Mengungkap Betapa Kecilnya Dampak Kapabilitas Seorang Pelatih dalam Perjalanan Prestasi Sebuah Klub Sepak Bola

Jumat, 31 Desember 2021, 18:25 WIB
39

Edisi Bonanza88, Jakarta – Bagi seorang pelatih kepala atau manajer sepak bola, hari pertama dalam menjalani pekerjaannya bersama sebuah klub anyar, selalu menimbulkan perasaan yang luar biasa. Akan muncul momen di mana pelatih mulai berkenalan untuk pertama kali dengan seisi skuat. Ada pula momen perdana menemui jajaran staf lama yang mungkin hatinya sedang penuh kegugupan menanti era kepemimpinan pelatih baru.

Selain salam perkenalan formal, pelatih juga harus siap sedia menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang menumpuk. Menentukan menu dan jadwal latihan; mengevaluasi kelemahan dan kekuatan tim; jadi metode pelatih dalam mengadaptasikan visinya secara teknis. Intinya, kesan pertama menjadi sangat penting dibangun sebaik mungkin demi mulusnya perjalanan ke depan.

Perkara teknis ini bakal turut menjalar ke porsi pembuatan peraturan yang menjadi standar pelatih untuk pemain-pemainnya. Seperti yang dilakukan Steven Gerrard beberapa waktu lalu kala awal ditunjuk sebagai pelatih anyar klub Liga Inggris, Aston Villa. Gerrard langsung menerapkan peraturan tegas yang melarang semua anak asuhnya mengonsumsi bahan makanan saus tomat.

Kebijakan yang sama persis dilakukan Antonio Conte bersama Tottenham Hotspur. Artinya, mengontrol jenis-jenis hidangan yang boleh dikonsumsi pemain, misalnya saus tomat tadi, memiliki pengaruh signifikan dalam tugas kepelatihan sepak bola era modern. Kepelatihan sepak bola saat ini sungguh meyakini faktor gizi yang tepat akan berdampak besar terhadap kinerja pemain di atas lapangan.

Ketika pelatih mengeluarkan berbagai peraturan, media-media akan senang hati menyambutnya dengan pemberitaan. Framing yang sering dikeluarkan biasanya berupa prediksi terlalu dini bahwa si pelatih baru memiliki ketegasan sistem dalam membangun kesuksesan. Pemberitaan yang demikian rasanya agak berlebihan, sebab nasib pelatih sejatinya bukan hanya ditentukan dari faktor kapabilitas dirinya sendiri.

Paling gampang dilihat, seorang pelatih amat bergantung dengan bagaimana kualitas dan kinerja pemainnya. Boleh saja si pelatih penuh kegigihan merancang sistem, pola, dan metode terbaik bagi timnya. Tapi jika komposisi pemainnya tidak mendukung, mustahil pula konsep matang bisa berjalan menuju keberhasilan.

Ranah akademisi diketahui memaparkan pendapat yang kurang lebih serupa. Setidaknya bila kita berkaca pada penelitian bertajuk “Soccernomics”, termuat fakta bahwa kapabilitas seorang pelatih hanya mempunyai pengaruh sebanyak 8 persen dalam prestasi tim. Intinya, dampak kapabilitas pelatih cuma secuil hirarki yang ada di proses pembangunan kekuatan tim sepak bola.

Penelitian “The Numbers Game” mungkin memberikan persentase yang lebih tinggi, yakni hampir dua kali lipat dibanding Soccernomics. Tapi sekali lagi, persentasenya masih belum cukup besar seperti yang kebanyakan orang kira. Maklum, ketika sebuah tim jeblok prestasinya, pelatih akan jadi pihak yang paling disalahkan dan menemui pemecatan. Padahal dampak langsung kinerja pelatih seperti yang dijabarkan beberapa penelitian, tidaklah sebesar itu.

Sebuah penelitian lain yang dirilis tahun 2013, menemukan kalau tim yang hendak merasakan dampak langsung intens dari kinerja pelatih, cenderung hanya menugaskan pelatih caretaker. Hadirnya pelatih caretaker di kursi manajer biasanya mudah dinilai sehingga dampak yang muncul amat terlihat. Jika berhasil, pelatih caretaker cenderung bakal sulit menemui kesuksesan permanen jangka panjang.

Hanya pelatih-pelatih super spesial yang secara dampak bisa melampaui data-data penelitian di atas. Sebut saja Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger yang sistemnya terbangun rapi, hingga umur kepelatihan mereka di satu klub begitu panjang. Fergie serta Wenger mampu menunjukkan kapabilitasnya amat berpengaruh terhadap prestasi Manchester United dan Arsenal di masa silam.

Sedangkan untuk pelatih-pelatih lainnya yang beredar di level top Eropa, mereka harus menanggung beban berat. Kinerja prestasi klub sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka. Padahal tugas mereka ketika menjabat banyak dipengaruhi faktor-faktor lain, seperti potensi keuangan klub, kualitas pemain, dan kekuatan lawan.

Paris Saint-Germain contoh yang belakangan bisa kita lihat. Pelatih yang menukangi PSG selalu diisi dengan nama-nama besar. Pemain-pemain yang didatangkan PSG juga levelnya bintang dunia. Tapi apa yang terjadi? Prestasi PSG tidaklah sesempurna yang dapat dibayangkan di atas kertas.

