Mengungkap Keberadaan Bunker di Kota Jakarta

Jumat, 31 Desember 2021, 20:43 WIB
36

Edisi Bonanza88, Jakarta – Kata bungker diserap bahasa Indonesia dari bahasa Belanda bunker. Kata bunker sendiri berasal dari bahasa Skot yang berarti bangku/kursi. Kata tersebut terakam pada tahun 1758, bersamaan dengan pemendekannya bunk yang berarti tempat tidur.

Kata tersebut kemungkinan berasal dari Skandinavia: bahasa Swedia kuno bunke berarti papan yang digunakan untuk melindungi muatan kapal. Di abad ke-19, kata ini digunakan untuk menjelaskan tempat penyimpanan batu bara dalam rumah, atau di bawah geladak kapal. Istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut cekungan berisi pasir pada lapangan golf.

Bunker di Jakarta

Misteri Terowongan Bawah Tanah London, Peninggalan Perang Dingin yang Tak  Pernah Diungkap Halaman all - Kompas.com

Sebagai bangunan cagar budaya Stasiun Tanjung Priok menyimpan sejumlah misteri yang tidak diketahui banyak orang. Salah satunya bunker peninggalan zaman Belanda. Bagaimana ceritanya?

Terletak di Jalan Taman Stasiun No 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara, bangunan cagar budaya itu dikelola oleh Daops 1 KAI. Stasiun ini berdasarkan catatan sejarah ini dibangun tahun 1885. Pada zaman dulu, bangunan Stasiun Priok merupakan pintu gerbang Hindia-Belanda.

Kawasan Stasiun Priok memiliki luas lahan 46.930 meter persegi, dengan luas bangunan 3.768 meter persegi. Stasiun Tanjung Priok itu mengusung arsitektur dengan lagam bangunan art deco. Di balik bangunan megah dan mewah itu, tersembunyi bunker peninggalan zaman Belanda.

“Kalau temuan enggak, karena itu dari pertama memang ada dan ada akses ke sana. Bunker itu bukan tersembunyi, tapi akses ke sana memang ada dari dulu. cuma penelusuran akses belum tuntas sampai sekarang,” kata Wakil Kepala Stasiun Tanjung Priok Armid.

Bunker itu berada di Hall Stasiun sisi utara tepatnya di samping ruang istirahat petugas keamanan. Terdapat anak tangga yang mengarah turun ke bunker. Kondisi yang gelap, dan anak tangga yang kecil harus membuat langkah kaki berjalan hati-hati. Kondisi udara di bawah juga lembab akibat rembesan air di lantai.

Bunker itu hanya memiliki luas 4×4 meter persegi, setidaknya ada 5 ruang berukuran kecil seperti pintu masuk, namun tertutupi lapisan tembok. Salah satu lapisan tembok di sisi kanan bunker terdapat coak bongkaran yang bisa dimasuki oleh orang. Kondisi lorong itu pun gelap gulita tidak memiliki penerangan lampu. Di bagian dalam lorong pun terdapat genangan air setinggi lutut orang dewasa.

Sampai sekarang belum ada tindak lanjut lagi. Itu dibiarkan begitu saja karena rembesan air sudah setinggi lutut dan sudah dilakukan penyedotan airnya tetapi enggak habis-habis seperti ada sumber mata airnya,” imbuh Armidi menerangkan kondisi bunker itu.

Armidi menerangkan pada tahun 2010 Eksplorasi dilakukan oleh Divisi Herritage PT KAI, terdapat tiga bunker di sisi utara, timur dan barat yang saling terhubung. Namun eksplorasi itu tidak dilanjutkan hingga tuntas dengan alasan kondisi bangunan yang rawan roboh.

“Konon terlalu berbahaya ditelusuri ke sana, bukan bahaya dalam arti apa-apa. Tetapi disitukan sudah terendam air, terus dikhawatirkan ada gas beracun dan sebagian lorong juga udah tertutup tanah. Jadi memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Jadi cuma berapa meter saja langsung dihentikan,” bebernya.

Armidi mengatakan selain bunker di hall sisi utara, terdapat dua bunker lainnya di sisi timur dan barat. Hingga kini bunker di Stasiun Tanjung Priok itu masih menjadi misteri yang belum terungkap utuh. Belum diketahui menyambung kemana lorong bawah tanah itu.

“Ada bunker-bunker yang belum dieksplore, seperti di hall barat yang jadi ruang tunggu sekarang, di bawahnya ada bunker juga. Sampai sekarang belum ada yang sampai dasar bunker cuma lorong-lorongnya saja ditelusuri. Lorong itu juga cukup untuk orang jalan berdiri karena ada tangga berkeliling juga,” pungkasnya.

