‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut’ Hanya Sebatas Syair Ibu Soed atau Memang Fakta?

Sabtu, 03 Juli 2021, 00:00 WIB
67

Tentu tidak asing bagi kita mendengar lagu ciptaan Saridjah Niung atau yang tenar disebut Ibu Soed  berjudul Nenek Moyangku Seorang Pelaut. Tidak hanya di rumah, namun lagu ini sudah diajarkan di taman kanak-kanak.

Pertanyaan besarnya, benarkah nenek moyang Indonesia adalah bangsa pelaut, atau hanya sekedar syair yang dikarang Ibu Soed semata?

Gates Of Olympus

Dilansir Edisi Bonanza88 dari beberapa sumber, faktanya memang sebagai negara kepulauan, masyarakat Indonesia sejak dulu dikenal gemar berlayar untuk berdagang.

Salah satu bukti kuat bahwa nenek moyang masyarakat Indonesia adalah pelaut unggul adalah terdapatnya relief kapal layar pada Candi Borobudur, Candi Buddha terbesar di dunia. Kapal layar yang besar dan megah tersebut didirikan pada abad 8M, 1200 tahun lalu oleh Kerajaan Syailendra.

Kapal ini berlayar rutin mengarungi lautan, menerjang badai yang ganas melalui Samudera Hindia ke Madagaskar, Afrika Selatan hingga ke Ghana, Afrika Barat untuk berdagang rempah, gading, kulit binatang dan keramik.

Bukti lainya yaitu Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 M, walaupun banyak menggantungkan hidup dari sumber daya alam daratan, namun tercatat memiliki armada laut yang kuat untuk melindungi jalur perdagangan dan kekuasaannya.

Selanjutnya pada abad 15 M, Sultan Alaudin Al-Mukamil dari Kesultanan Aceh memiliki armada kapal perang hingga 100 kapal.

Rise of Olympus

Dan yang cukup mencengangkan adalah armada laut Sultan Alaudin dipimpin oleh laksamana wanita bernama Laksamana Malahyati, yang terkenal hebat dan berani dalam menumpas negara Portugal yang saat itu merupakan salah satu negara kuat saat itu.

Masyarakat Melayu punya Hikayat Hang Tuah yang berlatar cerita masa akhir kejayaan Majapahit. Tentang pelaut hebat bernama Hang Tuah. Hang Tuah punya kawan sesama pelaut seperti Hang Lekir, Hang Kesturi, Hang Lekiu.

Masyarakat Bugis, dalam Sureq La Galigo, menggambarkan sosok Sawerigading sang nahkoda yang menjelajahi lautan dan tak terkalahkan.

Lebih Canggih dari Bangsa Eropa

Nenek Moyangku Seorang Pelaut' Kini Tinggal Kenangan - NUSANTARANEWS

Peneliti senior LIPI, Adrian B Lapian dalam bukunya menuliskan, di abad ke-16 dan 17, budaya maritim sangat melekat di kehidupan penduduk-penduduk Nusantara. Sejumlah bukti-bukti berupa catatan dari seorang pendatang berkebangsaan Portugis yang dengan jelas menceritakan kehandalan dan kemahiran bangsa kita di bidang kelautan.

Lapian menuliskan, kemasyhuran para pelaut Indonesia di masa itu dalam menjelajahi samudera mampu membuat para pendatang-pendatang tersebut terperangah.

Salah satunya, dituliskan bahwa para pelaut Indonesia dapat dengan cepat menguasai kapal-kapal negara barat. Diceritakan pula ketangkasan para pelaut Indonesia di bidang navigasi, terbukti dengan ditemukannya kompas sederhana dan peta-peta yang bergambarkan sejumlah pulau di kawasan Indonesia.

Salah satu contohnya ialah roteiros (petunjuk-petunjuk dalam berlayar) yang disusun oleh Francisco Rodriques, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman para pelaut Indonesia. Belum lagi sebuah peta yang dikirimkan ke seorang raja di Eropa yang keterangannya bertuliskan huruf jawa, tulis Lapian di dalam bukunya tersebut.

