Menyelami Perkembangan Bisnis Pecel Lele: Kuliner Asal Lamongan yang Sempat Dipandang Jijik, Tapi Kini Begitu Marak di Jakarta

Jumat, 31 Desember 2021, 18:50 WIB
40

Edisi Bonanza88, Jakarta – Menyusuri daerah Jabodetabek dari petang hingga malam hari, pasti mudah sekali menemukan pedagang pecel lele yang mendirikan tendanya di pinggir jalan. Jumlah mereka termasuk kategori sangat banyak, mungkin dalam radius beberapa ratus meter bakal ada minimal satu pedagang pecel lele. Tenda mereka umumnya didesain dengan warna putih dominan serta dihiasi gambar-gambar binatang yang mereka jadikan olahan bahan makanan, seperti ikan lele dan ayam.

Aroma sedap nan menggugah selera seringkali muncul selama para pedagang pecel lele menjalankan proses memasak bahan-bahan makanan dagangannya. Fenomena demikian akhirnya membuat orang-orang yang melintas tertarik datang berkunjung ke tenda mereka untuk membeli serta menyantap hidangan. Setiap pembeli pun dapat memilih, mau makan di meja yang disediakan pemilik pecel lele, atau membungkusnya dan dimakan di rumah.

Kalau mengulas sejarahnya, pecel lele sendiri sejatinya merupakan jenis makanan asli dari daerah Jawa Timur sana, tepatnya di Lamongan. Namun seiring berjalannya waktu, pecel lele mengalami proses ‘impor’ sehingga bisa masuk ke Jakarta dan begitu marak seperti sekarang. Pemicunya tercipta pada periode 1970-an silam kala banyak warga Lamongan yang memilih mengadu nasib dengan merantau menuju Ibu Kota.

Orang-orang Lamongan yang berdatangan ke Jakarta mayoritas mencoba mengais rezeki dengan membuka kedai makanan. Jenis makanan yang mereka jajakan tentunya makanan khas daerah asalnya, pecel lele. Sejak itulah pertumbuhan bisnis pecel lele, baik secara raihan uang maupun jumlah pedagang terus meningkat di Jakarta serta beberapa daerah sekitarnya.

Hampir semua pedagang pecel lele menyajikan makanan jualannya lewat proses pengolahan yang sama. Ikan lele yang sudah dibersihkan, akan dilumuri tepung terlebih dahulu, kemudian dicelupkan ke wajan yang sudah diisi minyak panas, dan digoreng hingga matang kering. Sementara ketika disajikan di atas piring, ikan lele matang bakal ditemani sambal gurih pedas serta beragam jenis sayuran sebagai lalapan, contohnya timun, sawi, dan daun kemangi.

Para pedagang pecel lele turut menyediakan beberapa menu andalan selain ikan lele. Bila kurang suka ikan lele, pembeli dimungkinkan memilih jenis daging ayam sebagai menu utama. Ada pula lauk-lauk pendamping yang biasanya berupa tahu, tempe, sate kulit, dan sate ati ampela. Kesemua jenis lauk-lauk itu pengolahannya juga dilumuri tepung dan digoreng kering. Lauk yang dipesan nantinya disantap dengan nasi. Para pembeli boleh memilih mau jenis nasi biasa atau nasi uduk.

Tak cuma beragam jenis lauk, pedagang pecel lele punya satu jenis makanan lain yang bisa dibilang wajib disediakan, yakni soto. Sebenarnya perihal jenis makanan soto memiliki kedekatan erat dengan sejarah awal kemunculan pecel lele di Jakarta. Ketika awal-awal hijrah ke Jakarta, para pedagang pecel lele melakukan inovasi yang mana mereka menjual pecel lele bersama soto Lamongan sebagai menu pendamping. Hingga sekarang, metode ala pionir-pionir bisnis pecel lele di Jakarta yang demikian masih tetap dilestarikan.

