Mengenang Kegilaan Piala Dunia 2010 di Babak Perempatfinal

Jumat, 31 Desember 2021, 20:31 WIB
54

Perempatfinal Piala Dunia, sebagai sebuah tim, Anda jika sudah mencapai tahapan ini, pastinya dapat mencium atmosfer yang berbeda, yakni harum akan ketenaran dan kemuliaan. Tersingkir di babak ini tampaknya tidak buruk-buruk amat, karena tidak terlalu dekat ke final, tapi belum jauh sekali dari final. Sementara semi-final, diibaratkan berdiri di sebuah gerbang untuk memasuki Tanah Perjanjian (seperti Kanaan untuk orang Israel di berbagai kitab suci) atau jika kalah, tetap dipandang sudah berusaha dengan gagah berani. Seperti contohnya Inggris yang tersingkir di semi-final Piala Dunia 1990, namun masih dipuja-puja dan dibanggakan oleh masyarakat di sana sampai sekarang. Tapi, jika kalah di perempatfinal, jauh berbeda bahkan bisa-bisa kalian kehilangan para pemain yang sebenarnya punya potensi untuk jadi legenda selanjutnya.

Dari sederet edisi Piala Dunia yang sudah dimainkan, terdapat beberapa babak perempatfinal yang hebat dan pantas dikenang, misalnya, tahun 1970 antara Inggris vs Jerman Barat. Namun perlu kita ingat, bahwa saat itu, formatnya tidak seperti sekarang. Dulu, babak delapan besar masih terbagi dua grup dan para pemuncaklah yang bertemu di pertandingan final.

Beda jauh banget dan cukup sulit untuk relate dengan format yang sekarang. Oleh karena itu, kita akan mencoba membahas kegilaan-kegilaan yang terjadi di perempatfinal Piala Dunia era modern ini. Kami memilih kegilaan paling luar biasa terjadi di perempatfinal Piala Dunia 2010, tepatnya pada tanggal 2 dan 3 Juli. Kenapa kami mengatakan demikian? Karena bagi para pecinta sepak bola internasional, dua hari tersebut benar-benar melelahkan karena begitu banyak drama, kontroversi dan juga kegembiraan tentunya, semuanya terjadi di babak perempatfinal.

Piala Dunia 2010 yang juga kali pertama FIFA menggelar turnamen akbar ini di benua Afrika, tidak butuh waktu lama untuk melahirkan kejutan dan kontroversi. Misalnya, kejatuhan raksasa seperti Prancis, lalu ada Spanyol – yang akhirnya jadi juara – harus kalah di partai perdana dari Swiss di fase grup. Kalian juga tentu ingat dengan gol Frank Lampard yang dianulir ke gawang Jerman, yang menghantam tiang gawang atas lebih dulu, lalu memantul keluar padahal sudah melewati garis gawang di babak 16 besar. Semua kejadian ini mengerucut dan gongnya ada di perempatfinal, empat pertandingan yang mempertemukan delapan tim yang beberapa di antaranya adalah kuda hitam.

 

Perempatfinal Piala Dunia 2010, Penuh Kegilaan dan Drama

Drama yang melelahkan yang saya bilang di atas terjadi pada tanggal 2 Juli di Stadion Nelson Mandela Bay di Port Elizabeth, dengan dua raksasa Piala Dunia, Belanda dan Brasil saing berhadapan demi satu tiket ke semifinal. Brasil yang menyandang status juara lima kali, menghadapi Belanda, negara yang belum pernah juara, hanya pernah dua kali finalis saja.

Brasil sebenarnya lolos sampai ke babak perempatfinal saat itu, dengan performa dan semangat yang meluap-luap. Mereka memuncaki klasemen di fase grup dengan mengantongi tujuh poin. Babak 16 besar mereka juga tidak terlalu kesulitan memulangkan Chile lebih cepat dengan kemenangan 3-0. Pada 2010 ini, Brasil masih dimiliki para pemain hebat nan legendaris mereka, sebut saja, Luis Fabiano, Robinho, Kaka, Dani Alves dan bahkan Maicon masih prima.

Sementara Belanda saat itu juga lolos dari fase grup sebagai pemuncak klasemen dengan rekor kemenangan 100 persen. Di babak 16 besar, mereka juga mengalahkan Slovakia dengan skor 2-1. Sama seperti Brasil, De Oranje punya sederet bintang seperti Robin Van Persie, Arjen Robben, Dirk Kuyt yang akan disokong oleh para gelandang hebat; Wesley Sneijder, Van Bommel dan De Jong.

Dengan warna oranye dan kuning memenuhi stadion, Brasil sendiri bermain dengan seragam biru dan Belanda pakai warna kebanggaan mereka. Robinho menjadi pencetak gol saat laga baru berjalan 10 menit saja membawa negaranya unggul 1-0.

Brasil benar-benar menguasai permainan dengan Dani Alves dan Maicon sudah seperti tuas yang membuat kerja mesin terus konsisten. Keduanya naik turun menyisir lapangan, baik secara bertahan atau melepaskan umpan-umpan mengerikan ke pertahanan Belanda.

