Menguak Sistem Lawas Penjara Amerika yang Gemar Mengurung Wanita Pecandu Seks

Senin, 26 Juli 2021, 13:14 WIB
48

Amerika Serikat seringkali dianggap masyarakat Timur sebagai biang keladi yang mempopulerkan budaya seks bebas.

Praktek hubungan intim di Negeri Paman Sam dinilai serampangan, bergonta-ganti pasangan jadi pemandangan wajar, dan sah-sah saja dilakukan sebelum adanya pernikahan.

Anggapan demikian tidaklah salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Pada masa silam, Amerika pernah berupaya menekan praktek seks bebas. Pemerintah setempat menjalankan sistem hukum yang berani menjebloskan wanita-wanita pecandu seks ke penjara.

Hampir seluruh periode abad ke-20, pemerintah Amerika banyak memenjarakan orang-orang yang dinilai berpotensi merusak moralitas bangsa.

Mereka yang diduga pencadu seks bebas serta mengidap penyakit kelamin menular, ditangkap kemudian dipenjara tanpa adanya pengadilan yang jelas. Sistem hukum seperti ini jarang diketahui oleh masyarakat Amerika, tapi penerapannya mampu mencapai seluruh penjuru negeri.

Misalnya yang terjadi pada tahun 1919 di Sacramento, California. Kala itu ada sekitar 24 orang wanita yang diamankan aparat berwenang untuk langsung dikirim ke penjara. Salah satu wanita yang ditangkap bernama Margaret Hennessey.

Sebelum momen penangkapan terjadi, Margaret memutuskan menjalani aktivitas pagi hari tanggal 25 Februari dengan berpergian ke pasar daging. Margaret aslinya tinggal bersama sang suami di kawasan Richmond, California.

Perjalanan menuju pasar dilalui Margaret bersama saudara kandung perempuannya. Kebetulan Margaret dan suami beberapa hari terakhir sedang menginap di rumah saudara perempuannya itu.

Awalnya tidak ada yang mencurigakan, tidak ada pertanda kalau hari nantinya bakal berlangsung buruk. Sampai akhirnya ada sejumlah petugas berseragam yang dijuluki ‘aparat moral’ Sacramento, mendekati Margaret dan saudaranya.

Tanpa banyak basa-basi, aparat moral tersebut menangkap Margaret dan saudaranya dengan alasan bahwa keduanya diduga telah melakukan kegiatan yang bertentangan dengan moral.

Margaret coba melawan penangkapan yang menurutnya tidak jelas. Dia berusaha menjelaskan dirinya hanya bertamu di Sacramento.

Bahkan Margaret sampai menjabarkan kalau dirinya masih punya anak berusia enam tahun yang perlu kasih sayang orang tua. Intinya, Margaret berusaha agar aparat moral tidak benar-benar menangkap dirinya dan saudara perempuannya.

Namun aparat moral sama sekali tak mengindahkan berbagai penjelasan Margaret. Aparat moral memasukkan Margaret dan saudara perempuannya ke mobil, lalu dibawa ke Canary Cottage, yang merupakan sebuah rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, Margaret langsung disambut dokter yang segera mengantarkannya ke ruang pemeriksaan.

Betapa terkejutnya Margaret lantaran pemeriksaan tim dokter dilakukan dengan menusukkan jarum suntik ke alat kelaminnya. Tujuan prosedur pemeriksaan untuk mengecek apakah Margaret memiliki penyakit kelamin menular atau tidak.

“Di rumah sakit saya dipaksa untuk menjalani pemeriksaan seolah-olah saya adalah salah satu wanita paling rendah di dunia. Saya ingin mengatakan bahwa saya belum pernah dipermalukan seperti itu dalam hidup saya,” kata Margaret.

Wajar apabila Margaret sampai kebingungan sekaligus terheran-heran atas penangkapan dirinya. Pencidukan Margaret memang termasuk dalam agenda pemerintah Amerika yang amat rahasia.

Sedari era 1910-an sampai 1950-an, pemerintah Amerika menangkap setidaknya puluhan ribu sampai ratusan ribu wanita untuk diperiksa secara paksa kesehatan alat kelaminnya; dites apakah positif terjangkit penyakit kelamin menular atau tidak.

