Misteri Batu Bleneng di Tol Cipali

Jumat, 31 Desember 2021, 20:32 WIB
39

Edisi Bonanza88, Jakarta – Beberapa waktu lalu warganet dikagetkan dengan tragedi kecelakaan yang menewaskan 8 orang di tol Cipali, Jawa Barat. Dari kejadian naas tersebut, banyak warganet menyangkut pautkan kejadian tersebut dengan hal mistis, salah satunya dengan keberadaan “Batu Bleneng” di KM 180 tol Cipali.

Sebelumnya diketahui bahwa meski sekitar tol Cipali sudah dirapikan dan di cor, keberadaan batu bleneng tersebut tetap kokoh berdiri. Bila anda melintas dari arah Jakarta ke Palimanan batu itu ada di sebelah kanan, di sebuah bukit bernama Bukit Salam. Tetapi bila dari arah Cirebon ke Jakarta batu itu ada di sebelah kiri dan batu itu letaknya masuk di daerah Cirebon.

Bicara soal batu besar yang berada dipinggir tol Cipali itu, ada legenda di kalangan penduduk setempat. Konon katanya, percaya nggak percaya, batu itu tak bisa dipindahkan saat pembangunannya.

Sudah diupayakan dibongkar tapi selalu tak bisa. Entah alat yang terbatas atau mungkin saja, pihak pengelola sengaja menaruh batu itu sebagai hiasan jelang keluar gerbang tol Cipali.

Menurut salah satu legenda rakyat setempat, batu tersebut adalah tanda asal muasal pulau Jawa dijadikan pemukiman. Ada pula yang bilang batu itu peninggalan orang zaman dahulu yang sengaja ditaruh disitu karena berguna untuk menutup mata air berlumpur yang dapat membuat banjir kawasan itu pada masa lalu.

Seperti namanya, ditempat batu misterius itu berada, yaitu di “Desa Walahar”, sebagai asal mula nama “Walahar”, karena dahulu di tempat itu ada sumber mata air lahar yang keluar dari dalam kerak bumi, seperti layaknya lumpur Lapindo di Sidoardjo Jawa Timur pada saat ini. Menurut legenda, laharnya keluar terus tanpa henti.

Maka atas kesaktian sesepuh tanah Jawa pada masa itu yang mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa, ia diberi petunjuk bahwa untuk menutup mata air lahar tersebut harus dengan batu besar yang terdapat di puncak Gunung Ceremai.

Gunung Ceremai adalah satu-satunya gunung tinggi yang paling dekat dan memang tidak begitu jauh dari lokasi, berjarak 20 kilomter ke arah selatan dari lokasi batu Bleneng. Dengan kesaktian sesepuh pada masa itu, maka batu ukuran besar berhasil diangkat dari Gunung Ceremai dan dijatuhkan tepat diatas mata air lahar tersebut.

Akhirnya air lahar tak keluar lagi dan daerah tersebut di namakan “Walahar”. Lalu, kenapa batu tersebut hingga kini tidak bisa dipindahkan? Lagi-lagi hanya menurut mitos warga sekitar, bahwa batu besar itu dijaga oleh raja Jin yang telah berjanji kepada sesepuh yang telah menaklukannya.

Karena janji raja Jin yang pernah ditaklukan oleh sesepuh yang berhasil memindahkan batu tersebut, bahwa sang raja Jin telah berjanji akan menjaga batu besar itu agar tidak berpindah atau hancur demi menutup lubang lumpur, walau pada masa kini lumpur sudah tak ada.

Maka hingga saat ini masih terbukti, bahwa batu besar yang seakan bertengger di pinggir jalan tol Cipali nan misterius ini tetap berdiri kokoh seperti dulu, karena tak dapat dihancurkan. Bahkan karenanya, jalan tol Cipali terpaksa sengaja dibelokkan dan kini seakan-akan batu besar misterius itu ikut pula menjaga jalan tol Cipali.

Ada lagi cerita mitos bahwa batu misterius itu juga sebagai tempat orang zaman dahulu bersemedi dan banyak lagi cerita-cerita mitos lainnya. Maka tidak heran jika kecelakaan yang terjadi disekitar tol Cipali banyak menyangkut pautkan dengan hal mitos batu bleneng tersebut.

Tol Cipali dan batu Bleneng

Menguak Cerita Mistis Batu Bleneng di Tol Cipali : Okezone News

Sepintas jalan Tol Cipali tak jauh berbeda dengan jalan tol lainnya di Pulau Jawa. Pembangunan jalan tol ini dimulai 2011 dan digunakan pertama kali 2015. Panjang jalan tol ini mencapai 116 kilometer. Tol Cipali menghubungkan daerah Cikopo, Purwakarta dengan Palimanan, dan Cirebon.

