. Postingan hinaan yang menyebut Muslim sebagai “babi,” pemerkosa, dan “teroris” dibagikan puluhan ribu kali dan dibiarkan terjadi karena sistem kecerdasan buatan Facebook tidak dibangun untuk secara otomatis mendeteksi ujaran kebencian dalam bahasa Assam.

Kondisi pembiaran ala Facebook diperparah karena mereka bukan hanya baru mau bergerak ketika publik atau organisasi-organisasi tertentu memberikan tekanan. Pengambilan keputusan Facebook tentang kebijakan konten secara rutin dipengaruhi oleh pertimbangan politik. Bila Facebook berkoalisi dengan sesosok tokoh politik, mereka pasti akan mendukungnya meski tokoh yang bersangkutan menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Facebook bisa sangat fleksibel menuruti apa agenda yang hendak dijalankan penguasa politik.

Contoh nyata perihal Facebook yang luwes terhadap agenda politik adalah ketika politisi nasionalis Hindu T. Raja Singh, yang memposting ke ratusan ribu pengikut di Facebook tentang seruan Muslim Rohingya India harus ditembak dan dibasmi populasinya. Postingan Raja Singh jelas-jelas melanggar pedoman ujaran kebencian dalam aturan dasar Facebook. Sikap Facebook ternyata malah tetap mengizinkan dan membiarkan postingan Raja Singh mengudara di platform.

Padahal banyak pula karyawan Facebook di India yang sudah mengusahakan supaya unggahan Raja Singh dihapus. Namun entah bagaimana prosesnya, petinggi Facebook tidak bergeming sama sekali dan Raja Singh dibiarkan menyebarluaskan ujaran kebencian. Alasan yang diberikan pimpinan Facebook di India kepada karyawannya yang melancarkan protes adalah “menindak para pemimpin dari partai politik yang berkuasa berpotensi membuat perusahaan mengalami kemunduran bisnis.”

Semua sisi kontroversial Facebook yang kami jelaskan sedari awal sampai akhir, diketahui setelah Frances Haugen, eks orang penting di Facebook, membocorkan ke publik dokumen-dokumen internal perusahaan Facebook. Hal-hal yang dibocorkan Haugen menunjukkan wajah paling asli Facebook ke dunia, yakni Facebook adalah platform yang diliputi oleh informasi palsu, pemikiran konspirasi, ekstremisme, ujaran kebencian, intimidasi, pelecehan, perdagangan manusia, pornografi balas dendam, dan hasutan untuk melakukan kekerasan.

Facebook merupakan perusahaan teknologi yang mengejar keuntungan dengan menjangkau pasar di seluruh dunia. Berkat kecanggihannya, Facebook kini meraih kesuksesan luar biasa dan berpengaruh besar bagi hajat penduduk bumi. Tapi ketika dimintai pertanggungjawaban oleh regulator, pers, dan masyarakat untuk mengatasi masalah yang dipicu oleh besarnya reputasi perusahaan, Facebook malah ‘cuci tangan’. Facebook beralasan kalau menyelesaikan masalah-masalah pelik yang ditimbulkan platform mereka sungguh mustahil dilaksanakan tuntas.