Menelusuri Penyebab Ambruknya Finansial Barcelona

Minggu, 26 September 2021, 19:10 WIB
625

Para pecinta sepak bola di seluruh dunia pasti sepakat bahwa Barcelona merupakan salah tau klub terbesar di Spanyol bersama Real Madrid.

Namun status tersebut tidak bisa lagi mungkin disematkan ke Barcelona jika melihat performa mereka sejak musim ini, dimana Los Cules tampil jadi tim pesakitan.

Gates Of Olympus

Saat ini Barcelona masih harus berkutat di papan tengah La Liga Spanyol hingga pekan ke-6, dengan koleksi 9 poin hasil dari 2 kali menang dan 3 kali imbang.

Menariknya, kegagalan Barcelona dalam meraih kemenangan di Liga Spanyol justru dialaminya saat berjumpa dengan tim-tim papan bawah dan promosi.

Mereka adalah Granda, Athletic Bilbao, dan terbaru mereka ditahan imbang tim promosi Cadiz. Melawan Granada yang saat ini bertengger di urutan ke-18

Barcelona hanya bisa memetik satu poin karena bermain imbang 1-1. Hasil yang sama juga diraih Barcelona saat berhadapan dengan Athletic Bilbao.

Sementara melawan Cadiz, kedua tim berbagi satu angka berkat hasil seri 0-0. Tidak hanya sulit meraih kemenangan, Barcelona juga kesulitan dalam mencetak gol melihat dari skor-skor mereka dan jumlah produktivitas golnya, yang sejauh ini baru bisa membuat 8 gol ke gawang lawan.

Rise of Olympus

Tumpulnya lini depan Barcelona juga tidka lepas dari kepergian Lionel Messi yang sudah menjadi andalan dalam dua dekade terakhir.

Tidak hanya faktor La Pulga, jebloknya performa Memphis Depay cs juga dipengaruhi oleh krisi finansial yang mereka alami saat ini.

Sejak 10 April 2020, klub asal Catalan ini sudah mulai menuju kehancuran akibat kesulitan keuangan, sejak Josep Maria Bartomeu menjadi Presiden klub.

Enam petinggi mereka bahkan sudah lebih dahulu pergi termasuk Wakil Presiden Emili Rousaud sebagai bentuk protes terhadap Bartomeu.

Kondisi tersebut membuat Barcelona tidak bisa menjalankan klub sesuai AD/ART yang berlaku. Pasalnya, di situ tertera bahwa klub setidaknya harus memiliki 14 direktur termasuk presiden.

Dengan mundurnya keenam orang tersebut, kini Barcelona hanya memiliki 13 direktur. Lantas sebenarnya apa yang terjadi di Barcelona?

Aktor Krisis Barcelona

Bartomeu Mengaku Ingin Berdamai dengan Messi

Pusat dari segara krisis finansial maupun hancurnya kondisi internal Barcelona ini adalah Josep Maria Bartomeu, yang terpilih menjadi presiden klub sejak 2014 menggantikan Sandro Rosell.

Menariknya, Rosell juga lengser akibat skandal. Transfer Neymar dari Santos ke Barcelona menjadi penyebab pria berusia 56 tahun tersebut kehilangan jabatannya.

Rosell mengaku membeli Neymar dengan harga 57,1 juta euro. Namun setelah diselidiki, ternyata pembelian ditaksir mencapai angka 95 juta euro nominal uang yang harus dibayar Barcelona ke Santos, menurut El Mundo.

Sedangkan versi lainnya keluar dari mulut Bartomeu. Menurut versinya, Barcelona membeli Neymar sekitar 86,2 juta euro. Namun tetap saja angka itu masih jauh dari harga yang disebutkan Rosell.

Barcelona sendiri adalah klub yang kepemilikannya dipegang beberapa pihak. Socios demikian istilah orang-orang yang memilikinya. Sehingga kemudian, setiap presiden klub harus mempertanggungjawabkan kebijakan dan pengunaan keuangan setransparan mungkin.

Salah satu soci yang menjadi pemiliki Barcelona bekerja sebegai apoteker, Jordi Cases. Dirinya mempertanyakan uang transfer Neymar yang nominalnya masih simpang siur.

Karena Rosell tak bisa memberi jawaban memuaskan, dia pun mundur tak lama kemudian. Josep Maria Bartomeu lalu naik menjadi suksesor.

Nyatanya, kepemimpinan Bartomeu tak lebih baik dari Rosell. Jika Rosell angkat kaki karena skandal pembelian Neymar, kepemimpinan Bartomeu digoyang dengan skandal penjualan Neymar.

Selain itu, berbagai blunder lain telah dilakukan Bartomeu, seperti dalam hal penunjukan serta pemecatan Ernesto Valverde. Ada pula masalah kehumasan yang dianggap merugikan kapten Lionel Messi serta sejumlah pilar senior lainnya.

Alih-alih mundur dengan permasalahan yang ada, blunder-blunder tersebut malah direspons Bartomeu dengan arogan. Ia langsung merombak jajaran direksi, yang membuat Rousaud memilih mundur ketimbang menunggu dipecat.

Lima direksi lain yang ikut mundur adalah Enrique Tombas, Silvio Elias, Maria Teixidor, Josep Pont, dan Jordi Clasamiglia.

Mengapa Krisis di Barcelona Terjadi?

Crisis stop sign with view of Spanish square in Barcelona, Spain. Financial  crash in world economy because of coronavirus pandemic. Global economic cr  Stock Photo - Alamy

Kita tarik ke belakang, lagi-lagi harus dimulai dari Neymar karena memang sejumlah isu miring yang melekat dalam diri pemain asal Brasil itulah yang paling lama menggerogoti Barcelona.