Gelar juara Liga Champions saja belum pernah mereka raih sejak PSG jadi tim raksasa Eropa super tajir. Musim ini bahkan PSG mencoba membangun kekuatan yang lebih mengerikan dengan mendatangkan lebih banyak bintang, termasuk sang megabintang Argentina, Lionel Messi. Sejauh mata memandang, perjalanan PSG musim 2021/22 masih juga tidak benar-benar sempurna. Kasus PSG menandakan adanya faktor penunjang lain yang dapat mempengaruhi prestasi sebuah klub; pelatih dan pemain top saja tidak cukup.

Dampak Kecil yang Tetap Penuh Makna

Asisten Shin Tae-yong Keluhkan TC Timnas Indonesia, Ini Respons Indra  Sjafri Halaman all - Kompas.com

Melihat penjabaran kami di bagian pertama, dapat disimpulkan kalau manajer atau pelatih hanyalah bagian kecil dalam proses sebuah tim sepak bola membangun kejayaan. Dampak langsung yang diberikan pelatih menurut penelitian sangatlah kecil. Ada faktor-faktor lain yang di luar kuasa manajer, yang turut dapat mempengaruhi secara signifikan perjalanan tim.

Misalnya saja Manchester United era kepelatihan Ole Gunnar Solskjaer di awal musim 2021/22. Strategi yang diterapkan Solskjaer menurut banyak pengamat amat hancur-hancuran. Tapi berkat keputusan jeli seorang pemain megabintang, Cristiano Ronaldo, MU berulang kali dengan ajaibnya selamat dari jurang kekalahan.

Meski begitu, bukan berarti tugas manajer tidak relevan terhadap perkembangan prestasi sebuah klub. Persentase pengaruhnya memang kecil, tapi keterkaitannya tetap tidak boleh dipandang sebelah mata. Identitas, watak, dan kemampuan seorang manajer juga aktif berdampak atas kinerja anak asuhnya di atas lapangan.

Kami kembali menggunakan contoh Manchester United kala ditukangi Solskjaer. Kita semua tahu kalau awal musim ini Man United mampu mendatangkan pemain-pemain bintang. Di lini belakang ada Raphael Varane, sisi sayap ada Jadon Sancho, dan sektor penyerang ada Cristiano Ronaldo.

Isi skuat MU aslinya sudah termasuk kategori mewah. Tengok saja betapa besarnya gaji para pemain Manchester United. Logika dasarnya, ketika seseorang dibayar mahal untuk sebuah profesi, berarti dia dianggap sangat mampu memberikan kinerja luar biasa apik. Tapi apa yang terjadi dengan Man United justru melawan teori. Pemain-pemain bergaji mahal itu penampilannya sering tidak jelas.

Solskjaer akhirnya dipecat setelah Man United hampir secara beruntun dipermalukan oleh Liverpool, Manchester City, bahkan Watford. Man United di bawah Solskjaer tidak memiliki identitas yang jelas, pertahanan amburadul, gaya serangan kurang efektif. Solskjaer seakan membawa semua pemain Setan Merah yang mewah berjalan tanpa arah tujuan.

Sekali lagi harus diakui kalau kegagalan demi kegagalan yang ditemui MU bukan sepenuhnya salah Solskjaer. Ada pula pengaruh dari faktor-faktor yang sungguh di luar kuasa Solskjaer untuk mengatur. Misalnya kebijakan manajemen Manchester United yang entah kenapa dulu justru makin mempersulit Solskjaer. Kebijakan pembelian pemain beserta struktur operasional klub serampangan sehingga memperburuk situasi.

Masalahnya, Solskjaer tidak mumpunimenemani pemain-pemainnya agar keluar dari jeratan keterpurukan. Sehebat apapun para pemain Manchester United, mereka tidak bisa berjalan sendirian. Perlu ada yang memandu, perlu ada yang mengatur, perlu ada yang mengarahkan agar jalannya tepat. Dan Solskjaer telah benar-benar gagal mengemban tugas demikian.

Kini, Manchester United tampak mulai berani melawan kenaifan. Solskjaer dipecat dan yang menggantikannya ialah Ralf Rangnick, pelatih sepak bola yang lebih dikenal akan kemampuannya memandu sistem secara keseluruhan. Rangnick sudah terbukti luar biasa kinerjanya kala menduduki jabatan di klub Bundesliga Jerman, RB Leipzig, baik sebagai pelatih maupun direktur sepak bola. Rangnick yang merancang sistem besar bagaimana pemain-pemain RB Leipzig harus berjalan, sehingga tim yang awalnya menghuni kasta bawah itu, kini jadi salah satu tim elite Bundesliga Jerman hingga Eropa.

Poin plus lain yang niscaya dapat dituai Manchester United adalah reputasi Rangnick yang jenius meracik taktik. Dia disebut-sebut sebagai bapaknya strategi gegenpressing yang kini terbukti efektif di sepak bola modern. Pengaruh kecil Rangnick diharapkan dapat mengarahkan cara bermain para penggawa Manchester United secara tepat, yang dahulu sama sekali nihil di era kepelatihan Solskjaer.

Jadi, seberapa besar peran pelatih dalam kesuksesan prestasi sebuah tim sepak bola? Kami tetap berpegang teguh kepada hasil ilmiah penelitian yang mengungkap kecilnya persentase dampak langsung kapabilitas pelatih. Tapi kami tidak menampik bahwa ada makna yang begitu besar dari kapabilitas pelatih. Kumpulan para pemain yang mungkin diisi beberapa bintang hebat, butuh dipandu, diarahkan, ditempa secara tepat, supaya organisasi permainan berjalan menuju kata kesuksesan.

Tags: