Mengenang Aksi Heroik Luar Biasa Pratu Suparlan: Tentara Kopassus yang Berani Sendiran Melawan Ratusan Prajurit Separatis

Selasa, 28 September 2021, 16:10 WIB
1470

Komando Pasukan Khusus atau Kopassus merupakan bagian penting dalam satuan TNI Angkatan Darat. Sejak pertama kali didirikan pada 16 April 1952, Kopassus selalu diisi oleh prajurit-prajurit yang memiliki kemampuan spesial, seperti lihai mengarungi beragam medan tempur, bidikan tembak akurat, memahami strategi perang yang efektif, dan lain sebagainya. Tak mengherankan jika citra Kopassus kerap mendapat kekaguman dari pasukan khusus setipe negara-negara lain.

Mengingat betapa spesialnya kemampuan para anggota Kopassus, mereka sering ditugaskan ke misi-misi yang tergolong amat berbahaya. Berperang merebut wilayah, baku tembak jarak dekat dengan serdadu musuh, menghiasi hari-hari kerja Kopassus. Cara kerja yang seperti itu sungguh wajar apabila rekam jejak Kopassus diselimuti sejumlah kisah heroik anggotanya.

Gates Of Olympus

Salah satu kisah heroik yang sampai sekarang begitu membanggakan dan layak dikenang ialah perjuangan Pratu Suparlan. Beliau merupakan prajurit yang aktif di medan tempur kala Kopassus masih menyandang nama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Perjuangan Pratu Suparlan sangat mengagumkan, karena dia dengan gagah berani maju sendirian menghadapi musuh yang jumlahnya cukup banyak.

Pratu Suparlan kami yakini tahu betul apa yang menjadi risiko profesinya. Selaku anggota Kopassus, Pratu Suparlan berkewajiban melakukan segalanya demi membela serta menjaga kedaulatan negara. Bahkan kalau dalam melaksanakan tugas harus sampai mempertaruhkan nyawa, Pratu Suparlan rasanya benar-benar siap melakukannya.

Buktinya, Pratu Suparlan melancarkan semangat perjuangan yang mana beliau mengorbankan keselamatan jiwanya. Bertugas di medan perang berbahaya, Pratu Suparlan mendapati regunya dalam ancaman mengerikan pihak musuh. Situasi tertekan lantas memunculkan inisiatif Pratu Suparlan untuk pasang badan.

Intinya, Pratu Suparlan maju tanpa takut menerjang kelompok bersenjata musuh. Perang yang tak berimbang sengaja dilalui Pratu Suparlan supaya rekan-rekannya dapat leluasa bergerak mencari tempat berlindung, sekaligus mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Perjuangan dan pengorbanan luar biasa yang diperbuat Pratu Suparlan mirip dengan tokoh fiksi film Hollywood, Rambo.

Meski nasib dirinya berakhir tragis, perjuangan Pratu Suparlan amat haram bila sampai terlupa. Aksi heroiknya hingga kini masih sangat melegenda di jajaran Kopassus. Lantas, bagaimana kisah selengkapnya dari aksi heroik Pratu Suparlan?

Rise of Olympus

Ditakuti

Sosok Anggota Kopassus Pratu Suparlan, Rambonya Indonesia - telisik.id

Awal tahun 1983, Pratu Suparlan bersama satuan Kopassandha ditugaskan berangkat ke daerah konflik Timor Timur. Kala itu, Timor Timur yang kini menjadi negara sendiri bernama Timor Leste, masih termasuk dalam naungan NKRI. Timor Timur sedang dilanda gejolak aksi seperatis yang digerakkan kelompok Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (bahasa Portugis) alias Fretilin.

Memasuki tanggal 9 Januari 1983, Pratu Suparlan yang tergabung dalam sebuah pasukan kecil menggelar patroli. Pasukan kecil ini dipimpin oleh Letnan Poniman Dasuki. Tujuan patroli yakni menyusuri daerah-daerah yang diduga jadi tempat persembunyian prajurit kelompok separatis Fretilin.

