Mengulas Balik Kisah Tersohor Ramang, Legenda Timnas Indonesia yang Mendunia

Kamis, 02 Desember 2021, 01:19 WIB
102

Hampir 4.000 penonton menyesaki Stadion Olimpiade Melbourne, 29 November 1956 untuk menonton para bintang Timnas Uni Soviet – salah satu negara sepak bola terkuat Eropa kala itu, menghadapi Timnas Indonesia. Pertandingan itu merupakan laga perempat-final Olimpiade 1956 dan sudah sejak jauh-jauh hari, sudah diprediksi bahwa tidak akan seimbang jalannya permainan. Karena seperti David menghadapi Goliath.

Tapi secara mengejutkan, Andi Ramang, atau kemudian dikenal hanya dengan sebutan Ramang saja, benar-benar membuat para penonton berdecak kagum. Mungkin para pemain Uni Soviet saat itu juga kaget dengan aksinya. Khusus pertandingan ini, Tony Pogacnik yang saat itu menjabat sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia menurunkan para pemain dengan kemampuan bertahan guna meredam serangan-serangan Uni Soviet. Dirinya menerapkan formasi 3-4-3 dengan nama-nama yang tidak biasa dalam starting line-up.

Contohnya, Sian Liong dan Him Tjian yang berposisi sebagai bek, bermain di lini tengah. Kiat Sek Kwee juga dimainkan lebih ke belakang, bersamaan dengan Chaerudin dan Rasjid. Sementara lini serang, Skuat Garuda bertumpu pada Ashari Danoe, Endang Witarsa serta satu nama yang akan kita bahas dalam artikel kali ini, Ramang.

“Dengan starting line-up seperti ini, akan terdapat empat orang yang biasa bermain di pertahanan tapi starter di lini tengah. Yaitu Liong dan Him, lalu Tjiang-How dan Ramlan. Saya yakin formasi ini cukup kuat,” ucap Pogacnik percaya diri soal taktik yang dia pasang sebelum pertandingan tersebut.

Pogacnik juga terkenal sebagai pelatih yang cukup mengandalkan kecepatan kaki seorang Ramang untuk melakukan serangan balik. Dia sudah memprediksi semua itu bahkan sebelum pertandingan tidak seimbang ini dimulai.

FIFA bahkan sempat menulis baru-baru ini menjelaskan pertandingan kala itu. “Barisan pertahanan Uni Soviet yang didominasi pemain bertubuh tegap dan gagah benar-benar dibuat kaget saat Ramang, penyerang Indonesia bertubuh mungil, melewati satu-dua pemain mereka, dan membuat Lev Yashin – kiper legendaris dunia saat itu, jatuh bangun melakukan penyelamatan.”

Setelah sempat merepotkan pertahanan Rusia di awal pertandingan, Ramang, seperti tiada kenal kata lelah membuat para bek lawan ketar-ketir. Bahkan penampilan luar biasa, dia tidak segan-segan membantu rekan-rekannya dalam bertahan, alias menjemput bola ke lini tengah. Dari tengah lapangan, dia benar-benar tancap gas dengan kakinya yang cepat dan juga mental baja penuh percaya diri. Dia melewati para bek Uni Soviet yang berulang kali dikelabuhi karena tekel mereka tidak mengenai Ramang. Lev Yashin, pemain jempolan dari skuat Uni Soviet saat itu, dibuat sangat marah dan beberapa kali meneriaki rekan-rekan setimnya agar tidak membiarkan penyerang bertubuh kecil itu lewat dengan mudah. Uni Soviet tidak lama kemudian sadar bahwa Ramang adalah masalah untuk mereka jika terus-terusan dibiarkan menembus kotak penalti.

“Saya hampir mencetak gol ke gawang mereka, tapi jersey saya ditarik oleh lawan,” kenang Ramang soal pertandingan Uni Soviet vs Timnas Indonesia.

Pertandingan tersebut berakhir sama kuat dengan skor kacamata. Namun Indonesia terpuruk di partai ulangan dengan skor telak 4-0, mungkin penyebabnya hanyalah stamina karena jadwal yang dimainkan sangat singkat dari pertandingan pertama.

