Mengungkap Sejarah Sebenarnya dari Awal Kemunculan Taktik Pressing dalam Sepak Bola

Senin, 03 Januari 2022, 10:52 WIB
66

Evolusi jadi suatu fase yang tak akan pernah bisa dilepaskan dalam beragam elemen kehidupan umat manusia, termasuk sepak bola. Seiring berjalannya waktu, sepak bola terus mengalami perkembangan. Peraturan, strategi, menu latihan, gaya hidup pemain, manajemen tim, semuanya terus berevolusi sampai seperti yang sekarang kita lihat di iklim sepak bola modern.

Khusus membahas perkembangan strategi, dewasa ini banyak pelatih ternama yang melahirkan inovasi-inovasi baru. Ambil contoh dari dua nama besar, Pep Guardiola dan Jurgen Klopp yang sedang sama-sama menukangi klub Liga Inggris.

Pep Guardiola konsisten mengembangkan skema Tiki-taka bersama Manchester City dan menghasilkan tiga gelar juara Liga Inggris. Taktik Tiki-taka dahulu pertama kali Pep populerkan kala masih melatih Barcelona sedari 2008 sampai 2012.

Sementara Jurgen Klopp yang menduduki kursi kepelatihan Liverpool, tenar berkat taktik Gegenpressing. Melalui penerapan taktik Gegenpressing, Klopp pada musim 2019/20 sukses memberikan trofi Liga Inggris perdana bagi Liverpool sejak era Premier League, serta gelar juara Liga Champions 2018/19.

Inovasi yang diperagakan Pep dan Klopp patut diacungi jempol. Namun inovasi yang mereka lakukan bersama pelatih-pelatih hebat lainnya, sejatinya bukanlah benar-benar barang baru.

Setiap inovasi yang menghiasi proses evolusi pasti ada akarnya atau asal-muasalnya. Perihal evolusi strategi sepak bola pun demikian. Pengembangan yang ada sekarang adalah hasil modifikasi dari taktik versi lama.

Maka dari itu, siapapun pegiat dan penikmat sepak bola modern, rasanya amat patut mengapresiasi jasa para tokoh-tokoh pionir. Tanpa keberadaan peran para perintis, mustahil olahraga mengolah si kulit bundar bisa semenarik sekarang.

Mungkin banyak yang berpendapat kalau pelopor gaya permainan sepak bola modern ialah mendiang Johan Cruyff. Semasa hidupnya, Cruyff dahulu pernah merasakan pengalaman menjadi pesepak bola top dunia. Setelah pensiun, Cruyff juga sempat mengecap karier kepelatihan yang tergolong lumayan sukses.

Filosofi taktik Cruyff bertumpu kepada permainan sepak bola sederhana. “Bermain sepakbola itu sederhana. Tapi, bermain sederhana dalam sepakbola itu sulit,” begitu kata Cruyff.

Inti taktik Cruyff mengedepankan permainan penguasaan bola lewat operan-operan pendek dari kaki ke kaki, sembari diiringi pergerakan mencari ruang yang eksplosif nan kreatif. Berkat strategi tersebut, Cruyff bisa meraih sejumlah prestasi mentereng kala menangani Barcelona, trofi Liga Champions 1991/92 serta empat gelar Liga Spanyol beruntun sejak 1990/91 sampai 1993/94.

Taktik ala Cruyff seringkali dianggap sebagai cikal bakal kemunculan strategi sepak bola modern, seperti Tiki-taka, Gegenpressing, dan lain sebagainya. Padahal kenyataannya, Cruyff juga melakukan adaptasi atas taktik-taktik sepak bola versi para pelatih pendahulunya.

Tentu ada deretan nama pionir strategi sepak bola di muka bumi ini. Tapi satu nama yang kerap terlupakan jasanya, yakni Viktor Maslov.

Tangan dingin kepelatihan Maslov adalah nenek moyang dari permainan sepak bola indah yang biasa kita lihat di era-era sekarang. Sayang sekali, apresiasi terhadapnya seringkali luput.