Tol Cipali didominasi oleh jalanan lurus. Bentuk jalan yang menikung dan membelah bukit hanya ada di Km 181-182. Lokasi tersebut masuk wilayah Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Keberadaaan sebuah batu besar di pinggir jalan Tol Cipali, tepatnya di kilometer 181. Batu besar tersebut dikenal dengan nama Batu Bleneng oleh warga sekitar. Batu ini berada di pinggir jalan sebelah kanan bila dari arah Jakarta-Palimanan, namun bila dari arah Cirebon, batu itu berada di sebelah kiri. Wilayah batu itu berada di sebuah bukit bernama Bukit Salam yang disulap menjadi jalan tol.

Warga sekitar yang tinggal di kaki Gunung Salam percaya, Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib sehingga batu seukuran bus kota itu tidak bisa dipindahkan ataupun dihancurkan.

Beberapa warga juga percaya mitos Batu Bleneng adalah sumbat mata air raksasa. Apabila batu itu dipindahkan, maka air akan menyembur tanpa henti. Menurut warga, Batu Bleneng juga pernah dijadikan lokasi syuting acara televisi tentang lokasi-lokasi angker.

Mitos ini semakin diperkuat mana kala hanya dalam 10 hari setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, di jalan tol ini telah terjadi 30 kecelakaan yang mengakibatkan sejumlah orang tewas dan luka-luka. Hal ini tak ayal menumbuhkan persepsi masyarakat soal mitos Batu Bleneng dan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di jalan Tol Cipali

Topografi Jalan Tol Cipali

Gunung Tinggi Bisa Dibelah Tapi Batu Bleneng di Tol Cipali Tak Bisa  Dipindahkan atau Dihancurkan - Tribunnews.com Mobile

Namun, jika melihat bagaimana topografi jalan tol ini, kecelakaan yang selama ini terjadi bisa disebabkan karena berbagai hal. Hal yang paling mungkin mendominasi adalah faktor human error dikarenakan jalan yang lurus dan panjang sehingga menyebabkan pengemudi mengantuk.

Hal lain yang memungkinkan terjadinya kecelakaan adalah adanya tebing hasil dari pemotongan Gunung Salam dan mengapit jalan tol. Panjang masing-masing tebing sekitar 300 meter sedangkan puncak tebing tingginya sekitar 40 meter.

Seperti yang dikatakan di atas, imbas dari pemotongan Gunung Salam ini menjadikan bentuk jalur tol di kilometer 181-182 menjadi berbentuk letter S. Kondisi ini membuat jalan jadi berkelok dan menanjak.

Oleh karenanya bagi para pemudik yang berencana untuk menggunakan jalan Tol Cipali ini pada mudik lebaran besok, ada baiknya berhati-hati di kilometer ini. Sebab, setelah disuguhkan dengan jalan lurus yang panjang, kamu akan melewati jalanan yang berkelok. Jadi konsentrasi dalam mengemudi dibutuhkan untuk saat melintasi jalur ini.

Awal Dibangunnya Tol Cipali

Sejarah proyek jalan tol ini digagas sejak zaman Orde Baru sebelum mangkrak. Pada 2011 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), proyek ini baru dilanjutkan, dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 13 Juni 2015.

Saat ini, Tol Cipali merupakan ruas jalan tol terpanjang di Indonesia, yakni memiliki jalan sepanjang 116 kilometer. Jalur jalan tol ini menghubungkan Cikopo di Purwakarta dengan Palimanan di Cirebon, sehingga dinamakan Cipali atau Cikopo-Palimanan.

Jalur Cipali adalah kelanjutan dari jalan tol Jakarta-Cikampek dan menjadi bagian dari jalan tol Jakarta-Palimanan. Kilometer 0 Tol Cipali berada di Cawang (Jakarta) dan berakhir di Palimanan. Jalur ini termasuk Jalan Tol Trans Jawa yang akan menghubungkan Merak (Banten) hingga Banyuwangi (Jawa Timur).

Proyek Tol Cipali digagas pada akhir rezim Orde Baru. Dalam buku Sandiaga Uno berjudul Kerja Tuntas Kerja Ikhlas (2017) terungkap bahwa upaya membangun jalan tol untuk mengurangi beban jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) ini sudah muncul sejak era Presiden Soeharto sebagaimana tercatat dalam rencana tata ruang Kabupaten Subang tahun 1996.

Akan tetapi, banyak kendala yang menghambat pembangunan proyek besar yang semula dinamakan Tol Cikampek-Palimanan (Cikapali) ini, terutama krisis moneter yang meluluhlantakkan perekonomian Indonesia pada 1997 dan 1998, juga berimbas terhadap rezim penguasa.

Soeharto pun lengser sejak 21 Mei 1998. Pasca-reformasi, perekonomian nasional belum sepenuhnya stabil meskipun rezim beberapa kali berganti. Dari era Presiden B.J. Habibie (1998-1999), Abdurrahman Wahid (1999-2001), hingga Megawati Soekarnoputri (2001-2004), kelanjutan nasib proyek Tol Cipali terus saja menjadi teka-teki.

