Menelisik Fenomena Orang Arab Wisata Syahwat Berkedok Kawin Kontrak di Cianjur

Senin, 21 Juni 2021, 15:47 WIB
62

Kawasan Puncak tak hanya menawarkan suasana sejuk. Bagi para wisatawan asing, khususnya dari Timur Tengah menjadikan tempat ini sebagai wisata seks. Mereka sengaja datang untuk ‘menghalalkan’ sejumlah wanita di sana dengan kawin kontrak.

Para turis Arab ini biasanya datang di bulan Juni dan Juli untuk mencari wanita yang bersedia menjadi istri mereka sementara. Dua kampung yaitu Warung Kaleng dan Kampung Ciburial menjadi tujuan favorit mereka. Kampung ini bahkan dijuluki sebagai kampung Arab.

Gates Of Olympus

Secara umum, ada tiga kecamatan yang menjadi  daerah tujuan, yaitu kecamatan Puncak (Cipanas), Sukaresmi, dan Pacet.

Fenomena praktik kawin kontrak ini sebenarnya telah terdeteksi sejak 2015 di Cianjur. Beberapa kali aparat setempat melakukan tindakan tegas di wilayah yang dicurigai marak turis Arab. Di sosial media juga sering viral, namun tetap saja aksi terselubung terjadi.

Para wanita di sana dimanfaatkan oleh pria nakal yang datang dari Timur Tengah untuk dijadikan istri-istrian. Mereka tergiur oleh iming-iming uang, harta, benda yang didapat dari proses prostitusi terselubung ini.

Adanya akad nikah dan ijab kobul dalam proses kawin kontrak hanya sebagai selubung agar tak dicap berzina.

Komplotan ini memanfaatkan datangnya musim liburan di Timur Tengah ini dengan mengelola jasa travel dadakan yang menawarkan jasa kawin kontrak. Mereka berkomunikasi dari mulut ke mulut untuk menyediakan jasa kawin kontrak di Cianjur, Puncak, dan Bogor. Bahkan memanfaatkan jaringan mereka di Timur Tengah untuk menawarkan jasa kawin tamasya ini.

Rise of Olympus

Mereka biasa datang ke Cianjur pada saat musim Haji, karena pada saat bersamaan sekolah dan perkantoran di Timur Tengah sedang masa liburan.

“Dia (turis Arab) mah liburan tapi liburan ingin gitu lah, ibaratnya. Cari kepuasan di Indonesia kayaknya,” kata Ecep – bukan nama sebenarnya – calo kawin kontrak seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari Detik.

Ecep juga menambahkan pihaknya sudah berbagi tugas, baik dari yang menjemput di bandara hingga menyiapkan segala keperluan kawin kontrak ini.

“Kalau sudah siap ceweknya, sudah. Sehari juga beres,” kata Ecep dengan logat khasnya. Termasuk ada yang mencari penghulu cabutan, sembarang saksi dan wali agar sekedar terlihat memenuhi rukun nikah.

Kawasan Kampung Arab Puncak Segera Ditertibkan

500 Ribu Perhari

Wanita pelaku kawin kontrak mengaku terpaksa melakukan hal itu karena desakan ekonomi. Salah seorang perempuang bernama Diana mengaku telah empat kali menjadi istri kontrak.

Menurutnya, kawin kontrak lebih baik ketimbang menjual diri. Menurut dia, hubungannya dengan si laki-laki sah secara agama karena dinikahkan secara siri. “Saya dinikah siri, ada saksi dan wali nikah,” tuturnya.

Setiap kali menjalani kawin kontrak, Diana mengaku mendapat mas kawin sebesar Rp 3 juta. Namun hanya setengah yang dia dapatkan karena setengahnya menjadi hak muncikari.

Diana mengaku diberi uang belanja Rp 500 ribu per hari selama menjadi istri kontrak. Dengan uang itulah dia menghidupi anak yang dititipkan pada orang tuanya. Namin, gara-gara itu juga, Diana bersama lima temannya pernah digelandang polisi pada 2007.

Menjadi istri kontrak, kata dia, biasanya cuma satu bulan. “Kalau lagi mujur, bisa dua bulan,” ujarnya. Lebih mujur lagi jika seperti teman Diana, yang dibawa ke Arab Saudi oleh suami kontraknya. “Jadi penjaga toko,” kata Diana.

