Mengenang Iskak, Komedian Legendaris Indonesia yang Ikonik Membawakan Lakon Petruk

Minggu, 24 Oktober 2021, 04:11 WIB
57

Sebuah pilihan gila berani diambil pria bernama lengkap Iskak Darmo Suwiryo ketika memutuskan terjun menggeluti kesenian komedi.  Sebagai pemuda, Iskak punya cukup banyak pilihan karier yang menjanjikan. Dia adalah seorang pemuda yang bisa berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada yang terkenal itu. Sangat mungkin baginya bila mencari peluang profesi di ranah perbankan, perusahaan swasta top, ataupun menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Namun Iskak tidak mau menjalani kehidupan yang bukan berasal dari hatinya. Ia menyukai komedi dan akhirnya Iskak memilih meninggalkan kuliahnya demi serius mengembangkan karier sebagai pelawak. Toh, pilihannya tersebut ternyata tidak salah. Selain memberikan ketenaran dan rezeki yang lebih dari cukup, Iskak juga mendapatkan pengalaman-pengalaman hidup yang sungguh berwarna, yang mungkin tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Extra Chilli

Keputusan Iskak menjadi pelawak tidak terjadi begitu saja dalam waktu sekejap. Ia sebelumnya melewati proses merintis yang kurun waktunya tidak singkat. Jejak awal perkenalan Iskak dengan komedi bisa terlihat pada era 1950-an silam. Iskak kala itu pernah ikut serta lomba lawak yang diadakan di Yogyakarta. Ia mengakhiri kompetisi dengan status runner-up alias merebut gelar juara dua.

Lomba lawak di Yogyakarta membuka jalannya untuk menapaki karier lawak yang lebih tinggi. Peserta yang meraih juara satu dan tiga, yakni S.Bagyo serta Eddy Sud, tertarik membentuk grup lawak bersama Iskak. Grup lawak mereka bertiga akhirnya terbentuk dan eksis menggunakan nama EBI (akronim dari inisial nama mereka bertiga, Eddy, Bagyo, dan Iskak).

Kiprah EBI ternyata hanya gencar di awal-awal terbentuk saja. Mereka sempat rutin menghiasi panggung-panggung dan perlombaan lawak. Namun akibat perselisihan internal, EBI akhirnya tak berumur panjang. Setelah EBI bubar, Iskak mencoba peruntungan yang lebih nekat. Ia mengadu nasib merantau ke Jakarta.

Sesampainya di Ibu Kota, Iskak berkenalan dan menjadi dekat dengan rekan seprofesinya bernama Ateng. Kedekatan mereka lantas melahirkan grup lawak baru. Iskak mengajak eks personil EBI, Bagyo, untuk melengkapi trio grup lawak ini bareng Ateng. Namun kebersamaan Iskak, Ateng, dan Bagyo sebagai trio grup lawak cuma sebentar. Iskak lagi-lagi mendapati adanya permasalahan internal yang akhirnya menganggu kekompakan grup.

Setelah pisah dari Ateng dan Bagyo, karier Iskak memilih jalur solo. Ia mungkin trauma dengan situasi grup lawak yang melulu terhalang konflik internal. Maklum, menyatukan beberapa pemikiran dalam grup lawak memang merupakan tantangan yang rumit. Belum lagi jika ada salah satu personil yang sedang termakan ego, kondisinya pasti makin kacau, membuat performa di atas panggung bisa berantakan.

Koi Gate

Berjaya Bersama Kwartet Jaya

jarwoeeeeeeeeeeeeeee on Twitter: "ternyata dosen Pdt mirip pelawak ateng iskak :)) http://t.co/vy9GNmbtWe"

Empat tahun bersolok karier, Iskak menemukan kembali semangat membentuk grup lawak. Ia mengajak dua eks rekan grup lawaknya yang dulu, Eddy dan Ateng untuk bereuni sekaligus memulai babak baru. Iskak, Eddy, dan Ateng juga mengajak Bing Slamet. Mereka berempat resmi menjadi kesatuan grup lawak berformat kuartet. Awal berdiri, mereka berempat memilih eksis menggunakan nama Kwartet Kita.