Mirisnya, tidak ada dasar yang jelas mana wanita yang harus ditangkap, dan mana yang tidak. Proses penangkapan hanya berlandaskan asas kecurigaan semata alias random. Sistem demikian sejatinya meneruskan yang telah dimulai lebih dulu di Eropa, mengintai wanita-wanita ‘mencurigakan’, menangkapnya, memeriksa paksa alat kelaminnya, dan memenjarakan mereka.

Kebijakan memenjarakan tercipta kalau di tahap pemeriksaan paksa alat kelamin, menunjukkan hasil positif terjangkit penyakit kelamin menular. Wanita yang bersangkutan akan langsung dimasukkan penjara oleh aparat moral Amerika tanpa adanya proses hukum.

Sebenarnya dibuat pencatatan rinci mendata siapa-siapa saja wanita yang dimasukkan ke penjara. Tapi banyak catatan yang kini telah lenyap entah di mana keberadaannya.

Apabila seorang wanita sampai dipenjara, masa kurungannya bervariasi, tidak menentu, ada yang hitungan hari, beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya.

Sekali lagi, kebijakan memenjarakan wanita tidak ada dasar hukum yang jelas, sehingga penentuan waktu berapa lama masa kurungan yang wajib dijalani pun sangat abu-abu, terkesan suka-suka sang aparat moral.

Sexual Violence in Women's Prisons Reaches "Constitutional Proportions."  Will Lawmakers Step In? - Ms. Magazine

Lantas, apa yang dilakukan para wanita berpenyakit kelamin selama mendekam di penjara?

Hari-hari meringkuk di jeruji besi dilalui dengan beberapa metode pengobatan. Setiap sel disediakan tim dokter khusus yang berusaha menangani para wanita berpenyakit kelamin.

Tim dokter rutin menyuntikkan merkuri ke tubuh wanita-wanita pesakitan. Sekedar pengingat, merkuri sejatinya merupakan zat yang berbahaya apabila masuk ke tubuh manusia. Selain penyuntikkan merkuri, dokter juga memberikan obat-obat arsenik, jenis obat yang biasa digunakan dalam proses penyembuhan penuakit sifilis.

Meski tampak mendapat perlakuan baik karena dibantu untuk sembuh dari penyakit kelamin, para wanita yang mendekam di penjara ternyata turut mengalami sejumlah penyiksaan.

Bila ada kesalahan kecil yang mereka lakukan selama di penjara, sipir pasti tak akan ragu memberikan hukuman. Jenis hukumannya tidak jauh-jauh dari unsur kekerasan, seperti disiram air, dipukuli, dimasukkan ke ruangan isolasi, bahkan yang paling kejam distreilkan.

Awal Mula

Editorial: Gov. Ivey's prison plan needs more details | Editorials |  annistonstar.com

Praktek memenjarakan wanita yang terjangkit penyakit kelamin menular sudah dijalankan Amerika Serikat sejak periode Perang Dunia I. Pemerintah Amerika sengaja melakukan demikian awalnya demi menjaga para tentaranya agar terhindar dari bahata penyakit kelamin.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber, awal mulanya terjadi sekitar tahun 1917, kala pejabat federal Amerika menemukan fakta kalau beberapa anggota militer terinfeksi penyakit kelamin seperti sifilis atau gonore.

Situasi demikian langsung ditanggapi serius, sebab bukan hanya mengancam keselamatan beberapa orang saja, tapi juga bisa merusak stabilitas nasional yang sedang sibuk berperang.

Berbekal musibah yang tidak terduga, pejabat pemerintahan sesegera mungkin ambil kebijakan pencegahan penularan penyakit kelamin kian supaya tidak makin meluas di kalangan tentara.

Kebijakan paling pertama yang dicetuskan adalah pelarangan berdirinya rumah-rumah bordil atau sarang pelacur di dekat markas militer Amerika.

Masalah yang ada ternyata belum sepenuhnya teratasi dengan kebijakan pertama. Tentara-tentara Amerika justru terkena penyakit kelamin kala tinggal di kampung halaman mereka masing-masing. Alhasil, pejabat pemerintahan Amerika mengeluarkan kebijakan baru dengan melarang segala bentuk tindakan pelacuran ke seluruh penjuru negeri.

Namun lagi-lagi kebijakan baru tidak tuntas menyelaikan masalah penyakit kelamin dalam kalangan tentara.

Pejabat pemerintahan Amerika menemukan fakta baru kalau penyakit kelamin yang diderita tentara sebagian besar bukan disebabkan oleh pelacur profesional, melainkan wanita-wanita biasa. Otomatis kebijakan terkait upaya pencegahan penyakit kelamin di kalangan tentara diperketat lewat pengawasan terhadap semua wanita yang menetap di Amerika.

