Menanak Nasi 8 Tahun Sekali, Sisi Mistis Upacara Adang di Keraton Surakarta

Rabu, 29 September 2021, 13:17 WIB
24

Gerebek Maulid merupakan puncak acara Sekaten. Setelah perhelatan Gerebek Maulid, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan menggelar upacara Adang (menanak nasi) di Pawon Gondorasan Keraton Surakarta. Upacara Adang ini diselenggarakan Keraton Surakarta setiap tahun Dal (8 tahun sekali).

Upacara Adang tersebut akan dilakukan langsung oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII. Dalam upacara ini, Keraton Surakarta akan menggunakan dandang (peralatan dapur untuk menanak nasi) bernama Kiai Dudo yang usianya lebih dari 500 tahun.

Gates Of Olympus

“Dandang ini terbuat dari logam. Ada tiga dandang Kiai Dudo yang kita gunakan untuk upacara Adang ini,” kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GPH Dipokusumo di Dalem Sasana Putra Keraton Surakarta di Solo.

Pria yang akrab disapa Gusti Dipo ini mengungkapkan, dibutuhkan 70 kilogram beras untuk prosesi upacara Adang. Beras tesebut dimasak pada Minggu malam, kemudian dibagikan kepada para abdi dalem, sentana dalem, kerabat keraton dan tamu undangan pada Senin (4/12/2017) atau bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

“Kenapa kita bagikan Senin pagi itu karena bertepatan dengan miyose(lahir) Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Jadi, nasinya dimasak Minggu malam dan Senin paginya kita bagikan,” ungkapnya.

Alasan upacara Adang selalu dilaksanakan delapan tahun sekali, kata Gusti Dipo, karena sejak Sultan Agung (Raja Kasultanan Mataram) menciptakan kalender Jawa tersebut disesuaikan dengan tahun Hijriah dan Saka. Menurutnya, ketika berkaitan dengan tahun Hijriah, maka berhubungan pula dengan hari-hari besar umat Islam.

“Berkaitan dengan hari besar umat Islam yang bertama adalah Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketika dihitung tahun Jawa yang jumlahnya delapan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW di 571 tahun Masehi tahunnya adalah tahun Dal,” beber Gusti Dipo.

Rise of Olympus

Dandang Kiai Dudo tersebut disimpan di Keputren Keraton Surakarta. Dandang tesebut selalu digunakan setiap upacara Adang yang dilakukan delapan tahun sekali.

“Nasinya nanti akan dimakan secara bersama-sama di emperan Paningrat Keraton Surakarta. Nasi akan dimakan dengan lauk sate pentul,” paparnya.

Sisi Mistis Upacara Adang

Adang Taun Dal, Upacara Menanak Nasi Tiap Delapan Tahun Sekali

Kasunanan Surakarta merupakan sebuah kerajaan yang bercirikan keislaman. Ciri keislaman itu dapat dilihat dari adanya jabatan penghulu dan abdi dalem ngulama dalam birokrasi kerajaan, berlakunya peradilan surambi yang didasarkan pada hukum dan ajaran Islam.

Kasunanan Surakarta mengenal tiga macam upacara garebeg, yaitu Garebeg Pasa, pelaksanaannya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri; Garebeg Besar, diselenggarakan bertepatan dengan hari raya Idul Qurban; dan Garebeg Mulud, untuk merayakan dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

Garebeg Mulud juga dikenal dengan sebutan sekaten merupakan garebeg terbesar diantara dua garebeg lainnya sehingga pelaksanaanya sangat agung dan meriah.

Ciri-ciri seperti ini merupakan tanda penguat bahwa Kasunanan Surakarta memang sebuah kerajaan yang bercirikan keislaman. Tradisi upacara ritual Adang yang dilakukan delapan tahun sekali merupakan puncak acara Garebeg Mulud yang dilakukan setiap tahun Dal. Garebeg Mulud ini dirayakan lebih meriah pada setiap tahun Jawa Dal (delapan tahun sekali).

Bethak atau Adang adalah istilah upacara menanak nasi oleh Susuhunan2 Paku Buwono yang diadakan setiap delapan tahun sekali di dalam lingkungan tembok keraton, dan sangat dikenal oleh masyarakat luas.