Tibalah pasukan kecil Kopassus ke sebuah area tepi jurang. Lokasi tersebut ternyata benar dipakai sebagai tempat bersemayamnya kelompok Fretilin. Namun, jumlah prajurit kelompok Fretilin amat banyak, kira-kira 300-an orang. Angka yang sungguh tidak sebanding dengan pasukan kecil Kopassus.

Baku tembak antara pasukan kecil Kopassus dan kelompok Fretilin otomatis terjadi. Sayangnya, posisi berdiri pasukan Kopassus kurang menguntungkan. Mereka berada di tepi jurang yang ketinggiannya lebih rendah ketimbang kelompok Fretilin di atas bukit. Kalah secara posisi, membuat pasukan Kopassus mudah mendapat serangan bertubi kelompok Fretilin yang memang bersenjata lengkap.

Tembakan kelompok Fretilin berhasil melumpuhkan beberapa anggota Kopassus yang kemudian tewas. Sisa-sisa pasukan Kopassus yang masih bertahan coba menyelamatkan diri dengan berlari ke celah-celah bukit. Pasukan kecil Kopassus sungguh terdesak. Area celah bukit belum sepenuhnya aman, sebab kelompok Fretilin terus bergerak mendekat sembari melayangkan serangan tembakan.

Kondisi demikian membuat Pratu Suparlan mengambil inisiatif nekat. Ia langsung berbicara kepada pemimpin pasukan bahwa dirinya akan maju sendirian menahan laju kelompok Fretilin. Langkah ini dilakukan supaya pasukan kecil Kopassus punya waktu lebih banyak untuk mencari opsi kabur menyelamatkan diri.

Prosesnya begitu cepat, sampai akhirnya Pratu Suparlan berlari ke jasad rekannya yang memegang senjata mesin otomatis. Pratu Suparlan kemudian menampakkan tubuhnya di depan ratusan prajurit kelompok Fretilin. Benar-benar kalah jumlah, Pratu Suparlan sama sekali tak gentar menembaki pihak musuh menggunakan senjata mesin otomatis yang diambilnya tadi.

Aksi Heroik Pratu Suparlan

Lempar Granat Sambil Ucap Allahu Akbar, Pratu Suparlan Ajukan Diri Menahan  Serangan, Begini Kisah Sang Anggota Kopassus Saat Hadapi 300 Milisi  Fretilin Sendirian - Semua Halaman - Grid Hot

Sungguh sulit memenangkan pertempuran bila kalah jumlah. Apalagi jika kalah jumlahnya separah yang dihadapi Pratu Suparlan. Beliau hanya sendirian menghadang 300-an orang prajurit kelompok Fretilin yang terlatih dan bersenjata lengkap.

Benar saja, tubuh Pratu Suparlan jadi bulan-bulanan peluru pihak musuh. Entah berapa jumlah peluru musuh yang sudah menembus ke dalam tubuh Pratu Suparlan. Tapi Pratu Suparlan tetap sekuat tenaga berdiri menembakan senjata mesin yang dipegangnya ke gerombolan prajurit musuh.

Upaya Pratu Suparlan sebenarnya cukup berdampak walau tak terlalu signifikan. Tembakan Pratu Suparlan mengenai beberapa prajurit musuh. Aksi gigih nan heroik Pratu Suparlan tentu membantu pasukan kecil Kopassus yang tadi bersembunyi di celah bukit, untuk berlari ke arah yang lebih aman.

Patut ditekankan sekali lagi, Pratu Suparlan melawan di tengah kondisi tubuhnya yang sudah bersimbah darah dihujani peluru musuh. Pratu Suparlan terus menembakan senjata yang dipegang sampai amunisinya habis. Begitu peluru senjata tak tersisa, Pratu Suparlan belum jua terkapar dan malah meneruskan serangannya. Pratu Suparlan mengambil pisau untuk mengejar prajurit Fretilin yang ada di semak belukar.

Ada prajurit Fretilin yang kena tusuk pisau Pratu Suparlan. Bersama prajurit musuh yang ditusuknya, tubuh Pratu Suparlan ikutan roboh. Pratu Suparlan sudah kehabisan tenaga. Tubuhnya juga semakin kehilangan banyak darah. Dia lantas duduk terdiam di antara semak-semak.

