Mengaduk Emosi dalam Fenomena Manusia Silver yang Kian Marak di Indonesia

Sabtu, 02 Oktober 2021, 02:58 WIB
47

Manusia silver, belakangan keberadaannya sangat mudah ditemui di Indonesia. Mungkin tidak sepenuhnya mencakup seluruh penjuru Tanah Air, tapi jelas populasi mereka terus bertumbuh membanjiri jalanan kota-kota besar. Setidaknya menengok wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) saja, hampir setiap perempatan jalan pasti tampak manusia silver yang sedang beraksi mencari rezeki.

Cara para manusia silver dalam bekerja umumnya akan berdiri mematung sambil memperagakan gaya tertentu seakan slow motion bak robot. Mereka mempertontonkan aksinya kepada para pengendara yang sedang berhenti menunggu lampu merah. Sampai hitungan beberapa detik, manusia silver yang tadinya mematung kemudian bergerak kembali berjalan menuju kerumunan pengendara, membawa ember, serta meminta sedekah seikhlasnya.

Gates Of Olympus

Sepintas, tidak ada yang salah dari format kerja para manusia silver. Toh, mereka mengais rezeki dengan jalur yang diyakini termasuk golongan halal. Kalau ada pengendara yang enggan memberikan sumbangan ketika manusia silver memintanya, juga tidak masalah sama sekali.

Namun fakta yang tertera di lapangan menunjukkan situasi berbeda. Keberadaan manusia silver kerap menimbulkan emosi beragam. Ada pihak yang merasa kasihan, ada pula yang begitu geram sekaligus risih.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi dalam fenomena manusia silver ini? Bagaimana jumlah mereka seiring berjalannya waktu bisa terus bertambah dan bahkan amat pesat? Menjawab kedua pertanyaan tersebut, Edisi Bonanza88 coba menjabarkannya satu per satu secara mendetail.

Demi Dapur Tetap Ngebul di Masa Pandemi Covid-19

Tega! Balita Dijadikan Manusia Silver - Karawang Post

Rise of Olympus

Sungguh sulit melacak dengan pasti bagaimana awal mula manusia silver tiba-tiba bisa begitu marak. Prosesnya seakan terjadi secara natural begitu saja. Jumlah manusia silver yang bertebaran di jalanan bertambah pesat.

Namun ada satu pola yang bisa terekam dalam tsunami populasi manusia silver. Maraknya keberadaan manusia silver tercipta sejak Indonesia dilanda pandemi virus Covid-19 atau Corona. Situasi pandemi bukan hanya mengancam keselamatan nyawa, tapi juga kesejahteraan rakyat.

Sudah jadi rahasia umum kalau pandemi virus Corona menyebabkan banyak sektor perekonomian lumpuh. Hal itu lantas menimbulkan arus pemecatan dari perusahaan-perusahaan yang tak mampu bertahan. Alhasil, ramainya praktik pemecatan berjalan lurus terhadap tingkat pengangguran di Indonesia.

Sebenarnya bukan hanya karyawan-karyawan kantoran saja yang terkena dampak demikian. Beragam profesi lain ikutan terserang imbas pandemi Covid-19. Intinya satu, ratusan, ribuan, atau mungkin jutaan penduduk Indonesia kehilangan pemasukannya.

Bagi yang beruntung dan punya keahlian tertentu, mencari pekerjaan baru bak harapan yang masih realistis dicapai. Tapi itu juga belum tentu menemui keberhasilan, banyak lulusan sarjana bahkan S2 yang kesulitan mendapat pekerjaan setelah kena pemecatan. Maklum, banyak kantor yang masih mengencangkan ikat pinggang melalui cara menekan pengeluaran gaji dan meminimalisir jumlah karyawan, alias tidak membuka lapangan pekerjaan.

Bagaimana nasib mereka yang kurang beruntung serta tanpa punya keahlian sama sekali? Pilihan orang-orang seperti ini sangatlah terbatas. Mereka bingung mau melamar kerja di mana, mau kerja apa, semuanya serba sulit. Situasi yang tak menentu lantas memaksa mereka mendengarkan petuah orang bijak yang sering berkata, “harus berani nekat dan keluar dari zona nyaman!”.

