Membongkar Kenaifan Xavi, Apakah Dia Sadar Akan Kesulitannnya Sebagai Pelatih Barcelona?

Kamis, 02 Desember 2021, 01:36 WIB
109

Barcelona secara resmi memulangkan Xavi Hernandez sebagai pelatih anyar mereka menggantikan Ronald Koeman yang dipecat karena performa buruk di atas lapangan. Saat pengumuman itu, Barca menuliskan ‘Welcome Home, Xavi’ dalam akun sosial media resmi klubnya.

“FC Barcelona mencapai kesepakatan dengan Xavi dan dia menjadi pelatih tim utama untuk musim ini, dan dua musim ke depan,” bunyi pernyataan resmi dari klub Blaugrana.

Xavi meninggalkan klub yang sedang dia latih di Qatar, bersama Al Sadd, setelah membicarakan kepergian ini dengan para pemilik klub. Dia pun mendarat di Barcelona pada tanggal 08 November 2021 kemarin dan diperkenalkan di hadapan publik di Camp Nou.

Menurut pengakuan dari wartawan ternama asal Spanyol, Guillem Ballague mengatakan bahwa menjadi manajer Barcelona memang sudah menjadi cita-cita seorang Xavi. Hal itu diakui oleh sosok yang melegenda sebagai gelandang saat masih aktif bermain di musim panas 2021, saat Ballague menemuinya di Qatar.

Al Sadd merupakan klub pertamanya sebagai pelatih professional seusai dirinya pensiun. Dia melatih klub tersebut sejak musim panas 2019 dan sudah melakoni 91 pertandingan kompetitif dengan raihan sederet prestasi domestik. Al Sadd meraih gelar juara Liga Qatar di musim 2020/2021 lalu, sekali menang Piala Qatar dan dua trofi Piala Liga Qatar.

 

Xavi Kembali ke Barcelona sebagai Pelatih

Xavi kembali. Barcelona yang tengah terpuruk tentunya menargetkan kebangkitan ke era keemasan. Berkat teknik dan kecerdasannya, dia sudah sangat membuktikan dirinya sebagai pesepakbola kelas dunia yang mampu bermain baik secara strategis dan juga berkembang sebagai tim. Dia mampu memberikan support besar kepada rekan-rekan setimnya, mengkreasi serangan dengan tepat, selalu menemukan solusi terbaik di momen-momen buntu.

Bahkan ketika dirinya dikepung para pemain lawan, tampaknya sangat sulit menghentikan pikirannya yang menyatu dengan bola. Pada masa kejayaannya, Spanyol benar-benar menjadi negara yang digdaya dalam belantika sepak bola Eropa. Pada putaran final Euro 2008 dan 2012, dirinya bahkan total menciptakan empat assist. Pada suatu periode dia juga mampu membawa Barcelona mendominasi Liga Champions, dengan torehan dua gelar juara dan menembus empat semfinal dalam empat tahun lainnya.

“Mereka, Barcelona dan Xavi, merupakan tim terbaik yang pernah kami hadapi,” ucap pelatih legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson bertahun-tahun usai menelan kekalahan di final 2011, tiki-taka saat itu juga sedang memuncak masa-masa kejayaannya. Di lini tengah, Xavi pun menjalin kombinasi sangat kuat bersama Andres Iniesta.

Xavi adalah metronom – alat mekanis untuk mengatur tempo pada mesin, Iniesta pembawa bola. Keduanya memiliki pembagian kerja yang mirip dengan Luka Modric dan Toni Kroos, yang terbilang sukses membawa Real Madrid menggantikan dominasi Barcelona sebagai tolok ukur sepakbola klub di Spanyol. Xavi juga seringkali disandingkan dengan Kroos sebagai gelandang berkualitas tinggi karena kemampuannya melepas umpan-umpan panjangnya.

Xavi pun sangat cocok dengan filosofi Barcelona. Di bawah arahan Pep Guardiola, para pesepakbola terbaik dunai saat itu, Xavi, Iniesta, Carles Puyol dan Lionel Messi, menginternalisasi idealismenya bahwa semua pemain bisa melakukan segalanya. Bersama-sama, mereka meningkatkan keseimbangan antara serangan dan pertahanan ke level terbaru dalam sepak bola Eropa. Ukuran tubuh tidak menentukan, menyerang dan bertahan, semua pemain akan terpakai dalam skema permainan Guardiola kala itu.

“Saat itu, saya sempat ada keinginan gabung ke Barcelona. Bakalan jadi pengalaman yang luar biasa untuk berada di lapangan bersama para pemain hebat di sana. Barcelona adalah panutan bagi seluruh dunia sepak bola. Tapi sebagai anak kelahiran Munich, saya sudah bertekad untuk memberikan gelar juara Liga Champions untuk FC Bayern,” ucap Philiph Lahm, salah satu bek sayap yang sempat dipuji oleh Guardiola.

Bisa dibayangkan, seorang Lahm saja benar-benar terpikat dan sampai punya pikiran ingin pindah ke Barcelona. Namun itu dulu, segala sesuatunya sudah banyak berubah dari tim yang terkenal dengan tiki-taka itu.

 

Tapi Xavi, Barcelona Sudah Berubah Bukan yang Dulu

Ya, segala sesuatu sudah banyak berubah, Barcelona yang dulu, sekarang tampaknya sudah tidak ada lagi. Bahkan dewasa ini, sepak bola sepertinya sudah bergeser kepada para pemain lebih menentukan pertandingan, bukan lagi semata-mata pelatih yang tunggal memberikan pengaruh.

