Misteri Umur Panjang Manusia di Masa Lalu

Jumat, 31 Desember 2021, 11:11 WIB
59

Edisi Bonanza88, Jakarta – Manusia di masa purba lalu, diketahui mempunyai usia yang lebih panjang dibandingkan dengan manusia yang hidup di zaman modern. Banyak dari kita bertanya-tanya, apakah yang membuat mereka dapat hidup begitu lama?

Apakah efek ini terjadi akibat dari makanan yang sering mereka makan? Atau apakah akibat dari pola makan mereka? Sebuah riset terbaru berhasil mengungkap rahasia tersebut, yakni diet kalori ultra rendah.

Sebuah tim internasional telah menemukan bahwa, “Kalori yang dipangkas secara substansi sekitar 30 persen dari ukuran diet normal ternyata bisa memperlambat proses penuaan dan dengan demikian akan meningkatkan harapan hidup yang lebih lama!”

Sebelumnya para peneliti sudah menemukan bahwa, “Mengurangi kalori sedikit di atas tingkat malnutrisi dapat mengurangi hampir separuh dari risiko-risiko penyakit jantung atau kanker dan meningkatkan hampir sepertiga usia hidup kita.”

Malnutrisi adalah suatu istilah umum yang merujuk pada kondisi medis yang disebabkan oleh diet yang tak tepat atau tak cukup. Malnutrisi kadang pula seringkali disamakan dengan kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi, buruknya absorpsi, atau kehilangan besar nutrisi atau gizi.

Dalam riset tersebut, tim menggunakan 76 ekor Rhesus Macaques (Macaca Mulatta), sejenis monyet tertua di dunia. Di dalam riset tersebut, separuh dari monyet macaques (mekak) mengkonsumsi kalori 30 persen lebih sedikit, dengan usia di atas 20 tahun awal kedewasaan.

Ternyata tim riset menemukan bahwa 37 persen dari monyet dengan diet ultra rendah itu masih hidup hingga hari ini! Sedangkan monyet yang makan dengan diet normal hanya 13 persen yang masih hidup.

“Hal tersebut memberi masukan kepada saya bahwa biologi fundamental dari pembatasan kalori yang sedang dipelajari pada tikus, lalat, cacing, dan lain-lain kelihatannya bagus untuk diterapkan pada primata,” kata ketua tim riset Richard Weindruch dari Universitas Wisconsin di Madison.

Rahasia sangat sederhana ini bukan hanya menambah panjang umur, tapi juga bisa menghemat uang dan menjaga kelestarian lingkungan.

Seperti kata pepatah, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.  Mungkin juga dapat berarti, sekali makan rendah kalori, dua-tiga keuntungan didapat.

Fosil Berusia Ratusan Ribu Tahun

Manusia Purba di Indonesia: Jenis dan Ciri-cirinya Halaman all - Kompas.com

“Setidaknya ada tiga manusia kerdil dari serpihan-serpihan fosil yang ditemukan di pulau Flores, NTT, Indonesia yang juga merupakan pulau tempat Homo floresiensis alias “Manusia Hobbit” ditemukan, dan menurut penanggalan karbon atau carbon-dating, ternyata fosil-fosil yang masih misterius itu berusia 700.000 tahun! Jauh lebih tua dari si Hobbit!,” menurut dua makalah baru di jurnal Nature.

Fosil manusia purba yang ditemukan berupa fosil tulang rahang kanan parsial, dan beberapa gigi yang terisolasi, yang usianya mendahului Hobbit lebih dari setengah juta tahun!

Kehadiran mereka di pulau Flores ini menunjukkan bahwa individu kecil adalah bagian dari populasi yang kemudian memunculkan istilah “Hobbit”, julukan manusia katai di film fiksi terkenal “The Lord of The Rings”, yang mana fosil terdahulu pernah ditemukan di gua ‘Liang Bua’ di pulau yang sama.

“Kami tidak bisa yakin tentang ukuran tubuh mereka yang sebenarnya, karena kami hanya memiliki mandibula dan gigi,” ujar Yousuke Kaifu, penulis laporan pertama yang mengatakan kepada Discovery News.

“Tapi ukuran mereka menunjukkan bahwa manusia hominin purba (awal anggota dari genus Homo) yang berusia 700.000 tahun  ini sekecil Homo floresiensis dari Liang Bua,” lanjut Yousuke Kaifu.

Empat gigi yang ditemukan berasal dari individu dewasa yang sama dengan pemilik fragmen rahang bawah. Sementara itu, pemeriksaan lebih detail mengungkap bahwa dua gigi lainnya merupakan gigi susu, masing-masing milik dua anak yang berbeda. Tim kemudian menggunakan teknik statistik untuk membandingkan rahang bawah dan tulang gigi dengan fosil spesies lain seperti H. habilis, H. erectus dan H. floresiensis asli.

