Menelaah Sindrom Musim Kedua yang Menghantui Leeds United di Pentas Liga Inggris 2021/22

Rabu, 29 September 2021, 19:35 WIB
18

Leeds United mungkin bisa dibilang menderita Sindrom Musim Kedua, meski terlalu dini untuk menyebut mereka seperti itu. Namun awal musim, yang baru berlangsung lima matchday Liga Inggris, seringkali jadi penanda bahwa malapetaka akan terjadi untuk klub yang tampil buruk.

Memang sih, belum ada tanda-tanda kepanikan muncul dari Elland Road soal seperti apa penampilan mereka sepanjang musim 2021/2022 ini. Namun awal musim yang begitu flop, membuat beberapa fans meski masih minor, gelisah melihat tim kesayangan mereka bermain.

Lima  pertandingan Liga Inggris musim 2021/2022 ini, Leeds baru mengoleksi dua poin dan terdampar di urutan ke-17 klasemen sementara.

Hanya satu peringkat dan satu poin di atas zona degradasi. Namun, seperti yang sudah kami sebutkan di awal artikel, apakah ini bentuk gejala dari sindrom musim kedua, atau apakah Leeds baru saja dikerjai jadwal pertandingan mereka yang memang terbilang menghadapi klub-klub besar?

Tapi apapun jawaban dari kedua pertanyaan itu normal jika kita bilang awal musim 2021/2022 sangat mengecewakan untuk Leeds United. Terutama saat kita mengingat penampilan solid nan kuat yang mereka tunjukkan di akhir musim 2020/2021 kemarin. Mereka hanya sekali kalah dari 11 laga terakhir Liga Inggris musim kemarin.

Termasuk di antaranya adalah kemenangan kontra Manchester City dan Tottenham Spurs, hasil imbang menghadapi Chelsea, Liverpool dan Manchester United. Penampilan ini pula yang membawa mereka mengakhiri Liga Inggris 2020/2021 dengan bertengger di urutan kesembilan klasemen akhir.

Terlebih lagi, aktivitas Leeds United di bursa transfer musim panas 2021 kemarin, tidaklah terlalu buruk. Daniel James yang tersisihkan dari skuat asuhan Ole Gunnar Solskjaer karena kedatangan Jadon Sancho dan Cristiano Ronaldo, bergabung secara permanen.

Leeds United Bidik Eropa Dua Sampai Tiga Tahun ke Depan | Republika Online

Selain James, ada Junior Firpo yang dibeli dengan mahar sebesar 13 juta poundsterling atau sekitar Rp253,7 Miliar dari Barcelona di musim panas kemarin. Menyusul Jack Harrison yang sudah memperkuat The Whites sejak musim lalu sebagai status pinjaman, juga dipermanenkan dari Manchester City. Lalu ada Lewis Bate dari Chelsea dan juga Kristoffer Klaesson dari Valerenga. Belum lagi, Kalvin Phillips yang bersinar untuk Timnas Inggris sepanjang Euro 2020 kemarin.

Kalvin Phillips bahkan mendapatkan berbagai pujian atas penampilannya di Euro 2020 bersama The Three Lions. Seperti yang dikatakan gelandang legendaris Timnas Inggris, Frank Lampard, seharusnya memiliki gelandang bertahan seperti Phillips, Leeds United tidak punya masalah di lini tengah.

“Kalvin Phillips benar-benar memberikan tim Inggris sebuah keseimbangan yang sudah lama tidak saya lihat beberapa tahun terakhir. Dia gelandang yang berkualitas, mampu mematahkan serangan lawan dan juga membangun permainan sama baiknya. Intelektual dan keputusannya dalam permainan sangat hebat,” ucap Lampard dilansir dari BBC.

Apa yang Salah dari Leeds United Awal Musim Ini?

Losing 7-3 to Nottingham Forest at Elland Road was embarrassing, says Leeds  United manager Neil Warnock

Lantas apa yang salah dari skuat Leeds United asuhan Marcelo Bielsa di musim 2021/2022 ini? Ada baiknya kita kupas satu-satu dari lima pertandingan perdana Liga Inggris di musim ini. Coba kita perhatikan dengan kacamata yang lebih luas. Laga pembuka, mereka menghadapi Manchester United dan menelan kekalahan 5-1.

Jika di babak pertama mereka mampu mengimbangi permainan Setan Merah, masalah terjadi di babak kedua. Mereka kebobolan empat gol dalam kurun waktu 14 menit saja di babak kedua.

Namun setelah gol kelima Man United yang dicetak Fred pada menit ke-68, Leeds United terlihat bangkit. Mereka tidak kecolongan lagi dan bermain sangat padu sebagai sebuah kesatuan yang kompak.

Penampilan di paruh babak kedua kontra Man United itulah yang coba diduplikasi saat menghadapi Everton di laga kedua. Mereka bahkan mampu bangkit usai tertinggal dua kali untuk mengamankan skor imbang 2-2.

Namun, pertandingan ketiga saat mereka harus bertamu ke markas Burnley kembali mempertontonkan gaya bermain yang tidak bergairah. Mereka bahkan harus menunggu gol Patrick Bamford di menit-menit akhir pertandingan untuk membawa pulang satu poin.

Sementara itu pertandingan kandang selanjutnya alias matchday keempat, menjamu Liverpool bahkan lebih buruk lagi. Laga ini langsung dapat sorotan dari dunia sepak bola karena pelanggaran keras Pascal Struijk kepada Harvey Elliott yang mengalami dislokasi engkel.