Tembus hingga ke tiga tempat

Misteri Terowongan Rahasia di Bawah Tanah Liverpool Terungkap : Okezone News

Misteri keberadaan bunker di bawah Stasiun Tanjung Priok juga telah menyebar di penduduk Tanjung Priok dan sekitar sekian lama. Konon bunker ini terhubung dengan berbagai lokasi penting pada masa pemerintahan Belanda saat itu.

Sebut saja Batavia Staadhuis yang saat itu menjadi Balai Kota Batavia. Saat ini Balai Kota itu sudah berubah nama menjadi Museum Fatahillah.

Kemudian, Pelabuhan Tanjung Priok. Pembangunan Stasiun Tanjung Priok tak lepas dari keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pengganti Pelabuhan Jakarta saat itu, yakni Pasar Ikan. Pada akhir abad ke-19, Pasar Ikan tidak lagi memadai untuk menampung aktivitas pelabuhan, dan Belanda membangun fasilitas pelabuhan baru di Tanjung Priok.

Desas-desus misteri bunker Stasiun Tanjung Priok, juga dikabarkan hingga tembus ke Pulau Onrust, salah satu pulau di deretan Kepulauan Seribu. Pulau Onrust merupakan pelabuhan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Vereenigde Oost indische Compagnie (VOC) sebelum pindah ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

Pulau Onrust ini juga merupakan markas tentara penjajah Belanda sebelum masuk Batavia dan mendudukinya. Di pulau inilah tentara Belanda melakukan aktivitas bongkar muat logistik perang.

Namun hingga saat ini kebenaran desas-desus itu belum terungkap. Kepala Stasiun Tanjung Priok Dwi Effendi saat ditemui okezone, belum berani mengungkap kebenaran desas-desus itu.

“Ya itu kan katanya-katanya. Makanya saya nggak berani (membenarkan),” jawabnya.

Sementara salah seorang pegawai Stasiun Tanjung Priok yang enggan disebutkan namanya malah menambahkan, jika terdapat terowongan lain selain ke ketiga tempat yang telah disebutkan. Yakni Pasar Ikan.

Kasubdit Perlindungan Direktorat Jendral Sejarah dan Peninggalan Purbakala Departemen Kebudayaaan dan Pariwisata Saiful Mujahid membenarkan desas-desus itu.

Berdasarkan hasil penggalian, lorong-lorong tersebut memang ditemukan. Terdapat beberapa pangkal lorong, disebut Mujahid sebagai loket, yang dicurigai merupakan sebuah lorong panjang. Namun belum bisa dipastikan, ke titik mana saja lorong-lorong itu terhubung.

Bunker Lain di Tiga Tempat

AS Temukan Terowongan Rahasia di dalam Bekas Restoran Cepat Saji

Jika kamu menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta, salah satu museum yang tak mungkin kamu lewatkan adalah Museum Fatahilah.  Museum yang memiliki nama resmi Meseum Sejarah Jakarta ini terletak persis di depan pelataran Kota Tua. Pengunjung yang sedang melepas penat di pelataran tentu akan sangat mudah melihat museum tersebut.

Ketika memutuskan untuk memasuki Museum Fatahillah, pengunjung biasanya akan disodorkan oleh beberapa ruang yang memiliki nama sendiri-sendiri. Beberapa di antaranya adalah Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, Ruang Fatahillah dan Ruang MH Thamrin.

Sementara itu, dalam sejarahnya, Museum Fatahilah merupakan kantor pusat administrasi Pemerintah Hindia Belanda. Gedung itu dibangun pada tahun 1710 oleh Gubernur Jenderal van Riebeeck.

Di balik segala kemegahan dan kekeyaan nilai historis, rupanya Museum Fatahilah menyembunyikan suatu tempat yang sangat kelam, yakni bekas penjara bawah tanah dulunya sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

Adapun lokasi penjara bawah tanah tersebut berada di belakang museum. Di dalamnya, tak terdapat penerangan sama sekali. Tak hanya itu, hawa pengap dan lembab yang sangat tak mengenakan juga sangat terasa.

Lalu adaMasjid Istiqlal. Masjid tersebut terletak di Jalan Taman Wijaya Kusuma,  Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat.  Selain ukurannya yang sangat besar, Masjid Istiqlal kerap dijadikan tempat salat bagi tokoh-tokoh nasional. Saat Lebaran tiba, hampir seluruh stasiun televisi menayangkan salat Ied di Masjid Istiqlal.