Mengutip Kompas, ada pria bernama Jali Suprapto yang merupakan saksi sejarah sekaligus pelaku langsung dalam masa-masa awal perkembangan pecel lele. Jali menjelaskan bahwa awalnya dia merantau ke Jakarta pada 1960-an bersama orang-orang Lamongan generasi pertama yang mendagangkan soto Lamongan. Upaya Jali setibanya di Jakarta mengikuti tren menjajakan soto Lamongan yang kala itu marak dilakukan orang-orang Lamongan.

Memasuki periode 1970-an, di Lamongan sana sedang mahsyur makanan bernama pecel lele. Para pedagang soto Lamongan di Jakarta, termasuk Jali, kembali mengikuti tren ini. Mereka semua lantas mengubah menu makanan dagangannya. Awalnya yang dijual mereka hanyalah soto Lamongan. Tapi berkat tren di Lamongan tadi, mereka jadinya turut menambahkan menu makanan pecel lele.

“Pecel lele itu tersebar mulai akhir tahun 1970-an, orang-orang mulai adopsi pecel lele untuk dijual sama soto lamongan di Jakarta dan akhirnya tersebar,” ujar Jali.

Terselip kisah menarik perihal nama pecel lele. Meski diisi diksi pecel, hidangan pecel lele tidak benar-benar menghadirkan makanan pecel yang berupa sayur-sayuran dengan bumbu sambal kacang. Kata pecel ternyata merupakan bentuk adaptasi pedagang-pedagang asal Lamongan atas kebudayaan asli Jakarta.

Generasi awal masuknya pecel lele, Jakarta memiliki tren yakni makanan khas budaya Betawi bernama pecek. Format hidangan pecek menggunakan bahan dasar ikan air tawar yang penyajiannya dikombinasikan dengan kuah santan. Pedagang pecel lele lantas mengadaptasi nama pecek supaya bisa makanan khas Lamongan yang mereka jajakan lebih masuk ke pasar masyarakat Jakarta.

Penyebutan awal yang beredar sebenarnya bukan pecel lele, melainkan pecek lele. Berdasarkan kebudayaan masyarakat Jawa Timur, pecek sebenarnya merupakan makanan dengan lauk daging-dagingan yang cara mengolahnya digeprek dan dilumuri sambal. Mengingat pola pengolahan pecek lele tidak digeprek, maka nama pecek lele diubah menjadi pecel lele agar tidak menimbulkan salah persepsi.

Penyebutan istilah pecel lele sejatinya hanya berlaku di daerah Jakarta dan sekitarnya, termasuk Bandung. Bagi beberapa daerah lain, penyebutan pecel lele familiar menggunakan istilah berbeda. Misalnya di daerah asalnya di Lamongan, pecel lele tetap akrab melalui sebutan pecek lele. Sedangkan di Bali dan Manado, pecel lele familiar disapa nasi lalapan.

Pecel Lele Sempat Sulit Diterima Lidah Orang Jakarta

Ini loh Asal Usul Makanan Pecel Lele yang Nggak Ada 'Pecel'-nya

Peredaran pedagang pecel lele di Jakarta dewasa ini memang begitu masif. Ketika malam hari tiba, orang-orang Ibu Kota yang mau menyusuri jalanan untuk mencari jajanan kuliner, pasti tidak sulit menemukan tenda-tenda pedagang pecel lele. Jumlah penikmat setia pecel lele pun sepertinya cukup berimbang dengan banyaknya jumlah pedagang.

Meski begitu, perjalanan perkembangan pecel lele hingga jadi makanan yang umum dikonsumsi oleh warga Jakarta seperti sekarang, sejatinya telah melalui proses berliku. Kala awal masuk ke Jakarta pada medio 1970-an, kehadiran pecel lele tidak sepenuhnya diterima baik oleh pasar. Warga Jakarta merasa kurang familiar dengan ikan lele untuk dijadikan lauk sehari-hari.

Mengutip Kompas, seorang pria asli Lamongan bernama Hartono, sempat merasakan langsung pengalaman sulitnya menjajakan pecel lele di Jakarta. Hartono datang ke Jakarta pada 1980-an dan langsung membuka usaha warung makan pecel lele. Namun Hartono tidak menjadikan ikan lele sebagai menu utama dari warung makannya.

