Mengenang Tahun Pertama Ivan Kolev Latih Timnas Indonesia di Piala AFF 2002

Kamis, 02 Desember 2021, 01:05 WIB
96

Setelah menjadi runner-up Piala AFF atau Tiger Cup edisi tahun 2000, Timnas Indonesia kembali tampil apik pada edisi 2002 silam. Namun lagi-lagi, kita kalah dari Thailand di partai final seperti edisi sebelumnya, tapi kinerja Ivan Kolev sebagai pelatih mendapat banyak pujian.

Ivan Kolev kembali ke Indonesia setelah sebelumnya sempat melatih Persija Jakarta setahun pada 1999 sampai 2000. Selepas dari jabatan pelatih kepala Persija, dia kembali ke negara kelahirannya untuk menjadi pelatih Timnas Bulgaria U-21. Setahun kemudian, dia kembali ke Indonesia dan menerima tawaran melatih Skuat Garuda yang memang tengah mengusung target juara di Piala AFF atau Piala Tiger 2002.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengulas sedikit tentang pengalaman pertama kali Ivan Kolev datang ke Indonesia. Klub ibukota menjadi pintu gerbang pertamanya ke sepak bola Tanah Air, betul sekali, Persija Jakarta.

Di bawah kepelatihannya, Macan Kemayoran mampu menjalani musim 1999/2000 dengan tampil apik. Mereka bahkan bercokol di puncak klasemen Wilayah Barat dengan mengantongi 14 kemenangan, sembilan hasil imbang dan hanya tiga kali kalah.

Tapi sayang, trofi Liga Indonesia yang sudah di depan mata, raib begitu saja ketika Persija terhenti di babak semifinal. Mereka kalah tipis 0-1 dari PSM Makassar, yang membuat dirinya harus angkat kaki dari kursi panas tim Ibukota. Namun kerangka tim yang sudah dia buat, terbukti sukses saat Persija Jakarta yang setahun kemudian menjuarai Liga Indonesia 2001 di bawah asuhan Sofian Hadi.

 

Kembali ke Tanah Air dan Latih Timnas Indonesia di Piala AFF 2002

Setelah didepak Persija dan setahun melatih Bulgaria U-21, Kolev rela meninggalkan negara kelahirannya untuk semata-mata tawaran melatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2002. Tampaknya PSSI pun sadar betul bahwa kinerja Kolev melatih Persija Jakarta di musim 1999/2000 terbukti sukses setahun kemudian dengan juara Liga Indonesia, meski dirinya sudah dipecat.

Kolev pun mewarisi skuat yang terbilang generasi emas dalam persepakbolaan nasional yang sebelumnya dilatih oleh Nandar Iskandar di Piala Tiger 2000. Posisi penjaga gawang masih dikuasai oleh Hendro Kartiko dan juga kemunculan Yandri Pitoy sebagai back-up. Sementara di barisan pertahanan, masih ada Bejo Sugiantoro, Nur’Alim dan Isnan Ali. Bergeser ke tengah lapangan, ada banyak bakat muda seperti Budi Sudarsono, Elie Aiboy dan I Putu Gede. Barisan penyerang untuk menggebrak pertahanan lawan juga masih dihiasi oleh Gendut Doni Christiawan, Bambang Pamungkas dan Zaenal Arif.

Dengan sederet pemain bernama besar alias sedang naik daun di kala itu, Ivan Kolev pun dibebani oleh PSSI dengan target juara Piala AFF 2002. Kompetisi antar-negara Asia Tenggara saat itu digelar di dua negara berbeda, yakni Indonesia dan Singapura sebagai tuan rumah. Indonesia sendiri yang tergabung di Grup A, memainkan laga-laga penyisihan di markas kebanggaan, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dalam Grup A Piala AFF 2002, kita tergabung bersama Vietnam, Myanmar, Kamboja dan Filipina. Mungkin hanya Vietnam yang sejak awal diprediksi bisa menyulitkan langkah kita untuk menembus babak semifinal Piala AFF 2002.

Namun pada partai pembuka, Timnas Indonesia langsung dibikin kesulitan dengan perlawanan serius dari Myanmar, tim yang tidak diunggulkan sejak awal. Bambang Pamungkas dkk harus ditahan imbang tanpa gol, sementara pesaing kuat, Vietnam menang 9-2 atas Kamboja. Barulah pada partai kedua menghadapi Kamboja, kita mencatatkan kemenangan perdana dengan skor 4-2. Empat gol dicetak oleh Zaenal Arif dan hat-trick dari Bambang Pamungkas.

Namun sialnya di pertandingan ketiga, kita berhadapan dengan Vietnam yang terbukti kuat. Timnas Indonesia vs Vietnam harus berbagi poin dengan hasil imbang 2-2 di akhir pertandingan. Budi Sudarsono dan Zaenal Arif mencetak dua gol untuk Timnas Indonesia.

Partai terakhir sekaligus penentu lolos atau tidaknya ke semifinal, Timnas Indonesia benar-benar mengamuk. Kita mencukur habis Filipina dengan skor 13-1, dengan Bambang Pamungkas dan Zaenal Arif sama-sama mencetak empat gol, Bejo Sugiantoro dua gol, lalu tambahan satu gol dari Budi Sudarsono, Imran Nahumarury dan bunuh diri pemain Filipina.

Pada semifinal kita berhadapan dengan negara tetangga yang serumpun, yakni Malaysia. Pertandingan ini ditentukan oleh gol tunggal dari Bambang Pamungkas yang tercipta menit ke-75. Kemenangan 1-0 cukup membawa Skuat Garuda melenggang ke partai final dan berhadapan dengan Thailand. Tim yang berjuluk Gajah Perang itu secara mengejutkan mampu membungkam rival kita di Grup A, yakni Vietnam dengan kemenangan 0-4 untuk memastikan tiket ke final.

Pertandingan final Piala AFF 2002 digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 29 Desember 2002. Para fans sepak bola benar-benar tersihir oleh permainan Timnas Indonesia yang tampil gemilang di bawah tangan dingin seorang Ivan Kolev. Kurang lebih 100 ribu penonton berdempetan memenuhi setiap sisi tribun SUGBK. Tapi sayang, Thailang begitu kuat dan kita harus mengakhiri waktu normal 90 menit dengan skor imbang 2-2. Pertandingan langsung dilanjutkan dengan babak adu penalti, yang berakhir kekalahan 2-4 dari Thailand. Kita gagal juara, tapi Ivan Kolev benar-benar berjasa besar untuk Timnas Indonesia.

 

Jasa Besar Ivan Kolev untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2002

Saat menerima pinangan melatih Timnas Indonesia, Ivan Kolev berada dalam tekanan besar. Dirinya saat itu merupakan pelatih ketujuh dalam kurun waktu enam tahun terakhir hingga 2001 yang dipilih PSSI. Ya, induk organisasi sepak bola kita saat itu memang sangat hobi bongkar pasang pelatih kepala Timnas Indonesia senior. Mungkin sampai sekarang ya.

Tidak bisa dipungkiri, saat itu, PSSI memilih Ivan Kolev berdasarkan kinerjanya saat menangani Persija Jakarta dua tahun sebelumnya. Dengan pembatasan kuota pemain baru di Piala AFF, yakni hanya 20 nama, Ivan Kolev pun memutar otak dengan pemilihan pemainnya. Dia memilih pemain yang bisa bermain dua posisi, tidak hanya posisi tunggal. Kolev yang gemar memainkan formasi 4-4-2 dan 4-3-3. Formasi permainan ini terbilang baru, yakni pola empat pemain bertahan sejajar yang belum biasa dimainkan oleh Skuat Garuda.

Timnas Indonesia bisa dibilang harus berusaha keras untuk mempelajari pola permainan terbaru ini, beberapa bulan sebelum kick-off Piala AFF 2002, tentunya di bawah arahan Ivan Kolev. Pasalnya, Timnas Indonesia sebelumnya terbiasa memakai formasi 3-5-2, alias tiga pemain di barisan pertahanan.

Seperti yang sudah dijelaskan, Pelatih asal Bulgaria itu mayoritas memanggil pemain yang biasa bermain dua posisi. Misalkan di lini serang, ada Zainal Arif dan Jainal Ichwan, yang selain bermain sebagai striker murni, tapi piawai ditempatkan di posisi penyerang sayap.

Sementara lini tengah, pelatih memanggil sebanyak tujuh gelandang, tanpa jenderal lapangan andalan Indonesia, Bima Sakti yang mengalami cedera parah jelang Piala AFF 2002. Tujuh nama di lini tengah tersebut, berisi para pemain yang bisa bermain di posisi gelandang bertahan, gelandang menyerang, bahkan beberapa di antaranya bisa bermain di posisi sayap.

Untuk barisan pertahanan, Kolev juga terbilang kebanyakan memanggil para pemain yang memainkan role full-back. Ada nama-nama seperti Supriyono, Agung Setyabudi dan Isnan Ali yang bisa bermain di pos bek sayap.

Terbukti pada saat Piala AFF 2002 digelar, Timnas Indonesia tampil cukup solid jika kita mengingat formasi permainan yang dimainkan adalah hal baru. Ini juga membuktikan bahwa Ivan Kolev merupakan pelatih yang mumpuni dalam membangun sebuah tim yang kompak.

Atas performa di Piala AFF 2002 meski lagi-lagi harus kalah dari lawan yang sama di Piala AFF 2000, PSSI sepertinya cukup percaya dengan Ivan Kolev. Jelang Piala Asia 2004, Ivan Kolev kembali dipercaya untuk menangani Timnas Indonesia dengan munculnya beberapa bakat yang baru muncul. Seperti Hamka Hamzah, Ismed Sofyan, Ponaryo Astaman, Syamsul Chaeruddin dan juga Aliyudin. Bahkan sederet nama baru yang dipanggil oleh Ivan Kolev saat itu, berhasil tahan lama dalam kancah sepak bola nasional. Bahkan banyak di antaranya kini menyandang status sebagai legenda, baik secara klub atau nasional. Hamka Hamzah, Ponaryo Astaman dan masih banyak lagi, kemudian menjadi langganan tim nasional.