 

Besar dari Lingkungan Miskin di Sulawesi Selatan

Berpuluh tahun sebelum dirinya benar-benar membuat Lev Yashin gentar dengan permainannya, Ramang memang mewarnai masa kecilnya dengan cita-cita sebagai pemain sepak bola. Bahkan dirinya mengenang saat kecil dan sedang main bola dengan teman-teman masa kecilnya, dia melihat pesawat terbang dan menjelaskan cita-citanya tersebut.

“Dengan kaki saya, saya bisa naik pesawat terbang,” kata Ramang yang tertulis dalam bukunya berjudul Ramang Macan Bola (2010). Dalam buku tersebut, dijelaskan juga teman-temannya tidak terlalu menanggapi perkataan seorang Ramang kecil, karena saat itu, pesawat terbang hanyalah untuk orang-orang kaya.

Sangat kontras jika melihat situasi dan kondisi lingkungan miskin yang menemani tumbuh kembang Ramang Kecil. Saat itu, dirinya masih bermain dengan bola dari kulit jeruk, sepatu – yang disebut sepatu bola, terbuat dari kulit buah pinang. Tapi ternyata mimpi itu terbukti, kita semua melihatnya dan menyebutnya sebagai salah satu tokoh sepak bola tersohor di Tanah Air.

Ramang lahir pada tanggal 24 April 1924 di salah satu kampung terbilang miskin di Sulawesi Selatan. Orang tua merupakan abdi kerajaan lokal Sulsel, Kerajaan Barru, dengan penghasilan yang cukup kecil. Dia yang mampu cuma menamatkan sekolah dasar saja, punya kegiatan sepulang dari sekolah. Kalau tidak sedang main bola, dia akan bersepeda dengan jarak sekitar 50 km untuk membantu orang tua berjualan ikan di Pasar Segiri.

Di Tahun 1945, dia sudah bekeluarga dan pindah ke ibukota provinsi, yakni Makassar. Andi Mattalatta yang saat itu sudah menjadi figure sepak bola di Sulawesi, menjadi alasan Ramang dewasa pindah ke Makassar. Andi kagum dengan bakat yang dimiliki oleh Ramang dan menyarankan dirinya untuk menapaki karir sebagai pemain sepak bola saja. Namun berangkat ke Makassar bersama sang istri, dirinya tidak menemui jalan yang mulus, bahkan menemui berbagai masalah kehidupan.

Membawa becak satu-satunya, dia malah keseringan bekerja mencari pelanggan becak untuk memenuhi kebutuhan rumah-tangganya. Bahkan Ramang juga sesekali menjadi kondektur truk jika memang diajak oleh temannya. Namun mimpi semasa kecil, menjadi seorang pemain sepak bola tidak pernah luntur dari kepala Ramang kala itu. Di tengah kesibukannya memenuhi kebutuhan hidup menarik becak dan jadi kondektur truk, dia cukup aktif bersama Persis (Persatuan Sepak Bola Induk Sulawesi). Bersama Persis, masa depan Ramang di lapangan hijau mulai terlihat secara perlahan, namun pasti.

Pada momen tertentu, PSM Makassar yang dulu masih bernama Makassar Voetbal Bond, memang sudah jadi klub professional dan rutin mengadakan turnamen internal. Diceritakan dalam bukunya, Ramang berhasil membawa Persis menang telak 9-0, sebagian besar gol tercipta berkat dirinya, yang membuat PSM Makassar tertarik dengan bakatnya. Pada tahun 1945, Ramang ditawari masuk PSM Makassar. Sejak saat itulah, karir professional dan masa depan terang benderang di lapangan hijau, mimpi masa kecilnya, mulai terbuka lebar. Bahkan tidak jarang, saking hebatnya dia, kisah-kisah legendaris ini sesekali disebut mitos oleh para penggemar sepak bola nasional.