Kaifu adalah seorang antropolog dari National Museum of Nature and Science di Jepang, bersama dengan penulis utama dari makalah pertama Gerrit van den Bergh dan rekan-rekan mereka, menganalisis sisa-sisa fosil yang baru ditemukan.

Mereka menggali lapisan batuan sedimen di sebuah situs yang disebut Mata Menge, terletak sekitar 43,5 mil jauhnya dari Liang Bua. Para peneliti percaya bahwa fosil ini berasal dari manusia purba yang lebih awal dari Homo floresiensis yang dimilik setidaknya dari satu orang dewasa dan dua anak-anak.

Ketika sisa-sisa Hobbit pertama kali ditemukan pada tahun 2003 lalu, banyak ilmuwan benar-benar bingung dengan ukurannya yang kecil. Beberapa dari mereka bahkan berpikir bahwa individu ini adalah anggota dari spesies kita yang secara patologis menjadikannya kerdil atau karena penyakit.

Bagaimanapun itu Van den Bergh mengatakan bahwa penemuan terbaru ini “menggugurkan semua keragu-raguan setiap orang yang percaya bahwa ukuran Homo floresiensis hanyalah dari manusia purba yang normal kemudian mengecil atau kerdil karena suatu penyakit.”

Makalah kedua, dengan penelitian yang dipimpin oleh Adam Brumm dari Griffith University dan University of Wollongong, menjelaskan geologi wilayah Mata Menge dan menegaskan bahwa pendahulu Hobbit yang tinggal disana, setidaknya berusia 700.000 tahun yang lalu. Dikatakan bahwa alat-alat batu juga ditemukan di Flores dan penanggalan menunjukkan usia sekitar 700.000 hingga 1 juta tahun yang lalu.

Untuk menentukan umur fosil, tim peneliti lain mengambil sampel dari lapisan sedimen sekitarnya dan menggunakan teknik penanggalan dengan tingkat akurasi tinggi yang disebut argon-argon, yang mengukur peluruhan radioaktif argon dari waktu ke waktu.

Mereka juga mengisolasi fragmen gigi dan menggunakan kombinasi metode penanggalan berdasarkan peluruhan uranium. Penelitian menunjukkan bahwa fosil ini berusia sekitar 700.000 tahun, membuatnya menjadi hominin tertua yang pernah ditemukan di Flores.

“Saya sudah menduganya, tetapi tetap terkejut ketika pertama kali melihat fosil dan menyadari fakta bahwa orang-orang sekecil itu hidup 700.000 tahun lalu, ketika Homo erectus yang berbadan besar hidup di berbagai bagian benua Asia,” lanjut Kaifu.

Secara bersama, semua temuan ini menunjukkan bahwa populasi individu kecil ini mungkin masih bertahan hidup secara terus-menerus sebagai keturunan di pulau Flores sejak sekitar satu juta tahun yang lalu, hingga setidaknya sekitar 38.000-60.000 tahun yang lalu.

Adapun dari mana mereka berasal sebelum menetap di Pulau Flores, Kaifu mencurigai bahwa “Homo erectus berbadan besar sampai di pulau Flores dan kemudian mengerdil atau dwarfed di pulau ini.”

Homo erectus yang lebih kecil dan lebih tua dari Homo floresiensis

Homo Erectus di Jawa hidup paling lama di dunia, bertahan hingga 100.000  tahun lalu - BBC News Indonesia

Van den Bergh menuturkan, analisis yang menunjukkan bahwa rahang manusia yang ditemukan di Mata Menge itu mendekati karakteristik Homo erectus dan Homo floresiensis.

Rahang itu cenderung tipis dan vertikal dan tidak memiliki celah seperti yang biasa dijumpai pada spesies manusia purba lain, Australopithecus. Sementara itu, dilihat dari giginya, manusia Mata Menge juga memiliki karakteristik yang merupakan perpaduan dari Homo floresiesis dan Homo erectus.

Rekonstruksi digital berdasarkan hasil CT scan fosil, misalnya, menunjukkan bahwa puncak gigi manusia Mata Menge mirip dengan Homo erectus. Van den Bergh menambahkan, “Tubuh yang ekstrim mengecil dan ukuran otak dwarfisme tidak dapat terjadi pada skala luas, kita sekarang telah menerima apa yang terjadi…, dan dapat beralih ke pertanyaan berikutnya yaitu: mengapa itu bisa terjadi dan oleh mekanisme apa?”

Aida Gómez-Robles, seorang ilmuwan dari George Washington University yang mengkhususkan diri dalam evolusi manusia menjelaskan, bahwa salah satu teori tentang Hobbit adalah bahwa mereka menyusut dalam ukuran kecil itu dengan proses yang disebut sebagai “pengerdilan di pulau” atau island dwarfing.

