Menelusuri Jejak “Boston Marriage”, Budaya yang Jadi Akal-akalannya Kaum Lesbian Amerika

Rabu, 28 Juli 2021, 11:09 WIB
61

Cinta memang banyak bentuknya. Sialnya, manusia tidak bisa merencanakan akan jatuh cinta kepada siapa. Perasaan cinta datangnya selalu tiba-tiba, sungguh mustahil diduga.

Sangat beruntung jika jalinan cinta yang tercipta sesuai dengan norma sosial. Tapi bagaimana jika seseorang mengalami cinta sejenis, misalnya antara sesama wanita alias lesbian?

Gates Of Olympus

Lesbian yang tinggal di Amerika Serikat dalam kurun waktu enam tahun terakhir, kami rasa jalan hidupnya sangat mujur.

Tepat pada bulan Juni 2015, pemerintah Amerika Serikat berani melegalkan praktek pernikahan sesama jenis, yang tentunya menggembirakan para kaum LGBT, termasuk lesbian. Ikatan cinta sejenis tak akan lagi dianggap berdosa, setidaknya di depan mata hukum negara.

Tapi kaum lesbian sejak dulu telah terbiasa hidup penuh keterbatasan. Jauh sebelum undang-undang pernikahan sejenis disahkan pemerintah, para kaum lesbian Amerika lebih dulu punya cara tersendiri untuk melanggengkan hubungan mereka dengan pasangannya.

Cara yang Edisi Bonanza88 maksud adalah Boston Marriage atau Pernikahan Boston. Penerapan Pernikahan Boston sudah ada sejak berabad-abad silam, sehingga pelan-pelan tumbuh menjadi budaya sekaligus akal-akalan umum khas kaum lesbian Amerika.

Wanita bernama Sarah Orne Jewett, pada 1880 menuliskan sepucuk surat yang berisi puisi romantis. Ia sengaja merangkai kata-kata indah demi memperingati hari spesial, yakni ulang tahun pernikahannya.

Rise of Olympus

Bunyi penggalan puisi karya Sarah kurang lebih begini, “Apakah kamu ingat, sayang, setahun yang lalu di hari ini, ketika kita saling memberikan diri kita satu sama lain? Kita tidak akan pernah menarik kembali janji yang sudah kita buat setahun lalu”.

Ketahuilah, Sarah bukan merayakan hari jadi pernikahannya dengan sang suami. Sarah justru secara spesial mempersembahkan puisi romantisnya untuk istri tercinta, Annie Adams Fields.

Cinta Sarah dan Annie yang merupakan lesbian, sudah terjalin dalam ikatan komitmen yang serius, walau kala itu pernikahan sejenis belum dilegalkan pemerintah Amerika. Keduanya bisa hidup bersama berkat sistem Boston Marriage.

Kalau Anda berpikir Saran dan Annie sebagai satu-satunya pasangan lesbian yang bahagia lewat penerapan Boston Marriage, Anda salah besar. Sarah dan Annie hanya satu dari sekian banyak pasangan yang menjalankan praktek serupa. Masa-masa jelang abad ke-20, kondisi sosial masyarakat Amerika terbilang marak terjadi pernikahan ‘terselubung’ para kaum lesbian.

Lingkungan sosial yang bukan termasuk LGBT juga tak mempermasalahkan. Sesama wanita dapat hidup mesra, tinggal bareng, berbagi kehangatan pelukan dan ciuman setiap hari, tanpa perlu rasa takut dipersalahkan secara norma sosial maupun hukum negara.

Pada abad ke-19, kaum lesbian diberkahi situasi yang lebih baik ketimbang kaum homoseksual alias cinta sesama pria. Masyarakat Amerika sangat mengerti bila ada wanita-wanita yang punya ikatan persahabatan nan loyal juga romantis.

Maklum, wanita zaman itu memiliki kehidupan yang benar-benar terpisah dari laki-laki. Hak para wanita tidak sebesar pria. Seperti urusan kehidupan bersosial, bekerja, hanya boleh dilakukan pria, wanita sangat diharamkan.