Pada masa pemerintahan Presiden SBY yang berlangsung sejak 2004, upaya untuk menghidupkan kembali Tol Cipali mulai dilakukan. Hanya saja, lagi-lagi muncul halangan, termasuk alotnya pembebasan lahan. Tak hanya penduduk yang melancarkan protes. Pada 2008, misalnya, para pengurus dan santri sejumlah pondok pesantren di Cirebon juga melakukan hal serupa, yakni menolak pembangunan Tol Cipali.

Jalur proyek jalan tol tersebut mengenai wilayah milik 32 ponpes yang berlokasi di Desa Waringin, Kecamatan Babakan, Cirebon. Selain itu, pembangunan Jalan Tol Cipali juga dikhawatirkan akan merusak, atau setidaknya mengubah, situs-situs budaya dan sosial yang disebut-sebut sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Kendati memakan waktu cukup lama, pemerintahan SBY mampu menuntaskan masalah tersebut. Proyek Tol Cipali pun siap dibangkitkan setelah mangkrak bertahun-tahun sedari rezim Soeharto masih berdiri. Peletakan batu pertama lanjutan proyek Tol Cipali dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum era SBY, Djoko Kirmanto, pada 8 Desember 2011.

Diwartakan Media Indonesia (17 Juli 2015), dana yang dibutuhkan untuk menggarap proyek sebesar Rp12,56 triliun. Namun, lagi-lagi proses pembangunan Tol Cipali terkendala. “Tersendatnya pekerjaan fisik jalan tol ini akibat adanya kendala pembebasan lahan di daerah Subang dan Cirebon,” ungkap Ketua Tim Pengadaan Tanah (TPT) saat itu, Eten Koseli

Setelah urusan pembebasan tanah tuntas, proyek kembali dilanjutkan. Hanya saja, sesuai yang tercantum dalam kontrak kerjanya, pembangunan Tol Cipali ditargetkan berakhir pada Agustus 2015. Itu artinya, proyek ini selesai ketika SBY sudah tidak menjabat presiden lagi.

Sejak 2014, Jokowi terpilih sebagai Presiden RI dan langsung menggenjot pembangunan infrastruktur, termasuk percepatan pembangunan Tol Cipali. Alhasil, proyek tol panjang ini mampu diselesaikan dua bulan lebih cepat dari target semula. Presiden Jokowi pun meresmikan Tol Cipali pada 13 Juni 2015.

Kecelakaan Tol Cipali

3 Hal tentang Penyerang Sopir Bus Kecelakaan Maut Tol Cipali - News  Liputan6.com

Senin dinihari, 10 Agustus, kecelakaan terjadi di Tol Cipali kilometer 184. Delapan orang meninggal dunia. Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi menjelaskan, kecelakaan bermula ketika Micro Bus Elf D-7013-AN berpindah jalur ke jalur berlawanan.

Elf yang diisi 16 orang kemudian menabrak Toyota Rush berpenumpang empat orang. Menurut perkembangan kabar terakhir, 10 Agustus, pukul 11.00 WIB, selain korban tewas, ada satu orang luka berat. 14 lainnya luka ringan. Seluruh korban tewas dibawa ke Rumah Sakit Arjowinangun, Cirebon, Jawa Barat. Polisi masih melakukan penyelidikan.

Kecelakaan ini memperpanjang tragedi kelam di Tol Cipali yang bahkan tercatat sejak beberapa pekan beroperasi. Laporan Majalah Tempo berjudul Jalan Tol Cipali Akan Jadi Standar Kualitas (2015) mencatat, tak sampai sebulan –14 Juni hingga 7 Juli– sejak diresmikan, telah terjadi 54 kecelakaan di Tol Cipali.

“Terakhir, pada Juli 2015, mobil Daihatsu Gran Max berpenumpang sebelas orang menghantam truk pengangkut semen cair di Kilometer 178. Dalam musibah tersebut tujuh orang meninggal dan empat terluka parah,” tertulis.

Kelaikan operasi dan sertifikat Jalan Tol Cipali juga kerap dipertanyakan. Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono kala itu menyatakan tak ada masalah konstruksi di Jalan Tol Cipali. Basuki menilai kecelakaan lebih banyak disebabkan kelelahan pengemudi, mengingat panjangnya rute Tol Cipali.

“Pertama, Kecelakaan itu bukan karena geometri atau kondisi jalan. Kedua, kecelakaan terjadi pada titik-titik jauh, yang memungkinkan ketika itu si pengemudi mulai lelah. Kecelakaan fatal sendiri banyak terjadi dari arah Cirebon ke jakarta, yang ditengarai dialami pengemudi dari Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Mungkin mereka yang sedang menjajal jalan tol baru ini kelelahan,” ucap Basuki dikutip Majalah Tempo.

Kendati demikian, saat itu Basuki telah menimbang beragam langkah supaya angka kecelakaan menurun. Beberapa di antaranya dengan memberikan peringatan singkat kepada pengendara di pintu masuk tol, memberi kopi panas, juga dengan patroli polisi. “Kalau ada nguing-nguing yang ribut begitu kan pengemudi jadi melek,” ucap Basuki.

 

Tags:

BERITA TERKAIT