Terhitung mulai tahun 1918, kebijakan pengawasan kepada semua wanita yang dicurigai terjangkit penyakit kelamin menular, disahkan pemerintah dan langsung dijalankan.

Penerapannya seperti yang sudah kami jelaskan di atas, mengintai wanita-wanita ‘mencurigakan’, menangkapnya, memeriksa paksa alat kelaminnya, dan memenjarakan mereka yang terbukti positif.

Sebenarnya ada payung undang-undang yang melandasi kebijakan memenjarakan wanita berpenyakit kelamin. Tapi isi undang-undangnya amatlah tidak jelas dan cenderung kurang adil.

Seorang wanita yang memiliki penyakit kelamin menular, harus dipenjara dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Biasanya tergantung kebutuhan seberapa lama proses penyembuhan penyakit kelamin menular si wanita.

Sementara soal kurang adilnya, fokus undang-undang hanya mengatur gender perempuan saja, tanpa memperhatikan kalau peluang laki-laki dapat menularkan penyakit kelamin sama besarnya.

Kebijakan yang dicetuskan pemerintah pusat mendapat dukungan penuh dari pemerintah-pemerintah negara bagian. Seperti Walikota New York, Fiorello La Guardia, yang sempat-sempatnya membuat pidato khusus untuk memuji peraturan baru mengenai pengawasan terhadap wanita-wanita berpenyakit kelamin.

Ada pula Gubernur California, Earl Warren yang menginstruksikan agar wilayah kekuasannya menerapkan secara ketat kebijakan pemerintah pusat Amerika tersebut.

Singkatnya, semua gubernur dan legislatif di Amerika mendukung penuh undang-undang pengawasan kepada para wanita berpenyakit kelamin. Sontak seluruh jajaran pemerintahan Amerika mengampanyekan kebencian terhadap penyakit kelamin, pekerja seks komerisal, dan wanita-wanita pecandu seks.

Polemik yang Tercipta

Reproductive Justice in the United States Prison System

Pemberlakuan kebijakan pengawasan terhadap wanita-wanita berpenyakit kelamin meninggalkan jejak-jejak polemik yang amat kusut. Undang-undang tersebut dinilai kaum modern sebagai hukum yang sangat seksis. Padahal sejatinya hukum harus dibuat seadil mungkin, tanpa memandang gender seseorang.

Kenyataannya, hampir semua tahanan yang masuk penjara akibat undang-undang pencegahan penyakit kelamin adalah perempuan. Pengawasan terhadap wanita yang ‘mencurigakan’ pun standarnya tidak jelas.

Tidak ada kriteria spesifik yang menerangkan ciri-ciri seorang wanita patit dicurigai punya penyakit kelamin dan layak diperiksa. Aparat moral bahkan bisa melakukan penahanan, pemeriksaan seenaknya ke siapapun wanita yang diinginkan mereka.

Polemik kian kompleks karena unsur kecurigaan sebelum penahanan dilakukan sungguhlah absurd. Bayangkan, seorang wanita yang sedang duduk sendirian, resign dari pekerjaan, berjalan kaki sendirian, bisa ditangkap begitu saja.

Tak jarang malah penangkapan dilakukan aparat moral kepada wanita-wanita yang menurut mereka mencurigakan tanpa ada alasan sama sekali.

Paling miris, beberapa oknum polisi dan dokter yang menangkap kemudian memeriksa para wanita, menyalahgunakan wewenang yang ada.

Polisi dan dokter kotor sering memberikan iming-iming kebebasan kepada wanita yang mereka tahan, asalkan mau berhubungan seks dengan mereka. Kalau berani menolak iming-iming jahat tadi, polisi dan dokter akan langsung membuat pernyataan palsu bahwa si wanita positif terjangkit penyakit kelamin menular, kemudian dijebloskan ke penjara.

Unsur pelecehan seksual disertai rasisme ikut menyelimuti polemik undang-undang pencegahan penularan penyakit kelamin Amerika. Para wanita kulit berwarna yang sudah mendekam di penjara, kerap mendapat pelecehan seksual dari aparat kepolisian yang menjaga.

Beruntung, banyak gerakan-gerakan yang berusaha menghentikan undang-undah bejat macam ini. Alhasil, penerapannya akhirnya benar-benar berhenti pada 1970-an.