Namun, di balik kemegahannya itu, rupanya Masjid Istiqlal menyimpan sebuah terowongan bawah tanah yang konon bermuara ke Menara Syahbandar yang ada di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jika ditilik dari sejarahnya, lokasi Masjid Istiqlal itu berdiri ternyata bekas Benteng Prins Frederick yang didirikan pada tahun 1837. Benteng yang merupakan peninggalan Belanda itu kemudian dibongkar pada tahun 1967. Hingga saat ini, terowongan penuh misteri titu dinyatakan telah ditutup oleh pihak pengurus masjid.

Terakhir ada Istana negara atau yang biasa disebut Istana Presiden. Istana yang saat ini ditempati oleh Presiden Joko Widodo, terletak di Jalan Istana Merdeka, Gambir, Jakarta Pusat. Tak hanya itu, istana tersebut menghadap Monumen Nasional (Monas) secara langsung.

Meski demikian, istana yang menjadi simbol kedaulatan negara tersebut rupanya memiliki banyak misteri di dalamnya. Salah satunya adalah ditemukannya terowongan bawah tanah oleh TNI AL saat melakukan pengecekan saluran air tanah di sekitar istana.

Menurut keterangan TNI AL, terowongan yang berupa saluran air itu cukup besar dan bisa dimasuki tubuh orang dewasa. Adapun terowongan dari saluran air itu diduga tembus ke dalam Istana Presiden.

Jika ditilik dari sejarahnya, Istana Negara rupanya dibangun di atas bangunan sisa peninggalan kolonial Belanda. Kala itu, Istana Negara yang kita kenal merupakan pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para Gubernur Jenderal di Batavia.

Di dalam gedung itu pulalah,  Gubernur Jendral Graaf Van Den Bosch membuat kebijakan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel yang menyengsarakan bangsa Indonesia.

Kondisi Mistis Bunker Museum Fatahilah

Bunker Itu Tembus ke Tiga Tempat di Jakarta : Okezone Megapolitan

Sekitar tahun 1740 silam, dikisahkan tepat di alun-alun depan museum telah terjadi pembantaian sekitar 500 orang China. Mungkin karena hal itulah, hingga kini sesekali masih terdengar suara-suara teriakan histeris hingga tangisan yang terdengar sangat ramai, tepat di tempat pembantaian. Kadang, bahkan ada juga penampakan sosok tanpa kepala.

Inilah kisah mistis paling melegenda di museum Fatahillah, kisah yang bersumber dari area penjara bawah tanah. Ruang penjara ini sudah berdiri sejak 300 tahun silam. Dulunya, digunakan sebagai tempat penampungan para tahanan, penjahat dan tokoh-tokoh masyarakat yang memberontak terhadap pemerintahan Belanda. Di sinilah aksi kejam paling banyak terjadi. Para tahanan di masukkan ke sana hingga sesak sebanyak 500 orang, dibiarkan kelaparan, membusuk mati sampai disiksa dengan sadis.

Kisah kelam itulah yang kemudian dipercaya menjadikan areal penjara ini kental dengan nuansa mistis. Mulai dari suara-suara aneh, bau anyir dan amis darah, hingga penampakan sosok bayangan hitam acapkali terlihat. Selain itu serimg tampak penampakan tiga hantu berwujud anak kecil yang sudah tidak karuan, juga pria dan wanita yang mengenakan busana khas Belanda dengan bentuk yang sudah hancur sering terlihat di kawasan ini.

Dulu, zaman pemerintahan Hindia Belanda, para tahanan yang telah dinyatakan bersalah akan dihukum gantung di depan gedung ini. Pada tahun 1740, ribuan orang Tionghoa diikat, duduk bersimpuh di depan balai kota, kemudian dari jendela balai kota, Gubernur memberi kode untuk melakukan eksekusi kepada mereka.

Museum ini juga sebagai saksi bisu dari penderitaan tawanan di penjara bawah tanahnya. Ketika air laut pasang, penjara akan terisi air laut, merendam tubuh para tawanan dan membuat kondisi tawanan sungguh menyedihkan. Siapa sangka kalau Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien juga pernah ditahan di sini.

Di sebuah ruangan yang berada di sebelah ruang pertunjukan telah ditemukan ruangan rahasia sejak 2010 lalu. Pada dinding kamar yang luasnya sekitar 200 meter persegi, terdapat mural yang sangat eksotis dan baru tampak setengah jadi.

Mural itu menggambarkan Batavia era 1880-1920. Menurut brosur yang mereka bagikan kepada para pengunjung, mural itu dibuat oleh pelukis Harijadi Sumodidjojo dan S. Sudjojono tahun 1974 atas perintah Ali Sadikin (gubernur Jakarta pada masa itu). Kamar ini secara tak sengaja ditemukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam komunitas pecinta sejarah.

Tags:

BERITA TERKAIT