Tradisi Adang ini diadakan bertepatan pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga sekarang masih terus berlangsung. Menurut data yang diperoleh, Kraton3 Surakarta menutup Garebeg Sekaten 2002, yang bertepatan dengan 1924

Dal dengan upacara Adang oleh PB XII. Di kalangan masyarakat, istilah adang tampaknya lebih populer daripada bethak. Tradisi ini tidak hanya merupakan formalitas belaka, akan tetapi dalam menanak nasi, Raja ( Sinuwun) sendiri yang menanaknya.

Dengan dibantu para kerabat istana, Sinuwun4 menanak nasi dalam jumlah cukup besar dengan menggunakan dandang besar. Setelah masak kemudian   dilanjutkan upacara selamatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, kemudian selanjutnya dibagi-bagikan kepada para abdi dalem keraton Surakarta Hadiningrat.

Kapolda Jateng Hadiri Tradisi Adang Tahun Dal di Keraton Solo - tribratanews.surakarta.jateng.polri.go.id

Adang yang merupakan tradisi ritual menanak nasi oleh Susuhunan Paku Buwono yang diselenggarakan setiap delapan tahun sekali ini berlangsung di pawon Gondorasan Kraton Surakarta. Ritual ini merupakan salah satu tradisi yang ada dalam budaya Jawa, selain upacara-upacara adat Jawa lainnya yang belum pernah diangkat sebagai topik penulisan. Tradisi ritual ini memang sudah banyak yang tidak mengetahuinya.

Padahal dari upacara tersebut, cukup banyak nilai-nilai yang dapat dipetik yang dapat terus dihidupkan dan diwariskan. Belum adanya pembahasan mengenai upacara Adang yang meninjau dari makna simbolis aspek mistisnya.

Ritual merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan suatu mitos yang bertujuan untuk mensakralkan diri dan dilakukan secara rutin, tetap, berkala yang dapat dilakukan secara perorangan maupun kolektif, menurut ruang dan waktu, serta berdasarkan konvensi setempat

Dalam mitos terdapat makna yang memiliki penafsiran konsep dan dapat dipetik menjadi nilai-nilai budaya. Untuk mengungkap makna dan nilai dibalik aspek mistis yang ada dalam upacara yang hanya dilakukan delapan tahun sekali ini.

Mitos adalah sebuah media, alat, atau sarana untuk berkomunikasi, untuk menyampaikan pesan dari satu individu ke individu lain, dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Mitos mengandung pesan-pesan yang terungkap dalam penceritaan.

Pesan-pesan tersebut berupa nilai-nilai yang patut dihayati oleh masyarakat pendukung upacara Adang itu sendiri. Hal itu disebabkan pula karena mitos merupakan bagian dari sistem pengetahuan manusia yang berisi berbagai nilai dan norma yang telah disepakati bersama oleh masyarakat pendukungnya.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengungkapkan konsep- konsep, makna dan nilai-nilai budaya apakah yang terkandung dibalik aspek- aspek mistis yang berkaitan dengan upacara Adang di Kraton Kasunanan Surakarta.

Kerbau Bule dan Mistisnya Keraton Solo

Dikeramatkan, Kerbau Bule Keraton Tewas Dibunuh - Nasional Tempo.co

Kerbau Bule Kiai Slamet merupakan salah satu pusaka Keraton Solo. Kerbau bule dikirab saat malam 1 Suro.

Malam 1 Suro tak bisa lepas dari kisah mistis dan Kerbau Bule. Kerbau Albino yang disebut-sebut sebagai salah satu pusaka Keraton Solo ini memang dikenal memiliki cerita yang menarik.

Mengutip laman Solopos.com, kerbau bule dikenal pula sebagai keturunan Kerbai Kiai Slamet. Sejarah Kerbau Kiai Slamet muncul dalam beberapa literatur. Namanya disebut dalam syair Babad Giyanti yang oleh pujangga kuno, Yosodipuro seperti ditebitkan 1937-1939. Babad Sala yang disusun Raden Mas Said juga sempat menceritakan kerbau ini.

Raden Mas Said yang dikenal sebagai Adipati Mangkunegaran atau Mangkunegara I ini menuturkan kerbau albino ini adalah pemberian dari Bupati Ponorogo kepada Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) II pada zaman Keraton Mataram kuno.

Hewan bertanduk dua ini dipakai PB II untuk kirab pusaka bikinan Kiai Slamet. Karenanya kerbau ini sering disebut Kerbau Kiai Slamet. Masyarakat familiar pula dengan sebutan Kebo Kiai Slamet.