Namun saat babak kedua dimulai, Robben membuat pertahanan Brasil kaget dengan kecepatannya. Dia memberikan umpan kepada Sneijder yang langsung tanpa ampun dilesakkan ke arah gawang dan gagal dihalau oleh Julio Cesar. Kedudukan imbang 1-1 pada menit ke-53.

Lima belas meit kemudian, Robben lagi-lagi jadi pelayan untuk Sneijder dari skema tendangan sudut. Umpan dari tendangan sudut tepat mengarah ke Sneijder yang kemudian menanduk bola, menit ke-67, Belanda unggul 2-1. Setelah itu, tensi pertandingan makin tinggi, dengan Felipe Melo melanggar keras Robben. Melo harus keluar lapangan karena wasit memberinya kartu merah.

Meski kalah dari jumlah pemain, Selecao memang terus mencari gol penyama kedudukan, namun mereka tidak pernah bisa memberi ancaman berarti ke gawang Marteen Stekelenburg. Saat peluit panjang tanda pertandingan berakhir, skor 2-1 masih bertahan untuk keunggulan Belanda. Jawara lima kali itu harus pulang kampung.

 

Ghana, Sebuah Energi Besar Membawa Nama Benua Afrika

Beberapa jam dari pertandingan ketat itu, kita disuguhkan drama lainnya saat Ghana menghadapi Uruguay di Johannesburg. Banyak fans yang menjagokan Ghana kala itu, karena mereka bakal mengukir sejarah sebagai tim Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia jika mengalahkan Uruguay. Melakukannya di benua mereka sendiri, tentu akan terasa lebih manis jika dikenang.

Namun jauh di balik harapan besar itu ada kekhawatiran karena Ghana hanya mampu mencetak dua gol saja sepanjang babak grup, keduanya dicetak oleh Asamoah Gyan. Di babak 16 besar, Asamoah Gyan, jadi pahlawan ketika mencetak gol ketiganya dan memenangkan negaranya kontra Amerika Serikat. Namun lawan mereka di perempatfinal kali ini adalah Uruguay. Asamoah Gyan seorang tentu saja tidak bisa menghadapi negara yang dipimpin oleh Diego Forlan dan Luis Suarez. Forlan mencetak dua gol di fase grup, sementara Suarez mencetak dua gol sekaligus saat menyingkirkan Korea Selatan di babak 16 besar. Selain dua nama penyerang tersebut, ada juga striker yang masih muda kala itu, Edinson Cavani.

Permainan dimulai dengan lambat dan seperti tidak ada energi yang terbakar, setidaknya sebelum turun minum. Saat babak pertama hendak berakhir, Sulley Muntari melepaskan tendangan secara mendadak dan mengarahkannya ke sudut atas gawang Muslera. Gol! Kedudukan 1-0 untuk keunggulan Ghana saat babak pertama berakhir.

Tapi keunggulan itu hanya bertahan 10 menit saat babak kedua dimulai. John Pantsil membuat Fucile terjatuh persis di tepi kotak penalti. Eksekusi bola mati itu berupa umpan silang yang langsung disambut dengan tandukan oleh Forlan, membuat kiper Ghana tidak dapat menjangkaunya. Forlan menyamai tiga gol Suarez di Piala Dunia 2010.

Skor imbang 1-1 bertahan hingga 90 menit berakhir dan laga harus ditentukan lewat babak perpanjangan waktu. Dua kali lima belas menit berjalan dengan ketat, hingga di penghujung perpanjangan waktu, Ghana hampir mencetak keunggulan saat laga menyisakan 30 detik saja. Tendangan bebas Kevin-Prince Boateng berhasil jatuh di kaki Stephen Appiah, yang langsung meluncurkan tembakan keras ke gawang Muslera, namun Suarez menghalau bola dengan tangannya dan menggagalkan kemenangan di depan mata untuk Ghana. Wasit langsung menunjuk titik putih kotak penalti dan memberi Suarez kartu merah atas tindakannya itu. Asamoah Gyan, yang mencetak kedua golnya dari tendangan penalti di fase grup, tentu saja ditunjuk jadi algojo kali ini.

Saat Muslera sudah tidak bisa mengantisipasi tendangannya, sepakan Gyan malah menghantam tiang gawang yang membuat penalti ini sia-sia. Muslera benar-benar bersemangat setelah tendangan penalti itu membentur tiang. Saat Gyan masih tertunduk, wasit meniup peluit panjang tanda perpanjangan waktu selesai dan laga harus ditentukan lewat babak adu penalti.

Hanya beberapa menit setelah kegagalannya itu, di babak adu penalti kali ini, Gyan berhasil menjebol gawang Muslera. Begitu juga dengan Stephen Appiah, namun Uruguay juga berhasil dalam tiga tendangan penalti yang dieksekusi oleh Diego Forlan, Victorino dan Scottl. Sementara penendang ketiga Ghana, John Mensah harus melihat eksekusinya digagalkan oleh Muslera. Harapan masih ada untuk Ghana ketika penendang keempat Uruguay, Pereira berteriak kesal ketika penaltinya malah membumbung tinggi. Adiyiah yang menjadi penendang keempat Ghana, sepakannya digagalkan kembali oleh Muslera. Hingga Sebastian Abreu-lah yang menjadi penentu kemenangan Uruguay, alias penendang kelima dan mampu membawa negaranya unggul 4-2 lewat babak adu penalti dan lolos ke semifinal.

