Mengenang Sosok Ratmi B-29, Pelawak Wanita Legendaris yang Berstatus Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Minggu, 24 Oktober 2021, 04:01 WIB
40

Masyarakat Indonesia cenderung mengenang sosoknya sebagai pelawak. Namun setelah meninggal dunia, jasad Suratmi atau yang akrab disapa Ratmi, dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Sepintas fenomena tersebut agak janggal, sebab TMP umumnya dipergunakan untuk memakamkan orang-orang yang bergelar pahlawan atau memiliki jasa besar bagi Indonesia. Sementara Suratmi yang sepanjang era 1960-an sampai 1970-an mahsyur menghiasi jagat hiburan Tanah Air, tampak begitu jauh dengan perjuangan membela negara.

Memang betul ketika Ratmi berada di puncak popularitas, dia hanya fokus menggeluti kariernya sebagai pelawak top. Beda cerita kalau kita menengok masa-masa sebelum Ratmi terkenal, rekam jejaknya ternyata terlibat dalam upaya perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan. Bahkan Ratmi diketahui pernah aktif di kesatuan militer dan mendapatkan pangkat yang lumayan tinggi.

Power of Thor Megaways

Darah militer Ratmi mungkin mewarisi ayah kandungnya, Salimin. Sang ayah pada periode penjajahan kolonial Belanda, masuk ke satuan tentara Koninklijk Nederlansch Indische Leger (KNIL). Jabatan terakhir Salimin sebelum wafat adalah sersan kelas satu yang membidangi korps infanteri dari KNIL. Rekam jejak Salimin diketahui terlibat dalam sejarah bangsa yang sedang berupaya memerdekakan diri.

Tahun 1942, kependudukan pemerintahan kolonial Belanda terusik oleh kehadiran Jepang. Serdadu Jepang menginvansi sejumlah daerah yang sebelumnya dikuasai Belanda. Satuan tentara KNIL ikut terdampak di momen peralihan kekuasaan Bumi Pertiwi. KNIL dilucuti Jepang. Banyak tentara KNIL yang akhirnya menjadi tawanan Jepang dan dijebloskan ke dalam penjara, termasuk Salimin.

Khusus menyoroti kisah Salimin, ia menjadi tawanan Jepang kurang lebih selama tiga bulan lamanya. Keberadaan Salimin di penjara otomatis membuatnya harus rela meninggalkan Ratmi dan keluarganya yang lain. Setelah masa kurungan tiga bulan berakhir, Salimin kembali menghirup udara bebas. Ia bisa berkumpul bersama keluarganya lagi, melepas rindu di tengah kengerian kependudukan Jepang.

Tapi momen kebersamaan Salimin pasca bebas tak berlangsung lama. Baru sebentar menikmati pertemuan dengan Ratmi, Salimin keburu dipanggil Yang Maha Kuasa. Ratmi tentu dirundung duka mendalam atas kepergian ayah tercinta. Beruntung, Ratmi masih punya anggota keluarga lain yang memberikan dukungan dan semangat agar dia terus berkembang menjadi wanita yang kuat.

Benar saja, Ratmi pada kemudian hari memiliki keberanian dan keteguhan tekad luar biasa. Mungkin ditenggarai kenangan pahit ayahnya yang harus pergi untuk selama-lamanya setelah ditawan pemerintahan Jepang, Ratmi ikut berjuang mengangkat senjata mengusir penjajah. Sejarah mencatat bahwa nama Ratmi sempat masuk ke satuan pejuang perempuan Barisan Srikandi dan Laskar Wanita Indonesia.

Chronicles of Olympus X Up

Saat bertugas di Laskar Wanita Indonesia, Ratmi berstatus serdadu dengan pangkat sersan dua. Operasionalnya berada dalam arahan pemimpin organisasi, Sumarsih Subiyati. Pada 1945, ia pernah pula dipercaya masuk ke batalion tentara yang berjuang di kawasan Banyumas, Jawa Tengah. Suratmi berada di garis terdepan berhadapan langsung dengan komplotan tentara penjajah.

Perjuangan Suratmi dan segenap rekan sejawat akhirnya menemui keberhasilan. Indonesia merdeka pada 1945, agresi militer Belanda yang terjadi pasca Proklamasi juga diredam. Ratmi sendiri merasa sudah cukup berjuang di satuan tentara begitu Indonesia benar-benar merdeka. Ia keluar dari dunia kemiliteran pada 1949. Tapi Ratmi menjadi warga sipil dengan gelar spesial, yakni Bintang Gerilya, sebuah penghargaan yang diberikan kepada tentara eks pejuang perang revolusi.