Penyebab utama publik melupakan jasa Maslov ditenggarai alasan faktor kebangsaannya. Maslov berasal dari Uni Soviet (sekarang Rusia), negara yang hampir selalu dipandang negatif oleh masyarakat internasional karena sejarah perangnya di masa lalu.

Apalagi Rusia bukanlah negara yang memiliki kultur sepak bola kental seperti Italia, Belanda, atau Inggris. Alhasil, nama Maslov tidaklah seharum pelatih-pelatih yang meneruskan warisannya.

 

Perjalanan Karier Viktor Maslov

Viktor Maslov memulai karier kepelatihan dengan dipenuhi jalan terjal. Berulang kali momen kegagalan yang berujung pemecatan harus ia hadapi.

Namun nasib kurang mujur Maslov akhirnya berubah ketika dirinya dipercaya untuk kedua kalinya menukangi Torpedo Moskow pada 1957. Maslov perlahan membentuk karakter permainan versinya yang membantu Torpedo meraih prestasi gemilang.

Puncaknya tercipta pada musim 1959/60. Maslov sukses mengantarkan Torpedo merajai pentas sepak bola Uni Soviet.

Dua kompetisi bergengsi, Liga Uni Soviet dan Soviet Cup, berhasil dimenangkan Torpedo racikan Maslov. Singkatnya, Maslov menaikkan derajat Torpedo yang sebelumnya klub papan tengah, menjadi kekuatan baru Liga Uni Soviet.

Masa bakti Maslov bersama Torpedo berakhir pada awal tahun 1962. Kali ini bukan karena pemecatan, melainkan Maslov dibajak klub Liga Uni Soviet lainnya, SKA Rostov.

Maslov melatih Rostov sampai penghujung musim 1963. Memang Maslov tanpa gelar di Rostov, tapi catatannya tetap gemilang. Sebelum pergi, Maslov membawa Rostov mengakhiri musim 1963 di posisi empat besar papan atas klasemen. Pencapaian yang tak bisa diraih Rostov sejak tahun 1961.

Maslov pergi meninggalkan Rostov lantaran sudah dipinang klub paling hebat di Liga Uni Soviet kala itu, yakni Dynamo Kyiv. Bersama Dynamo Kyiv, Maslov makin mapan sebagai pelatih top.

Bukti kehebatan taktik Maslov tertuang dalam koleksi gelar Dynamo Kyiv. Sedari 1964 sampai 1968, Maslov memberikan lima gelar bergengsi, tiga kali merajai Liga Uni Soviet dan dua kali memenangkan trofi Soviet Cup.

Maslov melatih Dynamo Kyiv sampai 1970. Usai Dynamo Kyiv, Maslov pulang ke Torpedo Moscow pada awal 1971, bertahan di sana dua tahun lamanya, memberikan gelar Soviet Cup 1972.

Pada 1975, Maslov melatih sebentar di klub Liga Uni Soviet, Ararat Erewan, menghasilkan gelar Soviet Cup 1975. Ararat Erewan menjadi klub terakhir yang dilatih Maslov, sebelum akhirnya pria berpostur 178 cm meninggal dunia pada 1977.

 

Membedah Taktik Pressing Paling Pertama Versi Viktor Maslov

Tren sepak bola era 1950-an sampai awal 1960-an begitu marak tim-tim yang menerapkan formasi 4-2-4. Semua didasari oleh kesuksesan Timnas Brazil racikan Vicente Feola yang merajai Piala Dunia 1958 dengan formasi tersebut.

Skema 4-2-4 dianggap jadi strategi yang paling ideal untuk memenangkan pertandingan kala itu. Formasi 4-2-4 yang diisi dua penyerang sayap melebar, membuat daya gedor sebuah tim jadi sangat mengerikan.

Tim-tim sepak bola lain dari belahan negara manapun mengikuti cara main Timnas Brazil tadi. Uni Soviet juga sama, pelatih Tim Nasional, Gavriil Kachalin menerapkan skema 4-2-4 untuk gelaran Piala Dunia 1962.

Klub-klub Liga Uni Soviet mengikuti kiblat formasi 4-2-4 seperti yang diperagakkan Timnas mereka. Bahkan ketika Gavriil Kachalin didepak pada 1962 dan digantikan Konstantin Beskov, Timnas Uni Soviet masih setia mengandalkan skema 4-2-4.