Budaya demikian tentu membuat sesama wanita jadi makin akrab. Mereka merasa memiliki ikatan emosional karena senasib, sepenanggungan, menerima ideologi sosial yang seksis.

Terlebih lagi, pada dasarnya wanita adalah makhluk yang penuh kelembutan. Berpegangan tangan, berpelukan, bahkan saling lempar kecup di tempat umum, bukanlah sesuatu yang aneh bila dilakukan oleh sesama wanita. Sampai sekarang bahkan tindakan-tindakan seperti ini masih diwajarkan.

Ketika menempuh pendidikan, wanita-wanita abad ke-19 di Amerika bersekolah di tempat terpisah dengan para pria. Ada sekolah atau perguruan tinggi khusus yang didirikan untuk wanita.

Pemandangan di jenjang perguruan tinggi, biasa memperlihatkan sesama wanita mengekspresikan dan menyatakan rasa cintanya satu sama lain. Entah lewat tindakan fisik seperti pelukan atau ciuman, atau melalui pemberian barang-barang.

Fenomena di daerah New England sekitar abad ke-19 menunjukkan kenyataan kalau wanita menjadi lebih kuat berkat sistem Boston Marriage. Banyak wanita lesbian New England tidak hanya menjalankan Boston Marriage supaya bisa tinggal hidup bersama layaknya membina rumah tangga.

Lebih dari itu, mereka mampu pula memiliki semangat untuk hidup mendobrak ideologi sosial yang selalu memandang sebelah mata hak-hak wanita.

Ketika banyak wanita hanya terdiam meratapi nasib tidak boleh bekerja, wanita-wanita kaum lesbian New England berani keluar mencari pekerjaan.

Mereka mengenyam pendidikan ke bangku perkuliahan, kemudian meniti karier demi mendapatkan penghasilan sendiri. Ada semacam pengaruh spesial dari Boston Marriage terhadap bertambahnya tingkat kemandirian wanita-wanita lesbian New England.

Penulis novel bernama Henry James, pada tahun 1885 pernah merilis buku berjudul The Bostonians. Isi buku tersebut berusaha mengeksplorasi bagaimana Boston Marriage dijalankan oleh para wanita kaum lesbian.

Sudut pandang yang diambil Henry James dalam penulisannya mungkin menggunakan statusnya sebagai laki-laki. Pembedahan Boston Marriage ala Henry James pun tampak mencibir wanita-wanita yang tiba-tiba bisa bersikap independen.

Inti ceria The Bostonian karya Henry James menceritakan kisah tokoh fiktif yang digambarkan punya watak feminis dan blak-blakan, Verena Tarrant. Suatu hari, Verena bertemu Olive Chancellor, wanita yang sangat menyukai ketegasan.

Singkat ceritam Verena dan Olive saling jatuh hati, saling mendukung satu sama lain lewat konsep Boston Marriage. Namun Verena tiba-tiba berkhianat, menikah dengan sepupu pria Olive. Henry James seakan mau menyampaikan kalau hubungan lesbian ala Boston Marriage tak akan pernah sukses menemukan kelanggengan.

Bagaimana pun kisah yang dijabarkan Henry James, The Bostonian laris di pasaran hingga jadi novel populer. The Bostonian, meski isinya meremehkan Boston Marriage, efeknya malah kian membuat terkenal Boston Marriage itu sendiri.

Padahal Henry James tak menggunakan istilah atau frasa Boston Marriage pada bukunya. Konsep Boston Marriage dalam rangkaian kalimat yang disajikan Henry James dapat dipahami dengan sendirinya.

Inti dari Boston Marriage

Boston Marriage: Women Living Together, 1800s-1900s

Konsep Boston Marriage selalu mengedepankan dukungan agar wanita bisa mendapatkan kesetaraan dan kemandirian. Boston Marriage membantu pergerakkan para perempuan supaya keluar dari jeratan ideologi seksis masyarakat Amerika.