Merintis Karier di Kesenian

Ratmi B-29, Veteran Perang yang Terjun ke Dunia Komedi

Ketika ayahnya ditawan oleh tentara Jepang, pamannya langsung berinisiatif menjaga dan merawat Ratmi. Sang paman mengetahui hati Ratmi begitu hancur melihat nasib ayahnya. Ratmi jadi malas-malasan bersekolah, sering bolos, nilainya juga jelek. Tak mau memaksakan Ratmi, sang paman merasa lebih baik kalau keponakannya berhenti sekolah.

Pasca putus sekolah, Ratmi mengisi kegiatan hari-harinya dengan ikut menemani pamannya berkeja. Sang paman diketahui berprofesi sebagai buruh di sebuah pabrik senjata yang lokasinya ada di daerah Kiaracondong, Bandung. Namun sang paman enggan melihat Ratmi terus-terusan bekerja kasar seperti dirinya. Pamannya lantas mencoba mendalami potensi Ratmi yang dapat dikembangkan.

Setelah beberapa waktu mengamati, sang paman akhirnya tahu kalau Ratmi punya bakat di bidang tarik suara. Ratmi lantas dimasukkan sang paman ke Orkes Kroncong Pabrik Kiaracondong untuk belajar dan mengasah kemampuan bernyanyi. Titik inilah yang membuat Ratmi menjadi kian dekat dengan kesenian.

Ratmi terus mengembangkan talentanya dalam bernyanyi. Tak puas hanya bisa menyanyi, Ratmi juga mulai belajar cabang kesenian lainnya. Ia masuk ke sanggar-sanggar menari. Ratmi juga mulai dipercaya oleh sebuah kelompok wayang orang, Sri Surya, untuk mengisi posisi penyanyi sinden. Bakat kesenian Ratmi terus terasah. Proses Ratmi merintis karier seni ternyata jadi bekal yang sungguh berharga baginya ketika nanti dia memutuskan pensiun dari ketentaraan.

Ya, selepas meninggalkan militer, Ratmi coba menyambung hidupnya dengan mencari pekerjaan di bidang-bidang kesenian. Usahanya membuahkan hasil ketika Radio Republik Indonesia (RRI) melirik bakat tarik suara Ratmi. Walau cuma berstatus pengisi acara honorer di RRI, Ratmi amat merasa bersyukur. Berkat masuk RRI, Ratmi mendapat cukup banyak tawaran pekerjaan di temat lain.

Ratmi menjadi biduan utama yang mengisi nyanyian-nyanyian di Orkes Studio Bandung. Ia bahkan mendapat ajakan dari kelompok wayang orang top Ibu Kota, Tritunggal, yang markasnya bertempat di Jakarta Pusat. Merantau ke Jakarta, peluang-peluang karier lebih banyak terbuka untuk Ratmi.

Tahun 1959, Ratmi berpisah dengan kelompok wayang orang Tritunggal. Tapi ia tetap sering mendapatkan ajakan bekerja di pementasan wayang orang. Nama Ratmi memang mulai harum di para pelaku seni wayang orang Tanah Air. Aksi  Ratmi begitu luwes di atas panggung; ia sangat multitaleta, pintar bernyanyi, menari, berakting, hingga melawak.

Puncak Popularitas

ratmi b 29 - DATATEMPO

Ratmi seperti artis pada umumnya, punya nama panggung sendiri. Ia dikenal dengan nama panggung Ratmi B-29. Ada beberapa versi cerita tentang asal-usul nama panggung Ratmi yang belakangannya ditambahkan kata B-29. Salah satu versi cerita berasal dari momen Ratmi yang diundang sebagai penampil dalam acara khusus satuan Angkatan Udara Republik Indonesia pada tahun 1960. Seorang anggota AURI, Komodor Ace Wiriadinata, terkejut melihat postur tubuh Ratmi yang membengkak. Bernada bercanda, Wiriadinata kemudian berceletuk memanggil ratmi dengan sebutan “bomber”. Bagi satuan AURI, istilah bomber merujuk kepada pesawat tempur yang memiliki fasilitas untuk menembakkan bom. Kala itu, pesawat tempur yang sedang tren di kalangan AURI bertipe B-29.

Versi lainnya, konon B-29 berasal dari nama produk sabun cuci yang ada di Indonesia. Ratmi pernah membintangi iklan sabun cuci tersebut hingga sangat ikonik. Alhasil, banyak rekan-rekan sesama artis yang lebih senang memanggil Ratmi dengan sebutan Ratmi B-29. Kedua versi tersebut belum diketahui mana yang paling benar. Tapi hal yang pasti, Ratmi memanglah menjadi pesohor kenamaan Tanah Air pada era 1960-an sampai 1970-an.