Terakhir kali Barcelona memenangkan Liga Champions adalah pada tahun 2015. Sejak itu, mereka belum pernah ke final, dan malah dikenang karena kekalahan besar: 2-8 melawan Bayern Munich, 0-4 di Liverpool, 0-3 di Roma, 1-4 melawan Paris, terakhir 0-3 di Lisbon. Itulah kelemahan dari sepak bola ini, yang menuntut teknik terbaik dan kecerdasan tingkat tinggi dari semua pemain, tetapi fisik bukanlah prioritas. Itu terkadang menjadi bumerang.

Daya tarik Barca telah berkurang, gaya dominan dengan penguasaan bola 70% dan bahkan beberapa kali lebih, menjadi pertanyaan semua orang. Usai pertandingan semifinal Liga Champions pada tahun 2010 dan 2012, Internazionale Milan dan Chelsea benar-benar membarikade gawang dan sukses menyingkirkan Barcelona.

Dan ternyata pertandingan-pertandingan itu, menjadi kebiasaan untuk belantika sepak bola dunia Eropa sekarang, ‘semua pemain dipasang di depan gawang’. Menghadapi tim yang piawai menerapkan gaya bermain tersebut, solusi teknis dari seorang pelatih jempolan besar sekalipun, banyak tidak membantu. Kalau pun membantu, pola permainan kebanyakan mengandalkan penyerang dengan fisik di atas rata-rata, dan merangkai serangan dari bola mati atau serangan balik, umpan silang, untuk mencari duel udara saja.

Revolusi dari gaya bermain itu membuat sepak bola sekarang ini menjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih mengutamakan fisik. Guardiola pun beradaptasi dengan gaya bermain tersebut sekarang ini di Manchester City. Klub-klub lain juga mengandalkan para pemain seperti Trent Alexander-Arnold, Paul Pogba, Vinicius Junior, Alphonso Davies yang punya kecepatan di atas rata-rata, begitu juga striker-striker jangkung seperti Erling Haaland. Gelandang berpostur 170 cm seperti Xavi hampir tidak terpakai lagi dalam sepak bola modern sekarang.

 

Sepak Bola Modern, Apakah Xavi Mampu Sukses Melatih Barcelona?

Rekan setimnya, sahabat dekat, dan juga pemain yang bertipe game-changer, Lionel Messi kini bermain di Paris Saint-Germain. Sebenarnya ada persaingan ekonomi baru. Pada tahun 2011, Barcelona dan Real Madrid, klub dengan omzet tertinggi di dunia, diikuti di bawahnya, oleh klub-klub seperti Manchester United (€365m), Bayern (€320m), Arsenal dan Chelsea (keduanya €250). Saat ini, investasi besar-besaran sedang dilakukan di banyak klub. Di Eropa, ada sekitar 10 klub dengan omset tahunan sekitar setengah miliar euro. Sementara itu, sekitar dua kali lebih banyak klub bersaing untuk mendapatkan pemain terbaik. Banyak klub berada di tangan pemilik yang sangat kaya, bahkan sekarang termasuk Newcastle United yang baru diakuisisi oleh pangeran Arab Saudi, Muhammad Bin Salman.

Dinamika yang dipicu pasar juga memengaruhi pelatih, yang tadinya dipekerjakan seperti salah satu bintang guna mengangkat performa tim. Seperti saat para pelatih legendaris seperti Arsene Wenger, Ferguson atau Johan Cruyff menjadi ikon klub masing-masing karena filosofi besar mereka pada permainan. Di Bundesliga, Christian Streich akan segera merayakan hari jadinya yang ke-10 sebagai pelatih kepala Freiburg. Siapa yang masih kenal Guy Roux, yang melatih Auxerre dari tahun 1964 hingga 2000? Auxerre dan Freiburg adalah tempat di mana duo pelatih seperti Roux dan Streich yang unik sangat dihormati zaman dulu, dulu banget.

Sekarang, bahkan pelatih sekaliber Jürgen Klopp membutuhkan waktu empat tahun untuk memenangkan gelar bersama Liverpool. Pelatih yang diberi waktu seperti Klopp, sekarang seperti sebuah pengecualian yang sangat langka oleh sebuah klub. Di Barcelona, ​​dua pelatih sebelum Xavi hanya bertahan kurang dari dua tahun. Sebagian besar dari 10 atau lebih pelatih top seperti Mauricio Pochettino, Thomas Tuchel, Antonio Conte atau Carlo Ancelotti dirotasi setiap dua hingga tiga musim di klub-klub yang punya kemampuan finansial di atas rata-rata di London, Madrid dan Paris. Bagi para pelatih yang kami sebutkan, lebih penting untuk menciptakan suasana yang baik dan diterima oleh bintang-bintang di ruang ganti dan keseharian klub.

Zinédine Zidane, yang memenangkan Liga Champions tiga kali berturut-turut bersama Real Madrid dari 2016 hingga 2018, mengakui bahwa dirinya juga bukan pelatih terbaik. “Secara taktik, saya bukan pelatih terbaik,” ucapnya, seolah mengakui bahwa peran pelatih tidak sekental era sebelumnya. Dia memimpin timnya melalui aura. Mungkin, inilah yang sekarang merupakan faktor penentu, bukan pengembangan jangka panjang dari filosofi bermain, karena klub-klub besar dan modern, contohnya Liverpool, sudah punya teknologi kecerdasan buatan untuk memetakan komposisi skuat mereka.

Xavi sendiri seperti Zidane yang punya karisma yang diperlukan agar bisa sukses melatih Barcelona. Masa-masa indah dalam karirnya saat aktif bermain sepak bola tidak perlu dipertanyakan lagi. Sekarang waktunya dia lebih membuktikan diri sebagai pelatih kepala profesional, untuk mereproduksi masa keemasan di Camp Nou. Dengan segala situasi dan kondisi yang sudah dijelaskan, usahanya memang sulit, tapi ingat, dia punya karisma.