Kebijakan Hartono dipengaruhi faktor kebiasaan masyarakat Jakarta yang menganggap lele bukanlah jenis ikan lazim diolah menjadi bahan makanan lauk. Alhasil Hartono lebih dulu menggunakan jenis-jenis ikan lainnya sembari pelan-pelan memperkenalkan lele kepada orang-orang Jakarta. Perlahan tapi pasti, upaya Hartono berbuah manis. Warga Jakarta akhirnya menyukai lele seperti yang kita lihat sekarang.

“Jual lele itu ada prosesnya, memang di Lamongan sudah dijual, tapi dikenalkan ke Jakarta itu gak langsung lele, dicoba ikan-ikan lain dulu, kayak ikan gabus, bawal dan yang lainnya baru lele,” ujar Hartono.

“Lele itu lebih tahan lama, lebih segar, setelah dimasak juga akhirnya menyadari dagingnya enak,” tambah Hartono.

Pecel Lele Jadi Bisnis Menggiurkan

Duh! Gara-Gara Boros Tisu, Pria Ini Disindir Penjual Pecel Lele

Pecel lele kini menjadi jenis jajanan kuliner yang amat umum bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta. Hal ini tentu dipengaruhi oleh pengalaman para pedagang pecel lele yang umumnya merasakan keuntungan melimpah dari bisnis ini. Bahkan ada anggapan yang menyebut kalau menjual pecel lele merupakan bentuk bisnis dengan modal kecil tapi bisa untung besar.

Mungkin tidak semua pedagang pecel lele bisa merasakan keuntungan fantastis dalam periode waktu singkat. Mungkin ada pula pedagang pecel lele yang menemui jalan buntu menuju kesuksesan hingga akhirnya merugi. Namun mayoritas pelaku bisnisnya bisa bertahan cukup lama hingga menjadi sumber penghasilan utama.

Kisah paling fenomenal dirasakan pria bernama Rangga Umara. Tahun 2007 silam, Rangga untuk kali pertama berkecimpung di sektor bisnis pecel lele. Keterbatasan pilihan akibat kena PHK atau pemecatan, membuat Rangga nekat menguji nasibnya membuka warung makan pecel lele untuk tetap mendapat penghasilan.

Perjalanan awal bisnis pecel lele Rangga amatlah miris. Selain sepi pengunjung, kerugian yang dialami membuat Rangga berpikir untuk berhenti saja menggeluti bisnis pecel lele. Bahkan Rangga sampai pernah tidak punya uang sama sekali, diusir dari kontrakan, dan hidup serba kesusahan.

Rangga ternyata mau berusaha sekali lagi di bisnis pecel lele. Ia memberanikan diri meminjam uang kepada kerabatnya. Uang yang dipinjam digunakan Ranggga untuk menyewa sebuah lahan di bilangan Kalimalang sana dan membuka warung pecel lele. Rangga menamai warung pecel lelenya dengan sebutan Lele Lela.

Belajar dari kegagalan masa lalu, Rangga memulai Lele Lela dengan inovasi strategi pemasaran. Ia memberikan promosi sekaligus akan memotret setiap pelanggan yang datang dan hasil fotonya pasti dipajang di warung. Strategi ini ternyata efektif, membua Rangga bisa meraup keuntungan Rp 3 juta di bulan-bulan pertama operasional Lele Lela.

Seiring berjalannya waktu, pendapatan yang diperoleh Rangga dari bisnis Lele Lela makin bertambah. Kunci sukses Rangga terletak pada keuletannya dalam menerapkan inovasi bisnis. Ia membuat banyak resep olahan beragam agar hidangan pecel lele tidak hanya tampil begitu-begitu saja.

Hasil kegigihan dan kreativitas Rangga kini mengantarkannya kepada kesuksesan luar biasa. Bisnis pecel lele bertajuk Lele Lela miliknya sudah punya banyak sekali cabang di Indonesia. Soal omzet maupun keuntungan, tentu sudah masuk kategori fantastis. Rangga bisa meraup omzet paling kecil sekitar Rp 8 miliar tiap bulannya.

Tags:

BERITA TERKAIT