Mengungkap Rasa Frustrasi Pep Guardiola Atas Krisis Opsi Lini Serang Manchester City

Kamis, 30 September 2021, 17:21 WIB
30

Tampaknya tidak banyak yang salah dengan skuat Manchester City di musim 2021/2022. Tetapi manajer Pep Guardiola seringkali memasang ekspresi seperti seseorang yang takut akan sesuatu. Juara Liga Inggris musim lalu telah memulai kampanye ini dengan 17 gol dalam enam pertandingan di semua kompetisi. Mereka pun kini duduk di urutan kedua klasemen sementara Liga Inggris, dengan hanya kalah satu poin dari Liverpool.

Kemenangan 6-3 melawan RB Leipzig di pada pertandingan perdana grup Liga Champions membuat City menguasai Grup A menyusul hasil imbang 1-1 mengejutkan Paris Saint-Germain melawan Club Brugge. Kini, lawan yang harus mereka hadapi adalah PSG dan Club Brugge.

Gates Of Olympus

Tapi Guardiola tidak nyaman dengan situasi timnya sekarang, dan mungkin itu karena sederet laga penting yang ada di depan mata. Konsekuensi dari kegagalan City untuk mengontrak Harry Kane atau Cristiano Ronaldo untuk menggantikan Sergio Aguero sebagai target man pun cepat atau lambat akan terasa akibatnya.

Setelah menghadapi Wycombe di ajang Piala Liga Inggris, Man City memang menang dengan skor telak 6-1. Namun menghadapi klub kasta ketiga Liga Inggris dengan trio lini serang seperti Riyad Mahrez, Ferran Torres dan Raheem Sterling, skor telak seperti itu sangatlah wajar. Justru ujian sesungguhnya adalah saat bertamu ke Stamford Bridge, markas Chelsea.

Tentu saja, Guardiola kembali ke starting line-up langganannya alias yang terbaik saat menghadapi Chelsea akhir pekan kemarin. Trio lini serang jauh berbeda ketimbang menghadapi Wycombe. Dari Mahrez, Ferran Torres dan Sterling, sang pelatih menurunkan Jack Grealish, Phil Foden dan Gabriel Jesus.

Trio penyerang ini juga dibantu oleh para gelandang kreatif antara lain, Kevin De Bruyne, Rodri dan Bernardo Silva. Hasilnya, City pun membawa pulang 1-0 dengan penguasaan bola sebesar 60 persen. Yang memprihatinkan adalah 4 shot on targets dari total 15 tembakan sepanjang pertandingan.

Perang Kata-kata dengan Penggemar Man City

Rise of Olympus

Pep Guardiola Ingin Man City Hindari Awal Musim Buruk di Liga Inggris

Meski sejauh ini Man City tampak mampu untuk mengatasi segala rintangan yang ada, Guardiola malah memilih untuk menyalakan api dengan para supporter. Dia menyoroti agar para fans lebih banyak datang ke stadion saat timnya bermain, khususnya di Etihad Stadium. Sekadar informasi, keluhan Guardiola ini terlontarkan usai pertandingan menghadapi RB Leipzig yang tercatat ada 38.062 orang di Etihad Stadium.

“Kami butuh fans, ayolah. Kami lelah jika tidak ada dukungan dari kalian semua. Saya ingin para penggemar lebih banyak datang ke stadion di laga-laga berikutnya,” kata Guardiola dikutip dari Daily Mail.

Kritikan sang pelatih ternyata memancing amarah dari para supporter Manchester City. Sekjen Suporter Resmi Man City, Kevin Parker mengutarakan kekesalan para fans terhadap komentar Guardiola.

“Saya benar-benar tidak paham apa yang terjadi dengannya. Dia tidak tahu seberapa sulitnya untuk bisa hadir di stadion hari Rabu pukul 8 malam. Mereka punya anak yang harus diurus, mungkin ada yang tidak mampu beli tiket, atau masih khawatir dengan COVID-19. Dia memang pelatih terbaik dunia, tapi harusnya bisa bersikap lebih baik. Tidak ada satu pun dari klub, bahkan pelatih sekali pun, yang dapat mempertanyakan loyalitas supporter kepada Manchester City,” ucap Parker dikutip dari PA.

Setelah Guardiola mengungkapkan tuntutannya itu kepada para penggemar The Citizens, laga berikutnya setelah RB Leipzig, adalah menghadapi Southampton di Etihad. Dan benar saja, sebanyak 52.698 penggemar datang ke Etihad, namun di luar dugaan, hasil pertandingan imbang tanpa gol, membuat Guardiola makin merasa frustrasi.

“Setiap pertandingan berjalan tidak bagus, saya merasa buruk. Para penggemar datang ingin melihat permainan, ingin melihat tim menang. Ketika itu tidak terjadi, saya merasa bersalah karena kami tidak bermain bagus,” kata Guardiola usai laga menghadapi Southampton.

Menyerang Fans Man City Hanyalah Bentuk Frustrasi Guardiola

Di luar sana, Guardiola berulang kali mengatakan bahwa kehilangan Kane dan Ronaldo tidak memengaruhi kemampuan timnya untuk mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Tapi sebagian besar manajer sepakbola harus cerdas dalam memilih pertempuran mereka, dan mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munich itu tidak cukup naif untuk untuk dapat melontarkan kritikan pada pemilik City karena gagal menghadirkan penyerang tengah yang jelas dibutuhkan timnya.