Benar, banyak dari orang-orang yang kehilangan pemasukan selama masa pandemi Covid-19 akhirnya nekat turun ke jalan. Mereka ikutan menaruh peruntungan mereka dengan menjadi manusia silver. Apalagi modal untuk berkecimpung ke ranah manusia silver tidaklah butuh keahlian apa-apa. Cukup merelakan tubuh dicat menggunakan bahan-bahan tertentu supaya badan menunjukkan warna silver.

Salah satu contoh nyata yang bisa kita ambil ialah kisah pria tua bernama Agus Dartono. Kakek berusia 61 tahun ini dahulunya merupakan seorang polisi dan kini berstatus pensiunan. Meski tetap mendapat uang pensiun, Dartono tetap merasa pemasukannya kurang.

Apabila hanya mengandalkan uang pensiun, per bulannya Dartono punya pemasukan senilai Rp 3 juta. Jumlah tersebut bagi Dartono sangat tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Himpitan ekonomi pun terpaksa Dartono lalui dengan mengambil opsi nekat, yakni menjadi manusia silver.

Setelah ditelusuri, Dartono mengaku punya hutang yang jumlahnya mencapai Rp 150 juta. Uang pensiunannya hampir 100 persen digunakan untuk mencicil hutangnya tadi. Akibat membayar cicilan hutang, setiap bulannya uang pensiunan Dartono yang tadinya Rp 3 juta cuma tersisa Rp 800 ribu.

Sebenarnya Dartono merupakan tipikal pria yang mau bekerja keras. Semasa aktif di kepolisian, watak kerja kerasnya sudah dikenal baik oleh rekan sejawat. Ketika sudah pensiun, Dartono enggan melunturkan semangat kerjanya, terlebih ada desakan ekonomi yang mendera dirinya.

Pasca pensiun dari satuan kepolisian, Dartono sempat meneruskan hidup dengan menjadi supir angkutan umum. Namun supir angkutan umum tidak banyak membantu, bahkan seringnya nihil pemasukan. Dartono akhirnya mencoba profesi manusia silver.

Sayang sekali, jumlah penghasilan dari profesi manusia silver ternyata juga tak banyak. Berdasarkan pengakuannya, Dartono per harinya hanya bisa mendapatkan rata-rata Rp 20 ribu. Tapi Dartono tidak punya pilihan lain, dapurnya harus tetap ngebul, dan profesi manusia silver pun dipilihnya.

Ditentang Aparat

Mutilasi Teman Sendiri karena Kesal, Manusia Silver Ditangkap saat Main PS

Kisah pilu kakek Dartono bisa terungkap karena dia tertangkap dalam sebuah razia aparat Satpol PP Semarang. Dartono kena ciduk ketika dirinya mengais rezeki dengan menjadi manusia silver. Barulah setelah tertangkap, cerita Dartono beredar dan viral di kalangan netizen.

Berkaca dari Dartono, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sejatinya aparat negara menentang betul keberadaan manusia silver di jalanan. Pemberitaan media massa juga sering melaporkan operasi aparat Satpol PP yang rutin menggelar razia memberantas manusia silver. Bagi aparat negara, manusia silver merupakan bentuk tindakan yang melawan hukum dan undang-undang.

Sekitar bulan September 2020, Dinas Sosial Kota Palembang pernah secara gamblang menyatakan keseriusan mereka dalam membasmi peredaran manusia silver yang meresahkan. Menurut Dinas Sosial Palembang, manusia silver hanyalah inovasi dari praktek mengemis dan meminta-minta. Terlebih, jumlah manusia silver yang makin banyak cukup berpotensi untuk mengganggu kenyamanan dan keamanan pengendara di jalan raya.

Kota Palembang sendiri memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 12 Tahun 2013 yang isinya berupa pelarangan memberi uang kepada pengemis. Perda ini jelas mengharamkan pengguna jalan raya atau siapapun untuk bersedekah membantu pengemis, manusia silver, dan lain sebagainya. Jika sampai melanggar aturan, baik pihak pemberi uang maupun pengemis (termasuk manusia silver) akan diberi sanksi tegas, seperti denda atau kurungan penjara.

Beralih ke Kota Tangerang, penindakan aparat terhadap praktik manusia silver baru-baru ini begitu viral. Kepala Dinas Sosial Tangerang Selatan, Wahyunoto Lukman, diduga marah besar melihat betapa banyaknya jumlah manusia silver yang berhasil terjaring razia jajarannya. Saking marahnya, Wahyu sampai tega menendang ember atau kotak yang dipakai manusia silver menyimpan uang hasil jerih payah meminta-minta.