Meski pemenang sudah ditentukan, setelah laga ini terdapat diskusi panjang di kalangan para pecinta sepak bola di seluruh dunia. Mereka kesal dengan tindakan curang Luis Suarez, bagaimana bisa anda melakukannya, menghalau bola pakai tangan di sebuah turnamen paling akbar di dunia sepak bola.

 

Argentina Tidak Berkutik, Spanyol Dibuat Ketar-ketir oleh Paraguay

Perempatfinal Piala Dunia 2010 kembali berlanjut ke pertandingan yang mempertemukan dua raksasa, yakni Argentina vs Jerman. Raksasa Eropa seperti tanpa kesulitan saat menggilas wakil Amerika Selatan dengan skor empat gol tanpa balas. Thomas Muller mencetak gol cepat saat pertandingan baru berjalan tiga menit, lalu Miroslav Klose yang mencetak brace menit 68’ dan 89’, dilengkapi oleh gol Arne Friedrich menit ke-74.

Argentina benar-benar seperti diajarkan gaya bermain sepak bola modern oleh Jerman. Juara dua kali Piala Dunia, yang memenangkan empat pertandingannya sampai perempatfinal edisi ini, harus pulang mengikuti tetangganya Brasil.

Kini TV menyiarkan Paraguay yang menjadi salah satu kuda hitam menghadapi kandidat juara yakni Spanyol. La Roja telah mengatasi kekalahan mengejutkan mereka pada pembukaan dari Swiss dengan berada di puncak klasemen grup, sebelum memenangkan pertandingan kontra negara tetangga, Portugal dengan skor 1-0. David Villa memimpin tim dari depan, mencetak empat dari lima gol yang dicetak oleh skuat asuhan Vicente del Bosque di sepanjang turnamen ini.

Sementara Paraguay juga tidak bisa dipandang sebelah mata, setelah memuncaki fase grup, di mana tergabung juga bersama Italia yang tereliminasi secara mengejutkan. Paraguay bahkan mampu menahan imbang Jepang hingga babak adu penalti dengan total lima eksekusi yang sukses. Ini merupakan perempatfinal Piala Dunia pertama sepanjang sejarah sepak bola Paraguay.

Benar saja, babak pertama terlihat sulit untuk Spanyol, kandidat juara yang jelas tidak tahu seperti apa kualitas sesungguhnya dari tim Paraguay kala itu. Paraguay bahkan sempat mencetak keunggulan di babak pertama, namun Oscar Cardozo yang menanduk bola, dianggap sudah berada di posisi offside lebih dulu, golnya pun dianulir. Kedua tim turun minum dengan skor imbang tanpa gol.

Jika ini bukan drama, tapi pertandingan Paraguay vs Spanyol ini bak Daud vs Golliath. Apalagi di babak kedua, permainan dari kedua tim benar-benar menghibur. Del Bosque bahkan hampir kaget ketika timnya lagi-lagi nyaris tertinggal, saat Cardozo melepaskan sepakan yang beruntung masih bisa diselamatkan oleh Iker Casillas.

Tidak ingin larut dalam perasaan bertanya-tanya kualitas Paraguay, Spanyol pun mulai mencoba menguasai permainan. Beberapa peluang juga berhasil mereka luncurkan ke gawang Paraguay yang masih belum menjadi gol hingga menit ke-83. Tujuh menit sebelum 90 menit berakhir, Andres Iniesta melepaskan umpan pacu yang diiringi lari kencang Pedro dan menyelesaikannya dengan tendangan keras. Tembakannya membentur tiang, namun bola rebound, disambut oleh David Villa dan Gol. Keunggulan 1-0 ini bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, Spanyol bernafas lega karena mampu mengamankan tiket ke semifinal tanpa harus perpanjangan waktu.

Selain menghindari perpanjangan waktu, kepastian lolos ke semifinal Piala Dunia 2010 tersebut, merupakan kali pertama mereka menembus empat besar di turnamen ini. Sekaligus juga mematahkan kutukan Piala Dunia dengan akhirnya memastikan gelar juara setelah melewati Jerman (0-1) dan Belanda (0-1).

Seusai pertandingan perempatfinal sudah dimainkan kurang lebih membutuhkan 48 jam, empat laga ini benar-benar tidak bisa ditandingi dengan edisi Piala Dunia manapun. Para penonton sudah melihat tim favorit dikalahkan, para pemain curang yang menghasilkan patah hati namun juga semangat besar dari para wakil benua Afrika. Sungguh luar biasa dan semoga saja bisa terulang kegilaan semacam ini di Piala Dunia 2022 tahun depan.