Kaum perempuan sering dianggap remeh dan diabaikan hak-haknya oleh laki-laki. Penerapan Boston Marriage seakan mau menyelamatkan harga diri para wanita yang selalu direndahkan.

Boston Marriage akarnya tetap menjadi wadah yang menaungi gelora asmara para kaum lesbian. Romantisme sesama wanita bisa bebas berjalan melalui Boston Marriage.

Pasangan lesbian dapat saling bercumbu, berpelukan, memanggil kekasihnya suami atau istri, tinggal bersama, persis seperti membangun biduk rumah tangga.

Namun pada abad ke-19, Boston Marriage tidak dipandang sebagai tempat para lesbian memuaskan hasrat seksualnya ke pasangan. Ideologi masyarakat Amerika kala itu masih beranggapan kalau nafsu seksual hanya dimiliki laki-laki, dan wanita hanya menjadi alat pemuasnya. Padahal kenyataannya jelas tidak demikian adanya.

Sudah alamiahnya wanita juga punya nafsu untuk bersenggama, termasuk mereka yang lesbian. Memang kita mustahil tahu bagaimana praktek seksual ala lesbian zaman dulu, tapi mereka pasti melakukannya. Bagaimanapun, kebahagiaan cinta bakal terawat dengan kegiatan-kegiatan berbau seksual.

Seiring berjalannya waktu, Boston Marriage mengalami guncangan hebat yang menyulitkan eksistensi ikatan cinta kaum lesbian. Memasuki abad ke-20, masyarakat tiba-tiba sadar akan konsep lesbian.

Publik tidak lagi tertipu dengan kebersamaan wanita yang dulu selalu dikira hanya sepasang sahabat. Lesbian beserta Boston Marriage otomatis dianggap sebagai bentuk penyimpangan seksual dari para wanita yang kodratnya jatuh cinta kepada lelaki, bukan kepada sesama wanita.

Bagaimana penilaian masyarakat modern abad ke-21 mengenai konsep Boston Marriage? Pandangan masyarakat modern dewasa ini sering menganggap kalau penerapan Boston Marriage ibarat jalan pintas atau akal-akalannya para lesbian.

Lingkungan sekitar melihat para lesbian cuma menjalankan ikatan emosional feminim, layaknya kelompok pertemanan perempuan. Padahal para lesbian sejatinya menjadikan Boston Marriage sebagai kedok agar tetap bisa hidup bersama pasangan wanitanya.

“Sepasang wanita yang benar-benar memiliki hubungan seksual dapat dengan mudah hidup bersama tanpa menimbulkan kecurigaan lingkungan sekitarnya. Mereka berkamuflase seakan itu sekedar kasih sayang feminim biasa,” kata seorang sejarawan modern, Stephanie Coontz, dalam sebuah sesi wawancara.

Walau dipandang bak kedok kaum lesbian, masyarakat modern tetap mengakui dampak hebat Boston Marriage lainnya. Masyarakat modern mengapresiasi semangat Boston Marriage yang membangkitkan kesadaran para wanita untuk hidup mandiri. Kalau sekarang wanita-wanita Amerika bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, itu merupakan perubahan yang salah satu penyebabnya dipengaruhi Boston Marriage.

Pertanyaan terakhir, apakah kehidupan cinta lesbian dari abad ke-19 yang terlaksana melalui konsep Boston Marriage berujung kebahagiaan? Jawabannya ada sangat banyak, tidak bisa dilacak satu per satu. Tapi kalau butuh contoh, tengoklah kehidupan novelis wanita legendaris Amerika, Willa Cather. Ia tinggal seatap bersama pasangan wanitanya, Edith Lewis dalam komitmen cinta ala Boston Marriage.

Hubungan asmara Willa dan Edith berjalan langgeng 40 tahun lamanya, sampai maut yang memisahkan mereka. Menariknya, kebersamaan mereka tetap abadi meski keduanya telah wafat. Jasad Willa dan Edith dikubur bersebelahan di pemakaman New Hampshire.