Momen tersebut terjadi sekitar hari Selasa, 28 September 2021 kemarin. Aksi Wahyu bersama jajarannya sempat terekam oleh video yang kemudian beredar di jagat maya. Isi video memperlihatkan Wahyu sedang menceramahi sejumlah manusia silver yang dia ciduk dalam razia.

Inti ceramah Wahyu hendak mengajak para manusia silver supaya berhenti mengemis. Apalagi manusia silver yang ditangkap Wahyu mayoritas masih muda, berbadan segar, sehingga masih bisa bekerja dengan cara lain. Ketika tengah asyik berceramah, ucapan Wahyu tiba-tiba dipotong seorang manusia silver.

Sang manusia silver berkata kalau dirinya dan rekan-rekannya sebenarnya sangat tidak ingin mengemis. Namun akibat himpitan ekonomi dan keterbatasan pilihan, mereka terpaksa berkecimpung ke ranah manusia silver. Mendengar ceramahnya mendapat sanggahan, Wahyu sangat geram dan sontak menendang kaleng sang manusia silver tadi.

“Mereka harus diberikan shock therapy ya. Karena kalau dengan gaya yang biasa saja, enggak masuk di mindset-nya mereka. Jadi harus sedikit keras,” ujar Wahyu, seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari laporan Kompas.com.

Sejarah Singkat Eksistensi Manusia Silver

Dagangan Kupat Tahu Merugi Selama Pandemi, Pria di Yogyakarta Beralih Pekerjaan Jadi Manusia Silver - Halaman all - Tribunjogja.com

Sekali lagi kami tekankan, sulit melacak pasti titik mula awal kemunculan manusia silver di Indonesia. Tapi ada sebuah tulisan karya Tossa Rahmania yang berjudul ‘Presentasi Diri Pengamen Silver Man di Kota Bandung’, sedikit menjelaskan tentang sejarah manusia silver Tanah Air. Menurut penelusuran Tossa, manusia silver jejaknya pertama kali terendus sekitar tahun 2012 silam di kota Bandung sana.

Kala itu muncul sebuah kelompok yang menamakan diri sebagai ‘Komunitas Silver Peduli’. Kelompok ini sering begerilya di jalan raya untuk meminta sumbangan kepada orang-orang atau pengendara yang lewat. Konon, Komunitas Silver Peduli bakal memakai sumbangan yang mereka kumpulkan untuk disumbangkan lagi kepada para anak yatim.

Dinas Sosial Kota Bandung mengendus geliat Komunitas Silver Peduli tadi. Penindakan tegas pun dilakukan Dinas Sosial Kota Bandung dengan merazia para manusia silver yang terlibat dalam aksi penggalangan dana garapan Komunitas Silver Peduli. Menurut Dinas Sosial Kota Bandung, kegiatan Komunitas Silver Peduli telah melanggar Perda K3, Undang-Undang Lalu Lintas dan UU Nomor 9 Tahun 1061 tentang Pengumpulan Uang atau Barang.

Selain faktor melanggar aturan, Dinas Sosial Kota Bandung berusaha mencegah kemungkinan memburuknya kesehatan dari para pelaku manusia silver. Cat silver yang terus-menerus menempel di tubuh, disinyalir bisa menyebabkan beberapa penyakit, mulai dari yang paling ringan alergi, sampai yang paling berat yaitu kanker kulit. Maksudnya terdengar baik ya?

Sebenarnya rekam jejak manusia silver bukan cuma ada di Indonesia. Beberapa negara Barat juga memiliki fenomena kemunculan manusia silver. Seperti yang terjadi di kota London, Inggris, tepatnya di area Convert Garden.

Sepanjang area Convert Garden, berjejer seniman-seniman jalanan yang mengais rezeki sambil memamerkan kebolehannya. Dari sekian banyak jenis seniman jalanan, ada seniman yang mengecat tubuhnya dengan warna silver persis seperti manusia silver di Indonesia. Manusia silver ala London kerap menunjukkan aksi sulap atau pantomim yang mengundang decak kagum publik.

Catatan yang perlu digarisbawahi, manusia silver di kota London tidak sepenuhnya mengemis. Mereka juga tidak hanya sekedar menggerakan tubuhnya mematung bak robot. Pertunjukkan seni manusia silver di London benar-benar butuh keahlian khusus. Banyak dari mereka pula yang dibayar penuh oleh orang-orang tertentu layaknya seniman profesional.