Hingga kini, pembukaan tradisi kirab pusaka keraton sangat tergantung pada kerbau Kiai Slamet. Bila sang kerbau ngambek alias tidak mau keluar dari kandangnya, maka acara kirab bisa ditiadakan sampai sang kerbau mau keluar dari kandangnya.

Hingga kini, pembukaan tradisi kirab pusaka keraton sangat tergantung pada kerbau Kiai Slamet. Bila sang kerbau ngambek alias tidak mau keluar dari kandangnya, maka acara kirab bisa ditiadakan sampai sang kerbau mau keluar dari kandangnya.

Saat Malam Satu Sura, banyak warga menyikapi kekeramatan itu dengan berjalan mengikuti kirab. Mereka saling berebut menyentuh tubuh kebo bule.

Saking keramatnya, malah ada segelintir orang yang mempercayai kotoran yang keluar dari kerbau Kiai Slamet adalah sebuah keberuntungan. Kotoran atau tletong kerbau bule selalu diperebutkan oleh warga untuk dibawa pulang.

Berbeda lagi dengan cerita yang berkembang di kalangan blogger. Kerbau Kiai Slamet ini mulanya hanya dikenal sebagai kerbau albino biasa. Namun dalam sebuah insiden kebakaran atap kandang kerbau ini tak tersentuh api.

Raja Keraton mulanya tak percaya, lantas membuktikannya dan melihat kandang itu. Raja dibuat kaget setelah melihat hanya kandang kerbau ini saja di tengah abu bangunan lain yang luluh lantak.

Baru saja melihat keajaiban itu, terdengar suara hiruk pikuk dari warga kampung bahwa ada kebakaran kembali. Kobaran apinya sulit dipadamkan.

Atas perintah Raja, Kebo Bule dan Tombak itu agar dibawa ke sana dan mengelilingi tempat yang dilanda kebakaran itu. Aneh bin ajaib, begitu Kerbau dan Tombak mengelilingi rumah yang dilanda api, seketika padam tinggal asap membumbung tinggi.

Saat Malam 1 Sura, banyak warga menyikapi kekeramatan itu dengan berjalan mengikuti kirab. Mereka saling berebut menyentuh tubuh kebo bule.

Saking keramatnya, malah ada segelintir orang yang mempercayai kotoran yang keluar dari kerbau Kiai Slamet adalah sebuah keberuntungan. Kotoran atau tletong kerbau bule selalu diperebutkan oleh warga untuk dibawa pulang.

Berbeda lagi dengan cerita yang berkembang di kalangan blogger. Kerbau Kiai Slamet ini mulanya hanya dikenal sebagai kerbau albino biasa. Namun dalam sebuah insiden kebakaran atap kandang kerbau ini tak tersentuh api.

Asal-Usul Kebo Bule, Hewan Milik Keraton Surakarta yang Dianggap Keramat Halaman all - Kompas.com

Kerbau bule keramat milik Keraton Kasunanan Surakarta beberapa hari yang lalu mati dan dikubur dengan kain kafan. Kerbau keturunan Kyai Slamet itu memiliki kisah tersendiri hingga dianggap keramat.

Budayawan Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Puger, mengatakan sejarah kerbau tersebut bermula sejak Kerajaan Demak. Saat itu, sedang terjadi wabah atau pandemi.

Petinggi kerajaan dengan para wali kemudian mencari solusi untuk menghentikan wabah. Akhirnya diputuskan untuk mengorbankan kerbau.

“Ini diambil dari kisah perang Baratayudha ketika Yudhistira diperintahkan Bathara Guru mengorbankan kuda untuk bersih-bersih, sedangkan di Demak diputuskan kerbau,” kata Puger.

Mengorbankan kerbau disebut sebagai tradisi mahesa lawung yang masih dilakukan hingga saat ini. Sejak saat itu kerbau secara turun-temurun dipelihara keraton.

“Jadi turun-temurun sejak Demak sampai Surakarta. Selain itu, kerbau ini juga diberi oleh Bupati Ponorogo pada saat berdirinya Surakarta dan terus dipelihara sampai sekarang,” ujar dia.

Masyarakat pun menganggap Kebo Kyai Slamet sebagai kerbau keramat. Bahkan sesaat setelah kerbau lewat dalam kirab malam 1 Sura, sebagian masyarakat menyimpan kotoran kerbau untuk dibawa pulang.

Terutama warga masyarakat yang hidup dari bercocok tanam, kotoran kerbau itu digunakan sebagai pupuk. Diyakini tanaman mereka dapat tumbuh subur.