Island dwarfing ini mengacu pada berkurangnya ukuran atau terjadi pengecilan secara ekstrim dalam ukuran, karena tidak adanya ancaman dan pemangsa atau predator dan juga akibat kelangkaan sumber daya alam yang khas dari ekosistem suatu pulau.

Ketika sisa-sisa Hobbit pertama kali ditemukan, para peneliti juga pernah menemukan bukti adanya “gajah kerdil” atau pygmy elephant, ini menunjukkan bahwa binatang berkulit tebal juga terkena proses island dwarfing di Pulau Flores.

Gómez-Robles mengatakan kepada Discovery News bahwa ada dua makalah baru yang penting karena “mereka menunjukkan bahwa asal-usul Homo floresiensis sangat tua, yang menegaskan bahwa ini adalah spesies yang benar-benar valid dengan akar evolusi yang tua.”

Menurut Gómez-Robles, hal ini memiliki dua implikasi penting, yaitu:

Yang pertama, bahwa ukuran yang sangat kecil yang merupakan karakteristik dari Homo floresiensis mungkin telah berevolusi selama periode yang sangat singkat.

Yang kedua, bahwa ukuran kecil ini tetap stabil selama jangka waktu yang panjang, karena Homo floresiensis lebih baru dari situs Liang Bua ukurannya tetap dan sangat mirip dengan ukuran fosil dari Mata Menge ini, yang mana adalah orang-orang yang dijelaskan dalam dokumen yang terbaru.

Analisis mereka mengindikasikan bahwa fosil dari Mata Menge paling mirip H. erectus, meskipun mereka berukuran jauh lebih kecil dan memiliki banyak fitur struktural yang mirip dengan H. floresiensis.

“Fosil sangat mirip, tetapi fosil Mata Menge sedikit lebih primitif dibandingkan dengan H. floresiensis dari Liang Bua,” ungkap penulis utama studi, Yousuke Kaifu yang juga merupakan arkeolog National Museum of Nature and Science di Tokyo, Jepang.

Gen untuk Manusia Bisa Berumur 120 Tahun

Capai Usia Lebih dari 100 Tahun, 4 Sosok Ini jadi Manusia Tertua yang Ada  di Indonesia - Boombastis

Sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam, manusia mencoba untuk menemukan rahasia hidup abadi atau panjang umur. Kali ini sepertinya impian itu akan menjadi kenyataan. Ilmuwan dari Universitas Bern, Swiss, telah berhasil menemukan gen yang diklaim mampu meningkatkan umur manusia hingga 120 tahun atau bahkan lebih.

Gen bernama “azot“ itu awalnya ditemukan pada Lalat Buah (Drosophila melanogaster) dan berfungsi menghilangkan sel tubuh yang tidak sehat dan berbahaya. Dengan melipatgandakan gen azot pada lalat buah, maka ilmuwan dapat memperpanjang umur serangga hama itu menjadi 60 persen lebih lama.

Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera,  yaitu bangsa lalat.

Spesies ini umumnya dikenal sebagai Lalat Buah atau Fruit Flies yang dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental (walaupun banyak jenis lalat-lalat buah lainnya) dan merupakan organisme model yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan.

Lalat Buah atau “fruit flies” Drosophila melanogaster populer karena sangat mudah berbiak, hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya, mudah pemeliharaannya, serta memiliki banyak variasi fenotipe yang relatif mudah diamati.

“Lalat-lalat penelitian kami mempunyai umur 50-60 persen lebih lama dari lalat buah normal,” ujar Dr. Christina Rhiner, salah satu ilmuwan dari Universitas Bern.

Lalat-lalat buah hasil eksperimen itu juga terlihat mempunyai bagian tubuh yang lebih sehat dan tidak mudah mengalami penuaan dan itulah yang akan dipraktekkan kepada manusia.

Ilmuwan cukup optimis cara yang sama dapat dipakai untuk meningkatkan umur manusia, sebab gen azot juga terdapat juga pada tubuh manusia dan manusia sejatinya dipercaya mampu berumur hingga 200 tahun lebih.

Tetapi, untuk eksperimen pada manusia sendiri masih butuh waktu panjang. Ilmuwan saat ini masih meneliti berapa banyak gen azot yang harus diduplikasi serta dampaknya pada manusia.

Jika pada lalat buah ilmuwan hanya menambahkan satu kopi gen azon, jumlah kopian pada manusia bisa bertambah.

Jumlah duplikasi gen azot memang harus benar-benar diperhitungkan, sebab kesalahan dapat membuat manusia bermutasi ke arah yang berbahaya.

Nama gen ‘azot’ sendiri diambil dari makhluk mitos bangsa Aztec yaitu Azot atau Ahuitzotl, yang suka menyerang perahu penangkap ikan untuk menjaga populasi ikan di danau-danau.