Mengenang Mendiang Robert Enke, Calon Kiper Nomor Satu Jerman yang Tewas Bunuh Diri

Jumat, 29 Oktober 2021, 15:09 WIB
36

Robert Enke bermain untuk beberapa klub top Eropa. Mengawali karier bersama Borussia Mönchengladbach dan klub Liga Portugal, Benfica, ia perlahan membangun reputasi mengesankan. Kiprah apik Enke lantas meyakinkan raksasa Liga Spanyol, Barcelona, yang masih dibesut Louis van Gaal, untuk mengontraknya pada 2002.

Ujian berat menghadang Enke sepanjang memperkuat Blaugrana. Setelah menjalani masa sulit bersama Tim Catalan, ia akhirnya menetap di Hannover 96. Keputusnnya gabung Hannover membawanya menjadi salah satu penjaga gawang paling berwibawa di sepak bola Jerman.

Power of Thor Megaways

Namun karier Enke telah terpengaruh oleh gangguan kesehatan mental. Ia mengalami depresi bahkan sebelum kematian putrinya yang berusia dua tahun, Lara, pada tahun 2006, yang lahir dengan kelainan jantung parah. Enke pertama kali didiagnosis mengidap depresi pada tahun 2002, setelah tidak disukai di Barcelona dan situasi perkembangan kariernya yang mandek selama masa pinjaman di Turki dan divisi kedua Spanyol.

Pada Mei 2009, Robert dan istrinya, Teresa, mengadopsi seorang putri berusia dua bulan, Leila. Mereka membawa Leila untuk hidup bersama mereka di desa Empede, Lower Saxony, di mana pasangan itu juga memelihara sembilan anjing dan dua kucing yang mereka selamatkan dari jalanan.

Mereka sering melepas penat dengan beristirahat di Portugal, tempat Robert menikmati salah satu masa paling bahagia dalam kariernya. Mereka juga diketahui memiliki rumah yang biasa dijadikan tempat berlibur, yang letaknya ada di luar kota Lisbon.

Karier Enke memang kembali ke jalur yang tepat dengan perannya selaku penjaga gawang Hannover. Banyak pakar dan pengamat sepak bola di Jerman mendesaknya untuk meninggalkan klub papan tengah Bundesliga supaya memajukan peluangnya masuk Timnas Jerman. Raksasa Bundesliga, Bayern Munich dikabarkan sempat menunjukkan ketertarikan merekrut Enke, tapi tak gagal terwujud.

Chronicles of Olympus X Up

Memasuki periode antara tahun 2008 dan tahun 2009, depresi berat kembali menyerang Enke sekaligus mempengaruhi kariernya. Enke menerima terapi, tetapi tidak pernah dirawat di institut perawatan psikiatri. Dia takut jika melakukan perawatan intensif akan menjadi tanda akhir dari karier sepak bolanya yang sejatinya sedang menanjak.

Pada November 2009, Enke tak lagi kuat menanggung beban depresinya. Berbarengan dengan terbukanya peluang bagi Enke di panggung internasional, dan tawaran dari klub-klub besar di seluruh Eropa, Enke mengakhiri hidupnya sendiri yang kala itu berusia 32 tahun.

Enke sudah berjuang keras melewati hari demi hari dilanda depresi. Total ada tiga kali depresi berat menyerang Enke. Sayangnya, serangan depresi yang terakhir membuat Enke harus meregang nyawa.

Padahal sebelum berkutat dengan depresi, Enke dikenal orang-orang di sekitarnya sebagai pria yang sungguh periang. Ia sering melontarkan lelucan menggelitik nan menghibur. Dia juga merupakan sosok suami dan ayah yang tangguh bagi istri serta anaknya.

Hari-hari Terakhir Enke

Pertandingan sepak bola terakhir yang dimainkan Enke adalah ketika dia mengawal gawang Hannover untuk meladeni perlawanan Hamburg pada 8 November 2009. Gawang Enke dijebol dua kali, dan laga antara Hannover dan Hamburg berakhir imbang 2-2. Itu hanya dua hari sebelum kematiannya.