Pada 2017, Neymar dibeli oleh Paris Saint-Germain (PSG) dengan harga 222 juta euro atau setara hampir Rp3 triliun. Mengejutkan banyak pihak dan juga penuh kontroversi.

Barcelona sejujurnya tidak mau menjual Neymar, untuk menjadi suksesor Lionel Messi yang sudah tidak lagi muda. Sayangnya, Neymar tidak mau kebintangannya berada di bawah bayang-bayang Messi.

Lalu datang PSG yang mencoba merebut Neymar, dengan cara menebus klausul rilis kontraknya senilai 222 juta euro. Itulah yang kemudian dimanfaatkan Qatar Sports Investment (QSI) selaku PSG untuk mengaktifkan rilis klausul Neymar.

​QSI bermain licik tapi dengan cara halal, demi menghindari agar PSG tidak terkena sanksi Financial Fair Play (FFP). Caranya, mereka mengontrak Neymar menjadi duta Piala Dunia 2022 Qatar, dengan nilai kontrak mencapai 300 juta euro.

Uang yang diterima Neymar dari QSI dalam bentuk kontrak kerja sama dipakai mantan pemain Santos itu untuk membeli kontraknya sendiri sehingga ia bisa pindah ke PSG dari Barcelona.

Banyak pihak di Liga Spanyol yang ingin mengagalkan transfer ini, termasuk Presiden LaLiga, Javier Tebas. Namun tidak berhasil.

Kepergian Neymar membuat Trio MSN (Messi, Suarez, Neymar) sedikit pincang. Alhasil prestasi Barcelona mulai menurun sejak trio tersebut tidak lengkap lagi.

Harapan publik melihat trio MSN kembali bermain untuk Barcelona sempat menjadi kenyataan, ketika musim 2019/20 Neymar santer dikabarkan ingin kembali ke Camp Nou.

Sayangnya, kepindahan Neymar ke Barcelona tidak terwujud karena para petinggi Barcelona banyak yang menjegalnya.

Bartomeu, kabarnya merupakan salah satu orang di jajaran direksi yang tidak mau Neymar kembali. Keengganan Bartomeu ini membuat relasinya dengan para pemain, khususnya Messi, mulai merenggang.

Dari situ hubungan keduanya terus memanas. Mulai dari sikap arogan memecat Ernesto Valverde, menujuk pelatih kacangan Enrique Setien dari Real Betis, hingga menujuk Eric Abidal yang pro kepada Bartomeu.

Isu pemecatan Valverde ini sempat membuat Messi berseteru dengan Eric Abidal. Ia mengatakan ada pemain yang tidak perform (tampil apik) sehingga Valverde harus dipecat.

​Tak lama setelah ribut-ribut itu, Bartomeu dikabarkan menyewa sebuah agensi bernama I3 Ventures untuk memulihkan namanya di media, menggunakan uang klub.

Kerja I3 Ventures rupanya tidak hanya untuk memulihkan nama Bartomeu, tapi juga menyebar pemberitaan miring kepada beberapa pemain termasuk Lionel Messi

Messi disebut menolak pemotongan gaji disaat klub sudah mengalami krisis. Kabar ini, tentu saja, dibantah oleh pemain Argentina tersebut.

“Sebagai pemain, kami jelas bersedia membantu klub jika diminta. Kadang kala juga kami melakukan sesuatu tanpa diminta,” kata dirinya beberapa waktu lalu melalui wawancara dengan Goal.

Lantas, siapa yang membocorkan kabar penolakan itu? Entahlah. Namun, menurut rumor yang beredar, pelakunya adalah salah satu petinggi Barcelona sendiri.

Masalah Barcelona tidak cukup hanya sampai di situ. Pandemi covid-19 membuat pemasukan klub tidak ada, ditambah banyak pemain yang enggan gajinya dipotong sebesar 70 persen.

Alhasil, hutang Barcelona menumpuk hanya dalam jangka waktu enam bulan sebesar untuk operasional dan gaji pemain.

Presiden Barcelona yang baru, Joan Laporta bahkan sampai pusing dengan carut marutnya internal klub. Ia sampai buka-bukaan soal krisis keuangan timnya, akibat pengelolaan yang tidak beres dari pemimpin sebelumnya.

Laporta mengungkapkan, utang klub saat ini telah menembus 1,35 miliar euro atau setara dengan Rp 22, 8 triliun!

Kondisi keuangan yang amat buruk itu menjadikan klub Catalan itu gagal memperbaharui kontrak Lionel Messi dan harus merelakannya pergi ke Prancis untuk bergabung dengan PSG.

Hal itu pula yang menyebabkan Barcelona memberlakukan tindakan tegas, agar para pemain wajib ikut pemotongan gaji, jika tidak pihak klub akan menempuh jalur hukum.

Pemangkasan gaji secara masif diberlakukan agar para pemain yang didatangkan secara free transfer bisa didaftarkan untuk bermain di Liga Spanyol musim ini.

Di tengah lilitan utang yang teramat besar itu, Laporta melambungkan janji, bahwa keuangan Barcelona bisa sehat kembali dalam waktu 18 bulan.

Namun, Laporta optimistis terhadap masa depan klub dengan menandaskan bahwa Barca memiliki banyak opsi terbuka untuk itu, termasuk sekitar 17 investor yang tertarik masuk Barca Studios yang adalah unit yang menyatukan bisnis audiovisual klub dan sekaligus berfungsi sebagai hub untuk berbagai event.