Menelaah Kehebatan Thomas Tuchel yang Pintar Adaptasi Taktik, Kunci Kesuksesan Chelsea!

Rabu, 29 September 2021, 16:16 WIB
28

Thomas Tuchel memang bukanlah salah satu rekrutan mahal atau bernama besar yang ada di Chelsea saat ini. Namun dirinya menunjukkan kualitasnya dan menegaskan posisinya bahwa dia memang yang terbaik untuk jadi pelatih Chelsea dalam kemenangan 3-0 atas Tottenham Hotspur.

Sangat menarik untuk kita tarik ke belakang saat The Blues bertemu dengan Tottenham Hotspur di matchday kelima Liga Inggris musim 2021/2022 ini. Meski datang sebagai tim tamu, banyak harapan di pundak para pemain Chelsea. Wajar, mereka baru saja menjuarai Liga Champions 2020/2021 kemarin, dengan menaklukkan Manchester City.

Gates Of Olympus

Dari status juara bertahan Liga Champions musim lalu dan sekarang dicap sebagai penantang serius gelar Liga Inggris, memang dibutuhkan kecerdasan dari seorang pelatih. Itulah yang ditunjukkan oleh Tuchel sejak matchday pertama Liga Inggris, kecerdasan dan kemampuannya dalam bidang manajerial sangat terasa dari permainan Chelsea.

Bahkan itu benar-benar terlihat saat Chelsea mampu mengubah pertandingan yang ketat menjadi laga yang menjanjikan dengan kemenangan 3-0 atas Tottenham.

Tentu saja, kita tidak bisa melupakan peran besar pemain sekaliber N’Golo Kante untuk membantu tim dari bangku cadangan sebagai pemain pengganti di babak pertama. Babak pertama berakhir imbang tanpa gol kontra Spurs, namun Tuchel merasa menarik keluar Mason Mount dan mengganti formasi jadi 3-4-2-1 benar-benar membuat Spurs kebingungan.

The Core of Thomas Tuchel's Tactics (Chelsea 2021) - YouTube

Beberapa manajer yang pernah menukangi Chelsea memang merasakan kejamnya hidup seorang pelatih. Tuchel yang juga dipecat oleh Paris Saint-Germain pada Desember tahun 2020 lalu, tahu persis seperti apa budaya klub yang akan dia latih dan bawa juara Liga Champions tersebut. Klub yang dimiliki Roman Abramovich itu tidak akan segan-segan memecat pelatih yang mengalami penurunan performa di paruh pertama musim.

Rise of Olympus

Oleh karena itu, pelatih berusia 48 tahun itu ogah untuk menunggu kemenangan dan alih-alih berbicara soal akan umur panjang atau tidak di Stamford Bridge, dirinya lebih memilih untuk bersenang-senang, mengerjakan tugasnya dan membantu para pemain mencapai level terbaiknya.

Seperti yang kita lihat saat Chelsea menghadapi Tottenham, dirinya datang, melihat dan mengganti pemain yang dirasa kurang mampu menampilkan yang terbaik. Tuchel sepanjang babak pertama terlihat anteng duduk dengan kaki menyilang di bangku cadangan, sambil menganalisa pertandingan tentunya. Namun wajah frustrasi terhadap pengambilan keputusan para pemainnya saat menyelesaikan serangan benar-benar tidak bisa disembunyikan

Mason Mount, gelandang serang jebolan akademik Chelsea bahkan menjadi korban dari rasa frustrasi sang pelatih. Pada pertengahan babak pertama, Mount malah memberhentikan bola, melihat kembali Teman-temannya, padahal dia bisa saja terus mendorong bola ke depan agar serangan balik dipertahankan.

Tidak hanya itu, Mount juga terlihat menunda untuk melepaskan umpannya ke Romelu Lukaku, yang membuat pertahanan dan lini tengah Spurs punya waktu cukup untuk kembali ke posisi masing-masing.