Tahun 1960, Ratmi diketahui terlibat dalampembuatan film berjudul Si Djimat. Dua tahun kemudian, bakat akting Ratmi terpampang di film bergenre horor, Kuntilanak. Bayaran Ratmi sebagai bintang film kala itu konon menyentuh angka 82 ribu rupiah, nominal yang sangat besar pada zamannya.

Namun karier Ratmi di pentas layar lebar sempat terhenti. Maklum, secara keseluruhan pelaku industri perfilman Tanah Air tak bisa banyak berkarya kala itu. Penyebabnya adalah kondisi perpolitikan Indonesia yang sedang panas-panasnya. Begitu situasinya agak membaik, Ratmi pada 1965 memutuskan merantau ke Jakarta dan menetap di sana.

Kala awal kedatangannya ke Jakarta, karier Ratmi tidak langsung mulus. Ia harus berjuang dari panggung-panggung pementasan seni berskala kecil demi bertahan hidup. Kegigihan Ratmi yang pantang menyerah mengejar karier akhirnya menemui kesuksesan nyata ketika industri perfilman Indonesia hidup lagi pada medio 1970-an.

Wajah Ratmi berulang kali menghiasi judul-judul film layar lebar. Memasuki tahun 1976, sudah ada lebih dari 20 judul film yang dibintangi Ratmi. Akting Ratmi selalu memainkan karakter jenaka. Meskipun bukan berperan dalam film komedi, karakter Ratmi tetap diandalkan sutradara untuk memberikan elemen lucu. Ia juga sering beradu akting dengan sejumlah pelawak top. Ratmi pernah satu frame dengan Beyamin Sueb, Bing Slamet, dan Bagyo. Titik inilah yang membuat nama Ratmi masuk jajaran pelawak papan atas Indonesia.

Tenar di industri perfilman, Ratmi melebarkan sayap ke ranah iklan layar kaca. Seperti yang sudah disebutkan di atas, Ratmi pernah menjadi bintang iklan sabung cuci merek B-29, yang konon memicu kemunculan nama panggungnya menjadi Ratmi B-29. Beberapa iklan televisi yang pernah dibintangi Ratmi adalah iklan Laserin, iklan Enkasari, dsb.

Periode 1970-an, Ratmi memperluas jangkauan karier melawaknya dengan membentuk grup lawak sendiri. Ia mengajak dua rekannya, bekas Letnan Polisi Slamet Harto dan mantan Letnan Angkatan Darat Saparbe Notowidagdo alias Bendot, untuk melawak bareng. Trio Slamet Harto, Bendot, dan Ratmi, tak pernah sepi job. Mereka selalu kebanjiran pesanan pekerjaan melawak. Tarif bayaran grup lawak yang digawangi Ratmi tergolong paling mahal kala itu, menyentuh angka Rp 500 ribu.

Pernikahan dan Kematian

Ratmi B29, Penebar Bom Tawa | Validnews.id

Karier Ratmi boleh masuk kategori mulus, meski sempat melewati momen merintis. Namun urusan cinta, Ratmi butuh berulang kali menemui kegagalan sampai harus menikah sebanyak tiga kali. Pernikahan pertama Ratmi adalah dengan ketua kelompok wayang Tritunggal, Idris Indra. Ratmi yang menjadi anggota Tritunggal, terlibat cinta lokasi dengan Idris. Mereka menikah, tapi akhirnya berujung cerai pada 1959, sekaligus membuat Ratmi keluar dari Tritunggal.

Pernikahan kedua Ratmi terjalin dengan pria bernama Sunarno. Lagi-lagi, biduk rumah tangga Ratmi hancur di meja perceraian. Tidak kapok, Ratmi menikah untuk ketiga kalinya pada 1973. Ia menikah dengan pria yang umurnya jauh lebih muda darinya, Didi Sugandhi.

Sayang sekali, kebahagiaan pernikahan Ratmi dan Sughandi cuma bertahan sampai Desember 1977. Kali ini perpisahan bukan disebabkan oleh perceraian. Ratmi pada hari terakhir tahun 1977, menjalani syuting untuk pekerjaan film Direktris Muda. Ketika proses pengerjaan syuting berlangsung, Ratmi tiba-tiba terkapar tak sadarkan diri. Ratmi ternyata kena serangan jantung. Meski sudah coba diselamatkan, nyawa Ratmi tetap tidak tertolong dan beliau dinyatakan meninggal dunia. Mengingat Ratmi punya gelar Bintang Gerilya berkat masa lalunya yang pernah aktif memperjuangkan kemerdekaan, jasadnya boleh dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.