Awal musim 2009/10, Enke telah menghabiskan beberapa waktu jauh dari sepak bola dan tim utama Hannover untuk berjuang melawan depresinya. Ketika dia kembali, semua orang di Hannover menyambutnya bahagia. Seperti yang diingat oleh agen Enke, Jorg Neblung, bahkan jika kliennya turun berlaga dan memberikan penampilan yang biasa-biasa saja, semua pemain Hannover beserta pelatih tetap menganggapnya merupakan sebuah kemajuan.

“Seperti yang dapat Anda bayangkan, itu adalah situasi yang sangat sulit, tetapi kami mendapat kesan bahwa dia semakin membaik beberapa hari sebelumnya,” kata Jorg Neblung.

“Itu bukan permainan terbaik untuknya, tapi itu tidak penting, dia berada di lapangan selama 90 menit, dia kembali ke area VIP setelah pertandingan, kami senang pada saat itu.

“Kami membawanya pulang, bagi kami semua, kami mendapat kesan bahwa dia menjadi lebih baik, bahwa ini adalah perubahan haluan. Tetapi satu minggu kemudian kami tahu ini bukan kebenaran.

“Ketika orang memutuskan mereka akan mati di hari-hari berikutnya, mereka lebih terbuka, mereka dapat menatap mata Anda secara tiba-tiba. Kami berpikir, ‘Oke, dia menjadi sehat kembali, inilah perubahannya’.

“Tapi sungguh dia tahu bahwa, dalam beberapa hari mendatang, itu akan menjadi akhir dari rasa sakit.”

Bagi istri Enke, Teresa, laga terakhir suaminya memberikan gambaran yang sulit buat dikenangnya. Teresa ingat betul Enke memperlihatkan gelagat aneh sesaat setelah peluit panjang ditiupkan. Enke menoleh ke langit sambil melambaikan tangan, seakan sedang mengucapkan salam perpusisahan sekaligus menyapa surga.

“Ada satu momen di pertandingan terakhirnya yang menurut saya sangat sulit,” kata Teresa.

“Sepertinya dia mengucapkan selamat tinggal dan melihat ke surga. Bagi saya pemandangan ini sangat menyakitkan,” lanjutnya.

Memasuki hari Senin setelah pertandingan, Enke meninggalkan rumah di pagi hari. Sebelum berangkat, Enke sempat menyapa istrinya dan berbincang sebentar. Enke memberi tahu istrinya bahwa dia harus menghadiri sesi pelatihan Hannover.

Malam harinya, Enke tak kunjung pulang ke rumahnya. Teresa yang khawatir lantas menelpon pelatih penjaga gawang Hannover. Sang pelatih mengatakan kepada Teresa bahwa para pemain tidak berlatih hari itu, dan suaminya tidak ada di markas klub.

Masih berusaha mencari keberadaan suaminya, Teresa turut menghubungi Neblung. Mendengar kabar Enke tak pulang, Neblung berusaha berpikiran positif sembari menenangkan Teresa lewat telepon. Neblung lantas bergegas menuju kediaman Enke.

Setibanya di rumah Enke, Neblung langsung menemui Teresa. Neblung meminta agar Teresa memberikan izin untuk masuk memeriksa ruangan kamar tidur. Pikirnya, mungkin akan ada suatu petunjuk yang menjelaskan di mana keberadaan Enke.

Firasat Neblung ternyata benar. Dia menemukan sepucuk surat yang berisi salam perpisahan Enke kepada Teresa. Ada yang tidak beres, Neblung segera menelpon layanan darurat untuk meminta bantuan mencari keberadaan Enke.

“Dia menemukan suratnya, jadi saya segera menelepon saluran darurat. Ketika saya memberi tahu mereka nama orang itu, ‘Robert Enke’, ada dua detik hening di mana mereka menyadari bahwa kami sedang berbicara tentang penjaga gawang tim nasional Jerman,” ungkap Neblung.

Pukul 18:15 hari Senin, di area perlintasan kereta api di Eilves, tidak jauh dari rumah Enke, penjaga gawang Hannover ditabrak oleh kereta cepat rute regional yang melakukan perjalanan dari Hamburg menuju Bremen. Mobil Enke ditemukan di dekat tempat kejadian, tidak terkunci, dengan dompet yang tergeletak di kursi.