Berbeda dengan Jose Mourinho dalam hal mengkritik pemilik klub. Dia secara teratur mengeluh tentang perekrutan tidak memuaskan di klub-klub asuhannya sebelum Roma. Dan hasil akhirnya biasanya selalu berakhir dengan Mourinho dipecat oleh klub. Lainnya, seperti Klopp di Liverpool, atau Sir Alex Ferguson semasa waktunya di United, memusatkan kemarahan atau kekesalan mereka pada wasit atau lawan. Mereka seolah tahu bahwa menargetkan pemilik atau pemain untuk meluapkan kekecewaan sering menjadi resep untuk mendapatkan masalah yang lebih besar di sebuah klub.

Manchester City Imbang dengan Southampton, Josep Guardiola: Kami Ceroboh :  Okezone Bola

Dengan mengkritik basis penggemar City, Guardiola menggunakan cara untuk mengungkapkan rasa frustrasinya dan bahkan mungkin ketakutannya atas apa yang ada di depan mata. Serangkaian jadwal padat juga menghadapi klub-klub besar pasti terjadi beberapa kali di musim ini, dan dia sadar, timnya belum benar-benar siap.

City naik dari papan tengah musim lalu untuk memenangkan gelar Liga Inggris, akhirnya memuncaki klasemen dengan selisih 12 poin. Akan tetapi, persaingan musim ini jauh lebih kuat, dan Guardiola tahu bahwa timnya tidak bisa membiarkan Chelsea, Liverpool, dan United unggul. Terlepas dari hasil di luar Liga Inggris, mereka tentu harus fokus pada pertandingan menghadapi Liverpool pada hari Minggu (03/10) mendatang. Kekalahan di Anfield akan membuat mereka tersadar bahwa Guardiola memang tidak punya solusi jelas untuk masalah striker timnya.

Raheem Sterling, yang mulai dimainkan di posisi false nine saat melawan Southampton, hanya mencetak dua gol dalam 22 penampilan terakhirnya di semua kompetisi. Sementara Kevin De Bruyne belum mencetak gol musim ini karena ia baru saja kembali bermain usai pulih dari cedera pergelangan kaki. Gabriel Jesus, satu-satunya pemain dalam skuat yang punya posisi asli sebagai striker, hanya mencetak dua gol dalam enam penampilannya musim ini. Sama seperti Ferran Torres, meski Guardiola tampak lebih menyukai penyerang asal Spanyol itu sebagai false nine.

Semua Ini karena Guardiola Frustrasi Lihat Opsi Lini Serang City

Chelsea Vs Manchester City: Gabriel Jesus Menangkan The Citizens 1-0

Ronaldo, sementara itu, telah menunjukkan nilai sebenarnya dari seorang pencetak gol dengan mencetak tiga gol dalam tiga pertandingan liga untuk Manchester United. Sang pemain kita tahu sudah menolak Man City untuk kembali ke Old Trafford dari Juventus di bursa transfer musim panas 2021 kemarin.

Dan di Chelsea, tiga gol Romelu Lukaku dalam lima penampilannya menjadi alasan besar mengapa klub bersaing di papan atas klasemen Liga Inggris awal musim ini. Adapun Liverpool, Mohamed Salah terus menunjukkan mengapa dirinya pantas disebut pencetak gol paling andal dan konsisten di liga dengan lima gol dari enam penampilan sejauh ini.

City tidak memiliki Ronaldo, Lukaku atau Salah. Memang, mereka masih punya banyak pemain yang mampu mengancam pertahanan lawan di posisi menyerang namun berbeda jika kita berbicara soal striker. Kita semua tahu bahwa tim top membutuhkan pemain yang mampu mencetak setidaknya 20 gol liga dalam satu musim.

Dan Guardiola tahu dia tidak memiliki pemain dengan kebiasaan tersebut. Namun, daripada mengeluh tentang hal itu di depan umum, ia malah memilih untuk melepaskan amarah dan kekecewaannya dengan menyerang para penggemar.

Pelatih yang memulai karir kepelatihan di skuat senior bersama Barcelona itu pun mulai menyadari apa yang dia lakukan. Dirinya bahkan baru-baru ini mengatakan siap hengkang dari kursi kepelatihan Manchester City jika memang fans tidak suka dengan keluhannya mengenai ramainya penonton di tribun.

“Saya sangat marah dan kecewa ketika orang-orang ini memberitahu saya apa yang harus dikatakan, apa yang harus saya lakukan dan saya tahu persis niat saya di balik semua perkataan saya. Tapi ya kembali lagi, jika ada orang yang tidak senang dengan saya, saya akan pergi. Saya siap untuk itu,” ucap Guardiola dikutip dari Independent.ie, ketika ditanya apakah bakal meminta maaf kepada para penggemar soal keluhannya.

Guardiola sendiri sudah menjadi manajer Manchester City selama lima tahun. Selama lima tahun itu pula, dia berhasil mempersembahkan tiga trofi Liga Inggris untuk The Citizens. Disertai dengan sekali juara Piala FA pada musim 2018/2019 lalu, empat kali memenangkan Carabou Cup secara beruntun tahun 2018-2021.