Bukti lainnya ialah keberadaan kompas yang dibuktikan oleh pernyataan Ludovico di Varthema, yang dengan yakin mengatakan bahwa dalam pelayarannya dari Kalimantan ke Pulau Jawa menggunakan kapal yang di nahkoda warga setempat, telah menggunakan kompas sebagai penunjuk arah.

Ia juga mengatakan, selain kompas yang digunakan oleh sang nahkoda kapal, ia juga melihat sebuah peta yang penuh dengan garis-garis memanjang dan melintang, ungkap Lapian.

Luas kawasan yang dijelajahi para nahkoda-nahkoda kapal Indonesia saat itupun diyakini telah jauh melintasi perbatasan Indonesia.

Dibuktikan kembali oleh Ludovico yang mengungkapkan pembicaraannya dengan sang nahkoda, yang menjelaskan bahwa di sebelah selatan Pulau Jawa terdapat satu lautan yang sangat luas.

Di mana, di kawasan itu masa siang hari sangat pendek hanya empat jam lamanya. Tentulah yang ia maksudkan adalah kawasan subtropis di sisi selatan Indonesia, yakni Australia.

Dalam bukunya Lapian juga bercerita tentang Laksamana Steve van der Haghen dari Belanda yang berencana menjual ratusan kompas di Indonesia, namun harus membawa kembali barang jualannya karena ternyata tidak laku di jual.

Ternyata meskipun tidak seluruh kapal Indonesia menggunakan kompas khususnya kapal-kapal kecil nelayan, tetapi menurut Lapian tidak berarti mereka belum pernah melihat kompas dan tidak memahami tentang navigasi di lautan.

Hal itu dengan jelas menggambarkan bahwa para nelayan dan pelaut kita di masa itu sudah sangat mengenal ilmu navigasi dan astronomi sebagai pegangan dalam berlayar.

Inspirasi Desain Kapal Dunia

Jejak Bangsa Pelaut - Tirto.ID

Robert Dick Read dalam bukunya berjudul ‘Penjelajah Bahari’ menyebutkan jika desain kapal para pelaut Indonesia mempengaruhi desain kapal di seluruh dunia.

Bahkan, teknologi cadik (bagian dari perahu yang di pasang di luar lambung) yang asli Indonesia itu diadaptasi pada kapal-kapal di India dan Hawaii selama ribuan tahun.

Perahu Cheops Mesir dan kapal Jung China juga terbukti terpengaruh dari desain-desain kapal Indonesia.

Salah satu yang menarik adalah cerita tentang pertempuran laut antara kapal Portugis dengan perahu pedagang Bugis yang terkenal gagah. Bertempur berhari-hari, meriam-meriam Portugis bahkan tidak mampu menjebol lambung kapal yang katanya memiliki tebal enam lapis kayu tersebut.

Peradaban Afrika Kuno juga tidak lepas dari campur tangan para penjelajah Indonesia. Bagaimana ubi jalar dan pisang raja yang endemik Indonesia itu bisa menjelajah hampir separuh bumi hingga Afrika jika tanpa keberanian pelaut ulung Indonesia menaklukan Samudera Hindia.

Kemajuan pesat peradaban Madagaskar dan semenanjung Afrika juga merupakan cipta jenius pelaut Bajo.

Bahkan persediaan emas di Sriwijaya -yang dijuluki Svarnadvipa (negeri emas), El Dorado dalam bahasa lain- tidak lain berasal dari pertambangan emas kuno di Zimbabwe yang dihuni oleh bangsa Indonesia.

Kesenian juga merupakan bukti penting peninggalan nenek moyang bangsa ini di daratan raksasa Afrika. Penemuan antropologis menemukan bahwa gamelan, angklung, dan kenthongan Afrika adalah sebuah bentuk evolusi dari alat musik yang ada di Indonesia yang dibawa pelaut Kerajaan Sriwijaya.