Dalam perjalanannya, Kwartet Kita mendapat perhatian spesial dari Gubernur DKI Jakarta era itu, Ali Sadikin. Buktinya, Ali Sadikin memberikan saran perubahan nama yang kemudian dituruti Iskak dkk. Ali Sadikin menyarankan agar nama belakang grup diganti jadi “Jaya” yang terinspirasi dari kata “Jayakarta”. Setelah mendengarkan saran Ali Sadikin, Iskak dkk. resmi berganti nama jadi Kwartet Jaya.

Karier Kwartet Jaya merangkak naik dengan cukup mulus. Mereka awalnya hanya mengisi panggung-panggung lawak kecil dari satu daerah ke daerah lain. Lambat laun, reputasi Kwartet Jaya naik kelas hingga berhasil menembus ranah layar lebar. Film-film yang dibintangi Kwartet Jaya kebanyakan menyertakan nama Bing Slamet pada bagian judul. Hal ini disengaja karena permintaan produser film mereka. Menurut banyak produser, nama Bing Slamet lebih menjual dibanding personil-personil Kwartet Jaya yang lain, sehingga kebijakan tadi diambil demi meningkatkan jumlah penonton.

Kinerja para personil Kwartet Jaya bisa langgeng dan terus lucu berkat kekompakan mereka dalam berbagi tugas. Setiap personil memiliki ciri khas dan tugasnya masing-masing sehingga mereka dapat saling melengkapi satu sama lain. Kurang lebih pembagian tugas di Kwartet Jaya begini: Bing Slamet mengurusi komponen pemilihan lagu atau musik, Eddy menjadi komando tertinggi yang mengatur skrip lawak, Iskak ikonik dengan personanya yang berlagak seperti orang super bodoh, sementara Ateng lihai memainkan karakter orang sotoy yang menyebalkan sehingga mengundang kelucuan.

Sedang jaya-jayanya, Kwartet Jaya malah ditimpa musibah sekaligus kabar duka. Salah satu personil mereka, Bing Slamet, pergi meninggalkan grup untuk selama-lamanya alias meninggal dunia pada bulan terakhir tahun 1974. Duka mendalam serta rasa kehilangan benar-benar dirasakan setiap personil Kwartet Jaya pasca wafatnya Bing Slamet. Situasi ini berlangsung panjang, hingga membuat langkah Kwartet Jaya dalam berkarya kehilangan arah tujuan.

Makin lama, fokus Iskak, Ateng, dan Eddy kian buyar. Iskak dan Ateng secara tegas menyampaikan rasa pesimisnya kalau Kwartet Jaya bisa terus berjaya setelah ditinggal Bing Slamet. Sedangan Eddy sekuat mungkin berusaha mempertahankan kelanggengan grupnya dan mencoba menghidupkan lagi semangat Ateng serta Iskak. Namun upaya Eddy terbentur dengan situasi yang terlanjur begitu ambruk. Kwartet Jaya resmi dinyatakan bubar pada akhir tahun 1975.

Karier Perfilman

Indonesia Jaman Dulu - Pelawak-Pelawak jadul paling ngetop pada jamannya : Ateng Iskak dan Eddy Sud... | Facebook

Kehidupan Iskak selepas Kwartet Jaya bubar lebih banyak berinteraksi dengan Ateng. Wajar, Ateng merupakan orang yang banyak membimbingnya kala Iskak pertama kali mendaratkan kaki di Jakarta. Terus bersahabat dengan Ateng ternyata membawa berkah tersendiri bagi Iskak. Dia dan Ateng lumayan sering mendapat tawaran pekerjaan di industri layar lebar.

Film-film yang dibintangi Iskak dan Ateng masih mengusung genre komedi. Pola pembuatan judul film juga masih sama, menggunakan nama salah satu orang yang dianggap produser lebih menjual. Kali ini, Ateng yang dipilih produser untuk dipakai namanya di judul film. Beberapa contoh judul film yang dimaksud adalah Ateng Minta Kawin (1974), Ateng Raja Penyamun (1974), sampai Ateng Kaya Mendadak (1975).