 

Ramang Itu Penyerang yang Cerdas dan Jarang

“Ramang Sudah Pergi”, sebuah artikel di salah satu edisi majalah Tempo, pernah memberikan atribut setinggi-tingginya pada sosok ini. Disebutkan bahwa Ramang merupakan penyerang tengah yang punya naluri gol luar biasa, bahkan sejajar dengan para pemain sepak bola di benua biru, alias Eropa.

Pasalnya, di era keemasannya bermain sepak bola, satu-satunya pemain Indonesia yang mampu mencetak gol lewat tendangan salto, tendangan sudut langsung, atau first-time, hanyalah Ramang seorang. Pernyataan dalam Majalah Tempo itu tidak main-main, karena kiper Timnas Indonesia di era 1950-an saat itu, Maulwi Saelan, juga memberikan pernyataan yang serupa.

“Ramang penyerang yang bisa menembak ke arah gawang (shot on goal) dari area manapun di atas lapangan,” ucap Saelan. Perkataan itu juga terbukti saat Timnas Indonesia melakukan tur Asia di tahun 1954, Ramang benar-benar memperkenalkan dirinya sebagai salah satu penyerang hebat di masa itu. Dirinya dimainkan saat Indonesia menghadapi Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia, dan hasilnya hampir semua pertandingan berakhir dengan kemenangan telak.

Sepanjang Tur Asia tersebut, Timnas Indonesia total mencetak sebanyak 25 gol. Dengan 19 gol merupakan jumlah yang dicetak oleh Ramang. Salah satu mantan pelatih PSSI Pratama, Iswadi semakin memperkuat bukti bahwa Ramang seorang penyerang yang tidak hanya tendangannya keras dan kaki cepat, tapi juga pemain yang cerdas dan langka di persepakbolaan Tanah Air.

Bahkan Iswadi juga tidak segan memakai Ramang guna memberikan kritik kepada para pemain Timnas Indonesia lainnya usai kekalahan di laga Pra-Piala Dunia tahun 1981 silam.

“Ramang itu pendidikannya rendah, tapi kecerdasannya sebagai pemain sepak bola sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi daripada pemain-pemain lain, padahal mereka berpendidikan tinggi,” kata Iswadi.

Mantan pelatih Timnas Indonesia di tahun 1950-an lainnya, Choo Seng Quee juga menyetujui pendapat tersebut. Pelatih berkewarganegaraan Singapura itu menyebut bahwa Indonesia di tahun 1950-an tidak bisa bersinar jika tanpa kehadiran Ramang di lapangan hijau.

“Pemain seperti Ramang mustahil dicari. Dia pemain yang cerdas dan selalu memakai otak,” kata Quee.

Kecerdasan itu pula yang membantu Ramang menjelma sebagai salah satu penyerang yang tajam di Tanah Air. Kecepatan kakinya juga membuat dirinya bisa melesat dengan luar biasa, tendangan keras hasil bermain bola dari kulit jeruk, membuat kiper lawan merasa ngeri untuk menghentikannya. Kecerdasan di atas rata-rata itulah yang membuat gerakannya sangat mustahil dibaca para bek lawan.

Tempo kemudian menulis kembali “Kebanyakan gol yang dia cetak memang sangat mengejutkan, tidak disangka-sangka jadi gol. Seperti saat PSM menghadapi Persija di Stadion Ikada, tahun 1954, dia dijepit dua pemain lawan dan harusnya tidak bisa bergerak. Namun dengan gerakan sangat cepat, dia maju dengan bola, memiringkan badan, dan langsung menendang bola sambil menjatuhkan badannya.”

Tidak hanya tampil gemilang di lapangan hijau selama 90 menit pertandingan, namun kecerdasan jugalah yang membuat Ramang bisa dibilang tahan banting dengan segala cobaan sepanjang karirnya. Cobaan yang dimaksud adalah tidak pernah mengalami cedera.

Mendengar sederet kisah dan perjalanan karir seorang Ramang di atas, tentunya kita benar-benar rindu pemain seperti dirinya. Siapakah kira-kira menurut Anda yang bisa sepertinya di atas lapangan? Atau belum ada di skuat Timnas Indonesia saat ini?