Thomas Tuchel's non-negotiables can help Mason Mount thrive at Chelsea  without Frank Lampard - football.london

Namun yang paling mengejutkan adalah Tuchel menarik keluar Mount tepat saat babak kedua akan dimulai. Di mana ini membuat pelatih asal Jerman itu melakukan pergantian pemain di paruh waktu dalam dua pertandingan berturut-turut.

Sebelumnya, terjadi pada laga kontra Aston Villa saat dia memberikan debut dengan beban besar kepada Saul Niguez. Namun, di balik keputusan unik itu, pesan yang ingin disampaikan terasa jelas. Dia benar-benar yakin, bahwa jika taktiknya tidak berjalan sesuai harapan, yang dibutuhkan adalah sebuah perubahan.

“Kami memang mengubah sistem permainan tapi tidak juga, karena kami cuma memainkan pemain yang lebih percaya diri, lebih fresh dari segi stamina, berkualitas dan lebih tajam,” jelas Tuchel di laman resmi Chelsea.

“Babak pertama kami cukup ceroboh dan tidak tajam. Kami terlalu mengandalkan keterampilan kami mengendalikan pertandingan di babak pertama. Tapi sikap dan energi yang ditunjukkan tidaklah tepat. Inilah yang harus diubah, dan memiliki Kante di bangku cadangan, tidak ada alasan Anda tidak memasukkannya. Karena dia pemain terbaik untuk jadi pengganti, dia unik dan mampu mengubah situasi sulit apapun,” lanjutnya lagi.

“Dari pergantian-pergantian pemain yang kami lakukan, kami ingin menunjukkan bahwa kami meningkatkan kekompakan, kemampuan memenangkan bola, semangat tinggi sebagai sebuah tim. Itu saja,” tutupnya.

Perubahan Taktik Langsung Terasa

RB Leipzig Vs PSG, Thomas Tuchel Sebut Timnya Pantas ke Final Liga  Champions Halaman all - Kompas.com

Perubahan taktik di awal babak kedua ini benar saja terbukti, langsung terasa pada permainan Chelsea. Dengan Kante yang bermain di lini tengah, namun lebih defensive daripada Mount, The Blues meningkatkan kemampuan mereka lolos dari tekanan-tekanan Spurs.

Bahkan saat babak kedua baru berjalan empat menit, mereka mampu mencetak keunggulan. Tendangan voli keras Marcos Alonso berhasil ditepis oleh kapten Spurs, Hugo Lloris, namun saat bola kembali kepadanya, dia mengirimkan umpan ke tengah kotak penalti, yang langsung disambut dengan sundulan oleh Thiago Silva. Keunggulan 1-0 pada menit ke-49.

Tentu saja gol ini terasa spesial untuk Thiago Silva yang akan berusia 37 tahun pada pekan depan. Chelsea sendiri bisa dibilang sedikit kecewa karena sepanjang musim panas kemarin, mereka terus mengejar Jules Kounde dari Sevilla.

Namun pada akhirnya, mereka memilih untuk menarik diri dan ogah membayar klausul rilis sebesar 80 juta euro, meski Kurt Zouma sudah pergi ke West Ham United.

Namun keputusan klub tidak lagi mengejar Kounde ternyata terbukti masuk akal, melihat penampilan Thiago Silva yang masih konsisten di awal musim ini.

Dirinya bahkan mampu memimpin barisan pertahanan dengan tenang dan konsentrasi tinggi, meski menghadapi penyerang berlari kencang seperti Son Heung-min.

Kembali ke pertandingan Tottenham vs Chelsea, Kante sendiri yang dituntut memberi perubahan bahkan berhasil mencetak gol untuk namanya sendiri. Tendangannya membentur Eric Diar yang lalu masuk ke gawang Lloris. Gol ini merupakan yang ke-12 untuknya dalam total 200 penampilannya untuk Chelsea.

Thomas Tuchel: Saya Tidak Bisa Berhenti Memeluk N'Golo Kante! | Goal.com

Namun proses gol ini yang patut diancungi jempol. Kante memiliki ruang yang benar-benar leluasa saat melepaskan tembakannya, dengan Mateo Kovacic bergeser sedikit ke kiri dan barisan pertahanan tuan Rumah benar-benar berantakan. Inilah yang kami sebut pintarnya Tuchel untuk beradaptasi taktik di tengah pertandingan.