Kedua masinis yang mengemudikan kereta melaporkan kepada pihak berwajib bahwa mereka melihat seorang pria di rel. Mereka sudah coba menggerakkan tuas rem supaya menghindarkan tabrakan. Namun upaya para masinis tak membuahkan hasil, sebab kereta sedang melaju dalam kecepatan yang begitu tingggi. Tabrakan pun terjadi, Enke tewas seketika di tempat.

Kabar duka kematian Enke meluas. Keesokan harinya, para penggemar Hannover berkumpul di luar stadion untuk meletakkan bunga dan menyalakan lilin sebagai tanda berduka. Neblung kemudian mengadakan konferensi pers, di mana dia mengatakan kepada dunia sepak bola bahwa Enke telah memilih untuk mati karena bunuh diri.

Respon Orang-orang Terdekat Enke

10 November 2009 Robert Enke meninggal dunia setelah nekat melakukan aksi bunuh diri. Ia dengan sengaja berdiri di tengah rel agar tubuhnya hancur ditabrak kereta. Kabar tewasnya Enke tentu mengundang duka mendalam bagi jagat sepak bola, khususnya di Jerman sana.

Pada hari yang sama dengan kematian Enke, Timnas Jerman sedang berkumpul di sebuah hotel untuk mempersiapkan pertandingan persahabatan kandang melawan Chili. Asisten pelatih Oliver Bierhoff berdiri dan menyampaikan kepada semua anak asuhnya mengenai sebuah berita penting.

Bierhoff baru saja memberi tahu para pemain bahwa Robert Enke, penjaga gawang yang akan menjadi kiper nomor satu Jerman di Piala Dunia 2010, telah ditabrak kereta api di perlintasan rel di dekat rumahnya. Sebuah surat perpisahan untuk istrinya ditemukan, di mana Enke menulis tentang niatnya untuk mengambil nyawanya sendiri.

Begitu Bierhoff selesai berbicara, suasana yang awalnya riuh mendadak langsung hening. Tidak ada yang mampu mengucapkan kata guna menggambarkan kesedihan di hati. Semuanya begitu terpukul mendengar kepergian Enke yang teramat tragis.

Mantan bek Timnas Jerman, Per Mertesacker, yang ada di hotel mendengar pengumuman dari Bierhoff, mengaku kesulitan melanjutkan karier pasca mengetahui kabar tewasnya Enke. Mertesacker sebagai rekan sejawat Enke merasa gagal menolong temannya. Semasa bermain dan berlatih bersama, Mertesacker tak pernah melihat Enke memunculkan raut murung ataupun menderita. Ternyata Enke menyimpan beban kehidupan yang begitu berat tanpa pernah Mertesacker dan teman-temannya ketahui.

Duka mendalam ikut dirasakan oleh semua rekan setim Enke di Hannover. Mereka yang bukan pemain Jerman, kebanyakan sedang tersebar di berbagai penjuru dunia dalam tugas negaranya masing-masing melakoni laga internasional. Salah satunya ialah Karim Haggui, palang pintu Hannover yang perannya selalu membantu Enke mengamankan jala gawang tim dari ancaman kebobolan.

Karim Haggui telah bergabung dengan Hannover pada musim panas 2009. Baginya, Robert adalah citra klub, dan jalur komunikasi utama dalam perannya sebagai bek tengah. Ketika Haggui menerima telepon dari Jerman yang menyampaikan kabar duka kematian Enke, dia sedang mempersiapkan diri menatap laga kualifikasi Piala Dunia 2010 bersama Timnas Tunisia.

Selepas jeda internasional, Haggui bersama seluruh pemain Hannover kembali berkumpul melanjutkan kompetisi. Laga pertama yang dimainkan Hannover pasca Enke wafat adalah bertandang ke markas Schalke 04. Mereka masih dirundung duka, sehingga sama sekali tak ada motivasi untuk bertanding dan akhirnya dikalahkan Schalke 0-2.

Sebelum laga Schalke vs Hannover dimulai, semua yang ada di stadion, baik pemain maupun suporter Schalke, memberikan penghormatan mengenang sosok Enke. Begitu pula dengan laga-laga Bundesliga Jerman lainnya, semua tim memberikan penghormatan serupa. Wafatnya Robert Enke benar-benar menyisakan duka mendalam, yang mungkin masih dirasakan orang-orang terdekatnya hingga sekarang.