Namun Diana terbilang beruntung. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur menyatakan bahwa sampai bulan Juni 2021 pihaknya mendapat laporan dari tiga orang perempuan asal Kabupaten Cianjur diduga menjadi korban kawin kontrak dengan lelaki asal Timur Tengah.

Ada yang mengalami kekerasan dan dua di antaranya ditinggal dalam kondisi hamil. “Ada tiga orang yang menghubungi saya, satu melaporkan sekaligus konsultasi mengalami kekerasan saat kawin kontrak dan dua lagi dalam kondisi hamil, tapi lelakinya sudah pulang ke Arab Saudi,” tutur Lidya Indayani Umar  pada Ayobandung.com.

Lidya menduga, ketiga perempuan ini hanya sebagian kecil perempuan yang menjadi korban akibat kawin kontrak. Diperkirakan masih banyak perempuan-perempuan lainnya mengalami hal yang sama.

“Saya tegaskan bahwa kawin kontrak ini merupakan kedok praktek jual beli perempuan atau traficking,” tandasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, Mukri Aji, menegaskan bahwa praktik kawin kontrak haram dalam agama Islam. Bahkan, menurut dia, pemerintah telah melarang praktik tersebut sejak 5 dekade yang lalu.

Kawin kontrak ini haram hukumnya, bahkan pemerintah sejak tahun 1964 sudah mengelurkan fatwa dilarangnya praktik ini,” kata Mukri.

Bisnis Prostitusi di Puncak Tetap Eksis di Tengah Pandemi Covid-19, Kawin Kontrak hingga PSK Maroko

Tak Pilih-pilih

Salah satu calo kawin kontrak, Maman membeberkan bahwa durasi kawin kontrak yang diinginkan wisatawan Arab hidung belang, yaitu menyesuaikan dengan masa berlaku visa atau tiket pesawat mereka.

Selain memesan langsung kepada calo, biasanya mereka menghubungi kolega yang sudah lebih dulu tiba di Indonesia. Baru setelah itu mereka mengontak para calo untuk dicarikan calon istri.

Penikmat kawin kontrak rata-rata tak terlalu mempersoalkan tipe perempuan yang hendak mereka kawini. Tetapi umumnya mereka menyukai perempuan berparas cantik, pendiam, dan selalu menuruti kemauan mereka.

“Belum pernah ada permintaan khusus dari si Arab. Misalnya minta gadis perawan. Yang ada saja,” ucap Maman yang mengaku pernah menerima hampir Rp 2,5 juta.

Menurut Maman, turis dari Timur Tengah yang datang biasanya relatif masih muda, antara 35-45 tahun. Mereka pun enggan memiliki anak dari hasil kawin kontrak dengan perempuan Cianjur. Dalam perjanjian pun tak disebutkan secara tertulis bahwa mereka akan menafkahi anak dari hasil hubungan gelap itu.

Biasanya, calon istri sudah memasang alat kontrasepsi sebelum kawin kontrak. Bila ‘kebobolan’, para lelaki dari Timur Tengah rata-rata menolak dimintai pertanggungjawaban.

Namun, di sisi lain, lelaki Arab dikenal royal ketika kawin kontrak. Mereka selalu memenuhi apapun permintaan istri kontraknya.

Seperti jalan-jalan ke mall, belanja ini-itu ke toko, bahkan sampai ada yang membelikan mesin cuci. Apabila kontrak kawinnya telah habis, tinggal si perempuan yang membawa barang-barang itu ke rumahnya masing-masing.

Sayangnya, beberapa kasus kawin kontrak berakhir kurang nyaman bagi pihak perempuan. Banyak yang menerima uang talak (cerai) tak sesuai perjanjian.

Maman yang sehari-hari berprofesi sebagai supir ini mengaku selama pandemi COVID-19 sudah jarang wisatawan Arab datang. Kawin kontrak pun jadi sepi dengan sendirinya.

Maman tak mau lagi menjadi calo atau melakukan antar jemput para pelaku kawin kontrak. Alasannya, ia sudah banyak melihat para perempuan yang dinikahkan secara kontrak bernasib kurang beruntung.

Selain itu, dirinya memikirkan anak perempuannya yang masih kecil yang ia hidupi dari profesi calo pernikahan terlarang.