Dua gol dalam kurun waktu yang tidak sampai 10 menit berlangsung, benar-benar mengibaratkan bahwa pertandingan milik Chelsea sepenuhnya. Spurs, yang kini dilatih oleh Nuno Espirito Santo juga cukup berani menurunkan semua pemain terbaiknya di laga ini, meski pada pertengahan pekan sebelum menjamu Chelsea, mereka baru pulang dari Rennes di ajang Europe Conference League.

Alhasil, Kepa Arrizabalaga yang ditunjuk menggantikan Eduard Mendy yang absen, tidak benar-benar mendapatkan ujian sesungguhnya dari para pemain Spurs. Dan Nuno, sebagai manajer harus mengakui bahwa dirinya kewalahan mengatasi perubahan taktik yang dilakukan Tuchel.

Thomas Tuchel, Merubah Kritikan jadi Pujian

Tangani Chelsea, Thomas Tuchel Bawa 3 Pemain PSG ke Stamford Bridge :  Okezone Bola

“Saya, kami, para staf kepelatihan dan juga para pemain, ingin membangun tim. Hingga nanti sampai pada suatu titik, di mana klub-klub lain tidak mau menghadapi kami,” potongan dari pernyataan Tuchel ketika dirinya ditunjuk resmi menggantikan Frank Lampard pada akhir Januari 2021 kemarin.

Kedatangan pelatih yang baru saja mengalami pemecatan yang dirasa kurang hormat oleh PSG, sebenarnya telah membuat para pundit memandang sebelah mata skuat Chelsea.

Namun, pada Mei 2021, tidak sampai enam bulan dirinya melatih The Blues, dia mempersembahkan titel Liga Champions 2021. Yang lebih membagongkan adalah Chelsea menaklukkan Manchester City asuhan Pep Guardiola di partai final memperebutkan trofi Kuping Besar itu.

Tidak hanya membungkam kritikan di awal kepelatihannya di Stamford Bridge, tapi Tuchel juga menegaskan bahwa dirinya layak diperhitungkan menjadi manajer Chelsea. Kemampuan adaptasi taktik bergantung pada permainan yang sedang berlangsung, mewajarkan banyaknya formasi yang sudah diperankan Chelsea selama dilatih Tuchel. Mulai dari 4-3-3, 4-3-2-1, 3-4-3 sampai 3-4-2-1, semua formasi tersebut pernah dipakai atau berganti-ganti di tengah pertandingan.

Keputusan-keputusan mengejutkan Tuchel dalam mengganti formasi atau taktiknya di tengah pertandingan juga mulai mendapatkan pujian dari para pundit. Yang awalnya mencibir kedatangannya ke Stamford Bridge.

“Dia bukan manajer yang menunggu sampai 15 atau 20 menit terakhir pertandingan. Dia melakukannya (pergantian strategi) dengan cepat. Jika ada yang tidak berjalan baik, dia langsung menarik keluar seorang pemain dan memasukkan yang bisa merubah situasi. Pada laga kontra Spurs, itu terjadi saat dia menarik Mount dan memasukkan Kante,” ucap Micah Richards, mantan bek Man City yang sekarang jadi pundit.

Gestur Berkelas Tuchel, Samperin Guardiola Dulu Selebrasi Kemudian

Sejauh ini, Thomas Tuchel sudah mengantongi 38 pertandingan di semua kompetisi bersama Chelsea. Dengan catatan mengesankan, 26 kali menang, tujuh kali imbang dan lima kali kalah. Kontraknya yang semula sampai 2022 tahun depan, juga baru diperpanjang hingga 2024, bentuk kepercayaan besar dari manajemen Chelsea. Menarik untuk dinanti, seperti apa persisnya perjalanan Chelsea di musim 2021/2022 ini, musim debut secara penuh Tuchel di Stamford Bridge.