Melihat Pratu Suparlan yang berhenti melancarkan perlawanan, kelompok Fretilin bergerak mendekat. Mereka menghampiri lokasi Pratu Suparlan duduk. Puluhan prajurit kelompok Fretilin kemudian mengerumuni Pratu Suparlan.

Dikelilingi kelompok serdadu musuh, jelas situasi yang amat tidak menguntungkan bagi Pratu Suparlan. Hampir bisa dikatakan pasti kalau Pratu Suparlan bakal tak selamat. Terlebih, kelompok musuh memang tampak siap memberikan tembakan terakhir untuk menghabisi nyawa Pratu Suparlan.

Salah satu serdadu Fretilin mengarahkan ujung senapannya ke leher Pratu Suparlan. Pelatuk tinggal ditarik sang serdadu agar memberhentikan sepenuhnya perlawanan Pratu Suparlan yang sedari tadi merepotkan. Namun, di kondisi yang serba tidak menguntungkan, akal Pratu Suparlan menemukan ide guna memberikan perlawanan terakhir.

Tangan Pratu Suparlan yang tadinya lemas, bergerak merogoh kantong celananya. Pratu Suparlan menggenggam sepucuk granat yang memang dibawanya sedari awal patroli. Diam-diam, Pratu Suparlan menarik tali granat di kantongnya. Lewat gerakan mengejutkan, Pratu Suparlan mengambil granat dan melompat ke arah kerumunan prajurit kelompok Fretilin. Pratu Suparlan melompat sembari meneriakan, “Allahu Akbar!”.

Seketika bunyi menggelegar hasil ledakan granat terdengar. Pratu Suparlan tewas di tempat dengan tubuh yang tidak utuh terpecah belah kena ledakan granat. Tapi, buah perlawanan terakhir Pratu Suparlan turut berhasil menelan korban dari pihak kelompok separatis Fretilin, setidaknya 80-an orang.

Pasukan kecil Kopassus yang bersembunyi di celah-celah bukit ternyata melihat langsung detik-detik Pratu Suparlan meledakan diri. Sepersekian detik mereka tercengang menyaksikan aksi heroik rekannya itu. Tapi mereka enggan terlalu lama hanyut dalam perasaan duka. Sisa tentara pasukan kecil Kopassus berusaha menyerang balik kelompok Fretilin.

Serangan balik membuat kelompok Fretilin yang sudah kocar-kacir akibat granat Pratu Suparlan tak berdaya. Pasukan kecil Kopassus pun sukses menangkap hidup-hidup sejumlah prajurit separatis. Dari situasi terdesak, patroli pasukan kecil Kopassus berakhir manis. Semua tak akan terjadi jika Pratu Suparlan tak mengorbankan dirinya dan melancarkan perlawanan sendirian yang sungguh heroik.

Usai mengurus tahanan perang pihak kelompok Fretili, Kopassus mengevakuasi sisa-sisa tubuh Pratu Suparlan. 7 orang anggota Kopassus yang tewas dalam serangan awal kelompok Fretilin ikutan dievakuasi. Semua anggota Kopassus yang masih hidup benar-benar dibuat lemas dan haru mendapati rekan-rekannya tewas, terutama Pratu Suparlan.

Pihak TNI memberikan apresiasi tinggi atas jasa luar biasa Pratu Suparlan. Otoritas berwenang memberikan penghargaan berupa KPLB atau Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Pangkat Pratu Suparlan dinaikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Penghargaan tertinggi kemiliteran Indonesia, Bintang Sakti, turut diberikan guna menghargai perjuangan Pratu Suparlan. Melalui Keputusan Presiden tahun 1987, penyerahan Bintang Sakti kepada Pratu Suparlan diresmikan. Negara sungguh menghargai kegigihan Pratu Suparlan dalam berjuang di medan perang.

Dewasa ini, nama Pratu Suparlan diketahui terpampang di Monumen Seroja yang ada di area markas TNI. Nama Pratu Suparlan diabadikan pula menjadi nama dari sebuah Lapangan Udara Perintis di bilangan Bandung sana.