Sungguh mengerikan jika melihat tayangan ulang insiden Elliott tersebut. Namun jika melihat hasil pertandingan, Leeds harus tersungkur di hadapan pendukungnya sendiri dengan kekalahan 0-3 dari Liverpool. The Reds bahkan mampu mencatatkan sebanyak 30 tendangan dengan Sembilan di antaranya shot on targets.

What has gone wrong with Leeds United's defence? | by All Stats Aren't We |  Medium

Pada matchday kelima harusnya bisa jadi titik balik kebangkitan skuat asuhan Bielsa. Karena mereka hanya bertamu menghadapi tim sepadan, yakni Newcastle United. Bahkan mereka sempat memulai laga dengan kuat lewat gol cepat Raphinha menit ke-13.

Yang sayangnya, keunggulan tersebut terhapuskan lewat gol Allan Saint-Maximin semenit sebelum turun minum. Skor imbang 1-1 bertahan hingga akhir pertandingan dan Leeds lagi-lagi bawa pulang satu poin. Yang dengan kata lain, mereka belum pernah menang dari lima matchday musim ini.

Sejauh ini, kemasukan 11 gol dari lima pertandingan yang sudah dilakoni jelas bukan sebuah statistik yang pantas dibanggakan. Namun para fans Leeds harus mengakui juga bahwa delapan gol di antaranya terjadi saat menghadapi Manchester United dan Liverpool. Di mana kedua tim raksasa ini bahkan berada di urutan tertinggi untuk bursa juara Liga Inggris musim 2021/2022.

Dengan tiga pertandingan lainnya yang berakhir imbang kontra Everton, Burnley dan Newcastle United, kegigihan Leeds masih terlihat. Ini merupakan sinyal yang bagus kepada para fans bahwa semua pemain di skuat sedang berupaya untuk kembali menemukan kesolidan mereka sejak diasuh oleh Bielsa pada 2018 lalu.

Sindrom Musim Kedua, Apa Itu?

Mengapa Patrick Bamford Tak Akan Semudah Itu Cabut dari Leeds United -  INDOSPORT

Namun meskipun ada kegigihan terlihat di tiga pertandingan lain tanpa kekalahan besar kontra Man United dan Liverpool, Leeds United harus waspada dengan Sindrom Musim Kedua. Dalam beberapa tahun terakhir, mitos ini terus berterbangan khususnya untuk klub-klub yang menjalani musim keduanya usai promosi ke Liga Inggris.

Bukti yang paling terkenal untuk tim yang mengalami sindrom ini adalah Ipswich Town. Mereka, sebagai tim promosi, berhasil memberi kejutan pada publik Britania Raya dengan duduk di posisi kelima klasemen akhir Liga Inggris pada musim 2000/2001 silam. Namun musim berikutnya, mereka tampil flop dan terdegradasi ke Divisi Championship.

Contoh terbarunya adalah Sheffield United yang berakhir di posisi kesembilan klasemen akhir Liga Inggris musim 2019/2020. Namun harus terdegradasi ke Divisi Championship pada akhir musim 2020/2021 kemarin. Mitos doang atau benar-benar dapat terjadi, memang tidak ada formula yang tepat untuk menjelaskan soal sindrom ini. Tapi Leeds United harus waspada.

Pasalnya, banyak penggemar sepak bola Inggris merindukan kejayaan Leeds United dan menaruh harapan kepada mereka karena respons mereka di musim perdana usai promosi dari Divisi Championship tahun lalu. Leeds memang pernah mewarnai sepak bola Inggris dan bahkan menjadi jawara.

Yakni pada musim 1991/1992 silam, di mana ini merupakan musim kedua mereka setelah promosi sejak 1990. Pada musim perdana mereka usai promosi, mereka juga menampilkan kejutan besar dengan duduk di peringkat empat klasemen akhir Liga Inggris musim 1990/1991. Barulah di musim kedua, mereka makin gacor dan menjadi juara untuk ketiga kalinya di kasta tertinggi sepak bola Liga Inggris.

Champions: Leeds United 1991/92 | Part 5/5 - YouTube

Namun kisah indah bak dongeng tersebut sangatlah sulit terulang di zaman sekarang. Tapi tidaklah berlebihan jika memang Leeds United diakuisisi oleh taipan Timur Tengah atau konglomerat Rusia seperti Manchester City atau Chelsea. Mereka akan punya kekuatan finansial mengimbangi klub-klub yang masuk dalam kategori Big Six.

Terlepas dari semua angan-angan melihat tim tradisional seperti Leeds United dibeli taipan atau konglomerat dari luar Inggris, kita harus menyadari satu hal. Bahwa The Whites kini memiliki manajer yang sangat berpengalaman, skuat yang berbakat dan basis penggemar yang fanatik dan jumlahnya bisa membuat Anda kagum.

Jika memang mereka mengalami Sindrom Musim Kedua yang ditakutkan seperti contoh-contoh di atas, gejala yang timbul bisa ditangani. Sindrom Musim Kedua yang terjadi pada Ipswich Town pada 2001 atau Sheffield United pada 2021, diakibatkan karena telatnya menyadari suatu masalah sedini mungkin.

Atau bahkan tim-tim tersebut panik dan melakukan keputusan buruk. Itu sudah fatal sekali dan akhirnya terdegradasilah akibatnya. Namun pelatih Leeds adalah Bielsa, setidaknya, dia pelatih berkepala dingin dan tim berada di tangan yang aman.