Sebenarnya tidak sepenuhnya salah begitu percaya terhadap kesuksesan Brazil yang sukses besar melalu skema 4-2-4. Namun jika semua tim bermain seperti itu, taktik menangkal formasi 4-2-4 mudah ditebak dan Viktor Maslov menyadarinya. Maslov berani melakukan pembaharuan, meluncurkan formasi 4-4-2.

Formasi 4-2-4 dihiasi dua penyerang sayap. Satu penyerang sayap bertugas sebagai winger dan satunya lagi agak masuk ke dalam menjadi gelandang serang.

Sedangkan Maslov merancang skema 4-4-2 dengan menempatkan dua penyerang sayap mundur ke belakang, sejajar di sektor tengah bersama dua gelandang. Alhasil, skuat racikan Maslov memiliki jumlah pemain lini tengah terbanyak di dunia, sebab tim-tim lainnya selalu mengandalkan skema 4-2-4.

Filosofi sepak bola Maslov lewat skema 4-4-2 mengutamakan kreativitas gelandang. Dua gelandang tengah memegang peran berbeda, satu untuk bertahan melindungi empat bek, satunya lagi memerankan playmaker alias gelandang pengatur serangan.

Dua winger yang dimundurkan ke sektor tengah, berperan mirip seperti playmaker tapi dari sisi sayap. Opsi aliran bola serta kreativitas permainan tentunya bertambah berkat kehadiran dua gelandang sayap.

Peran dua gelandang sayap juga diminta membantu menangkal serangan lawan yang berasal dari dua sisi lapangan. Tugas dua bek sayap perihal bertahan jadi lebih mudah, karena didukung kehadiran dua gelandang sayap.

Mengingat tugas dua bek sayap dalam bertahan cenderung dipermudah, mereka juga diminta ikut membantu serangan. Singkatnya, dua bek sayap harus ikut maju ke depan membuka ruang.

Gaya main 4-4-2 racikan Maslov memiliki keseimbangan yang luar biasa. Urusan menyerang dan bertahan, Maslov menempatkan orang lebih banyak.

Keseimbangan permainan skema 4-4-2 makin terasa kental lantaran Maslov enggan memainkan skema bertahan zona marking. Dia menginstruksikan anak asuhnya bermain menekan saat lawan menguasai bola alias pressing man to man.

Kala itu sepak bola sangat tidak lazim bertahan secara pressing. Semua tim bertahan menggunakan cara menunggu di zona pertahanannya sendiri.

Maslov tahu kalau strategi bertahan pressing membutuhkan tenaga lebih. Ia lantas mempercayakan seorang pelatih fisik supaya skuat asuhannya intens ditempa kekuatan tubuh dan staminanya.

Gaya melatih Maslov ikut memperhatikan kepentingan nutrisi pemain serta pemulihan otot pasca pertandingan. Semua yang diperagakkan Maslov kini sudah biasa terjadi di sepak bola modern, tapi dahulu belum ada sama sekali.

Memang ada konspirasi kalau 4-4-2 sebenarnya ciptaan Inggris, bukan orang Uni Soviet seperti Maslov. Konspirasi muncul berkat keberhasilan Timna Inggris menjuarai Piala Dunia 1996 bersama pelatih Alf Ramsey dengan skema 4-4-2.

Tapi konspirasi tercipta lantaran ketegangan Perang Dingin yang mana Uni Soviet merupakan musuh Inggris. Faktanya, Maslov tetaplah jadi orang pertama di muka bumi yang mengembangkan skema 4-4-2. Seperti yang dikatakan jurnalis sepak bola Inggris di era modern, “4-4-2 pertama kali ditemukan oleh Maslov”.

Kalau kalian sekarang melihat Pep bisa menerapkan permainan kolektivitas tim yang amat kreatif, semua itu dimulai oleh Maslov. Sama halnya taktik Gegenpressing ala Klopp, Maslov jadi yang pertama melakukannya. Begitulah kisah Viktor Maslov, sang penemu 4-4-2 dan Bapak dari gaya Gegenpressing sepak bola.