Kalau menengok film-film yang dibintangi Iskak, dia mayoritas memerankan karakter orang menengah ke bawah. Ia pernah menjadi karakter supir angkutan umum hingga asisten rumah tangga. Tapi ada satu film yang dinilai banyak pihak menunjukkan kualitas kecerdasan akting serta komedi Iskak, yakni film “Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota” yang dirilis tahun 1981. Iskak dipercaya sutradara Imam Tantowi memerankan tokoh seorang pemuda desa yang memutuskan merantau ke Jakarta. Alur cerita menggambarkan Iskak suatu hari pulang ke desanya lagi. Seisi desa membicarakan Iskak karena salut dengan keberaniannya merantau ke Ibu Kota. Iskak mendadak jadi orang terpandang di desanya.

Adegan paling ikonik Iskak di film tersebut ketika beberapa warga desa datang kepadanya dan memintanya membantu untuk urusan pertandingan sepak bola. Tim yang dibentuk warga tidak punya pelatih, artinya Iskak diminta mengisi jabatan pelatih. Dalam hati, sebenarnya Iskak tak sanggup, sebab dia tak punya keahlian lebih mengenai sepak bola. Namun karena reputasinya sebagai orang terpandang desa, Iskak tetap nekat menerima permintaan warga.

Ketika melatih tim desanya, Iskak menutupi kekurangannya tentang sepak bola dengan bersikap sombong. Ia juga membuat program latihan yang sebenarnya asal-asalan tapi dikemas dengan filosofi indah. Iskak menyuruh para pemainnya berlari menuju suatu titik sambil membawa sepucuk petasan yang menyala. Jika sudah sampai di titik tujuan, ada ember berisi air yang bisa dipakai untuk mematikan petasan. Iskak dengan sombongnya menyebut kalau metode latihan ciptaannya sudah banyak diterapkan pelatih-pelatih hebat guna menempa kekuatan fisik dan ketahanan stamina pemain.

Tenar sebagai Petruk di Layar Kaca

Ria Jenaka Milenial, Nostalgia 80an dengan Kemasan Anak Muda - Kompasiana.com

Karier Iskak sebagai pelawak akhirnya memasuki industri layar kaca pada periode 1980-an. Kala itu stasiun televisi TVRI yang masih satu-satunya di Indonesia, mempercayakan Iskak mengambil pekerjaan di acara bertajuk Ria Jenaka. Acara ini tayang di TVRI setiap akhir pekan. Namun belakangan diketahui kalau Ria Jenaka merupakan acara yang jadi alat propaganda pemerintahan era Orde Baru pimpinan Soeharto. Produser acara Ria Jenaka diminta mengemas cerita komedi yang menggambarkan kebijakan-kebijakan pemerintah. Lewat acara Ria Jenaka yang bergenre komedi, Orde Baru seakan ingin mengampanyekan kalau pemerintahan Soeharto merupakan hal yang menyenangkan masyarakat.

Acara Ria Jenaka lantas berjalan memakai konsep cerita dari tokoh-tokoh perwayangan Jawa, Punakawan. Sekedar pengingat, Punakawan berdasarkan cerita aslinya terdiri dari tokoh bernama Semar yang punya tiga anak, Gareng, Petruk, dan Bagong. Versi asli pewayangan Jawa, Punakawan memang punya kebiasaan menghibur banyak orang.

Pada acara Ria Jenaka, Iskak memerankan karakter Petruk. Iskak kembali satu kerjaan dengan Ateng yang memainkan tokoh Bagong. Sementara tokoh Semar dan Gareng diberikan kepada Sampan Hismato serta Slamet Harto. Kinerja keempatnya di layar kaca selalu mampu menghadirkan guyonan lucu yang sesuai pesanan Orde Baru. Mereka tak jarang mengusung genre komedi Slapstick yang mana saling mengejek satu sama lain untuk memancing gelak tawa.

Umur acara Ria Jenaka tergolong amat panjang, bahkan lebih dari sepuluh tahun lamanya setia menyapa penonton TVRI. Ria Jenaka diketahui memberhentikan produksinya pada tahun 1996. Empat tahun pasca Ria Jenaka tutup operasionalnya, Iskak tutup usia. Sang komedian yang memainkan tokoh Petruk meninggal dunia tepat di tanggal 16 Januari 2000.